Para ulama mengatakan, “Sesungguhnya berkorban disyariatkan untuk suatu hikmah yang banyak, antara lain :

Pertama : Menghidupkan sunnah Ibrahim al-Khalil عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَاَلسَّلَامُ ketika ia bermimpi bahwa ia menyembelih anaknya Ismail, sedangkan mimpi para Nabi haq dan terpercaya. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

﴿وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي سَيَهۡدِينِ ٩٩ رَبِّ هَبۡ لِي مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ١٠٠ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ١٠١ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٠٢﴾ ﴿فَلَمَّآ أَسۡلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ ١٠٣ وَنَٰدَيۡنَٰهُ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ ١٠٤ قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٠٥ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ ١٠٦﴾

Dan dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya aku harus pergi (menghadap) kepada Tuhanku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.

Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang shaleh.

Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail).

Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku ! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu !” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku ! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu ; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya, (untuk melaksanakan perintah Allah).

Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim !, sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.

Pengarang (tafsir) Zhilaal -semoga Allah merahmatinya- mengatakan :

“ Kemudian datanglah sesi kedua dari kisah Ibrahim…telah selesai urusannya bersama bapaknya dan kaumnya. Sungguh, mereka sedemikian mengingkan Ibrahim binasa dalam kobaran api yang mereka menamakannya ‘Jahim’, sedangkan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menghendaki merekalah orang-orang yang merugi. Dan, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى pun menyelamatkan Ibrahim dari tipu daya mereka semuanya.

Ketika itulah Ibrahim membelakangi satu sesi dari kehidupannya untuk menghadapi sesi kehidupan berikutnya. Ia melipat satu lembaran hidup untuk membuka lembaran hidup(nya yang berikutnya)

وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي سَيَهۡدِينِ

Dan dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya aku harus pergi (menghadap) kepada Tuhanku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.

Begitulah…“Sesungguhnya aku harus pergi (menghadap) kepada Tuhanku…” sesungguhnya hal itu adalah ‘hijrah’. Itu adalah hijrahnya jiwa sebelum menjadi hijrah (pindah) tempat. Sebuah hijrah di mana ia meninggalkan di belakangnya segala hal yang telah berlalu dari kehidupannya. Ia meninggalkan ayahnya, kaumnya, keluarganya, rumahnya, negerinya, dan segala hal yang berkaitan dengan bumi ini (tempat keberadaannya) dan manusia-manusia ini, dan demikian pula ia pun  meninggalkan di belakangnya segala hal yang menghalanginya dan apa pun hal yang menyibukkannya. Ia pergi (menghadap) Rabbnya dengan meringankan diri dari segala hal. Ia melemparkan segala hal di belakangnya. Ia memasrahkan dirinya kepada Tuhannya, tidak menyisakan sedikit pun juga dari beban-bebannya. Ia yakin bahwa Tuhanya akan menunjukinya, akan memperhatikan dan menjaga langakah-langkahnya, dan memindahkan langkah-langkahnya tersebut ke jalan yang lurus. Sungguh, itu merupakan hijrah yang sempurna dari satu kondisi ke kondisi lainnya, dari satu posisi dan situasi ke posisi dan situasi yang lainnya. Dari beban-beban yang beragam ke satu beban yang tidak akan ada sesuatu pun dalam jiwa yang akan menyesakkannya. Sesungguhnya hal itu merupakan ungkapan yang menggambarkan tentang pengfokusan diri, pemurnian diri, penyerahan diri, ketenangan dan keyakinan.”

Saat itu, sampai detik ini Ibrahim masih seorang diri belum memiliki keturunan, sementara ia meninggalkan di belakangnya bebnn-beban keluarga dan kerabat, persahabatan dan perkenalan, dan segala hal yang telah biasa dialaminya dalam kehidupannya yang telah lalu dan segala hal yang telah menguatkannya untuk tetap tinggal di tanah kelahirannya yang mana ia tumbuh berkembang di sana. Tanah kelahiran yang telah memutuskan apa yang terjadi antara dirinya dan penduduknya, orang-orang yang mana mereka telah melemparkannnya ke dalam kobaran ‘al-Jahim’ (api). Maka, ia menuju kepada Rabbnya yang ia telah memberitahukan bahwa dirinya akan pergi (menghadap) kepada-Nya. Ia menuju kepada-Nya, ia meminta kepada-Nya agar mengaruniakan anak keturunan yang beriman dan peninggalan yang shaleh :

رَبِّ هَبۡ لِي مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang shaleh.

Dan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى pun mengijabahi doa hamba-Nya yang shaleh yang telah meninggalkan segala sesuatu di belakangnya, dan datang menghadap kepada-Nya dengan hati yang selamat.

فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ

Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar.

Anak itu adalah Ismail -sebagaimana dikuatkan oleh alur cerita sejarah dan surat-. Dan, kita akan melihat penampakan kesabarannya yang disifati oleh Rabbnya saat ia masih kecil. Dan, kita dapat menggambarkan betapa gembiranya Ibrahim yang tadinya hidup seorang diri, yang berhijrah yang terputus dari keluarga dan kerabatnya. Dan kita pun kiranya dapat menggambarkan kegembiraan Ibrahim dengan hadirnya seorang anak yang disifati Rabbnya dengan ‘halim’ (sangat penyabar).

Sekarang, tiba saatnya kita menengok sikap yang sedemikian agung satu-satunya yang ada dalam kehidupan Ibrahim. Bahkan dalam kehidupan manusia seluruhnya.

Dan sekarang kita akan menghentikan sesaat alur cerita ini dalam al-Qur’an di hadapan perumpamaan yang diwahyukan yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى bentangkan untuk ummat Islam ini tentang moyangnya Ibrahim.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku ! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu !” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku ! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu ; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Ya Allah ! Alangkah indahnya pesona iman, ketaatan dan kepasrahan diri.

***

Sesungguhnya ia tidak ragu-ragu, dan tidak ada yang menyibukkan pikirannya kecuali perasaan untuk melakukan ketaatan, dan tidak ada yang melintasi pikirannya kecuali lintasan pikiran kepasrahan dan penyerahan diri…

Ya, sesungguhnya mimipi itu sebuah isyarat, hanya sekedar isyarat, bukan merupakan wahyu yang tegas, bukan pula merupakan perintah yang langsung. Akan tetapi itu adalah isyarat dari Rabbnya … dan ini sudah mencukupi…ini sudah cukup baginya untuk menyambut dan mengijabahinya. Tanpa ia melawannya dan tanpa ia bertanya kepada Rabbnya…”Mengapa -wahai Tuhanku- aku harus menyembelih anakku satu-satunya ?!”.

Akan tetapi ia (Ibrahim) tidak menyambut seruan itu dalam keadaan jengkel dan cemas, dan juga tidak memasrahkan diri dalam keadaan ragu dan berkeluh kesah, dan tidak pula ia taat dalam keadaan kacau jiwa dan pikirannya…sekali-kali tidak, namun ia hanya menerima, ridha, tenang dan nyaman saja jiwanya. Hal tersebut tampak pada ungkapan kata-katanya terhadap anaknya, saat ia melontarkan kepadanya perkara yang menakutkan, ia tetap dalam keadaan santai dan tenang nan menakjubkan,

قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ

(Ibrahim) berkata, “Wahai anakku ! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu.

Itu adalah kata-kata orang yang mampu mengendalikan saraf-saraf (pikirannya), orang yang tenang menyikapi perintah/perkara yang ditujukan kepadanya, orang yang percaya bahwa dirinya bakal mampu menunaikan kewajibannya. Dan, pada saat yang sama, itu merupakan ungkapan kata-kata orang yang beriman, yang mana perintah/perkara itu tidaklah menjadikannya kacau, namun ia tetap melakukannya, ia segera mendorong dirinya, bersegera untuk membebaskan dirinya dari perkara tersebut dan selesai, dan segera beristirahat dari beratnya bebannya (yang dipukulnya) di atas saraf-sarafnya.

Perkaranya berat -tidak ada keraguan dalam hal itu- Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tidak memintanya (Ibrahim) agar mengirimkan anaknya yang satu-satunya ini ke medan perang. Tidak pula Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى meminta kepadanya agar ia membebankan kepada anaknya perkara yang dengannya hidupnya akan selesai …Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى hanya meminta kepadanya agar ia melakukannya sendiri dengan tangannya. Melakukan apa ? melakukan penyembelihan anaknya… dia-bersamaan dengan ini- ia menghadapi perkara ini dengan model seperti itu, dan ia memaparkan kepada anaknya dengan pemaparan model ini ; dan ia pun meminta kepada anaknya agar ia mempertimbangkan perkaranya, dan agar Ibrahim melihat pendapatnya dalam perkaranya ini.

Sesungguhnya ia (Ibrahim) tidak mengambil tindakan terhadap anaknya semerta-merta saat dalam kelalaiannya untuk mengimplementasikan isyarat Rabbnya, dan selesai. Tapi, ia terlebih dahulu menyampaikan perkara itu kepadanya seperti orang yang tengah memaparkan sesuatu yang sudah biasa saja. Karena perkara ini, dalam perasaannya demikian ini. Rabbnya menginginkan, maka hendaklah ia segera mewujudkan apa yang Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى kehendaki. «على العين والرأس»  (Setuju 100 % dan siap melaksanakan apa yang diminta dengan penuh kegembiraan dan kecintaan.”) dan, anaknya selayaknya mengerti. Dan, supaya perkara itu dilakukannya dengan penuh ketaatan dan kepasrahan diri, tidak dengan keterpaksaan dan kekacauan jiwa dan pikiran. Di sisi lainnya, agar ia meraih pahala ketaatan, dan agar ia pasrah dan merasakan manisnya penyerahan diri sepenuhnya !  Sesungguhnya ia menyukai untuk anaknya merasakan kelezatan amal yang dilakukan dengan suka rela yang dicicipinya ; dan agar ia meraih kebaikan ini yang dilihatnya bahwa ini adalah lebih kekal dan lebih cukup daripada kehidupan.

Lantas, bagaimana perkaranya si anak ini, yang disampaikan kepadanya perihal penyembelihan dirinya ini, sebagai bentuk pembenaran terhadap mimpi yang dilihat oleh ayahnya ini ?

Sesungguhnya anak ini, ia terus naik ke ufuk yang sebelumnya dinaiki oleh ayahnya.

قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku ! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu ; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Sungguh, ia menghadapi perkara ini tidak sekedar dengan ketaatan dan kepasrahan saja, namun juga dengan penuh keridhaan. Demikian pula, dengan penuh keyakinan.

يَٰٓأَبَتِ “Wahai ayahku ! “ sebuah ungkapan penuh kecintaan dan kedekatan hubungan. Maka, momok atau banyang penyebelihan dirinya itu tidaklah mencemaskan dan mengganggu dirinya, tidak pula membuatnya takut dan gentar, dan tidak pula menghilangkan keterbimbingannya. Bahkan, tidak menghilangkan adabnya dan kecintaannya.

ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ

“Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu”

Maka, ia merasakan apa yang dirasakan kepadanya oleh ayahnya dari lubuk hatinya. Ia merasa bahwa mimpi itu merupakan isyarat, dan bahwa isyarat itu adalah perintah. Dan bahwa isyarat itu sudah mencukupi agar ia menyambutnya dan melaksanakannya tanpa rasa kegagapan, keberatan, kebimbangan dan keraguan.

Kemudian, hal itulah abab (seorang hamba) bersama Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, dan pengenalan batas kekuatannya dan kemampuannya dalam memikul beban ; dan permintaan tolong kepada Rabbnya atas kelemahan dirinya, serta penisbatan keutamaan kepada-Nya yang terdapat dalam pertolongannya untuk melakukan pengorban dan dalam bantuannya untuk melakukan ketaatan.

سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

“insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Ia tidak mengambil langkah itu (penyembelihan dirinya) sebagai sebuah sikap kebranian, tidak pula mengambil langkah itu sebagai bentuk dorongan diri untuk menjatuhkan diri kedalam hal yang membahayakan tanpa peduli. Tidak pula ia menonjolkan bayangan, bentuk, dan bobot kepribadiannya…ia mengembalikan keutamaan itu seluruhnya hanya kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, karena Dia-lah Dzat yang telah menolongnya untuk dapat melakukan apa yang diminta-Nya kepada dirinya, dan Dia-lah pula yang telah menyabarkannya atas apa yang dikehendaki-Nya.

سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

“insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Alangkah indahnya adab bersama Allah !

Alangkah indahnya pesona keimanannya !

Alangkah bagusnya ketaatannya, dan alangkah agung dan besarnya kepasrahan dirinya.

Dan ia pun mulai melangkah kepada langkah lainnya di belakang dialog dan kata-kata, …. Ia melangkah kepada upaya mengimplementasikan dalam bentuk sesuatu yang dapat disaksikan.

فَلَمَّآ أَسۡلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ

Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya, (untuk melaksanakan perintah Allah)

Sekali lagi, keindahan ketaatan dan keagungan iman itu naik meniggi. Dan, ketenangan ridha itu berada di belakang setiap hal yang dikenal oleh anak manusia.

Sesungguhnya lelaki ini (Ibrahim) berjalan (menuju suatu tempat yang telah ditentukan) lalu ia membaringkan anaknya atas pelipisnya, bersiap (untuk menyembelih anaknya), sementara sang anak itu memasrahkan dirinya, sehingga ia tidak sedikit pun bergerak untuk menolaknya. Sungguh perkaranya telah sampai berada di hadapan mata.

Sungguh, keduanya (Ibrahim dan Ismail, anaknya) telah berserah diri … maka inilah dia Islam itu. Inilah dia Islam pada hakikatnya. Keyakinan, ketaatan, ketenangan, ridha dan kepasrahan….serta implementasi… kedunya tidak mendapati pada dirinya kecuali rasa-rasa ini yang tidak tercipta selain oleh keimanan yang besar.

Sesungguhnya hal itu bukanlah persoalan keberanian, bukan pula persoalan kesemangatan…Akan tetapi yang dilakukan oleh Ibrahim dan Ismail di sini adalah sesuatu yang lain.  Hal itu hanyalah merupan kepasrahan diri orang yang sadar dan orang yang berakal sehat, orang yang memiliki maksud dan keinginan, orang yang mengerti tentang apa yang ia lakukan, orang yang tenang akan apa yang bakal terjadi. Tidak, bahkan, di sini ada keridhaan orang yang tenang, orang yang merasa gembira, orang yang menikmati rasa lezatnya ketaatan !

Di sini, Ibrahim dan Ismail, keduanya telah menunaikan, keduanya benar-benar telah berserah diri, keduanya benar-benar telah mengimplementasikan perkara dan pembebanan ini. Tidak ada yang tersisa lagi kecuali ia tinggal menyembelih Ismail dan mengalirkan darahnya, dan mencabut ruhnya…sedangkan ini merupakan perkara yang tidak penting sedikitpun dalam timbangan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى setelah Ibrahim dan Ismail meletakkan ruh keduanya di dalam timbangan ini. Sementara tekad dan pesaan keduanya telah menyelaraskan diri dengan segala hal yang diinginkan Rabbnya dari keduanya.

Ujian itu, kini telah sempurna. Ujian itu benar-benar telah terjadi, hasil pun telah tampak dan tujuannya pun telah terealisir.

Dan tidak kembali kecuali sekedar sakit secara fisik, darah yang tertumpkan, dan jasad yang tersembelih. Sedangkan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tidak ingin menyiksa hamba-hamba-Nya dengan ujian-ujian ini. Tidak menginginkan darah-darah mereka dan jasad-jasad mereka sedikit pun. Dan, kapan mereka, para hamba-Nya memurnikan ketaatan kepada-Nya dan telah bersiap diri untuk menunaikannya dengan segenap upaya mereka, maka sungguh mereka telah menunaikanya dan sungguh benar-benar mereka telah merealisasikan sesuatu yang dibebankan kepada mereka. Dan, mereka pun telah melewati ujian itu dengan sukses.

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengetahui dari Ibrahim dan Ismail kejujuran keduanya, maka ia menilai bahwa keduanya benar-benar telah menunaikan dan merealisasikan dan membenarkan.

وَنَٰدَيۡنَٰهُ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ ١٠٤ قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٠٥

Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim !, sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Sungguh, engkau (wahai Ibrahim) telah membenarkan mimpi itu dan merealisasikannya dengan tindakan nyata. Karena, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tidak mengingikan kecuali penyerahan diri dan kepasrahan diri di mana tidak tersisa dalam jiwa sesuatu pun  hal yang menutupi dirinya dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى atau merintanginya dari (mengerjakan) perintah-Nya. Meskipun ia adalah anak yang merupakan belahan jiwa. Meskipun hal itu adalah nyawa dan kehidupan. Engkau, -wahai Ibrahim- benar-benar telah melakukannya. Engkau telah berusaha dengan sepenuh kesungguhan, dan dengan sesuatu yang paling berharga. Engkau telah mendapatkannya dalam keridhaan, dalam kedamaian, dalam ketenangan, dan dalam keyakinan. Maka, tidak tersisa kecuali daging dan darah. Dan ini, sebuah penyembelihan akan menggantikannya. Yakni, sebuah penyembelihan dari darah dan daging ! dan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memberikan ganti kepada jiwa yang telah berserah diri dan menunaikan (perintah) ini. Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menggantikannya dengan sembelihan yang besar. Ada yang mengatakan : Sesungguhnya ganti itu berupa domba yang didapati oleh Ibrahim yang telah disiapkan (untuk disembelihnya) dengan tindakan Rabbnya dan keinginannya untuk menyembelihnya sebagai ganti dari Ismail ! dan dikatakan kepadanya :

 إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ

Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Kami memberi balasan kepada mereka karena pilihan mereka terhadap semisal ujian ini. Dan Kami memberikan balasan kepada mereka karena arahan dan bimbingan hati mereka dan pengangkatannya sampai pada tingkatan kesetian, keloyalan, dan keikhlasan. Dan, Kami pun memberikan balasan kepada mereka karena upaya mereka untuk mampu mengerjakannya dan upaya mereka menyabarkan jiwa mereka untuk melakukannya. Dan, demikian pula Kami memberikan balasan kepada mereka dengan menetapkan keberhakan untuk mendapatkan balasan tersebut.

Dengan itu, berlakulah sunnah penyembelihan pada Iedul Adh-ha, untuk mengenang kembali peristiwa nan agung ini yang mengangkat sebuah mercusuar bagi hakikat keimanan, keindahan ketaatan, dan agungnya kepasrahan dan ketundukan. Yang akan menjadi rujukan ummat Islam untuk mengenal hakikat bapak umat ini, yaitu, Ibrahim yang millahnya diikuti dan yang nasab dan aqidahnya diwarisi. Dan, agar diketahui tabiat aqidah yang dengannya ummat ini berdiri atau yang di atasnya ummat ini berdiri. Agar pula diketahui bahwasanya tabiat aqidah ini adalah pemasrahan diri terhadap ketetapan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dalam menjalankan ketaatan dengan penuh keridhaan, keyakinan, dan sambutan, tidak menayakan kepada Rabbnya ‘mengapa ?’ tidak merasa risih sedikit pun dan merealisasikan kehendak-Nya sedari awal isyarat dan arahan dari-Nya, tidak sedikit pun menyisakan sedikitpun juga untuk dirinya dalam jiwanya. Tidak pilih-pilih sebuah cara atau bentuk sesuatu yang disodorkan oleh Rabbnya, kecuali sebagaimana yang diminta-Nya untuk dipersembahkan. Kemudian, agar umat ini tahu bahwa Rabbnya tidak menginginkan untuk menyiksa umat ini dengan ditimpakannya ujian dan cobaan kepada mereka. Tidak pula untuk menyakiti mereka dengan diberikannya kepada mereka ujian dan cobaan. Yang diinginkan-Nya hanyalah agar ummat ini mendatangi-Nya dengan penuh ketaatan, sambutan, kesetiaan, keikhlasan dan kebaikan dalam penunaian, kepasrahan diri, tidak mendahului-Nya, tidak bersikap angkuh terhadap-Nya. Maka, bila kejujuran dari ummat dalam hal ini diketahui, niscaya Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan menjaganya dan memeliharanya dari berbagai bentuk pengorbanan dan hal-hal yang menyakitkan. Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menghitungnya sebagai bentuk keloyalitasan dan penunaian ketaatan, akan diterima darinya ketaatan yang dilakukannya dan Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى pun akan memberikan ganti kepadanya, serta memuliakannya sebagaimana Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah memuliakan bapaknya.[1]

Saya telah menukilkan untuk anda-wahai saudaraku, pembaca yang budiman- perkataan pengarang kitab “az-Zhilal” meskipun cukup panjang untuk menjelaskan agung dan besarnya posisi dan kedudukan Ibrahim al-Khalil, dan bagaimana ia maju terus penuh dengan kepatuhan untuk melaksanakan mimpi di mana ia (diperintahkan untuk) menyembelih anaknya satu-satunya, yaitu Ismail,  dan juga untuk menjelaskan agung dan besarnya posisi dan kedudukan si anak tersebut.

Wallahu A’lam

 

(Redaksi)

 

Sumber :

Al-Mufashshal Fii Ahkami al-Udh-hiyyati, Dr. Hisamuddin ‘Afanah, 1/16-21.

 

Catatan :

[1] Tafsir Zhilal al-Qur’an, 7/61-66