Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ . لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Meraka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (Qs. an-Nur: 37-38)

Umar bin Dzarrin رَحِمَهُ اللهُ berkata,

“Andai orang-orang yang sehat tahu apa isi kuburan berupa jasad-jasad yang telah usang bahkan hancur, (dan mereka pun sadar akan seperti itu) niscaya mereka akan bersemangat dan bersungguh-sungguh mengisi hari-hari mereka (dengan amal shaleh) karena takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.”

(Abdurrahman bin Abdurrahman bin Shaleh Syihabuddin Ahmad bin Rojab, “Ahwalul Qubur”, 1/244)