Imam an-Nasai dan Abu Dawud meriwayatkan hadis dari Usamah bin Zaid, ia berkata,

“Aku pernah bertanya (kepada Rasulullah), ‘Ya Rasulullah! aku tidak melihat Anda sering berpuasa dalam satu bulan kecuali di bulan Sya’ban?

Beliau menjawab,

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيْهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالمِيْنَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Ini adalah bulan yang banyak dilalaikan orang, terletak antara Rajab dan Ramadhan. Dia adalah bulan diangkatnya amal kepada Tuhan semesta alam. Aku suka, saat amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.” 

Faedah:

Ibnu Rajab رحمه الله berkata,

“Di dalam hadis ini terdapat dalil yang menunjukkan dianjurkannya untuk lebih memakmurkan waktu-waktu yang dilalaikan oleh banyak orang dengan melakukan ketaatan, dan bahwa hal tersebut dicintai di sisi Allah عَزَّوَجَلَّ. “

(Sulaiman bin Muhammad al-Luhaimid, I’anatu al-Muslimi Fi Syarhi Syarh Shahih Muslim, 1/61)