Iedul Fithri, itulah start perpisahan kita dengan bulan Ramadhan.
Ada kekhawatiran yang sangat baik yang hendaknya mengiringinya, yang senantiasa menyelimuti hati kita sejak perpisahan itu.
Apa itu ?
Khawatir kalau-kalau amal kita tidak diterima-Nya, itulah dia.
Itulah yang terjadi pada hati para pendahulu kita.
Abdul Aziz bin Abi Rawwad –semoga Allah merahmatinya- berkata :
أًدْرَكْتُهْمْ يَجْتَهِدُوْنَ فِي الْعَمَلِ الصَّالِحِ فَإِذَا فَعَلُوْهُ وَقَعَ عَلَيْهِمْ اَلْهَمُّ أَيَقْبَلُ مِنْهُمْ أَمْ لَا
Aku mendapati mereka (para sahabat), mereka sedemikian bersungguh-sungguh dalam beramal shaleh, lalu bila mereka telah melakukannya, hati mereka dihinggapi rasa khawatir, ‘apakah amal mereka diterima ataukah tidak.’ ?
(Abdurrahman bin Ahmad bin Rojab al-Hanbaliy, “Latho-if al-Ma’arif Fii Maa Lil Mawasimi Min Wadha-if”, 1/232)



