Allah ﷻ berfirman:
نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (49) وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ (50)
“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku adalah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahwa azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (al-Hijr : 49-50)
Di sini aku merenungkan keagungan rahmat Allah ‘azza wa jalla terhadap hamba-hamba-Nya, dimana ayat ini dimulai dengan kata kerja نَبِّئْ “kabarkanlah” (nabbi’), dan kabar itu adalah berita besar yang penting. Permulaan dengan kata kerja ini menunjukkan kebesaran dan pentingnya apa yang akan disebutkan setelahnya.
Kemudian Allah ﷻ menyandarkan penghambaan kepada Dzat-Nya Yang Maha Tinggi dengan berfirman عِبَادِي “hamba-hamba-Ku”, dan dalam hal ini terdapat kelembutan, keakraban, dan rahmat yang jelas.
Dia ﷻ berfirman عِبَادِي “hamba-hamba-Ku”, dan dalam hal ini terdapat kelembutan.
Allah ﷻ mendahulukan apa yang berkaitan dengan ampunan dan rahmat, serta menyandarkan ampunan dan rahmat kepada Dzat-Nya Yang Maha Tinggi dengan penyandaran yang jelas dengan berfirman:
أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“sesungguhnya Aku adalah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Allah ﷻ menggabungkan antara ampunan dan rahmat, dan mengakhirkan apa yang berkaitan dengan azab serta menjadikannya milik-Nya dengan berfirman:
وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ
“dan bahwa azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.”
Dia ﷻ tidak menjadikannya sebagai sifat bagi-Nya ﷻ, dan tidak menjadikannya sebagai sifat bagi-Nya ﷻ. Maka Dia tidak berfirman “dan Aku Yang Mengazab”.
Dalam menyifati Dzat-Nya ﷻ dengan pengampunan dan rahmat tanpa penyiksaan, terdapat isyarat kepada keluasan ampunan-Nya dan luasnya rahmat-Nya ﷻ yang mendahului azab-Nya.
Benarlah Allah ﷻ ketika berfirman:
عَذَابِي أُصِيبُ بِهِ مَنْ أَشَاءُ وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ
“Azab-Ku, Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki, dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (al-A’raf : 156)
[Dr. Uwaidh al-Athawiy, Daqiqah Ma’a al-Qur’an]





