Dari Khalid Ar-Rib’i, dia berkata, Lukman adalah budak Habasyi yang bekerja sebagai tukang kayu. Tuannya pernah memerintahkan kepadanya,

‘Sembelihlah satu ekor kambing untukku.’

Dia pun menyembelih seekor kambing, lalu tuannya berkata, ‘Datangkan dua daging terbaik pada kambing itu kepadaku.’

Dia pun datang dengan membawa lidah dan hati.
Tuannya berkata, ‘Apakah ada daging yang lebih baik daripada ini ?’

Lukman menjawab,’Tidak ada !’

Tuannaya pun diam, kemudian berkata lagi, ‘Sembelihlah satu kambing lagi !’

Dia pun menyembelihnya.

Tuannya kembali memerintahkan, ‘Lemparkanlah dua daging terburuk.!’

Lukman pun melemparkan lidah dan hati.

Lalu, tuannya bertanya, ‘Saat aku menyuruhmu untuk membawakan dua daging terbaik, kamu mendatangkan lidah dan hati, namun mengapa ketika aku memerintahkanmu untuk melemparkan dua daging terburuk, kamu melemparkan lidah dan hati lagi ?’

Lukman menjawab :

إِنَّهُ لَيْسَ شَيْءٌ بِأَطَيَبِ مِنْهُمَا إِذَا طَابَا وَلَا أَخْبَثَ مِنْهُمَا إِذَا خَبُثَا

“Tidak ada sesuatu pun yang lebih baik dari keduanya (lidah dan hati) jika keduanya baik, dan tidak ada yang lebih buruk daripada keduanya jika keduanya buruk”

(Ahmad bin Hanbal, az-Zuhd, 1/49)