Sesungguhnya, di antara dzikir yang paling agung dan utama, adalah berdzikir kepada Rabb ﷻ dengan menyebut nama-namaNya yang paling indah dan sifat-sifatNya yang agung, menyanjung-Nya dengan sanjungan yang layak bagi-Nya, sebagaimana sanjungan-Nya atas diri-Nya, dan sanjungan kepada-Nya oleh hamba dan Rasul-Nya, Muhammad ﷺ berupa ciri-ciri keagungan, sifat-sifat kesempumaan, macam-macam pujian, dan yang sepertinya.
Hal itu karena sesungguhnya dzikir itu ada dua macam:
Pertama, dzikir nama-nama Rabb yang paling indah, sifat-sifatNya yang agung, dan menyanjung-Nya dengan hal itu, membersihkan Allah ﷻ serta mensucikan-Nya dari apa-apa yang tidak patut bagi-Nya ﷻ. Lalu ini juga terbagi dua jenis:
Jenis pertama; Memulai pujian dengan (menyebut) hal-hal itu dari orang berdzikir. Jenis inilah yang disebutkan dalam hadits-hadits tentang anjuran memuji Allah ﷻ, bertakbir, bertasbih, dan memperbagus sanjungan kepadaNya. Di antaranya sabda beliau ﷺ:
أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ أَرْبَعٌ : سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ ِللهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ
Perkataan yang paling dicintai Allah ada empat ; Subhanallah (Maha Suci Allah), alhamdulillah (segala puji bagi Allah), Laa Ilaaha Illallah (Tidak ada tuhan yang berhak disembah) selain Allah, dan Allahu Akhbar (Allah Maha Besar) [1]
مَن قال: سُبْحانَ اللَّهِ وبِحَمْدِهِ، في يَومٍ مِائَةَ مَرَّةٍ؛ حُطَّتْ خَطاياهُ وإنْ كانَتْ مِثْلَ زَبَدِ البَحْرِ.
Barang siapa mengucapkan, ‘Subhaanallah wa bihamdihi’ (Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya), seratus kali dalam sehari, maka dihilangkan kesalahan-kesalahannya meski seperti buih lautan.” [2]
Dan sabdanya :
كَلِمَتانِ خَفِيفَتانِ على اللِّسانِ، ثَقِيلَتانِ في المِيزانِ، حَبِيبَتانِ إلى الرَّحْمَنِ: ، سُبْحانَ اللَّهِ وبِحَمْدِهِ سُبْحانَ اللَّهِ العَظِيمِ
Ada dua kalimat yang ringan bagi lisan, berat dalam timbangan, dan disukai oleh Ar-Rahman; subhanallahi wa bihamdihi. Subhanallahi al-Azhim (Mahasuci Allah dan segala puji bagiNya, Mahasuci Allah yang Mahaagung).”[3]
Serta hadis-hadis yang serupa dengannya.
Adapun (dzikir) yang paling utama dari jenis ini dan paling merangkum sanjungan, adalah seperti ucapan :
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
Subhanllahi wa bihamdihi adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘Arsyihi wa midaada kelimaatihi’
(Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya, sejumlah ciptaan-Nya, sebesar keridhaan diri-Nya, seberat timbangan ‘Arsy-Nya, dan sebanyak kalimat-kalimatNya).
Sungguh ini lebih utama dari sekedar ucapan ‘subhanallah’ (Mahasuci Allah).
Begitu pula ucapan :
الحمدُ للهِ عَدَدَ ما خَلَقَ، والحمدُ للهِ مِلءَ ما خَلَقَ، والحمدُ للهِ عَدَدَ ما في السَّمواتِ والأرضِ والحمدُ للهِ مِلءَ ما في السَّمواتِ والأرضِ
‘alhamdulillah adada maa khalaq, walhamdulillah mil’a maa khalaq, walhamdulillah adada maa fis samaawaati wal ardh, walhamdulillah mil’a ,maa fis samaawaati wal ardhi’
(Segala puji bagi Allah sejumlah apa yang Dia ciptakan, segala puji bagi Alah sepenuh apa yang Dia ciptakan, segala puji bagi Allah sejumlah apa yang di langit dan dibumi, segala puji bagi Allah sepenuh apa yang di langit dan di bumi).
Sungguh ini lebih utama daripada sekedar ucapan ‘alhamdulillah’ (segala puji bagi Allah).
Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya, dari Juwairiyah, sesungguhnya Nabi ﷺ keluar dari sisinya di pagi hari Ketika selesai shalat shubuh, sementara dia (Juwairiyah) berada di tempat shalatnya. Kemudian Nabi ﷺ kembali setelah matahari agak tinggi dan dia (Juwairiyah) masih duduk (di tempat semula). Rasulullah ﷺ bersabda :
“Engkau masih dalam kondisi seperti yang aku tinggalkan ?’ Dia menjawab, “Benar!” Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda :
لَقَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، لَوْ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ مُنْذُ الْيَوْمِ لَوَزَنَتْهُنَّ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ .»
Sungguh aku telah mengucapkan empat kalimat sebanyak tiga kali, sekiranya ditimbang dengan apa yang engkau ucapkan sejak pagi hari ini, niscaya akan mengibanginya ; subhanallah wa bihamdihi adada khalqihi wa ridhaa nafsihi wa zinata ‘Arsyihi wa midaada kalimatihi (Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya, sejumlah ciptaan-Nya, sebesar keridhaan diri-Nya, seberat timbangan ‘Arsy-Nya, dan sebanya kalimat-kalimat-Nya).” [4]
Diriwayatkan imam Ahmad, ath-Thabrani, al-Hakim, dan selain mereka, melalui sanad jayyid, dari Abu Umamah al-Bahili, sesungguhnya Rasulullah melewatinya, sementara dia sedang menggerakkan kedua lisannya, maka beliau bertanya, “Apa yang engkau ucapkan wahai Abu Umamah ?” Dia menjawab, “Aku berdzikir kepada Rabbku.” Beliau bersabda :
ألا أُخبِرُكَ بأكثَرَ أو أفضَلَ مِن ذِكْرِكَ اللَّيلَ مع النَّهارِ والنَّهارَ مع اللَّيلِ؟ أنْ تقولَ: سُبحانَ اللهِ عدَدَ ما خلَق وسُبحانَ اللهِ مِلْءَ ما خلَق وسُبحانَ اللهِ عدَدَ ما في الأرضِ والسَّماءِ وسُبحانَ اللهِ مِلْءَ ما في الأرضِ والسَّماءِ وسُبحانَ اللهِ عدَدَ ما أحصى كتابُه وسُبحانَ اللهِ عدَدَ كلِّ شيءٍ وسُبحانَ اللهِ مِلْءَ كلِّ شيءٍ وتقولُ: الحمدُ للهِ مِثْلَ ذلكَ
Maukah aku beritahukan kepadamu sesuatu yang lebih banyak atau lebih utama daripada dzikir satu malam Bersama siangnya, atau siang Bersama malamnya, hendaknya engkau mengucapkan, ‘subhanallah adada maa khalaq, subhanallah mil’a maa khalaq, subhanallah adada maa fil ardhi wassamaa’, subhaanallah mil’a maa fil ardhi wassamaa, subhanallah adada maa ahshaa kitaabuhu, subhanallah adada kulli syai’in, subhanallah mil’a kulli syai’in.
(Mahasuci Allah sejumlah apa yang Dia ciptakan, Mahasuci Allah sepenuh apa yang Dia ciptakan, Mahasuci Allah sejumlah apa yang di bumi dan langit, Mahasuci Allah sepenuh apa yang di bumi dan langit, Mahasuci Allah sepenuh apa yang di bumi dan langit, Mahasuci Allah sejumlah apa yang dikandung kitab-Nya, Mahasuci Allah sejumlah segala sesuatu, Mahasuci Allah sepenuh segala sesuatu), dan engkau mengucapkan, ‘alhamdulillah’ sama seperti itu.” [5]
Semua ini termasuk dzikir dengan nama-nama Rabb dan sifat-sifatNya.
Jenis kedua; Mengabarkan tentang Rabb ﷻ mengenai hukum-hukum nama-nama dan sifat-sifatNya, seperti perkataan Anda, “Allah mendengar suara-suara hamba-hambaNya, melihat gerakan-gerakan mereka, tidak tersembunyi bagi-Nya dari amal-amal mereka yang tersembunyi, Dia lebih pengasih terhadap mereka dibanding bapak-bapak dan ibu-ibu mereka, Dia berkuasa atas segala sesuatu, Dia lebih gembira terhadap taubat hamba-Nya dibanding orang yang kehilangan hewan tunggangannya (lalu mendapatkannya), atau (ungkapan) seperti itu yang berupa sanjungan kepada-Nya yang patut bagi-Nya, di antara sanjungan-Nya terhadap diri-Nya, serta sanjungan kepada-Nya oleh hamba dan RasuI-Nya, tanpa menyelewengkan dan mengabaikan, serta tidak menyerupakan dan menggambarkan.
Kemudian jenis ini tercakup padanya tiga macam; pujian, sanjungan, dan pengagungan.
Pujian adalah mengabarkan tentang Allah dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya, disertai kecintaan dan keridhaan terhadap-Nya. Orang yang mencintai, akan tetapi hanya diam, maka dia tidaklah dinamakan orang yang memuji. Begitu pula orang menyanjung tanpa cinta, tidak dianggap memuji. Sampai dia mengumpulkan antara kecintaan dan sanjungan. Jika seseorang mengulang-ulang pujian-pujian secara berkesinambungan, maka ini disebut sanjungan. Apabila pujian itu dengan menyebut sifat-sifat kebesaran, keagungan, keangkuhan, dan kekuasaan, maka ini disebut pengagungan.
Allah telah mengumpulkan ketiga macam ini di awal surah AIFatihah. Apabila hamba berkata:
{الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam,” maaka Allah berfirman, ‘hamba-Ku memuji-Ku.” Jika dia berkata :
{الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,” maka Allah berfirman, “Hamba-Ku menyanjung-Ku.” Lalu ketika dia berkata :
{مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ}
“Raja Hari Pembalasan.” Maka Allah berfirman : “Hamba-Ku mengagungkan-Ku.”
Apa yang terdahulu dari macam pertama di antara macam-macam dzikir, yaitu dzikir pada Rabb dengan nama-nama dan sifat-sifatNya, dan ini terdiri dari dua jenis, seperti terdahulu, maka akan disebutkan perincian bagi macam ini pada pembahasan mendatang, insya Allah.
Kedua, dzikir (mengingat) perintah Rabb, larangan, dan hukum-hukumNya. Ini juga terbagi kepada dua jenis :
Jenis pertama; Dzikir kepada-Nya mengingat hal-hal itu, dalam rangka mengabarkan tentang-Nya, bahwa Dia memerintahkan hal ini, melarang hal ini, mencintai yang ini, murka terhadap ini, dan ridha kepada ini. Semua ini termasuk dzikir kepada Allah. Oleh karena itu, majlis-majlis ilmu yang dijelaskan padanya halal dan haram, serta dijelaskan padanya hukum-hukum, maka ini disebut majlis dzikir kepada Allah. Atha Al-Khurasani berkata, “Majlis-majlis dzikir adalah majlis-majlis halal dan haram, bagaimana engkau membeli, menjual, shalat, puasa, menikah, menceraikan, haji, dan yang sepertinya.”
Salah seorang ulama salaf, yakni Abu As-Suwar Al-Adawi, penah berada di suatu majlis saling membahas ilmu, dan bersama mereka seorang pemuda belia lalu berkata kepada mereka, “Ucapkanlah oleh kalian, ‘subhanallah, walhamdu lillah. “‘ Maka Abu As-Suwar marah dan berkata, “Celaka engkau, kalau begitu, sedang apa kami sekarang ini ?” [6]
Majlis-majlis dzikir tidak khusus bagi majlis-majlis yang disebutkan padanya nama Rabb dengan tasbih, tahmid, takbir, dan yang sepertinya. Bahkan ia mencakup semua majlis yang disebutkan padanya perintah Allah, larangan-Nya, halal dan haram, apa yang Dia sukai dan ridhai, serta apa yang Dia benci dan tidak sukai. Bahkan terkadang dzikir ini lebih bermanfaat daripada dzikir tersebut.
Jenis kedua; Dzikir kepada Allah saat ada perintah-Nya sehingga bersegera mengerjakannya, dan ketika ada larangan-Nya sehingga menjauh darinya. Komitmen seorang hamba terhadap perintah-perintah Allah ﷻ, ketundukannya terhadap syariat-Nya, kepatuhannya terhadap hukum-Nya, dan menjauhi larangan-IaranganNya, semua itu termasuk menegakkan dzikir kepada Allah. Mengingat perintah dan laranganNya adalah satu perkara, sedangkan dzikir pada Allah saat ada perintah dan larangannya, adalah perkara yang lain pula.
Pembagian-pembagian di atas telah dijelaskan İbnu AI-Qayyim rahimahullah dalam kitabnya AI-WaabiI Ash-Shayyib.[7] Beliau rahimahullah menyebutkan juga, apabila hal-hal itü terkumpul bagi orang berdzikir, niscaya dzikirnya menjadi dzikir paling utama, paling mulia, dan paling agung.
Kita mohon kepada Allah yang Mahamulia, agar merealisasikan bagi kami dan kamu hal itu, dan agar menolong kita semuanya untuk berdzikir, bersyukur, dan memperbagus ibadah kepada-Nya. Sungguh Dia Maha Mengabulkan permohonan dan Mahadekat.
Amin
(Redaksi)
Sumber :
Fiqhu al-Ad-‘iyyah Wa al-Adz-kar, Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Abbad al-Badr, 1/95-98.
Catatan :
[1] Diriwayatkan oleh Muslim, No. 2137.
[2] Shahih al-Bukhari, No. 6405, dan Shahih Muslim, No. 2691.
[3] Shahih al-Bukhari, No. 6049, dan Shahih Muslim, No. 2694.
[4] Shahih Muslim, No. 2726.
[5] Al-Musnad, 5/249, al-Mu’jam al-Kabir, 8/8128, dan al-Mustadrak, 1/513, dinyatakan shahih oleh al-Allamah al-Albani dalam Shahih al-Jami’, No. 2615.
[6] atsar ini dan yang sebelumnya disebutkan oleh Ibnu Rajab dalam penjelasan hadis Abu Darda tentang menuntut ilmu, hal. 23.
[7] halaman : 178-181.





