๐ŸŒฟ Ikhlash dan mengesakan Allah ๏ทป dalam beribadah adalah hakekat iman hamba dan persaksiannya bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, sedangkan ittibaโ€™ dan mencontoh Rasulullah ๏ทบ adalah hakekat iman hamba dan persaksiannya bahwa Muhmmad adalah utusan Allah.

โ— Keislaman hamba tidak terwujud dan pernyataan dan perbuatan dan keyakinannya tidak diterima, kecuali apabila ia merealisasikan kedua prinsip ini (ikhlas dan ittibaโ€™) dan melaksanakan konsekwensi keduanya. Allah ๏ทป berfirman,

ููŽู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุฑู’ุฌููˆ ู„ูู‚ูŽุงุกูŽ ุฑูŽุจู‘ูู‡ู ููŽู„ู’ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ู’ ุนูŽู…ูŽู„ู‹ุง ุตูŽุงู„ูุญู‹ุง ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูุดู’ุฑููƒู’ ุจูุนูุจูŽุงุฏูŽุฉู ุฑูŽุจู‘ูู‡ู ุฃูŽุญูŽุฏู‹ุง

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”


๐Ÿ“š (Qs. Al-Kahfi : 110)

๐Ÿ’ฌ Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

โ€œSecara umum kita memiliki dua prinsip utama: Pertama, kita tidak beribadah kecuali kepada Allah. Kedua, kita tidak beribadah kepadanya melainkan dengan apa yang disyariatkan-Nya, tidak beribadah kepadaNya dengan ibadah yang bidโ€™ah. Dua prinsip ini adalah realisasi dari syahadat

ู„ูŽุง ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏูŒ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู


๐Ÿ“– (al-Fataawa, 1/333-334)