Jika kita perhatikan tidak sedikit di antara manusia yang tidak beriman kepada Allah, tidak pula beriman dengan adanya kehidupan akhirat, mereka tidak bertakwa kepada Allah ﷻ namun bergelimangan dengan harta dunia. Sebaliknya tidak sedikit pula orang yang beriman kepada Allah dan beriman kepada adanya kehidupan akhirat, mereka bertakwa kepadaNya justru miskin harta.
Saudaraku…
Banyaknya harta dunia yang dimiliki mereka, bukanlah parameter tanda bahwa Allah mencintai mereka. Demikin pula halnya sedikitnya harta, bukan pula parameter tanda bahwa Allah tidak mencintai mereka, oleh karenanya, tidak sepatutnya kita terpedaya, karena harta dunia merupakan kesenangan sementara, sementara ketakwaan kepadaNya akan mengantarkan pelakunya kepada kebahagiaan sejati selama-lamanya,
Allah ﷻ berfirman,
لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ (196) مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ (197) لَكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نُزُلًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِلْأَبْرَارِ (198) [آل عمران : 196 – 198]
Jangan sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di seluruh negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat kembali mereka ialah neraka Jahannam. (Jahannam) itu seburuk-buruk tempat tinggal.
Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, mereka akan mendapat surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya sebagai karunia dari Allah. Dan apa yang di sisi Allah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti. (Qs. Ali Imran : 196-198)






