Beliau adalah Khaitsamah bin Sulaiman bin Haidarah bin Sulaiman al-Qurasyi asy-Syami al-Athrablusi. Beliau di beri gelar sebagai ahli hadits Syam, seorang imam yang terpercaya (tsiqah).

Kelahiran beliau

Para ulama berbeda pendapat tentang kelahiran Khaitsamah, akan tetapi pendapat yang paling kuat menurut adz-Dzahabi adalah riwayat Abu Abdillah bin Abi Kamil al-Athrablusi yaitu pada tahun 250H.

Perjalanan yang mengesankan dalam menuntut ilmu

Beliau adalah seorang penuntut ilmu sejati, yang tak mengenal lelah dan pantang menyerah. Khaitsamah adalah seorang petualang yang menjelajahi suatu negri kemudian berpindah ke negri yang lain, ini semua ia lakukan tidak lain adalah untuk mendengarkan dan mengambil riwayat hadits. Banyak kisah yang mengagumkan dari perjalanan beliau dalam menuntut ilmu, marilah kita mendengarkan Khaitsamah menceritakan kisah di antara kisah-kisahnya tersebut:

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Kamil, dia berkata, Aku mendengar Khaitsamah bin Sulaiman berkata, “Aku pernah menyeberangi lautan, dan aku bermaksud pergi ke Jabalah (sebuah negri di pantai laut Syam) untuk mendengar hadits dari Yusuf bin Bahra, dan setelah itu aku pergi ke Anthakiyah, lalu kapal kami di serang dan sempat terjadi perlawanan hingga yang akhirnya kami kalah dan kami di sandera. Mereka menangkap dan memukuliku kemudian mereka mencatat nama kami, kemudian mereka bertanya kepadaku: “Siapa namamu?”, aku menjawab: “Khaitsamah”, maka mereka berkata: “Tulis (namanya) keledai bin keledai, ketika di pukul aku aku sempoyongan kemudian aku tertidur, maka aku melihat di dalam mimpiku seakan akan aku melihat surga, dan di pintu surga tersebut terdapat sekumpulan bidadari, maka berkata salah seorang dari mereka: “Wahai orang periya yang malang, apa yang tertinggal darimu?”, dan yang lain berkata: “Apa yang tertinggal padanya?, jika ia mati maka ia akan masuk surga bersama bidadari”. Yang lain berkata: “Semoga Allah menganurgerahkan kepadanya syahid dalam membela Islam dan mengalahkan kesyirikan itu lebih baik baginya”, kemudian akupun memperhatikan dengan jeli, Khaitsamah berkata (melanjudkan ceritanya): “Aku melihat seakan-akan ada yang berkata kepadaku: “Bacalah surat Bara-ah/at-Taubah, maka akupun membaca sampai (فَسِيحُوا فِي اْلأَرْضِ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ): “Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di muka bumi selama empat bulan” (at-Taubah:2), maka akupun menghitung sejak aku bermimpi sampai empat bulan lamanya, kemudian Allah membebaskanku”. (سير أعلام النبلاء 15/413-414)

Guru-guru beliau

Manusia telah mengetahui bahwa beliau adalah seorang yang giat dalam meriwatkan hadits, yang tak segan-segan ia menghabiskan hartanya bahkan ia telah mempertaruhkan jieanya untuk hal itu, maka tidak heran kalau beliau mempunyai banyak guru yang mengajarinya hadits. Di antara guru-guru beliau adalah:

1. Abu Utbah Ahmad bin al-Fajr al-Himshi

2. Muhammad bin Auf al-Hafizh

3. Ibrahim bin Abdullah al-Qshshar

4. Husain bin Muhammad bin Abu Ma’syar

5. Muhammad bin Isa bin Hayyan al-Mada (sahabat Sufyan bin ‘Uyainah)

6. Abdullah bin Abu Murrah al-Makki

7. Ishaq bin Ibrahim

8. Al-Abbas bin al-Walid al-Bairuti

9. Yusuf bin Bahr

Perkataan ulama tentangnya

Khaitsamah adalah seorang ulama hadits, yang rela mengorbankan jiwa dan hartanya dalam mengarungi gurun pasir yang gersang, samudra yang tak bertepi, dan perbukitan yang terjal, semua ini ia lakukan hanya untuk mengumpulkan dan meriwayatkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, karena itulah orang-orang yang sezaman dengannya mengetahui dan mengakui akan keutamaan dan kegigihannya dalam mengumpulkan hadits, dan yang labih mengesankan dari itu adalah bahwa beliau seorang yang amanah dalam meriwayatkan hadits, sehingga para ulama memberikan gelar sebagai orang yang sangat terpercaya.

Di antara sanjungan ulama kepada beliau yaitu seperti apa yang dikatakan Abu Bakar atasnya, beliau (Abu Bakar) berkata: “Khaitsamah adalah orang sangat terpercaya (amanah -red)”.

Imam adz-Dzahabi berkata: “Khaitsamah adalah Imam yang terpercaya (dalam menyampaikan amanah ilmiyah -red), ahli hadits dari Syam, penulis tentang keutamaan para Shahabat”.

Sungguh sangat jarang kita temukan orang-orang seperti beliau yang meluangkan waktu dan tenaganya dalam berkhidmat kepada agam ini, maka tidaklah berlebihan jika para ulama yang sezaman ataupun yang setelahnya kagum kepadanya.

Di antara hadist yang beliau riwayatkan

Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semoga Allah memberi nikmat kepada orang yang mendengar sabdaku, kemudian dia menghafalkannya dan menyampaikannya pada yang lain. Betapa banyak orang yang menyampaikan fiqih, namun dia tidak memahaminya. Dan betapa banyak orang yang menyampaikan fiqih kepada orang yang lebih paham darinya, tiga hal yang tidak akan lengah hati seorang mukmin darinya yaitu mengikhlaskan amal hanya untuk Allah, menasehati pemimpin, serta berpegang kepada jama’ah kaum muslimin, maka sesungguhnya doa kaum muslimin akan senantiasa meliputi dari belakang mereka.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan ath-Thabrani. Syaik al-Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Wafat beliau

Setelah melakukan pertualangan menjelajahi berbagai negri dalam mengumpulkan hadits-hadits nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka di akhir umurnya, beliau memilih kota Damsik sebagai tempat menetapnya. Di kota inilah beliau meriwayatkan dan mengajarkan hadits-hadits nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan di ketahui bahwa orang terakhi yang mengambil riwayat hadits darinya adalah Abu Nu’aim al-Hafidh.

[Sumber: Diposting oleh Sufiyani dengan sedikit penambahan dan pengurangan dari kitab Siyar A’lami Nubala, jilid 15/412-416, dan kitab Rihlah Ulama fi Thalabul ‘Ilmi 174-175]