Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :
أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا (9) إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا (10) فَضَرَبْنَا عَلَى آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا (11) ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَى لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا (12) [الكهف: 9-12]
“Apakah engkau mengira bahwa sesungguhnya para penghuni gua dan (yang mempunyai) raqīm benar-benar merupakan keajaiban di antara tanda-tanda (kebesaran) Kami?
(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu berdoa, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan mudahkanlah bagi kami petunjuk untuk segala urusan kami.”
Maka, Kami tutup telinga mereka di dalam gua itu selama bertahun-tahun.
Kemudian Kami bangunkan mereka supaya Kami mengetahui manakah di antara dua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu).” (al-Kahfi : 9-12)
***
Makna Global
Dzat yang Maha Tinggi berfirman menjelaskan kisah ashabul kahfi ; apakah engkau mengira -wahai Muhammad- bahwa ashabul kahfi dan kitab (tulisan), mereka termasuk ayat-ayat Kami yang menakjubkan ?! karena sesungguhnya pada ayat-ayat Kami (yang lainnya) ada sesuatu yang lebih menakjubkan lagi daripada itu !
Ingatlah ketika mereka para pemuda itu masuk ke dalam gua; karena mereka takut dari adanya fitnah kaum mereka orang-orang kafir terhadap mereka. Maka, mereka mengatakan : “Wahai Rabb kami ! Berikanlah kepada kami sebuah rahmat dari sisi-Mu yang dengannya akan meneguhkan diri kami, dan mudahkanlah bagi kami sebab-sebab yang akan mengantarkan kami kepada apa yang Engkau cintai.” Lalu Kami lemparkan kepada mereka tidur yang sangat pulas selama beberapa tahun yang cukup banyak, kemudian Kami bangunkan mereka dari tidurnya ; agar Kami mengetahui yang nampak dan yang dapat disaksikan mana dari dua kelompok yang berselisih pendapat itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (di dalam gua itu).
Tafsir Ayat
Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا
“Apakah engkau mengira bahwa sesungguhnya para penghuni gua dan (yang mempunyai) raqīm benar-benar merupakan keajaiban di antara tanda-tanda (kebesaran) Kami?.”
Yakni, apakah kamu -wahai Muhammad-mengira bahwa ashabul kahfi dan kitab [1], mereka itu termasuk ayat-ayat Kami yang sangat menakjubkan ? Tidak. Bahkan, pada ayat-ayat Kami (yang lainnya) ada sesuatu yang lebih menakjubkan daripada itu [2]
Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
“(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu berdoa, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan mudahkanlah bagi kami petunjuk untuk segala urusan kami.”
Korelasi Ayat Ini dengan Ayat Sebelumnya
Ketika Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menganggap kecil perkara mereka (yakni, ashabul kahfi dan ar-Raqiim) ketika dibandingkan kemuliaan ayat-ayat-Nya, keagungan penjelasan-penjelasan-Nya, dan menakjubkannya ciptaan-ciptaan-Nya ; maka Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى meringkas kisah mereka ini yang mereka mengatagorikannya sebagai sesuatu yang sangat menakjubkan sementara mereka meninggalkan upaya melihat kepada keesaan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى Dzat yang Maha Esa dan Maha Perkasa, dengan sesuatu yang sangat menakjubkan dan berita yang sangat aneh (kedengarannya), maka Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman [3] :
إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ
“(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua.”
Yakni, ingatlah ketika para pemuda itu masuk dan berlindung ke dalam gua di sebuah gunung ; karena takut dari fitnah yang dihempaskan oleh kaum mereka orang-orang kafir yang akan menyambar agama mereka.[4]
فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً
Lalu (mereka) berdoa, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu.”
Yakni, para pemuda itu ketika masuk dan berlindung ke dalam gua segera saja mereka berdoa, seraya berkata : ‘Wahai Rabb kami berikanlah kepada kami rahmat yang besar dari sisiMu yang dengannya Engkau merahmati kami.” [5]
وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
“Dan mudahkanlah bagi kami petunjuk untuk segala urusan kami.”
Yakni, dan siapkan untuk kami sebab-sebab dan kondisi-kondisi di mana akibatnya kami bakal mendapatkan ketegaran dan ketuguhan di atas kebenaran, selamat dari (upaya buruk) orang-orang Musyrikin, mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan dapat mengamalkannya, sehingga urusan agama dan urasan dunia kami menjadi baik selaras dengan kebenaran.[6]
Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
فَضَرَبْنَا عَلَى آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا
“Maka, Kami tutup telinga mereka di dalam gua itu selama bertahun-tahun.”
Yakni, Kami lemparkan kepada mereka tidur yang sangat nyenyak selama bertahun-tahun yang cukup banyak.[7]
ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَى لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا
“Kemudian Kami bangunkan mereka supaya Kami mengetahui manakah di antara dua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu).”
Yakni, kemudian Kami bangunkan mereka dari tidur mereka -setelah berlalunya tahun-tahun yang cukup banyak itu- agar Kami mengetahui sebuah pengetahuan yang menampakkan pada keberadaan : manakah di antara dua golongan yang berbeda dalam kadar (waktu) tidur mereka di dalam gua itu [8] yang lebih tepat dan jeli dalam menghitung lama rentang waktu itu.[9]
Faidah :
1-Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :
أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا
“Apakah engkau mengira bahwa sesungguhnya para penghuni gua dan (yang mempunyai) raqīm benar-benar merupakan keajaiban di antara tanda-tanda (kebesaran) Kami?.”
Di dalamnya terdapat upaya pemalingan akal dari menyibukannya dengan keajaiban-keajaiban kisah kepada bahwa yang lebih utama dari itu adalah mengambil wejangan yang terdapat dalam kisah-kisah tersebut berupa ibroh-ibroh, sebab-sebab dan pengaruh-pengaruhnya ; oleh karena itu diawali dengan menyebutkan keadaan mereka (para Ashabul Kahfi itu) dengan firman-Nya :
إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu berdoa, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan mudahkanlah bagi kami petunjuk untuk segala urusan kami.”
Maka, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memberitahukan kepada manusia tentang keteguhan keimanan mereka kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan harapan mereka berada di dalamnya, dan dengan firman-Nya :
إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى… الآياتِ [الكهف: 13]
“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami menambahkan petunjuk kepada mereka…dan seterusnya.” (al-Kahfi : 13), yang menunjukkan bahwa mereka membatalkan kesyirikan dan mereka menganggap bodoh pelakunya; sebagai sebuah pernyataan tidak langsung bahwa kewajiban orang-orang yang mendengar (kisah mereka ini) hendaknya mereka meneladani petunjuk mereka.[10]
2-Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :
إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu berdoa, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan mudahkanlah bagi kami petunjuk untuk segala urusan kami.”
Ayat ini dengan jelas menunjukkan tentang tindakan seseorang pergi berlari dengan membawa agamanya (menuju keselamatan yang diharapkan), dan berhijrah meninggalkan keluarga, anak, kerabat, saudara, negeri dan harta benda; karena takut adanya fitnah dan apa-apa yang boleh jadi akan dijumpai seseorang berupa keadaan buruk. Sungguh Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah keluar (meninggalkan negeri asal kelahirannya, yaitu, Makkah) untuk pergi berlari dengan membawa agamanya. Begitu pula para sahabatnya. Dan, beliau duduk di sebuah gua -Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah menaskan hal itu di dalam surat at-Taubah-. Mereka berhijrah meninggalkan tempat tinggal mereka, mereka meninggalkan tanah dan rumah-rumah kediaman mereka, keluarga-keluarga mereka, anak-anak mereka, kerabat-kerabat mereka dan saudara-saudara mereka ; dengan harapan mereka akan mendapatkan keselamatan pada agama mereka dan akan terselamatkan dari fitnah orang-orang kafir. [11]
3-Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu berdoa, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan mudahkanlah bagi kami petunjuk untuk segala urusan kami.”
Mereka telah menghimpun antara upaya yang segera dan lari dari fitnah menuju ke sebuah tempat yang memungkinkan untuk menyembunyikan diri, dan antara sikap merendahkan diri mereka dan permintaan mereka kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى agar mendapatkan kemudahan dalam urusan mereka, dan mereka pun tidak menyandarkan diri mereka kepada diri mereka sendiri, tidak juga kepada makhluk (lainnya); oleh karena itulah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengabulkan doa mereka dan memampukan mereka, serta menyiapkan untuk mereka sesuatu yang sama sekali tidak mereka perkirakan sebelumnya.[12]
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Catatan :
[1] Di antara para ahli tafsir yang memilih pendapat bahwa yang dimaksud dengan “الرقيمِ” adalah الكتابُ adalah Ibnu Jarir, Ibnu Katsir, as-Sa’diy, Ibnu Asyur, dan Ibnu Utsaimin. Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/161. Tafsir Ibnu Katsir, 5/139. Tafsir as-Sa’diy, hal. 471. Tafsir Ibnu ‘Asyur, 15/260. Adhwaul Bayan, Syinqithiy, 3/206. Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 21.
Dan, di antara kalangan salaf yang berpendapat dengan pendapat ini adalah Ibnu Abbas dalam satu riwayat dari beliau, Sa’id bin Jubair, dan Ibnu Zaed. Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/159.
Ibnu Asyur mengatakan : الرَّقيمُ yaitu sebuah kitab yang dibawa serta oleh ashabul kahfi di gua mereka. Ada yang mengatakan, mereka menulis di dalam kitab tersebut hal-hal yang dijadikan pedoman oleh mereka dalam beragama berupa ajaran tauhid. Ada juga yang mengatakan, ‘Raqiim itu adalah kitab panduan agama mereka; sebuah agama yang ada sebelum (masa) Nabi Isa عَلَيْهِ السَّلَامُ. Ada juga yang mengatakan, ‘itu adalah agama Nabi Isa.’ Ada juga yang mengatakan, ‘Mereka (Ashabul Kahfi) menuliskan di dalam kitab tersebut faktor pendorong yang mendorong mereka untuk masuk ke dalam gua untuk lari dari kekufuran kaum mereka.” (Tafsir Ibnu Asyur, 15/260.)
Sedangkan asy-Syinqithiy mengatakan : “Pendapat yang paling nampak dari sisi pertimbangan bahasa Arab dan sebagian ayat-ayat al-Qur’an : bahwa kata الرقيمَ maknanya adalah المرقومُ, kata tersebut mengikuti wazan «فعيل» yang bermakna «مفعول», dari (ungkapan) رقَمْتُ الكتابَ : (yang berarti) إذا كتبْتَه (apabila kamu menulisnya), di antara yang menunjukkan makna ini adalah firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى : كِتَابٌ مَرْقُومٌ [المطففين: 9] ((Ia adalah) kitab yang berisi catatan (amal)). Baik kita katakan : sesungguhnya الرقيمَ itu adalah sebuah kitab yang berada di sisi mereka yang mana di dalamnya (terdapat catatan tentang) pedoman syariat mereka yang mereka pegang teguh, atau pun ( الرقيمَ itu) adalah sebuah lauh (papan) yang terbuat dari emas di mana tertulis padanya tentang nama-nama mereka, nasab-nasab mereka, kisah mereka, dan sebab keluarnya mereka (dari tempat kaum mereka menuju gua tersebut), atau pun ( الرقيمَ itu) adalah sebuah shakhroh (batu besar) di mana nama-nama mereka terukir padanya. Wallahu A’lam
Dan yang nampak bahwa ashabul kahfi dan ar-Raqiim merupakan satu kelompok yang disandarkan kepada dua hal, salah satunya dihubungkan dengan yang lain. (Adhwa-ul Bayan, 3/206).
Ada yang mengatakan juga bahwa الرقيمُ itu adalah nama gunung yang di dalamnya terdapat gua yang mereka masuki. Kalangan salaf yang berpendapat demikian ini antara lain adalah Ibnu Abbas dalam satu riwayat dari beliau, al-Hasan, dan Athiyyah dalam satu Riwayat dari beliau. Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/159. Tafsir Ibnul Jauzi, 3/66.
Ada juga yang berpendapat bahwa الرقيمُ itu adalah nama lembah di mana gua (yang dimasuki mereka itu) berada. Kalangan salaf yang berpendapat dengan pendapat ini antara lain adalah Ibnu Abbas dalam satu Riwayat dari beliau, Athiyyah dalam satu Riwayat dari beliau, Qatadah dan Dhahhak. Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/158. Tafsir Ibnul Jauzi, 3/66.
Sedangkan Ka’ab mengatakan : (ar-Raqiim) ia adalah nama kampung di mana mereka keluar darinya. Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/158. Tafsir Ibnul Jauzi, 3/66.
Dan, ada juga yang berpendapat selain pendapat-pendapat di atas. Lihat : Tafsir Ibnul Jauzi, 3/66.
[2] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/155. Tafsir Ibnul Jauzi, 3/66. Tafsir al-Qur’thubiy, 10/356. Al-Jawab ash-Shahih, Ibnu Taimiyah, 5/383, 384. Tafsir Ibnu Katsir, 5/138, 139. Tafsir as-Sa’diy, hal. 471. Tafsir Ibnu Asyur, 15/259, 260, Adhwa-ul Bayan, asy-Syinqithiy, 3/205, 206. Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal.21.
As-Sa’diy mengatakan, “Bukanlah yang dimaksudkan dengan penafiyan ini bahwa kisah ashabul Kahfi termasuk hal yang menakjubkan. Bahkan kisah ashabul kahfi tersebut termasuk ayat-ayat Allah yang menakjubkan. Namun, yang dimaksudkan adalah bahwa jenis kisah tersebut banyak sekali (jumlahnya). Sehingga berhenti pada kisah tersebut saja terkait dengan ketakjuban dan sesuatu yang mengherankan, merupakan kekurangan pada ilmu dan akal. Bahkan, pekerjaan seorang Mukmin adalah memikirkan dan merenungkan semua ayat-ayat Allah, yang mana Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menyeru para hamba-Nya untuk memikirkannya. Karena sesungguhnya ayat-ayat tersebut merupakan kunci-kunci keimanan, jalan ilmu dan ketegaran.” (Tafsir as-Sa’diy, hal. 471).
Dan, asy-Syinqitiy mengatakan, “Pendapat yang paling nampak tentang makna ayat yang mulia ini adalah bahwa Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman kepada Nabi-Nya صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : sesungguhnya kisah ashabul kahfi sekalipun manusia menganggapnya sebagai kisah yang besar dan mereka pun merasa takjub dengan kisah tersebut, sejatinya kisah itu tidak mengherankan menurut memampuan Kami dan keagungan ciptaan Kami; karena sesungguhnya ciptaan Kami berupa langit dan bumi, dan Kami jadikan apa yang ada di permukaan bumi itu sebagai perhiasan baginya, dan Kami menjadikannya setelah itu sebagai tanah yang tandus lagi kering. Hal ini lebih agung dan lebih menakjubkan daripada apa yang Kami perbuat terhadap ashabul Kahfi, dan dari Tindakan kami menidurkan mereka dalam waktu yang cukup panjang itu, kemudian Kami membangkitkan mereka. (Adhwa-ul Bayan, 3/205) .
Dan, Ibnu Katsir mengatakan : berkata al-‘Aufi dari Ibnu Abbas, (Ketika mengomentari firman-Nya) :
أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا
Apakah engkau mengira bahwa sesungguhnya para penghuni gua dan (yang mempunyai) raqīm benar-benar merupakan keajaiban di antara tanda-tanda (kebesaran) Kami?
Beliau mengatakan : yang aku datangkan kepadamu berupa ilmu, sunnah dan kitab lebih utama daripada keadaan ashabul kahfi dan ar-Raqiim.
Dan, Muhammad bin Ishaq mengatakan, “Apa yang aku tampakkan dari hujjah-hujjah-Ku atas para hamba itu lebih menakjubkan daripada keadaan ashabul kahfi dan ar-Raqiim.” (Tafsir Ibnu Katsir, 5/138)
[3] Lihat : Nazhmu ad-Durar, karya al-Biqaa-iy, 12/17.
[4] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/161. Tafsir Ibnu Katsir, 5/139. Tafsir as-Sa’diy, hal. 471. Tafsir Ibnu Asyur, 15/265, 266. Tafsir Ibnu Utsaimin -surat al-Kahfi, hal. 22.
Dan di antara (ahli tafsir) yang berpendapat bahwa zharaf terkait dengan fi’il (kata kerja) mahdzuf (dihapus) takdirnya adalah (اُذْكُرْ) )ingatlah) adalah al-Wahidi, ar-Raziy, asy-Syinqithi dan Ibnu Utaimin. Lihat : al-Basith, karya al-Wahidiy, 13/537. Tafsir ar-Raziy, 21/429. Adh-Waul Bayan, karya asy-Syinqithi, 3/207. Tafsir Ibnu Utsaimin -surat al-Kahfi, hal. 22.
Sedangkan Ibnu Asyur memilih pendapat bahwa (إذ) merupakan zharaf yang diidhafahkan ke kalimat setelahnya terkait dengan kata كَانُوا. Lihat : Tafsir Ibnu Asyur, 15/265.
[5] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir,15/161. Tafsir Ibnu Katsir, 5/139. Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 22.
Mengenai الرحمةُ (rahmat) yang dimohon oleh mereka kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, ada yang berpendapat (maksudnya adalah) المغفرةُ (ampunan), الرزقُ (rizki), dan الأمنُ مِن الأعداءِ (keamanan dari para musuh).
Di antara mereka (para ahli tafsir) yang memilih pendapat ini adalah Zamakhsyari, Ros’aniy, asy-Syaukani, al-Qasimi. Dan, al-Wahidi dan al-Qurthubi membatasi penafsiran الرحمةُ (rahmat) (dalam ayat ini) dengan memaknainya المغفرةِ (ampunan) dan الرزقِ (rizki). Lihat : al-Basith, karya al-Wahidi, 13/537. Al-Wajiz, karya al-Wahidiy, hal. 654. Tafsir Zamakhsyariy, 2/705. Tafsir al-Qurthubiy, 10/362. Tafsir ar-Ras’aniy, 4/247. Tafsir asy-Syaukaniy, 3/3223. Tafsir al-Qasimi, 7/8.
Dan, Ibnu Athiyyah menisbatkan tafsiran kata الرحمةِ dengan الرزقِ kepada para ahli tafsir. Lihat : Tafsir Ibnu Athiyyah, 3/499.
Ibnu Asyur mengatakan : Mereka (para pemuda ini) meminta (kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ) rahmat secara khusus yang melimpah ketika mereka menghadapi hal yang bertolak belakang dengannya, dan mereka ingin menuju kepada rasa aman dari fitnah tersebut atas keimanan mereka, dan agar mereka tidak menjumpai adanya keberatan dan penderitaan dalam upaya pengasingan diri mereka (dari kaum mereka). Serta, agar para musuh-musuh agama ini tidak dapat menghinakan mereka sehingga mereka menjadi fitnah bagi kaum kafir. (Tafsir Ibnu Asyur, 15/266).
[6] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/162. Tafsir Ibnu Katsir, 5/139. Tafsir as-Sa’diy, hal. 471. Tafsir Ibnu Asyur, 15/266. Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 22-23.
Syinqithi mengatakan, ‘dan (huruf) “مِنْ” dalam firman-Nya “مِنْ أَمْرِنَا” di dalamnya terdapat dua pandangan. Pertama, huruf tersebut untuk menunjukkan ‘tajrid’ . Atas dasar ini, sehingga maknanya adalah ‘jadikanlah bagi kami urusan kami terbimbing seluruhnya. Seperti anda mengatakan, “لقيتُ مِن زيدٍ أسدًا” (aku mendapati singa dari diri Zaed), ومن عمرٍو بحرًا (dan aku (mendapati) lautan dari diri Umar). Kedua, huruf tersebut (dalam ayat ini) untuk menunjukkan tab’idh (sebagian). Atas dasar ini, maka maknanya, ‘Dan jadikanlah untuk kami sebagian urusan kami-yaitu sebagian urusan yang kami tengah hadapi dari upaya buruk orang-orang kafir itu- sebagai urusan yang terbimbing, sehingga dengan sebab tersebut kami tergolong orang-orang yang terbimbing dan orang-orang yang mendapat petunjuk.’ (Adh-wa-ul Bayan, 3/207).
Dan, Ibnu Asyur mengatakan, ‘Yang dimaksud dengan الأمرُ (urusan) di sini adalah keadaan dan kondisi yang mana mereka tengah berada di dalamnya, yaitu penghimpunan iman dan berpegang teguh (di atas kebenaran) (dengan cara) mengasingkan diri ke tempat pengasingan diri dari orang-orang Musyrik. Dan, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah menyiapkan untuk mereka berupa keadaan yang dengannya mereka bakal mendapatkan petunjuk dan keterbimbingan. Antara lain adalah dipalingkannya musuh-musuh mereka dari menelisik jejak mereka, diberinya mereka ilham tentang tempat-tempat gua tersebut, dan pemosisian tubuh mereka pada posisi yang baik yang akan menjadikan jasad mereka tetap dalam keadaan selemat, ditidurkannya mereka dalam rentang waktu yang sangat lama agar zaman di mana dalam rentang waktu itu kota mereka berada berubah keadaannya, diperolehnya petunjuk dan keterbimbingan mereka hingga mereka tetap tegar berada di atas agama yang benar, dan mereka pun menyaksikan hal itu dalam keadaan mereka tertolong dan diikuti (prinsip agamanya), dan Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjadikan mereka sebagai sebuah ayat (tanda kekuasaan Allah) bagi manusia atas kebenaran agama (yang mereka pertahankan), dan atas kekuasaan Allah, dan akan kebenaran akan adanya hari kebangkitan (Tafsir Ibnu Asyur, 15/267).
[7] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/176. Tafsir al-Qurthubiy, 10/363. Tafsir Ibnu Katsir, 5/139. Tafsir as-Sa’diy, hal. 471. Tafsir Ibnu Asyur, 15/268. Adhwa-ul Bayan, karya : Syinqithi, 3/207.
[8] Ada yang mengatakan keduanya adalah dua kelompok dari para pemuda yang berada di dalam gua tersebut, sebagaimana Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman tentang mereka (dalam ayat ke-19 surat ini) :
وَكَذَلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ [الكهف: 19] .
Demikianlah, Kami membangunkan mereka agar saling bertanya di antara mereka (sendiri). Salah seorang di antara mereka berkata, “Sudah berapa lama kamu berada (di sini)?” Mereka menjawab, “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari.” Mereka (yang lain lagi) berkata, “Tuhanmu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini). (al-Kahfi : 19)
Dan, di antara ahli tafsir yang berpendapat dengan pendapat ini adalah asy-Syinqithi. Lihat : Adh-Wa-ul Bayan, 3/208.
Dan, terdapat kemungkinan bahwa dua golongan yang dimaksudkan itu adalah berasal dari orang-orang yang hidup pada zaman mereka. Maka, mereka berselisih tentang mereka (para pemuda yang tidur di dalam gua tersebut). Lihat : Tafsir Zamakhsyari, 2/705. Nazhmu ad-Durar, karya : al-Biqa’i, 12/19-20.
[9] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/176, 178. Al-Wajiz, karya al-Wahidi, hal. 654. Tafsir al-Qurthubiy, 10/363. Tafsir Ibnu Katsir, 5/139. Tafsir as-Sa’diy, hal. 471.
As-Sa’diy mengatakan : “Dan dalam pengilmuan tentang kadar waktu tinggalnya mereka (di dalam gua itu) terdapat (pelajaran) yaitu ‘ketepatan dalam perhitungan’, dan mengetahui akan kesempurnaan kuasa Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى , hikmah-Nya dan rahmat (kasih sayang-Nya). Karena, kalaulah mereka terus berada dalam keadaan tidur mereka, niscaya penelusuran terhadap sesuatu dari kisah mereka terkait hal tersebut tak akan terjadi. (Tafsir as-Sa’diy, hal. 471)
[10] Lihat : Tafsir Ibnu Asyur, 15/259.
[11] Lihat : Tafsir al-Qurthubiy, 10/360.
[12] Lihat : Tafsir as-Sa’diy, hal. 471.




