Pertama, Menjauhkan diri dari kemaksiatan dalam segala bentuknya semisal kekafiran, kesyirikan, nifak, dan segala bentuk amal yang buruk dan tabiat yang hina serta akhlak yang jelek.
Allah ﷻ berfirman kepada Nabinya ﷺ,
وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ
Dan ar-Rujz maka hajer-lah … ! (Qs. Al-Mudatsir : 5).
Ar-Rujzu, maknanya yaitu : اَلْأَصْنَام al-Ashnaam (berhala-berhala), bentuk meng-hajernya adalah dengan meninggalkannya (tidak menjadikannya sebagai sesembahan) dan berlepas diri darinya dan dari orang-orang yang menyembahnya (yakni, orang-orang musyrik).
Dan, Nabi ﷺ bersabda,
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
Seorang Muhajir (orang yang berhijrah sejati) adalah orang yang menjauhi apa yang dilarang Allah ﷻ. (HR. al-Bukhari)
Yakni, meninggalkan sesuatu yang Allah ﷻ larang berupa amal-amal, akhlak dan perkataan-perkataan (yang buruk), (meninggalkan) tindakan mengonsumsi makanan dan minuman yang diharamkan, (meninggalkan) perbuatan melihat atau memandang atau mendengarkan sesuatu yang haram. Sungguh, segala perkara ini wajib untuk ditinggalkan dan dijauhkan.
Kedua, Hijrah Hati kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya
Ini adalah bentuk hijrah yang teragung.
Hijrahnya hati kepada Allah ﷻ dengan mengikhlaskan segala bentuk ibadah kepada-Nya dalam keadaan tersembunyi dan dalam keadaan terang-terangan.
Hijrahnya hati kepada Rasulullah ﷺ dengan mengikutinya, mendahulukan ketaatan kepadanya dan mengamalkan ajarannya.
Globalnya, hijrah bentuk ini adalah hijrah kepada kitab Allah ﷻ dan sunnah Rasul-Nya ﷺ, dari segala bentuk kesyirikan, bid’ah (perkara baru yang diada-adakan), khurofat, pendapat, madzhab-madzhab yang menyelisihi al-Qur’an dan Sunnah.
(Dr. Shaleh bin Fauzan al-Fauzan, Hijratu al-Quluub, A’zhamu An-Waa-‘i al-Hijrah”)




