Manusia yang paling sempurna kenikmatannya adalah manusia yang menyatukan kenikmatan hati, ruh, dan jasmani.

Dia mengambil kenikmatannya yang mubah melalui jalur yang tidak mengurangi bagiannya di akhirat, dan tidak memutuskan kenikmatan mengenal Tuhannya dan merasa tentram kepada-Nya.
Orang ini termasuk orang-orang yang difirmankan tentang mereka,

هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Semua itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, (dan) khusus (untuk mereka saja) di hari Kiamat.” (Qs. al-A’raf : 32)

Sedangkan manusia yang paling rendah kenikmatannya adalah manusia yang mengambilnya melalui jalur yang menghalanginya untuk mendapat kenikmatan akhirat, sehingga dia termasuk orang-orang yang kepada mereka dikatakan,

أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا

“Kalian telah menghabiskan (rizki) yang baik untuk kehidupan dunia kalian dan kalian telah bersenang-senang (menikmati)nya.” (Qs. al-Ahqaf : 20)

(Dr. Ahmad bin Utsman al-Mazyad, Mukhtashar al-Fawaid, (e.i, hal.104)