Dari Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, ia berkata,

إِنَّ وَفْدَ عَبْدِ الْقَيْسِ لَمَّا أَتَوْا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ الْقَوْمُ أَوْ مَنْ الْوَفْدُ ؟ قَالُوا : رَبِيعَةُ. قَالَ : مَرْحَبًا بِالْقَوْمِ أَوْ بِالْوَفْدِ غَيْرَ خَزَايَا وَلَا نَدَامَى. فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا لَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَأْتِيكَ إِلَّا فِي الشَّهْرِ الْحَرَامِ وَبَيْنَنَا وَبَيْنَكَ هَذَا الْحَيُّ مِنْ كُفَّارِ مُضَرَ فَمُرْنَا بِأَمْرٍ فَصْلٍ نُخْبِرْ بِهِ مَنْ وَرَاءَنَا وَنَدْخُلْ بِهِ الْجَنَّةَ. وَسَأَلُوهُ عَنْ الْأَشْرِبَةِ. فَأَمَرَهُمْ بِأَرْبَعٍ وَنَهَاهُمْ عَنْ أَرْبَعٍ. أَمَرَهُمْ بِالْإِيمَانِ بِاللَّهِ وَحْدَهُ. قَالَ : أَتَدْرُونَ مَا الْإِيمَانُ بِاللَّهِ وَحْدَهُ ؟ قَالُوا : اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ : شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامُ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ وَصِيَامُ رَمَضَانَ وَأَنْ تُعْطُوا مِنْ الْمَغْنَمِ الْخُمُسَ. وَنَهَاهُمْ عَنْ أَرْبَعٍ عَنْ الْحَنْتَمِ وَالدُّبَّاءِ وَالنَّقِيرِ وَالْمُزَفَّتِ وَرُبَّمَا قَالَ : الْمُقَيَّرِ. وَقَالَ : احْفَظُوهُنَّ وَأَخْبِرُوْا بِهِنَّ مَنْ وَرَاءَكُمْ

Sesungguhnya delegasi Abdul Qais ketika datang kepada Nabi صَلَّى اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , beliau mengatakan (kepada mereka), ‘Siapakah kaum ini –atau- siapakah delegasi ini ?. Mereka pun menjawab : (kami adalah delegasi) Rabi’ah. Beliau kemudian bersabda (kepada mereka), ‘Selamat datang wahai orang-orang -atau- selamat datang wahai para delegasi, kalian tidak akan berada dalam keadaan terhinakan dan tidak pula berada dalam penyesalan.”

Lalu, mereka mengatakan : Wahai Rasulullah ! Sungguh, kami tidak dapat untuk mendatangi Anda kecuali pada bulan Haram, sementara antara kami dan Anda terdapat perkampungan ini yang berisikan orang-orang kafir kabilah Mudhar. Maka, perintahkanlah kepada kami dengan suatu amalan yang ringkas yang akan kami kabarkan kepada orang-orang yang berada di belakang kami dan dengannya kami akan masuk Surga.’ Dan mereka pun bertanya kepada beliau tentang minuman. Maka, beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memerintahkan mereka empat hal dan melarang mereka dari empat hal (juga) ; beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memerintahkan mereka untuk beriman kepada Allah semata. Beliau bertanya,’Tahukah kalian apa itu beriman kepada Allah semata ?’ Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahuinya.’ Beliau  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ   kemudian bersabda, (Beriman kepada Allah semata adalah) persaksian bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan. Dan, hendaklah kalian memberikan 1/5 dari harta rampasan perang.’

Dan, beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melarang mereka dari empat hal : (melarang mereka) dari (menggunakan bejana dari) al-Hantam, ad-Dubba, an-Naqir dan  al-Muzaffati.’ Atau beliau menyebut al-Muqayyir.’

Dan, beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pun mengatakan (kepada mereka) : “Hafalkanlah hal-hal itu, dan kabarkanlah hal-hal itu kepada orang-orang yang berada di belakang kalian.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) [1]

***

Kita  masih bersama dengan beberapa faedah yang dipetik dari hadis nan agung ini.

Maka, di antara faedah yang dapat dipetik dari hadis nan agung ini adalah :

11-Pentingnya dakwah kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan agungnya kedudukannya, serta betapa sangat dibutuhkannya hal tersebut. Karena, dakwah kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى merupakan jalan untuk menyebarkan agama Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَ ;  maka delegasi ini, mereka datang membawa semangat ini ; kesemangatan berdakwah, memberikan nasehat dan penjelasan; ini jelas terlihat pada maksud dan tujuan yang mereka inginkan dengan kedatangan mereka ini kepada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Dan untuk inilah mereka mengatakan,

فَمُرْنَا بِأَمْرٍ فَصْلٍ نُخْبِرْ بِهِ مَنْ وَرَاءَنَا

“Maka, perintahkanlah kepada kami dengan suatu amalan yang ringkas yang akan kami kabarkan kepada orang-orang yang berada di belakang kami.”

Oleh karena itu, sesungguhnya seorang Muslim berkewajiban untuk mempelajari ilmu syar’i dan mendalami agama Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dengan niat untuk memperbaiki dirinya sendiri dan menerangi dirinya dengan petunjuk. Juga, dengan niat untuk menyampaikan kebaikan kepada orang lain dan menebarkan manfaat kebaikan tersebut kepada segenap manusia. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh serta saling menasehati untuk kebenaran dan kesabaran.” (al-‘Ashr :1-3)

Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menasifati mereka dengan bahwa mereka melakukan perbaikan pada diri mereka dengan iman dan amal shaleh, kemudian mereka melakukan upaya tindakan menyampaikan kebaikan ini kepada yang lainnya, menyebarkannya di tengah-tengah manusia, menyeru manusia kepada kebaikan tersebut. Dan, hendaknya dakwah itu menjadi keinginan yang kuat bagi seorang hamba ; karena itu, seorang hamba belajar untuk memberikan manfaat pada dirinya, dan ia pun belajar untuk memberikan kemanfaatan kepada orang lain. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Wahai anakku, tegakkanlah shalat dan serulah (manusia) berbuat yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar serta bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (harus) diutamakan.” (Lukman : 17)

12-Bahwa amal-amal shaleh akan memasukkan seorang hamba ke dalam Surga jika amal-amal shaleh tersebut diterima oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ; mereka (para delegasi ini) mengatakan :  فَمُرْنَا بِأَمْرٍ فَصْلٍ , yakni, ‘tunjukkanlah kami kepada sebuah amalan yang akan memasukkan kami ke dalam Surga ; sebagaimana datang dalam beberapa hadis :

دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ

“Tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang akan memasukkanku ke dalam Surga.” [2]

Yakni, tunjukkanlah kepadaku amal-amal, ketaatan-ketaatan dan ibadah-ibadah untuk kami lakukan, kami menjaganya, dan kami akan masuk Surga karenanya.

Maka, ini menunjukkan bahwa amal-amal shaleh akan memasukkan seorang hamba ke dalam Surga karenanya bila mana Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menerimanya. Dan sungguh Nabi kita صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ biasa berdoa setiap hari kala telah memasuki waktu pagi setelah beliau salam dari shalat Subuh, sebagaimana dalam hadis Ummu Salamah   رَضِيَ اللهُ عَنْهَا di dalam kitab-kitab ‘Sunan’,

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا صَالِحًا

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang shaleh.” [3]

Dalam satu riwayat,

وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

 “Dan (aku memohon kepada-Mu) amal yang diterima.” [4]

Amal shaleh yang diterima yaitu amal yang berdiri di atas landasan keikhlasan kepada Dzat yang disembah dan mengikuti tuntunan Rasul-Nya. Terkumpul di dalamnya dua syarat ini, dan dengan keduanyalah akan diterima amal-amal.

Jadi, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tidak akan menerima amal tersebut kecuali bila mana amal tersebut murni untuk wajah-Nya, selaras dengan petunjuk Nabi-Nya صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Maka, apabila keikhlasan tersebut hilang, amal tersebut ditolak dan tidak diterima. Allahسُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  berfirman di dalam hadis qudsi,

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Aku adalah Dzat yang paling tidak butuh terhadap sekutu. Barang siapa melakukan suatu amalan di mana ia menyekutukan Aku dengan yang lainnya dalam amal tersebut, niscaya aku meninggalkannya dan sekutunya.” [5]

Dan, demikian pula bila kehilangan mutaba’ah (mengikuti petunjuk/tuntunan) Rasul صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, niscaya amal tersebut ditolak dan tidak diterima. Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ia tertolak.” [6]

Makna فَهُوَ رَدٌّ yakni, tertolak atas pelakunya, tidak diterima darinya.

13-Pentingnya iman kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ; dan hal demikian itu bahwa delegasi ini ketika mereka meminta dari Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ agar beliau memerintahkan kepada mereka suatu perbuatan yang ringkas yang dengannya mereka akan masuk Surga dan mereka akan mengkabarkannya kepada orang-orang yang berada di belakang mereka, beliau bersabda,

آمُرُكُمْ بِالْإِيْمَانِ بِاللهِ

“Aku perintahkan kepada kalian untuk beriman kepada Allah.”

Maka, ini merupakan perkataan yang ringkas lagi padat.

Dan, beriman kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى merupakan asal pokok iman dan pondasi agama yang paling agung. Semua pondasi-pondasi iman mengikut kepadanya. Maka, di atasnyalah agama Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tegak berdiri. Dan, amal apa pun dari segala bentuk amal, tidak pula ketaatan apa pun dari segala  bentuk ketaatan, tidak akan diterima kecuali apabila ditegakkan di atas landasan pokok ini; Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا

“Siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, dan dia adalah mukmin, mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (al-Isra’ : 19)

Dan, di dalam al-Qur’an terdapat sejumlah ayat yang semakna dengan ayat ini; seperti firman-Nya,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan.” (an-Nahl : 97)

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman,

وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Siapa yang kufur setelah beriman, maka sungguh sia-sia amalnya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (al-Maidah : 5)

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman,

وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ

“Tidak ada yang menghalangi infak mereka untuk diterima kecuali karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang kufur kepada Allah dan Rasul-Nya.” (at-Taubah : 54)

Maka, iman kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى adalah pondasi pokok iman dan landasan agama yang paling agung, dan tidak ada penerimaan amal apa pun, tidak pula ibadah apa pun kecuali dengannya (iman), yaitu, iman dengan keesaan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan keesaan-Nya dalam rububiyah-Nya, keesaan-Nya dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan keesaan-Nya dalam uluhiyah-Nya, bahwa Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى adalah Dzat yang berhak disembah dengan benar dan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar selain-Nya.

14-Pentingnya metode menimbulkan rasa kerinduan; hal tersebut merupakan metode yang bermanfaat dalam pembelajaran, dan datang cukup banyak di dalam hadis-hadis Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , maka lihat hal itu pada sabda beliau kepada mereka ini,

آمُرُكُمْ بِالْإِيمَانِ بِاللَّهِ وَحْدَهُ : أَتَدْرُونَ مَا الْإِيمَانُ بِاللَّهِ ؟

“Aku perintahkan kepada kalian untuk beriman kepada Allah semata ; tahukah kalian apa itu beriman kepada Allah ?”

Alangkah indahnya metode menimbulkan rasa kerinduan ini, dan betapa agungnya pengaruhnya dalam menjadikan hati merindukan sesuatu, siap menerima, bersiap-siap dan menyiapkan diri, karena hal itu menggerakan rasa cinta di dalam hati, dan benar-benar berupaya mewujudkan kebaikan sikap mengambil manfaat dan faedah.

15-Bahwasanya tidak ada jalan menuju ke pengenalan dan pengetahuan terhadap iman kecuali melalui wahyu; (yaitu berupa) firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan perkataan Rasul-Nya صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ; maka tidaklah mungkin bagi seseorang untuk mengetahui iman dan hakikatnya dengan pengetahuannya-misalnya-tentang bahasa Arab walau pun ia seorang yang sangat luas pengetahuannya tentang bahasa. Dan, tidak mungkin pula seseorang mengetahui iman melalui pemikiran dan akalnya. Tidak mungkin pula seseorang mengetahui keimanan melalui perasaan dan instingnya. Tetapi, mengenal dan mengetahui keimanan tidak ada jalan menuju ke sana kecuali melalui kalamullah (firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ) dan sabda Rasul-Nya صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . Lihat dan perhatikan hal tersebut pada jawaban degelasi ini ketika Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan kepada mereka

أَتَدْرُونَ مَا الْإِيمَانُ بِاللَّهِ ؟

Tahukah kalian apa itu beriman kepada Allah ?

Mereka menjawab,

اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ

‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahuinya.’

Padahal mereka ini adalah orang-orang yang pandai berbahasa Arab dengan fasih. Dan sebagai ahli bahasa tentunya mereka mengerti dan mengetahui makna-makna lafazh dan dilalahnya, mereka (semestinya) mengetahui makna kata ‘iman’ dan mereka mengetahui apa yang ditunjukkan oleh kata tersebut secara bahasa. Namun, mereka tidak menjawab dengan sesuatu yang   mereka ketahui berupa hal yang ditunjukkan oleh kata iman secara bahasa. Tetapi, justru mereka mengatakan ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahuinya.’

Karena kaum ini mengetahui bahwa iman merupakan hakikat yang agung, tidak ada jalan untuk memperolehnya dan tidak ada cara untuk dapat memahaminya dan mengetahuinya kecuali melalui wahyu Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, mereka menjawab : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahuinya.”, dan Rasul صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ beliau adalah penyampai (risalah) dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, apa yang dikatakannya bukanlah dari hawa nafsunya.

(Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman tentang beliau),

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى . إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

“Dan tidaklah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut keinginannya. Tidak lain (al-Qur’an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (an-Najm : 3-4)

(Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman),

وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ

“Kewajiban Rasul hanyalah menyampaikan.” (an-Nur : 54)

Maka, ini merupakah faedah nan agung, dan di dalamnya terdapat bantahan terhadap orang-orang yang terjun ke dalam upaya menjelaskan iman dengan akal semata, atau dengan pemahaman terhadap bahasa, atau yang lainnya, mereka tidak melirik kepada sumber iman; yaitu, firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan sabda Rasul-Nya صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, sehingga mereka mendatangkan perkara-perkara yang justru bertabarakan/berbenturan dengan keimanan pada hakikatnya dan apa-apa yang ditunjukkannya; dan oleh karena inilah tumbuh dan berkembang beberapa kelompok yang cukup banyak yang terjun ke dalam upaya menjelaskan iman dan memperbincangkan hakikatnya, namun justru kelompok-kelompok tersebut menjauh dari kebenaran. Karena mereka tidak menyandarkan pada sumber iman, yaitu, firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan sabda Rasul-Nya صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Padahal, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah befirman di akhir-akhir surat asy-Syura,

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ . صِرَاطِ اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ أَلَا إِلَى اللَّهِ تَصِيرُ الْأُمُورُ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (al-Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan al-Qur’an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus. (Yaitu) jalan Allah yang  milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, segala urusan kembali kepada Allah.” (asy-Syura : 52-53)

Maka, iman merupakan hakikat nan agung, tidak akan mungkin untuk diketahui dan tidak mungkin pula ditunjukkan kepada hakikatnya dan maknanya kecuali melalui firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan sabda Rasul-Nya صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, seperti halnya shalat, puasa, haji dan hal-hal yang lainnya berupa ketaatan-ketaatan. Maka, kalau ada seseorang yang sangat mendalam pemahamannya di bidang bahasa tidaklah mungkin dirinya mengetahui shalat secara syar’i dengan sekedar pengetahuannya tentang bahasa. Atau, tidakalah mungkin untuk mengetahui zakat secara syar’i. Atau, tidaklah mungkin untuk mengetahui puasa secara syar’i. Kesemua ini merupakan perkara-perkara dan hakikat-hakikat yang tidak mungkin untuk diketahui kecuali dari wahyu; dan oleh karena ini, sesungguhnya para salaf رَحِمَهُمُ اللهُ kesungguhan mereka dan cara mereka dalam beragama adalah : “Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman, Rasul-Nya صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda.” ; Anda melihat satu orang dari mereka mengatakan, ‘Kami berkeyakinan demikian, karena firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  demikian, dan kami beriman dengan demikian, karena sabda Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  demikian.’ Berbeda dengan selain mereka dari kalangan ahli bid’ah yang menjadikan diri mereka sendiri sebagai sumber untuk pengambilan hukum bukan al-Qur’an dan sunnah, maka mereka pun tersesat dari jalan yang lurus, dan barang siapa yang tidak berpegang teguh dengan firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan sabda Rasul-Nya صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ niscaya ia sesat dari jalan yang benar. Berkata Ibnul Qayyim رَحِمَهُ اللهُ  : Dulu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah seringkali mengatakan,’ Barang siapa memisahkan diri dari dalil, ia telah sesat jalannya. Dan, tidak ada dalil kecuali dengan apa-apa yang datang dibawa oleh Rasul –semoga shalawat Allah dan salam-Nya serta keberkahan-Nya tercurahkan kepada beliau.[7]

16-Digabungkannya syahadah (perasaksian) bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah; dan perasaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah : yaitu persaksian bagi Allah akan keesaan-Nya, sedangkan persaksian bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah : yaitu persaksian baginya صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ akan kerasulannya. Dan, masing-masing dari kedua persaksian tersebut memiliki konsekwensi. Maka, persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah berkonsekwensi seorang yang bersyahadat ini memurnikan tauhid kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang terdapat dalam kata  yang agung ini, dan ia menunggalkan-Nya dengan ibadah yang dilakukannya. Oleh karena itu, kalaulah ia mengucapkannya tanpa merealisasikan apa yang ditunjukkannya berupa tauhid, tidaklah ia menjadi bagian dari ahli tauhid dengan hanya sekedar mengucapkannya. Begitu pula persaksian untuk Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ akan kerasulannya. Dan, Allah جَلَّ وَعَلَا berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul melainkan untuk ditaati dengan izin Allah.” (an-Nisa : 64)

Maka, persaksian bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah : adalah  mentaatinya dalam hal-hal yang diperintahkanya, membenarkannya dalam hal-hal yang dikabarkannya, dan berhenti dan meninggalkan apa-apa yang dilarangnya dan apa-apa yang diperingatkannya. Dan, dua persaksian ini merupakan puncak perkara, karena agama itu berdiri di atas dua syahadah ini ; (pertama) “persaksian bahwa tidak Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah” yang berarti memurnikan ketaatan dalam menjalankan agama untuk Allah  سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan menunggalkan-Nya dengan beribah kepada-Nya. (kedua) “Persaksian  bahwa Muhammadصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  itu adalah utusan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى” yang berarti mengikuti Rasul yang mulia عَلَيْهِ الصَّلُاةُ وَالسَّلَامُ.

17-Masuknya ‘amal’ ke dalam istilah ‘iman’, dan bahwa iman itu tidak sekedar keyakinan atau pembenaran di dalam hati saja. Tetapi, iman itu seperti kata para salaf رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى  : perkataan, keyakinan dan amalan. Iman terdiri dari rukun-rukun ini ; keyakinan di dalam hati, perkataan dengan lisan, dan amalan dengan anggota badan; sehingga amalan-amalan itu masuk ke dalam istilah ‘iman’; maka shalat merupakan iman ; Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ

“Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian.” (al-Baqarah : 143)

Yakni, shalat kalian. Dan, puasa juga merupakan iman, menunaikan zakat juga merupakan iman, dan semua bentuk ketaatan-ketaatan yang diperintahkan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى merupakan iman. Karena Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menafsirkan ‘iman’ di dalam hadis ini dengan ‘amalan-amalan’.

18-Bahwa barang siapa ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahuinya, hendaknya ia menyandarkan ilmu itu kepada yang mengetahuinya. Oleh karena itu, ketika Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan kepada mereka,

أَتَدْرُونَ مَا الْإِيمَانُ بِاللَّهِ ؟

“Tahukah kalian apa itu iman kepada Allah ?”

Mereka menjawab,

اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ

“Allah dan rasul-Nya-lah yang lebih mengetahuinya”

Maka, mereka menyandarkan ilmu itu kepada yang mengetahuinya; kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan kepada rasul-Nya yang merupakan penyampai dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى , dan rasul صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (pada saat itu) berada di antara mereka dan mereka dapat bertanya kepada beliau dan belajar darinya.

19-Bahwa termasuk bentuk kebagusan dalam pengajaran adalah menyebutkan masalah secara global sebelum menyebutkan secara rinci dan pemberian penjelasan. Oleh karena itu, Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda (kepada mereka para delegasi ini ),

آمُرُكُمْ بِأَرْبَعٍ وَأَنْهَاكُمْ عَنْ أَرْبَعٍ

Aku perintahkan kalian empat hal dan aku larang kalian dari empat hal.

Ini merupakan pernyataan global dengan menyebutkan bilangan, hal ini menghimpun sejumlah faedah nan agung ; di antara faedah yang agung tersebut yang paling penting adalah dua faedah :

Pertama : Penghiasan terhadap ilmu dan menimbulkan kerinduan kepadanya.

Kedua :  Bahwa hal tersebut lebih memungkinkan seseorang untuk menghafalanya dan menyebutkannya secara tepat; bila dikatakan kepada Anda ‘empat’ demikian, atau ‘enam’ demikian, Anda tahu bahwa hal tersebut ada enam, Kalau Anda menyebutkannya nantinya, dan terluput dari Anda satu darinya, niscaya Anda akan ingat bahwa tersisa satu hal yang belum disebutkan.

Beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,

آمُرُكُمْ بِأَرْبَعٍ وَأَنْهَاكُمْ عَنْ أَرْبَعٍ

“Aku perintahkan kalian empat hal dan aku larang kalian dari empat hal.”

Empat hal yang beliau perintahkan kepada mereka ini adalah : dua persaksian, shalat, zakat, dan puasa, dan beliau tidak menyebutkan ‘haji’ dalam hadis ini; karena haji belum diwajibkan pada waktu kedatangan delegasi ini.

Sedangkan, ‘Memberikan 1/5 dari harta rampasan perang’-menurut pendapat yang shahih-tidak termasuk dari empat hal yang diperintahkan. Akan tetapi, beliau mengingatkan mereka akan hal tersebut. Karena perlunya mereka untuk mendapatkan penjelasan mengenai hal ini. Oleh karena itu, Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  menyebutkannya dengan ungkapan,

وَأَنْ تُعْطُوْا مِنَ الْمَغْنَمِ الْخُمُسَ

“Dan, hendaknya kalian memberikan 1/5 dari harta rampasan perang.”

20-Bahwa barang siapa yang menghadiri majlis-majlis ilmu hendaknya bersemangat untuk menghafal faedah-faedahnya dan mengokohkannya, kemudian menyampaikannya kepada orang lain ; seperti pasangan, keluarga, tetangga, dan teman; hingga ia menjadi orang yang memberi petunjuk lagi mendapat petunjuk, dengan izin Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى . Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda kepada mereka,

احْفَظُوهُنَّ وَأَخْبِرُوْا بِهِنَّ مَنْ وَرَاءَكُمْ

‘Hafalkanlah hal-hal itu, dan kabarkanlah hal-hal itu kepada orang-orang yang berada di belakang kalian.’

Wallahu A’lam

(Redaksi)

Sumber :

Ahaadiits al-Iman, Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Badr, hal. 33-40.

Catatan :

[1] HR. al-Bukhari (53), dan lafazh ini adalah miliknya, dan Muslim (17)

[2] HR. al-Bukhari (1397) dan Muslim (14)

[3] HR. ath-Thabrani di dalam ‘ad-Du’a’ (671)

[4] HR. Ahmad di dalam al-Musnad (26521) dan Ibnu Majah (925) dan dishahihkan oleh al-Albani

[5] HR. Muslim (2985)

[6] HR. Muslim (1718)

[7] Miftahu Daari as-Sa’aadah, Ibnul Qayyim, 1/229