Setelah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menyebutkan golongan pertama pada hari Kiamat, yaitu golongan orang-orang kafir, bahwa banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas, diberi mimun (dengan air) dari sumber yang sangat panas, mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.”
Kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menyebutkan golongan kedua pada hari kiamat nanti, seraya berfirman :
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاعِمَةٌ (8) لِسَعْيِهَا رَاضِيَةٌ (9) فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ (10) لَا تَسْمَعُ فِيهَا لَاغِيَةً (11) فِيهَا عَيْنٌ جَارِيَةٌ (12) فِيهَا سُرُرٌ مَرْفُوعَةٌ (13) وَأَكْوَابٌ مَوْضُوعَةٌ (14) وَنَمَارِقُ مَصْفُوفَةٌ (15) وَزَرَابِيُّ مَبْثُوثَةٌ (16)
“Banyak muka pada hari itu berseri-seri
Merasa senang karena usahanya
Dalam Surga yang tinggi
Tidak kamu dengar di dalamnya perkataan yang tidak berguna
Di dalamnya ada mata air yang mengalir
Di dalamnya ada tahta-tahta yang ditinggikan
Dan gelas-gelas yang terletak (di dekatnya)
Dan bantal-bantal sandaran yang tersusun
Dan permadani-permadani yang terhampar.” (al-Ghasyiyah : 8-16)
Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاعِمَةٌ
“Banyak muka pada hari itu berseri-seri.”
Yakni wajah yang ceria karena kegembiraan dan pahala besar yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى limpahkan. Dan karena ia telah menyaksikannya semenjak di dalam kubur. Seorang akan diberi nikmat dalam kuburnya. Akan dibuka untuknya jalan menuju Surga. Lalu berhembuslah aroma dan kenikmatan Surga kepadanya sementara wajahnya berseri-seri.
Kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
لِسَعْيِهَا رَاضِيَةٌ
“Merasa senang karena usahanya.”
Yaitu karena amal usahanya di dunia ia merasa senang dan karena ia telah sampai kepada kenikmatan dan kegembiraan tersebut. Ia merasa gembira dengan hasil usahanya. Berbeda dengan wajah-wajah golongan pertama yang penuh kejengkelan –wal ‘iyadzubillah-, mereka tidak gembira dengan usaha yang telah mereka kerjakan.
Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :
فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ
“Dalam Surga yang tinggi.”
Surga adalah tempat yang penuh kenikmatan yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى sediakan untuk para wali-wali-Nya pada hari Kiamat nanti. Di dalamnya terdapat apa-apa yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [السجدة : 17]
“Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan padangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (as-Sajdah : 17)
Dalam ayat lain Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4)
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna dan orang-orang yang menunaikan zakat.” (al-Mukminun : 1-4)
Sampai kepada firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :
أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11)
“Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi Surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (al-Mukminun : 10-11)
Dalam ayat lain Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :
وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ [الزخرف : 71]
“Di dalam Surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (az-Zukhruf : 71)
Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :
فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ
“(Mereka berada) di dalam Surga yang tinggi.”
Tempat yang tinggi adalah kebalikan dari tempat yang rendah, (Surga yang tinggi itu) terletak di atas langit yang tujuh. Seperti diketahui bahwa langit dan bumi yang tujuh akan hilang pada Hari Kiamat nanti dan yang tinggal hanyalah Jannah (Surga) dan Naar (Neraka). Surga menjulang tinggi dan tempat yang paling tinggi dan paling tengahnya adalah Surga Firdaus. ‘Arsy Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tepat berada di atasnya.
Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :
لَا تَسْمَعُ فِيهَا لَاغِيَةً
“Tidak kamu dengar di dalamnya perkataan yang tidak berguna.”
Yakni di dalam Surga tersebut tidak akan terdengar perkataan yang sia-sia dan tidak ada nafas yang sia-sia. Semua yang ada di dalamnya adalah benar dan kesejahteraan, semuanya adalah ucapan tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir. Mereka akan dimudahkan bertasbih semudah bernafas. Yaitu tidaklah sukar bagi mereka dan tidak mengganggu mereka. Mereka selalu berdzikir kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, selalu bertasbih, selalu riang dan gembira. Mereka saling mengunjungi satu sama lain dalam kegembiraan yang tiada taranya.
Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :
فِيهَا عَيْنٌ جَارِيَةٌ
“Di dalamnya ada mata air yang mengalir.”
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjelaskan tentang mata air ini dalam ayat lain bahwa ia adalah sungai :
فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى
“Di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamer (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring.“ (Muhammad : 15)
Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى : جَارِيَةٌ (yang mengalir) artinya sungai-sungai itu mengalir menurut kehendak penghuni Surga, tanpa perlu menggali parit dan jalan air lagi. Seperti yang diutarakan oleh Ibnul Qayyim رَحِمَهُ اللهُ dalam syairnya :
أَنْهَارُهَا فِي غَيْرِ أُخْدُوْدٍ جَرَتْ سُبْحَانَ مُمْسِكُهَا عَنِ الْفَيْضَانِ
Sungai-sungai di Surga mengalir tanpa parit
Maha suci Allah yang menahannya hingga tidak meluap
Kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :
فِيهَا سُرُرٌ مَرْفُوعَةٌ (13) وَأَكْوَابٌ مَوْضُوعَةٌ (14) وَنَمَارِقُ مَصْفُوفَةٌ (15) وَزَرَابِيُّ مَبْثُوثَةٌ (16)
“Di dalamnya ada tahta-tahta yang ditinggikan. Dan gelas-gelas yang terletak (di dekatnya). Dan bantal-bantal sandaran yang tersusun. Dan permadani-permadani yang terhampar.” (al-Ghasyiyah : 13-16)
Perhatikanlah penyebutan yang berpasangan, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :
فِيهَا سُرُرٌ مَرْفُوعَةٌ
“Di dalamnya ada tahta-tahta yang ditinggikan.”
Mereka duduk di atasnya dengan penuh kegembiraan.
Dalam ayat lain Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :
هُمْ وَأَزْوَاجُهُمْ فِي ظِلَالٍ عَلَى الْأَرَائِكِ مُتَّكِئُونَ
“Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelakkan di atas dipan-dipan.” (Yasin : 56)
Kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :
وَأَكْوَابٌ مَوْضُوعَةٌ
“Dan gelas-gelas yang terletak (di dekatnya)”
أَكْوَابٌ (Akwabun) adalah bentuk jamak dari kata كُوْبٌ (kuubun), yaitu gelas dan sejenisnya. Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى : مَوْضُوعَةٌ , artinya tidak diangkat dari mereka. Yakni gelas-gelas tersebut tetap terhidang kapan saja mereka mau meminumnya dari empat sungai yang telah disebutkan sebelumnya.
Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :
وَنَمَارِقُ مَصْفُوفَةٌ
“Dan bantal-bantal sandaran yang tersusun”
نَمَارِقُ (namaa-riq) adalah bentuk jamak dari kata ‘نِمْرِقَةٌ ‘artinya bantal atau sesuatu yang dibuat sandaran. Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى : مَصْفُوفَةٌ (yang tersusun) yakni dalam bentuk yang paling indah yang sedap dipandang mata sebelum dinikmati oleh badan dengan bersandar kepadanya.
Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :
وَزَرَابِيُّ مَبْثُوثَةٌ
“Dan permadani-permadani yang terhampar”
زَرَابِيُّ (aZ-Zaraabiy) adalah jenis permadani yang paling mewah. Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى : مَبْثُوثَةٌ yakni tersedia di setiap tempat. Jangan kira bantal, gelas, dipan, dan permadani ini seperti yang ada di dunia, kalaulah seperti yang ada di dunia tentu kita sudah mengetahui nikmat akhirat dan mengetahui hakikatnya. Benda-benda itu sama sekali tidak sama hakikatnya berdasarkan firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (as-Sajdah : 17)
Namanya sama tapi hakikatnya jauh berbeda. Oleh sebab itu Abdullah bin Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُ berkata : “Tidak ada persamaan antara perkara yang ada di akhirat dengan yang ada di dunia melainkan dalam nama dan sebutannya saja.”
Kita tidak mengetahui hakikat kenikmatan yang ada di dalam Surga, meskipun kita melihat benda-benda yang sama namanya di dunia ini, tapi hakikatnya jelas berbeda. [1]
Faidah :
Di antara faidah yang dapat kita petik dari beberapa ayat di atas adalah sebagai berikut :
1-Penyebutan ayat-ayat di atas, yang berisikan perihal keadaan orang-orang yang beriman yang diberikan kepada mereka berbagai kenikamatan nantinya pada hari itu sebagai salah satu bentuk kabar gembira bagi mereka, hal tersebut disebutkan setelah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menyebutkan keadaan orang-orang yang tidak beriman (yakni, orang-orang kafir) nantinya di hari itu, sebagai salah salah satu bentuk ancaman-Nya yang keras terhadap mereka bila mana mereka terus saja berada dalam kekafiran selama hidupnya di dunia. Bila mereka enggan untuk menyerap cahaya iman ke dalam hati-hati mereka.
2-Bahwa pada hari Kiamat nanti, akan tampak pada wajah-wajah orang-orang yang beriman bekas-bekas kenikmatan ; berupa berseri-serinya wajah, kegembiraan, keelokan, kenyamanan, kemewahan dan kesejahteraan, serta kesenangan hidup.[2] Sebagaimana Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :
إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ (22) عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ (23) تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ (24)
“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (Surga yang penuh) kenikmatan. Mereka (duduk) di atas dipan-dipan melepas pandangan. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup yang penuh kenikmatan.” (al-Muthaffifin : 22-24)
3-Bahwa penampakan roman wajah-wajah mereka di hari itu sedemkian memperlihatkan kegembiraan oleh karena hati-hati mereka ridha dengan hasil berupa pahala yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berikan kepada mereka atas jerih payah yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia berupa amalan-amalan ketaatan kepada-Nya.[3]
4-Bahwa Surga itu tinggi dan para penduduk Surga mereka berada di tempat-tempat yang tinggi di dalamnya.
5-Bahwa para penduduk Surga tidak mendengar di dalam Surga kata-kata apa pun yang tidak ada faidah di baliknya. [4]
6-Bahwa di dalam Surga yang tinggi itu terdapat mata air yang mengalirkan air atau yang lainnya berupa beberapa macam minuman yang dialirkan tanpa adanya parit yang membatasinya. [5]
7-Bahwa di dalam Surga yang tinggi itu terdapat, tahta-tahta yang ditinggikan, gelas-gelas yang terletak (di dekatnya), bantal-bantal sandaran yang tersusun, dan permadani-permadani yang terhampar.
8-Dalam firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :
لَا تَسْمَعُ فِيهَا لَاغِيَةً
“Tidak kamu dengar di dalamnya perkataan yang tidak berguna.” terdapat peringatan bahwa Surga merupakan tempat kesungguhan dan sebenarnya, sehingga tidak ada perkataan di dalamnya kecuali perkataan yang memiliki faidah; karena jiwa-jiwa di dalamnya telah bersih dari segala bentuk kekurangan, sehingga tidak ada yang menjadikannya dapat menikmati kelezatan kecuali kenyataan, kebenaran dan keaslian, ketinggian, kemuliaan akal dan akhlak, mereka tidak mengucapkan kata-kata kecuali sesuatu yang akan menambahkan pada jiwa-jiwa itu kesuciannya. [6]
9-Apa yang disebutkan ini merupakan bentuk janji bagi orang-orang yang beriman bahwa bagi mereka di dalam Surga hal-hal yang telah mereka ketahui berupa berbagai bentuk kenikmatan di dunia, dan mereka telah mengetahui bahwa kemewahan Surga tidak dapat disifati secara sempurna melalui kata-kata, dan hal itu terhimpun secara global dalam firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :
وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Di dalam Surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (az-Zukhruf : 71) [7]
Kita bermohon kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى semoga menjadikan kita semua sebagai bagian dari golongan yang kedua ini, yaitu golongan para penduduk Surga. Amin
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Catatan :
[1] Tafsir Juz Amma, Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, hal. 174-176.
[2] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 24/333, Tafsir al-Qurthubiy, 20/32, Tafsir Ibnu Katsir, 8/386, Tafsir as-Sa’diy, hal. 922, dan Tafsir Ibnu ‘Asyur , 30/299.
[3] Lihat : Tafsir al-Wasith, al-Wahidi, 4/475.
[4] Lihat : Tafsir Ibnu Katsir, 8/386.
[5] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 24/336, Tafsir al-Qurthubi, 20/33, Nazhmu ad-Durar, al-Biqa’i, 9,10/22.
[6] Lihat : Tafsir Ibnu Asyura, 30/300.
[7] Lihat : Tafsir Ibnu Asyura, 30/303.



