Ketika Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mensifati kalangan Yahudi Bani Israil, karena ulah mereka, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :
فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka Kami laknat mereka dan Kami jadikan hati mereka keras membatu.
Mereka suka mengubah firman (Allah) dari tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka.
Engkau (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali kelompok kecil di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”
(al-Maidah : 13)
Ja’far meriwayatkan, dia berkata, “Aku mendengar Malik berkata,
مَا ضُرِبَ عَبْدٌ بِعُقُوْبَةٍ اَعْظَمُ مِنْ قَسْوَةِ الْقَلْبِ
‘Tidaklah seorang hamba ditimpa musibah yang lebih besar daripada kerasnya hati.”
(Ahmad bin Habal, az-Zuhd, 1/320)



