Pada ayat sebelumnya, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menceritakan tentang kejadian pada hari pembalasan, yakni Hari Kiamat, dan menjelaskan bahwa manusia terbagi menjadi dua golongan : (pertama) Wajah-wajah yang tertunduk hina, bekerja keras lagi kepayahan dan memasuki api yang sangat panas. Dan (kedua) wajah-wajah yang ceria, gembira dengan amal usahanya. Setelah itu Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjelaskan tentang balasan kepada masing-masing golongan.
Selanjutnya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ [الغاشية : 17]
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan.” (al-Ghasyiyah : 17)
Kata tanya dalam ayat ini tujuannya untuk taubikh (ejekan), yakni Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengejek orang-orang yang mengingkari berita-berita yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى sampaikan tentang Hari Kiamat, tentang pahala dan dosa. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menyalahkan sikap mereka yang berpaling dengan tidak memperhatikan ayat-ayat-Nya yang ada di hadapan mereka.
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memulai dengan menyebut unta, mereka menungganginya, memerah susunya, memakan daging bahkan memanfaatkan bulunya, serta masih banyak lagi manfaat lainnya. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengatakan kepada mereka :
أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan.”
Yakni unta-unta itu, ‘bagaimana Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menciptakannya?’ Tubuhnya yang besar dan mampu memikul beban. Kita bisa melihat unta mampu berjalan dalam jarak yang jauh, yang tidak dapat ditempuh oleh manusia kecuali dengan susah payah, sambil memikul beban.
Coba lihat unta memikul beban berat, ia duduk lalu bangkit dengan memikul bebannya tanpa butuh pertolongan. Biasanya hewan tidak mampu bangkit dari duduk dengan memikul beban di punggungnya. Akan tetapi Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memberikan kekuatan dan kemampuan seperti itu kepada unta demi maslahat manusia. Karena manusia tidak akan mampu menaruh beban di atas punggung unta yang sedang berdiri karena badannya yang terlalu tinggi. Namun Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memudahkan mereka menaruh beban di atas punggungnya, unta itu duduk kemudian berdiri memikul beban. Seperti yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى sebutkan dalam surat Yasin :
وَلَهُمْ فِيهَا مَنَافِعُ وَمَشَارِبُ أَفَلَا يَشْكُرُونَ [يس : 73]
“Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? “ (Yasin : 73)
Manfaatnya sangat banyak hampir tidak bisa dihitung. Para memilik unta yang sehari-hari bergelut dengan mengurusnya tentu lebih tahu daripada kita, oleh sebab itulah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan.”
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tidak menyebutkan hewan lain selain unta, seperti kambing, sapi, rusa, dan lain sebagainya, karena unta adalah hewan yang paling banyak membawa manfaat dan maslahat bagi manusia.
Kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengatakan :
وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ [الغاشية : 18]
“Dan langit, bagaimana ia ditinggikan ?” (al-Ghasyiyah : 18)
Yakni, mengapa mereka tidak melihat langit, bagaimana langit itu ditinggikan dan di langit itu pula terdapat bintang-bintang, matahari, bulan dan tanda-tanda kebesaran Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى lainnya yang banyak belum terungkap sampai sekarang. Namun kita tidak bisa membatasi hanya benda-benda itulah tanda-tanda kebesaran Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى di langit. Barangkali masih banyak tanda-tanda kebesaran Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang lebih besar lagi yang belum kita ketahui sampai sekarang.
Firman Allah : كَيْفَ رُفِعَتْ (bagaimana ia ditinggikan ?), yakni ditinggikan dengan ketinggian yang luar biasa tanpa ada tiang penyangganya padahal biasanya langit-langit sebuah bangunan tidak akan tegak tanpa tiang penyangga. Akan tetapi langit yang sangat besar dan terpelihara ini berdiri tegak tanpa tiang. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengatakan :
اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا [الرعد : 2]
“Allahlah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat …” (ar-Ra’du : 2)
Kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengatakan :
وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ [الغاشية : 19]
“Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan ?” (al-Ghasyiyah : 19)
Gunung yang besar yang mengandung batu-batu karang serta bongkahan-bongkahan tanah yang saling merapat berdampingan dan berbeda-beda. Gunung-gunung itu terdiri dari bebatuan dan unsur-unsur lain yang banyak dan beraneka ragam. Di dalamnya terdapat berbagai macam bahan-bahan tambang yang beragam jenis padahal letaknya berdampingan. Misalnya kita bisa melihat garis di tengah batu mengandung barang tambang yang tidak terdapat pada bebatuan yang dekat dengannya. Hal ini tentu dapat diketahui oleh ahli geologi.
Bagaimana Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menegakkan gunung yang besar ini, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى meninggikannya sehingga menjadi tiang-tiang penyangga bumi agar tidak goncang. [*]
Sekiranya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tidak menciptakan gunung-gunung tersebut niscaya bumi akan bergoncang bersama segala isinya. Karena daratan di bumi ini dikelilingi air. Lautan mengelilingi daratan dari segala penjuru.
Coba Anda banyangkan bola yang diletakkan di tengah air, pasti ia bergerak dan bergoyang. Kadang kala berguling dan kadang kala terbalik. Akan tetapi Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menciptakan sebagai tiang yang menyangga bumi seperti halnya tiang menyangga kemah.
Gunung berdiri tegak meskipun angin bertiaup sangat kencang hingga dapat merobohkan bangunan-bangunan yang dibangun oleh manusia, akan tetapi gunung tersebut tetap berdiri kokoh tidak bergeming sedikitpun meski diterpa angin kencang.
Di antara fungsi gunung adalah menghalangi angin kencang yang berhembus dari laut atau dari tempat lain sehingga tidak menerbangkan manusia. Hal ini dapat kita saksikan khususnya bagi yang berada di kaki gunung, mereka aman dari terpaan angin kencang yang berhembus dari belakang gunung. Dan masih banyak lagi faidah yang lainnya.
Gunung-gunung itu laksana pasak. Sekiranya seluruh makhluk bersatu untuk membuat mata rantai pegunungan seperti itu niscaya mereka tidak akan sanggup membuatnya meski bagaimana pun pintar dan kuatnya mereka, meski selama apa pun waktu yang diberikan mereka pasti tidak akan mampu membuat gunung-gunung seperti itu.
Sebagian ulama mengatakan : “Gunung-gunung ini adalah pasak bumi menurut kadar ketinggiannya menjulang ke langit. Yakni gunung memiliki akar yang menancap ke dasar bumi yang dalamnya sama seperti ketinggiannya menjulang ke langit. Hal itu bukanlah mustahil, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menancapkan gunung ke dasar bumi yang dalamnya sama seperti ketinggiannya menjulang ke langit agar tidak goyah diterpa angin. Oleh karena itulah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :
وَأَلْقَى فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَأَنْهَارًا وَسُبُلًا لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (15) وَعَلَامَاتٍ وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ (16) [النحل : 15 ، 16]
“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.” (an-Nahl : 15-16)
Kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :
وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ [الغاشية : 20]
“Dan bumi bagaimana ia hamparkan ?” (al-Ghasyiyah : 20)
Yakni lihatlah bagaimana Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menghamparkan bumi yang luas ini. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjadikannya sebagai hamparan yang luas agar manusia dapat hidup di atasnya, bercocok tanam, mendirikan bangunan dan lain sebagainya.
Coba bayangkan sekiranya bumi ini bergelombang tidak terhampar, yakni seperti gunung, tinggi dan landai, tentu akan menyulitkan sekali. Tentu manusia tidak akan dapat tinggal di atasnya dengan nyaman. Akan tetapi Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjadikannya terhampar luas bagi makhluk.
Sebagian ulama berhujjah dengan ayat ini bahwa bumi ini tidak bulat namun terhampar, akan tetapi pendapat ini masih mandul. Karena banyak sekali ayat yang menunjukkan bahwa bumi ini bulat. Fakta dan realita menunjukkan demikian.
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :
يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ [الزمر : 5]
“Dia memutar malam atas siang dan memutar siang atas malam…” (az-Zumar : 5)
“At-Takwir” artinya “At-Tadwir” yaitu memutar. Sebagaimana dimaklumi siang dan malam datang silih berganti di atas bumi. Jika keduanya diputar berarti bumi ini bulat. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :
إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ (1) وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ (2) وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ (3) وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ (4) [الإنشقاق : 1 – 4]
“Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Rabb-nya, dan sudah semestinya langit itu patuh, apabila bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong (al-Insyiqaq : 1-4)
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengatakan : وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ “apabila bumi diratakan” , dalam hadis disebutkan bahwa pada hari Kiamat nanti bumi akan diratakan seperti kulit. [1] Hingga tidak ada lagi gunung, lembah, pepohonan dan bangunan di atasnya. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali, tidak ada sedikit pun kita lihat adanya tempat yang rendah dan yang tinggi.
Firman Allah : إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ “Apabila langit terbelah “, langit hanya terbelah pada Hari Kiamat. Sekarang ini langit tidak terbelah.
Jadi, firman سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى Allah :
وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ (3) وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ (4)
“Apabila bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong “
Yakni, pada hari Kiamat nanti. Maksudnya, bumi sekarang ini tidak datar namun bulat. Fakta dan realita yang dapat kita saksikan sekarang menunjukkan bahwa bumi ini bulat tanpa syak[2]. Sebagai bukti, jika engkau berjalan dari Saudi Arabia misalnya mengikuti garis lurus ke arah Barat niscaya engkau akan sampai ke tempat semula dari arah Timur, engkau berjalan mengelilingi bumi kemudian engkau kembali ke titik pangkal semula. Demikian pula sebaliknya, sekiranya engkau berjalan mengikuti garis lurus ke arah Timur niscaya engkau akan sampai kembali ke titik pangkal semula dari arah Barat. Jadi jelaslah tanpa diragukan bahwa bumi ini bulat.
Jika ada yang berkata :
Jika bumi ini bulat seperti yang Anda katakan tadi, lalu bagaimana air dapat tergenang di atasnya (tidak tumpah) Air lautan berada di atasnya sementara bumi bulat ?
Jawab kami :
Sesungguhnya yang Maha Kuasa menahan langit sehingga tidak runtuh menimpa bumi kecuali dengan izin-Nya, maka Dia-lah yang menahan air laut hingga tidak meluap sehingga menenggelamkan manusia, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sebagian ahli imu mengatakan berkenaan dengan firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :
وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ [التكوير : 6]
“Dan apabila lautan dipanaskan” (at-Takwir : 6)
Yakni ditahan dan dicegah hingga tidak meluap, seperti sesuatu yang diikat. Namun yang pasti, kuasa ilahi tidak mungkin dapat kita tentang. Kita katakan, kuasa Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah menahan air laut tersebut hingga tidak meluap dan menenggelamkan penduduk bumi meskipun bumi ini bulat.[3]
Pembaca yang budiman…
Setelah pertanyaan-pertanyaan ini :
(Pertama) Apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan ?
(Kedua) Langit, bagaimana ia ditinggikan ?
(Ketiga) Gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan ?
(Empat) Bumi, bagaimana ia hamparkan ?
Apa yang kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى firmankan ?
Insya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan kita sebutkan pada tulisan berikutnya.
Faidah :
Adapun beberapa faidah yang dapat kita petik dari beberapa ayat di atas, antara lain adalah :
1-Dalam firman-Nya :
أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ [الغاشية : 17]
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan.” (al-Ghasyiyah : 17)
Sampai firman-Nya :
وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ [الغاشية : 20]
“Dan bumi bagaimana ia hamparkan ?” (al-Ghasyiyah : 20)
Terdapat arahan untuk mengarahkan pandangan kepada empat hal yang disebutkan ; karena pada keempat hal tersebut terdapat sejumlah petunjuk yang agung akan kekuasaan (Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى) dan akan adanya kebangkitan, kemudian pengakuan terhadap Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan keesaan-Nya dan keilahiyahan-Nya, sebagai hasil dari penetapan kerububiyahan-Nya terhadap seluruh makhluk-Nya. [4]
2-Dalam firman-firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى di atas terdapat motivasi dan dorongan (kepada para hamba-Nya) agar memperhatikan hal-hal yang disebutkan dalam ayat-ayat tersebut dengan menggunakan indra penglihatan dan pemahan akal ; sehingga denganya seseorang akan dapat mengambil petunjuk dari ayat-ayat Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berupa kekuasaan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, ilmu, rahmat, dan hikmah-Nya serta hal yang lainnya.[5]
3-Berpaling dan tidak memperhatikan ayat-ayat Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang ada di hadapan seorag hamba merupakan sikap yang salah, dan hal tersebut dicela oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Catatan :
[*] Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :
وَجَعَلْنَا فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ [الأنبياء : 31]
“Dan Kami telah menjadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh agar ia (tidak) guncang bersama mereka, dan Kami jadikan (pula) di sana jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk. (al-Anbiya : 31)
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا وَأَلْقَى فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ [لقمان : 10]
“Dia menciptakan langit tanpa tiang sebagaimana kamu melihatnya, dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi agar ia (bumi) tidak menggoyangkan kamu, dan memperkembangbiakkan segala macam jenis makhluk bergerak yang bernyawa di bumi. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.” (Luqman : 10)
[1] Musnad Ahmad 1/375 dan Sunan Ibnu Majah dalam Abwaabul Fitan Bab Fitnah Dajjal (4081).
[2] Silakan lihat Majmu’ Fatawa Wa Rasaail Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin, 1/70.
[3] Tafsir Juz ‘Amma, Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, hal.176-180.
[4] Lihat : Tatimmah Adh-Waa al-Bayan, karya : ‘Athiyyah Salim, 8/516.
[5] Lihat : Syarh Riyadhush Shalihin, karya : Ibnu Utsaimin, 1/588.



