Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menyematkan sifat kepada diri-Nya setelah firman-Nya :
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ [الفاتحة/2]
“Segala puji hanya bagi Allah Rabb semesta alam.”
dengan bahwa diri-Nya adalah :
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
“Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.”
Hal demikian itu, oleh karena ketika Dia menyematkan sifat pada diri-Nya bahwa Dia adalah رَبِّ الْعَالَمِينَ (Rabb semesta alam) terdapat unsur yang mendorong seseorang untuk takut kepada-Nya, maka Dia menggandengkannya dengan sifat-Nya :
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
“Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.”
Karena dalam kedua sifat-Nya ini terdap unsur yang dapat mendorong seseorang untuk memiliki harapan kepada-Nya.
Dengan demikian, terkumpullah pada sifat-sifat-nya antara rasa takut kepada Allah dan rasa harapan dan cinta kepada-Nya. Sehinga hal tersebut akan lebih dapat membantu seorang hamba untuk mentaati-Nya dan lebih dapat untuk mencegah dirinya dari bermaksiat kepada-Nya.
(Muhammad bin Ahmad al-Qurthubiy, al-Jami’ Li Ahkami al-Qur’an, 1/139)



