Mu’alla bin Al-Fadhl  رَحِمَهُ اللهُ mengatakan:

كَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ تَعَالَى سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ رَمَضَانَ يَدْعُوْنَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَ مِنْهُمْ

“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah Ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan.”

(Ibnu Rajab, Latha-if al-Ma’arif, 1/158)

Satu harapan yang luar biasa. Karena mereka menilai Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa. Sehingga mereka sangat berharap untuk berjumpa dengannya.

Yahya bin Abi Katsir رَحِمَهُ اللهُ mengatakan :

كَانَ مِنْ دُعَائِهِمْ

اَللَّهُمَّ سَلِّمْنـِي إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِـي رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِي مُتَقَبَّلاً

“Diantara doa mereka:

“Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.”

(Ibnu Rajab, Latha-if al-Ma’arif, 1/158)

Maka, teruslah berdoa !