Dari Ibnu Syihab az-Zuhriy, dari Urwah bin Zubair, dari Aisyah Ummul Mukminin, bahwa ia berkata, permulaan kali turun wahyu kepada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah berupa mimpi yang shalihah  [1] (baik) ketika tidur. Maka, tidaklah beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melihat mimpi kecuali datang [2] seperti cahaya di waktu pagi, kemudian beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ senang untuk menyendiri, beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ biasanya menyendiri [3] di gua [4]  hiro, beliau bertahannuts di dalamnya-tahannuts, yaitu : Ta’abbud, beribadah- beberapa malam sebelum beliau yanzi’a (pulang) [5] ke keluarganya dan kembali mempersiapkan bekal kembali untuk itu, kemudian beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ kembali kepada Khadijah lalu mempersiapkan bekal untuk melakukan hal yang serupa untuk beberapa malam hingga datang[6] al-Haq[7] (kebenaran) kepada beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sementara beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ masih di gua hiro. Maka, datanglah Malaikat kepadanya di gua hiro, lalu ia mengatakan : Bacalah !. Beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menjawab : “aku tidak dapat membaca.” Beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ berkata : lalu Malaikat itu menarikku dan mendekapku dengan kuat hingga aku harus berusaha keras untuk mempertahankan diri, kemudian Malaikat itu meninggalkan (melepaskan) aku, lalu ia berkata : “Bacalah !” akupun menjawab : “Aku tidak dapat membaca.” Maka, untuk kedua kalinya ia kembali menarikku dan mendekapku hingga aku harus berusaha keras untuk mempertahankan diri. Kemudian, ia kembali melepaskan aku, lalu ia berkata : “Bacalah !” Aku pun mengatakan : “Aku tidak dapat membaca.” Maka ia pun kembali menarikku dan mendekapku untuk yang ketiga kalinya hingga aku harus berusaha keras untuk mempertahankan diri. Kemudian, ia melepaskan aku kembali, lalu berkata, ucapkanlah :

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5) [العلق : 1 – 5]

[Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu-lah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”]

Maka, Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  kembali dengan membawa ayat-ayat tersebut  kepada Khadijah dalam kondisi hati yang gemetar [8] karena ketakutan. (Sesampai di rumah) beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ segera saja masuk menemui Khadijah binti Khuwailid رَضِيَ اللهُ عَنْهَا (istrinya), lalu beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ berujar, “selimutilah aku”, “selimutilah aku”, maka ia pun menyelimuti beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ hingga rasa takut hilang dari beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Lalu, beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan kepada Khadijah, menyampaikan kepadanya peristiwa tersebut, ‘Wahai Khadijah !, Sungguh aku menghawatirkan terhadap diriku sendiri’ (akan sakit atau meninggal dunia karena takut). Maka, Khadijah pun berujar : “Sekali-kali tidak, bergembiralah, demi Allah, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tak akan pernah menjadikan Anda bersedih selamanya, karena demi Allah, Anda adalah orang yang gemar menyambung silaturrahim, dan selalu benar dalam berbicara, memikul beban orang yang tidak bisa mengatur urusannya, suka memberi kepada orang fakir (orang yang membutuhkan), suka memuliakan tamu, suka menolong orang yang tertimpa musibah karena mengajak kepada kebenaran.”

Kemudian, Khadijah membawa beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ kepada Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza-anak pamannya, saudara ayahnya-, ia seorang yang beragama Nasrani di masa Jahiliyah, ia biasa menulis buku dengan bahasa Ibrani [9], ia pun menulis Injil dengan bahasa Ibrani [10] apa yang dikehendaki Allah untuk menulis. Dia telah berusia tua dan matanya telah buta, maka Khadijah berkata kepadanya,’Wahai anak pamanku, dengarkanlah apa yang akan diutarakan oleh anak saudaramu !. Maka Waraqah pun berujar kepada beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , ‘wahai anak saudaraku, apa gerangan sesuatu yang engkau lihat ? Maka beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pun memberitahukan kepadanya apa yang telah beliau lihat. Maka, Waraqah pun mengatakan kepadanya, ‘ Ini adalah Naamuus (Shahibu as-Sirr) yang telah Allah utus kepada Musa, aduhai andai saja aku kala itu masih muda, andai kata aku kala itu masih hidup, kala kaummu mengusirmu (dari tempat tinggalmu). Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pun berujar : “Akankah mereka benar-benar mengusirku ?” Waraqah pun menjawab : “Iya”, belum ada seorang pun yang datang dengan membawa seperti apa yang kamu bawa melainkan ia dijadikan sebagai seorang musuh [11],   jika saja aku masih hidup pada harimu itu niscaya aku akan berusaha keras untuk menolong kamu.”

Kemudian, belum saja Waraqah melakukan apa yang dia harapkan, dia telah meninggal dunia terlebih dahulu. Dan, wahyu pun tidak turun untuk beberapa lama hingga Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ merasa sedih. [12]

Faedah :

Dalam hadis ini terdapat banyak faedah yang dapat dipetik, antara lain :

1-Penjelasan mengenai awal keadaan diturunkannya wahyu kepada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

2-Bahwa mimpi yang baik boleh jadi menjadi sebab pengetahuan seseorang tentang hal yang akan terjadi pada masa depan hari-harinya.

3-Bahwa termasuk perkara yang dianjurkan kepada seseorang untuk menyendiri ketika harapannya terhadap manusia terputus, di mana seruannya dan ajakannya kepada kebaikan dan kebenaran belum saja direspon dengan baik, dan ketika mengkhawatirkan terhadap dirinya justru akan dapat terpengaruh oleh mereka. Dan, yang lebih utama bagi seseorang adalah terus berhubungan dengan manusia, turus mengajak dan menyeru mereka (kepada kebaikan dan kebenaran) walau pun ia mendapatkan banyak hal yang menyakitkan. Karena, sesungguhnya Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ setelah beliau diangkat sebagai Nabi dan Rasul, beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ membaur bersama manusia, beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mendatangi manusia, beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mendakwahi mereka, mengajak mereka (kepada kebaikan dan kebenaran) kerena Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

Adapaun Menyendirinya Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ di Gua Hira adalah sebelum diturunkannya wahyu kepada beliau. Adapun setelah wahyu diturunkan kepada beliau, beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melanjutkan dakwahnya, memerintahkan manusia agar mereka mengesakan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dengan beribadah hanya kepada-Nya.

4-Bahwa seseorang bila ingin bepergian atau melakukan perjalan, atau meninggalkan tempat tinggalnya, hendaknya ia membawa bekal dan nempersiapkan diri dengan melakukan berbagai macam persiapan yang nantinya akan dibutuhkannya, semisal makan, minum, dan lainnya.

5-Dalam hadis ini disebutkan tentang penamaan turunnya wahyu dengan ‘al-Haq” (kebenaran)

6-Bolehnya seseorang menyebutkan tentang sifat yang melekat pada dirinya. Oleh karena itu, Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan tentang salah satu sifat dirinya dengan perkataannya : مَا أَنَا بِقَارِئٍ  (aku tidak dapat membaca). Dalam ungkapan beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ini, terdapat informasi bahwa seseorang menghabarkan (kepada orang lain) tentang keadaan dirinya walau keadaan tersebut merupakan sisi kekurangan yang tidak diridhai oleh kebanyakan orang.

7-Bahwa “membaca” merupakan perkara yang disukai, baik pembacaan itu dilakukan dari hafalan seseorang atau pun dilakukan dengan membaca sesuatu dari sesuatu yang tertulis.

8-Dalam hadis ini juga berisi sedikit penjelasan tentang sebuah kondisi sesuatu yang memberatkan Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ saat diturunkannya wahyu kepada beliau.

9-Bahwa kapan seseorang merasa takut akan masa depannya, ia tidak tahu apa yang bakal menghampirinya, sehingga ia merasa takut dalam hatinya, hal tersebut tidaklah mengurangi kedudukannya, hal tersebut bukanlah merupakan sebab yang dengannya orang tersebut difonis bahwa derajatanya telah mengalami penurunan.

10-Bahwa seorang suami hendaknya bermusyawarah dengan pasangan hidupnya, sang suami mengemukakan kepada istrinya persoalan atau peristiwa yang tengah dihadapinya untuk meminta pendapat istrinya dalam menyikapi dan menghadapinya.

11-Bahwa seseorang ketika terhinggapi rasa takut dalam dirinya dapat memerintahkan orang lain supaya menutupi dirinya agar hal tersebut menjadi sebab hilangnya rasa takut dari dirinya.

12-Bahwa orang-orang yang berakal senantiasa mencermati dapak suatu hal yang boleh jadi akan timbul dan berpotensi akan mengenai mereka.

13-Bahwa termasuk bagian dari sunnatullah di alam ini adalah bahwa orang yang termasuk kalangan orang yang gemar berbuat baik kepada orang lain, niscaya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَال akan berbuat baik kepadanya.

14-Dalam hadis ini juga terdapat berbagai faedah dari tindakan silaturahim (menyambung tali kekerabatan), jujur dalam ucapan, membantu orang yang lemah, menolong orang-orang fakir, memuliakan tamu, dan meringankan musibah dan derita yang menimpa orang lain. Dan, dalam tindakan-tindakan tersebut terdapat petunjuk bahwa membersamai orang-orang yang membutuhkan bantuan dalam rangka mencari pahala dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dengan memberikan sesuatu yang dibutuhkan merupakan amal shaleh sangat diharapkan pahalanya (akan diraih oleh orang yang melakukannnya) di dunia dan di akhirat.

15-Dalam hadis ini juga terdapat faedah, yaitu, anjuran untuk merujuk kepada pendapat ahli (dalam menyikapi persoalan yang tengah dihadapi oleh seseorang), sebagaimana yang dilakukan oleh Khadijah yang menyampaikan persoalan yang tengah dialami Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ kepada Waraqah bin Naufal.

16-Bahwa barang siapa mengetahui perkara yang telah lalu dan mengetahui pula peristiwa yang terjadi di masa lampau, di mana ia mengetahui pula akibat buruk dari banyak hal yang telah berlalu tersenbut, niscaya ia memiliki pengetahuan pula tentang hal yang bakal terjadi, karena sesungguhnya sunnatullah di alam semesta ini berulang kejadiannya.

17-Bahwa kemampuan untuk membaca dan menulis merupakan dalil yang menunjukkan adanya kemungkinan seseorang mempelajari ilmu-ilmu yang tidak diketahui oleh orang lain yang tidak memiliki kemampuan untuk menulis (atau membaca).

18-Diambil (faedah) dari hadis ini bolehnya mempelajari bahasa selain bahasa Arab, dan bahwa tidak ada masalah bagi seseorang dalam proses mempelajarinya.

19-Bolehnya seseorang memilih cara yang ditempuh orang-orang yang benar, ketika seseorang mengetahui adanya kebenaran pada cara tersebut.

20-Bahwa seseorang bila ingin menghukumi sesuatu ia boleh mengaitkannya dengan sesuatu yang semisal dengannya, di mana hal itu mendekati persoalan  yang akan dihukumi. Oleh karena itu, Waraqah mengatakan (kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ) : ‘ Ini adalah Naamuus (Shahibu as-Sirr) yang telah Allah utus kepada Musa.’

21-Bolehnya seseorang berandai-andai untuk menjadi bagian dari penolong dan membela kebenaran.

22-Bahwa termasuk sunnatullah di alam semesta ini adalah bahwa para Nabi-Nya dimusuhi oleh kaumnya pada awal urusan mereka menyampakan risalah Rabbnya, sampai-sampai kaumnya berupaya mengeluarkan mereka dari tempat tinggalnya.

23-Bahwa semestinya seseorang berusaha tetap berada di atas kebenaran dan tetap kokoh berdiri di atasnya betapa pun orang lain melakukan makar terhadapnya dan betapa pun musibah demi musibah menderanya.

24-Bahwa adanya musuh bagi seseorang tidaklah berarti berkurangnya derajatnya kapan permusuhan itu tidak muncul dari sebuah asas yang benar dan bersumber dari sebuah sumber yang benar sebagai pijakan. Oleh karena itu, ketika Waraqah mengatakan (kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) “”Iya”, belum ada seorang pun yang datang dengan membawa seperti apa yang kamu bawa melainkan ia dijadikan sebagai seorang musuh.” Hal ini tidaklah menunjukkan akan batilnya dakwah yang disurukan oleh Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ atau tidaklah hal ini menunjukkan tidak adanya atau rendahnya kedudukan Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ di sisi Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

25-Hadis ini juga menunjukkan bahwa Ahlu Haq (orang-orang yang berpegang teguh dengan kebanaran) akan selalu saja dimusuhi oleh Ahlu Batil (orang-orang yang berpegang teguh dengan kebatilan), mereka membenci mereka, mereka membenci apa yang dibawa oleh mereka (berupa kebenaran). Dan, hal ini tidaklah menunjukkan berkurangnya derajat seseorang. Dan apabila seorang hamba merasa bahwa para Nabi Allah memiliki banyak musuh, maka ketika itu akan terasa ringan bagi seseorang adanya permusuhan terhadap dirinya disebabkan karena perjalanannya di atas jalan kebenaran dan dakwahnya kepada petunjuk.

26-Dalam hadis ini juga terdapat faedah bahwa hendaknya seseorang bertekad untuk melakukan amal ketaatan meskipun ia mengira bahwa dirinya tidak akan mungkin untuk melakukannya. Karena sesungguhnya sekedar seseorang bertekad kuat untuk melakukan ketaatan, ia akan dibalas karena hal itu dengan pahala mengerjakan ketaatan yang diniatkannya. Oleh karena itu, Waraqah mengatakan : “Jika saja aku masih hidup pada harimu itu niscaya aku akan berusaha keras untuk menolong kamu.”

27-Bahwa barang siapa yang berniat untuk melakukan ketaatan dan ia pun berusaha untuk melakukannya, namun ternyata ia tidak mampu untuk melakukannya, atau ternyata ia meninggal dunia sebelum bisa melakukannya, maka sungguh diharapkan baginya akan mendapatkan pahalanya.

28-Bolehnya seseorang terhinggapi rasa kesedihan disebabkan karena ketidaktahuannya akan wahyu atau disebabkan karena tidak sampainya wahyu kepadanya, karena Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersedih ketika sempat wahyu terhenti turunnya kepada beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ untuk berapa waktu lamanya. [13]

Wallahu A’lam

(Redaksi)

Catatan :

[1] Dalam riwayat lain dengan redaksi    صادقة(benar)

[2] Dalam riwayat lain dengan redaksi  جائته datang kepadanya.

[3] Dalam riwayat lain dengan redaksi  يحلق  dalam riwayat lain dengan redaksi : يأتي غار

[4] Sebuah lubang di sebuah gunung

[5] Dalam riwayat lain dengan redaksi “yanzi’a”

[6] Dalam riwayat lain dengan redaksi “faja-ahu”

[7] Perkara yang benar : Wahyu.

[8] Dalam riwayat lain dengan redaksi, بوادره

[9] Dalam riwayat lain dengan redaksi, العربي Bahasa Arab

[10] Dalam riwayat lain dengan redaksi, العربية Bahasa Arab

[11] Dalam riwayat lain dengan redaksi أوذي , disakiti

[12] Prof. Dr. Sa’d bin Nashir as-Satsriy, Mukhrashar Shahih al-Bukhari, 1-Kitab Bad-i al-Wahyi, Hadis No.3, hal. 8-9.

[13] Mukhtashar Shahih al-Bukhari, Prof. Dr. Sa’ad bin Nashir as-Satsriy, ad-Dars 2, 2/9/1443 H. menit ke 24 : 19 sd 45 : 47.