سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمدُ ِللهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

Subhanallah (Mahasuci Allah), walhamdulillah (dan segala puji bagi Allah), wa laa ilaaha illallahu (dan tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah), wallahu akbar (dan Allah Mahabesar).

Sudah berlalu bersama kita penyebutan beberapa keutamaan yang dimiliki oleh keempat kalimat di atas, di mana ia merupakan perkataan yang paling utama sesudah Al-Qur’an, yaitu subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallah, wallahu akbar.

Pada bahasan ini kita akan lanjutkan dengan menyebutkan beberapa keutamaan lain bagi kalimat-kalimat itu dari sela-sela hadits Rasulullah ﷺ yang berkenaan dengannya:

7. Allah Memilih Empat Kalimat Ini

Di antara keutamaannya, Allah ﷻ memilih kalimat-kalimat tersebut dan menjadikannya spesial bagi hamba-hamba-Nya, lalu disiapkan bagi yang berdzikir kepada Allah ﷻ dengan menggunakannya pahala yang sangat besar dan ganjaran yang sangat banyak.

Dalam Al-Musnad karya Imam Ahmad dan Al-Mustadrak karya Al-Hakim, melalui sanad yang shahih, dari hadits Abu Hurairah dan Abu Sa’id, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ اصْطَفَى مِنَ الْكَلَامِ أَرْبَعًا سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ ِللهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ فَمَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ كُتِبتْ لَهُ عِشْرُوْنَ حَسَنَةً وَحُطَّتْ عَنْهُ عِشْرُوْنَ سَيِّئَةً وَمَنْ قَالَ اللهُ أَكْبَرُ فَمِثْلُ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ فَمِثْلُ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ كُتِبَ لَهُ ثَلَاثُوْنَ حَسَنَةً وَحُطَّتْ عَنْهُ ثَلَاثُوْنَ سَيِّئَةً

Artinya: “Sesungguhnya Allah telah memilih di antara kalimat-kalimat berupa empat perkara: subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallah, wallahu akbar. Barang siapa berkata, ‘Subhanallah,’ dituliskan untuknya dua puluh kebaikan dan dihilangkan darinya dua puluh keburukan. Siapa mengucapkan, ‘Allahu Akbar,’ sama seperti itu. Barang siapa mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallah,’ sama seperti itu. Dan siapa mengucapkan, ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin,’ dari dirinya, dituliskan baginya tiga puluh kebaikan dan dihilangkan darinya tiga puluh kesalahan.” [1]

Ditambahkan pada ganjaran alhamdu ketika diucapkan hamba dari dirinya melebihi kalimat-kalimat lainnya. Karena alhamdu umumnya tidak terjadi kecuali setelah ada sebab, seperti makan dan minum, atau ada nikmat. Maka seakan-akan seseorang mengucapkannya sebagai pengimbang atas apa yang dilimpahkan padanya. Oleh karena itu, jika seseorang mengucapkan alhamdu atas dirinya, bukan didorong oleh adanya nikmat, niscaya pahalanya dilebihkan atas kalimat-kalimat lainnya.

8. Perisai dari Neraka

Di antara keutamaannya, ia adalah perisai dari neraka bagi orang yang mengucapkannya. Ia datang pada hari kiamat menyelamatkan orang yang mengucapkannya serta berada di hadapannya.

Al-Hakim meriwayatkan dalam Al-Mustadrak, dan An-Nasa’i dalam Amalul Yaum Wallailah, serta selain keduanya, dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا، بَلْ جُنَّتُكُمْ مِنَ النّارِ قُوْلُوا : سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ ِللَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ؛ فَإِنَّهَا تَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُنْجِيَاتٍ وَمُقَدَّمَاتٍ، وَهُنَّ الْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ.

Artinya: “Tidak, bahkan perisai kalian dari neraka. Ucapkanlah: subhanallahu, walhamdulillah, walaa ilaaha illallah, wallahu akbar. Sungguh kalimat-kalimat itu akan datang pada hari kiamat sebagai penyelamat dan pendahulu-pendahulu. Itulah al-baqiyaat ash-shaalihat (perkara kekal yang shalih).”

Al-Hakim berkata, ini adalah hadits yang shahih sesuai dengan syarat Imam Muslim, namun keduanya tidak meriwayatkannya. Pernyataan ini disetujui Adz-Dzahabi, lalu dinyatakan shahih oleh Al-Allamah Al-Albani. [2]

Hadits ini—ditambah hadits sebelumnya—mengandung pensifatan kalimat-kalimat tersebut sebagai al-baqiyaat ash-shalihaat, sementara Allah ﷻ telah berfirman:

﴿وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا﴾

(Al-Kahfi: 46)

“Dan amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Al-Kahfi: 46)

Adapun al-baqiyaat adalah yang tetap (kekal) pahalanya dan terus-menerus ganjarannya. Ini sebaik-baik harapan yang diharapkan hamba serta lebih besar ganjarannya.

9. Dzikir yang Melingkar di Sekitar ‘Arsy

Di antara keutamaannya, kalimat-kalimat itu melingkar di sekitar ‘Arsy Ar-Rahman. Mereka memiliki bunyi seperti suara lebah, menyebut-nyebut orang yang mengucapkannya.

Dalam Musnad Imam Ahmad, Sunan Ibnu Majah, dan Mustadrak Al-Hakim, dari An-Nu’man bin Basyir dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

إنَّ مِمَّا تَذْكُرُوْنَ مِنْ جَلَالِ اللهِ التَّسْبِيْحَ وَالتَّهْلِيْلَ وَالتَّحْمِيْدَ يَنْعَطِفْنَ حَوْلَ الْعَرْشِ لَهُنَّ دَوِيٌّ كَدَوِيِّ النَّحْلِ تُذَكِّرُ بِصَاحِبِهَا أَمَا يُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ أَوْ لَا يَزَالَ لَهُ مَنْ يُذْكِرُ بِهِ

Artinya: “Sesungguhnya di antara dzikir kalian di antara keagungan Allah; tasbih, takbir, tahlil, dan tahmid, mereka melingkar di sekitar ‘Arsy, mengeluarkan suara seperti bunyi lebah, menyebut-nyebut orang yang mengucapkannya. Tidakkah salah seorang kalian suka bila itu untuknya atau senantiasa baginya yang menyebut-nyebutnya?”

Al-Buwaishiri berkata dalam Zawaid Sunan Ibnu Majah, “Sanadnya shahih, para rawinya tsiqah (terpercaya),” dan dinyatakan shahih oleh Al-Hakim. [3]

Hadits ini memberi faidah tentang keutamaan tersebut. Yaitu, bahwa kalimat-kalimat yang empat itu melingkar di sekitar ‘Arsy, sementara mereka memiliki suara seperti bunyi lebah, yakni suara mirip suara lebah, menyebut-nyebut orang yang mengucapkannya.

Maka, ini merupakan motivasi paling besar untuk dzikir dengan kalimat-kalimat itu. Oleh karenanya disebutkan dalam hadits, “Tidakkah salah seorang kalian suka hal itu baginya atau senantiasa baginya yang menyebut-nyebutnya?”

10. Sangat Berat dalam Timbangan

Di antara keutamaannya, Nabi ﷺ telah mengabarkan bahwa kalimat-kalimat itu sangat berat dalam timbangan.

An-Nasa’i meriwayatkan dalam Amalul Yaum Wallailah, Ibnu Majah dalam shahihnya, Al-Hakim, dan selain mereka, dari Abu Salamah dia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

بَخٍ بَخٍ -وَأَشَارَ بِيَدِهِ بِخَمْسٍ -مَا أَثْقَلَهُنَّ فِي الْمِيْزَانِ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ ِللهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكبَرُ، وَالْوَلَدُ الصَّالِحُ يُتَوَفَّى لِلْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فَيَحْتَسِبُهُ.

Artinya: “Bakh … bakh … (beliau mengisyaratkan dengan tangannya menunjukkan lima), alangkah beratnya dalam timbangan; subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallah, wallahu akbar, dan anak shalih yang wafat dari seorang Muslim, lalu dia mengharapkan pahalanya.”

Hadits ini dinyatakan shahih oleh Al-Hakim serta disetujui Adz-Dzahabi. [4] Hadits ini memiliki pula pendukung dari hadits Tsauban, sebagaimana dikutip Al-Bazaar dalam Musnad-nya, dan beliau berkata, “Sanadnya hasan.” [5]

Lafazh “bakh … bakh …” adalah kalimat yang diucapkan ketika takjub terhadap sesuatu dan menjelaskan keutamaannya.

11. Setiap Salah Satunya adalah Sedekah

Di antara keutamaan-keutamaan kalimat-kalimat tersebut bagi seorang hamba, ketika mengucapkan salah satunya, niscaya ia adalah sedekah.

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya, dari Abu Dzar, bahwa beberapa orang sahabat Rasulullah berkata kepada beliau ﷺ:

“Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong semua pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa, dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta benda mereka.” Beliau ﷺ bersabda:

أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مّا تَصَدَّقُوْنَ بِهِ؟ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً، وَبِكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً، وَبِكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً، وَبِكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَفِي بُضْعِ أَحَدُكُمْ صَدَقَةٌ.

“Bukankah Allah telah menjadikan untuk kalian apa yang kalian gunakan bersedekah? Sungguh setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, memerintahkan kepada perkara yang ma’ruf adalah sedekah, larangan terhadap perkara yang munkar adalah sedekah, dan pada kemaluan milik salah seorang kalian ada sedekah.”

Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang kami memenuhi syahwatnya dan ada baginya padanya pahala?” Beliau bersabda:

أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي الْحَرَامِ أَلَيْسَ كَانَ يَكُوْنُ عَلَيْهِ وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ يَكُوْنُ لَهُ أجْرٌ

Artinya: “Bagaimana pendapat kalian sekiranya dia meletakkannya pada yang haram, apakah dia akan mendapatkan dosa? Demikian juga apabila dia meletakkannya pada yang halal, niscaya dia akan mendapatkan pahala.” [6]

Orang-orang fakir menduga tidak ada sedekah kecuali harta, sementara mereka tidak mampu melakukan hal itu. Maka Nabi ﷺ memberitahu mereka bahwa semua jenis perbuatan ma’ruf dan kebaikan adalah sedekah. Lalu disebutkan pada permulaannya keempat kalimat yang disebutkan di atas: subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallah, wallahu akbar.

12. Pengganti Al-Qur’an bagi yang Tidak Mampu Membacanya

Di antara keutamaan lainnya, Allah ﷻ menjadikannya sebagai pengganti dari Al-Qur’an bagi siapa yang tidak bisa membaca Al-Qur’an, seperti diriwayatkan Abu Daud, An-Nasa’i, Ad-Daruquthni, dan selainnya, dari Ibnu Abu Aufa beliau berkata:

“Seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak mampu untuk belajar Al-Qur’an, maka ajarkan kepadaku sesuatu yang mencukupiku.’ Beliau bersabda:

تَقُوْلُ: سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

Artinya: “Ucapkan: Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallah, wallahu akbar, wa laa haula wa laa quwwata illaa billahi.” [7]

Lalu orang Arab Baduwi mengatakan seperti itu—seraya menggenggamkan kedua tangannya—dan berkata, “Ini adalah untuk Allah, lalu manakah yang menjadi bagianku?” Maka beliau bersabda:

تَقُوْلُ : اَللَّهُمَّ اغْفِرْلِي وَارْحَمْنِي وَعَافِنِي وَارْزُقْنِي وَاهْدِنِي

Artinya: “Engkau katakan: Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, berilah aku afiat, rezeki, dan hidayah.”

Lalu orang Arab Baduwi tersebut mengambilnya dan menggenggam kedua tangannya, lalu Nabi bersabda:

أَمَّا هَذَا فَقَدْ مَلَأَ يَدَيْهِ بِالْخَيْرِ

Artinya: “Adapun orang ini, maka sungguh dia telah memenuhi kedua tangannya dengan kebaikan.”

Al-Muhaddits Abu Ath-Thayyib Al-Azhim Al-Abadi berkata dalam ta’liq (catatan)-nya terhadap Sunan Ad-Daruquthni, “Sanadnya shahih.” Al-Albani juga berkata, “Sanadnya hasan.” [8]

Penutup

Inilah sebagian keutamaan yang disebutkan dalam sunnah nabawiyah yang dimiliki oleh kalimat-kalimat yang empat tersebut. Lalu, disebutkan pula bahwa masing-masing kalimat itu memiliki keutamaan tersendiri sebagaimana akan dijelaskan, insya Allah.

Barang siapa memperhatikan keutamaan-keutamaan yang terdahulu, niscaya dia dapati bahwa ia sangatlah agung, menunjukkan kepada keagungan kalimat-kalimat tersebut, ketinggian urusannya, banyaknya faidah-faidah dan hasil-hasilnya bagi seorang hamba yang beriman.

Barangkali rahasia pada keutamaan agung ini—wallahu a’lam—adalah apa yang disebutkan dari sebagian ahli ilmu, bahwa nama-nama Allah ﷻ semuanya terangkum dalam empat kalimat ini.

Subhanallah terangkum di dalamnya semua nama-nama yang menunjukkan pensucian, seperti Al-Quddus dan As-Salam. Alhamdulillah mencakup penetapan jenis-jenis kesempurnaan bagi Allah ﷻ dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Allahu Akbar terdapat padanya membesarkan Allah ﷻ dan mengagungkan-Nya, bahwa tidak ada seorang pun yang mampu meliput pujian untuk-Nya.

Barang siapa kedudukannya seperti ini maka “tidak ada sembahan yang haq selain Dia,” yakni tidak ada sembahan yang haq selain Dia.

Demi Allah, alangkah agungnya kalimat-kalimat itu, alangkah besar urusannya, dan alangkah banyak kebaikan yang disiapkan atasnya.

Kita mohon kepada Allah ﷻ untuk memberi taufik bagi kita agar dapat memeliharanya dan konsisten mengamalkannya. Menjadikan kita sebagai ahlinya yang lisan-lisan mereka basah dengannya. Sungguh Dia ﷻ berkuasa atas hal itu dan berkuasa atasnya.

Wallahu A’lam

(Redaksi)

Sumber

Fiqhu al-Ad-‘iyyah Wa al-Adz-kar, Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Abbad al-Badr, 1/130-133.

Catatan Kaki

  1. Al-Musnad, 2/302, dan Al-Mustadrak, 1/512. Al-Allamah Al-Albani berkata dalam Shahih Al-Jaami’, No. 1718, “Shahih.”
  2. Al-Mustadrak, 1/541, As-Sunan Al-Kubra Kitab Amal Yaum Wallailah, 6/212, dan Shahih Al-Jami’, No. 3214.
  3. Al-Musnad 4/268 dan 271, Sunan Ibnu Majah, No. 3809, dan Al-Mustadrak, 1/503.
  4. As-Sunan Al-Kubra kitab Amalul Yaum Wallailah, 6/50, Shahih Ibnu Hibban (Al-Ihsan), 3/114/No. 338, dan Al-Mustadrak, 1/511-512.
  5. Kasyf Al-Astar Az-Zawa-id Al-Bazaar, 4/9/No. 3072.
  6. Shahih Muslim, No. 1006.
  7. Sunan Abu Daud, No. 832, Sunan An-Nasa’i, 2/143, dan Sunan Ad-Daruquthniy, 1/313-314.
  8. Shahih Abu Dawud, 1/157.