Allah ﷻ berfiman :
يَاأَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (al-Baqarah : 168)
Allah ﷻ menjadikan naluri manusia menyukai makanan.
Kita juga dikaruniai rasa nikmat dan lezat saat menyantapnya.
Kita pun diingatkan dengan rasa lapar melalui pencernaan kita.
Namun, kelezatan atau kenikmatan makanan dan minuman bukanlah tujuan.
Justru orang-orang yang hidup hanya untuk menikmati makanan dan minuman itu diserupakan oleh Allah ﷻ dengan binatang, di samping sebagai salah satu sifat orang-orang kafir yang menentang, sebagaimana firmanNya,
وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ
“Adapun orang-orang yang kufur bersenang-senang dan makan-makan (di dunia) seperti halnya hewan-hewan. Nerakalah tempat tinggal bagi mereka.” (Muhammad : 12)
[Prof. Dr. Abdul Basith Muhammad, Al-I’jaz al-ilmi fi at-Tasyri’ al-islami, ei, hal.13]





