Telah berlalu kebanyakan hari-hari ini (10 hari awal Dzul Hijjah), dan tersisa dua hari yang paling baik dan paling utamanya. Tersisa dua hari, yaitu, hari Arafah dan hari Nahr.
Dua hari ini merupakan hari nan mulia lagi agung. Kedua hari ini berserikat dengan hari-hari sebelumnya bahwasanya kedua hari ini merupakan hari-hari yang paling utama sepanjang zaman.
Kedua hari ini memiliki keistimewaan dan keutamaan yang tidak ada pada seluruh hari-hari sepanjang tahun.
✨ Hari Arafah merupakan hari di mana Allah ﷻ menyempurnakan nikmat bagi para pemeluk Islam.
Allahﷻ berfirman:
ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (al-Maidah: 3)
Di dalam Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim) disebutkan dalam hadis dari Thariq bin Syihab bahwa seorang Yahudi datang kepada Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu lalu berkata:
“Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya di dalam kitab kalian terdapat satu ayat. Seandainya ayat tersebut turun kepada kami kaum Yahudi, niscaya hari diturunkannya ayat itu akan kami jadikan sebagai hari raya.”
Maka Umar bertanya:
“Ayat apakah itu?”
Orang Yahudi tersebut menjawab:
ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.”
(QS. al-Ma’idah: 3)
Lalu Umar bin Khattab berkata:
“Sungguh, aku benar-benar mengetahui hari dan tempat turunnya ayat tersebut. Ayat itu turun kepada Nabi ﷺ di Arafah, pada hari Jumat.”
Tentang hari ini (hari Arafah), Allah ﷻ bersumpah dengannya, sebagaimana dalam firman-Nya:
وَشَاهِدٖ وَمَشۡهُودٖ
“Demi yang menyaksikan dan yang disaksikan.” (al-Buruj: 3)
Yang menyaksikan (شَاهِدٖ) adalah ‘hari Jum’at’, menurut pendapat sekelompok ahli tafsir. Sedangkan مَشۡهُودٖ (yang disaksikan) adalah ‘hari Arafah.’
Dan hari Arafah itu adalah ‘al-Witru’ (yang ganjil), dalam firman Allah ﷻ :
وَٱلشَّفۡعِ وَٱلۡوَتۡرِ
“Demi yang genap dan yang ganjil.” (al-Fajr : 3)
(Syaikh Prof.Dr. Khalid bin Abdullah al-Mushlih, Baqiya Min Ayyami al-‘Asyr Yaum Arafah Wa Yaum an-Nahr)




