Aisyah رضي الله عنه mengatakan,
كَانَ أَحَبَّ الشُّهُوْرِ إِلَى رَسُوْلِ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- أَنْ يَصُوْمَهُ شَعْبَانُ ثُمَّ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ
“Bulan yang paling beliau sukai untuk berpuasa (sunnah) padanya adalah bulan Sya’ban, kemudian beliau menyambungnya dengan (puasa) bulan Ramadhan.” (HR. Abu Dawud, no. 2433).
Ibnu Rajab al-Hanbali-semoga Allah merahmatinya-mengatakan, “Dikatakan bahwa (hikmah) dalam (pensyariatan) puasa Sya’ban laksana latihan untuk puasa Ramadhan, agar seseorang tidak memasuki puasa Ramadhan dalam keadaan merasa berat dan terbebani, dengan puasa pada bulan Sya’ban ia telah terlatih dan terbiasa berpuasa, dan dengan berpuasa Sya’ban sebelumnya ia akan mendapatkan manis dan lezatnya ibadah puasa, sehingga ia masuk ke dalam puasa Ramadhan dengan penuh kekuatan dan kesemangatan.”
(Latha-if al-Ma’arif, 1/130)



