Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah memerintahkan dalam kitab-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar memperbanyak dzikir kepada-Nya, baik ketika berdiri, duduk, dan berbaring, ketika malam maupun siang, di daratan maupun lautan, saat safar maupun mukim, waktu kaya maupun miskin, ketika sehat maupun sakit, rahasia maupun terang-terangan, dan di tengah segala keadaan. Lalu diberikan kepada mereka ganjaran yang melimpah, pahala yange besar, dan tempat kembali yang indah disebabkan oleh dzikir. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ ذِكۡرٗا كَثِيرٗا ٤١ وَسَبِّحُوهُ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلًا ٤٢ هُوَ ٱلَّذِي يُصَلِّي عَلَيۡكُمۡ وَمَلَٰٓئِكَتُهُۥ لِيُخۡرِجَكُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِۚ وَكَانَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَحِيمٗا ٤٣ تَحِيَّتُهُمۡ يَوۡمَ يَلۡقَوۡنَهُۥ سَلَٰمٞۚ وَأَعَدَّ لَهُمۡ أَجۡرٗا كَرِيمٗا ٤٤

“Wahai orang-orang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak. Dan bertasbihlah kepada-Nya pagi dan petang. Dia-lah yang bershalawat atas kamu dan malaikat-Nya untuk mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya, dan Dia sangat penyayang terhadap orang-orang beriman. Salam penghormatan mereka pada hari berjumpa dengan-Nya adalah ‘salam’ , dan Dia menyiapkan untuk mereka ganjaran yang mulia.” (al-Ahzab : 41-44)

Pada ayat ini terdapat anjuran memperbanyak dzikir pada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, penjelasan apa yang didapatkan atas hal itu berupa pahala yang agung dan kebaikan yang menyeluruh.

Sedangkan firman-Nya :

هُوَ ٱلَّذِي يُصَلِّي عَلَيۡكُمۡ وَمَلَٰٓئِكَتُهُۥ

“Dia-lah yang bershalawat atas kamu dan malaikat-Nya,”

merupakan sebesar-besar motivasi untuk memperbanyak dzikir kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى , dan sebagus-bagus anjuran kepada hal itu. Yakni, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menyebut-nyebut kamu, maka hendaklah kamu berdzikir kepada-Nya. Ini serupa dengan firman-Nya :

كَمَآ أَرۡسَلۡنَا فِيكُمۡ رَسُولٗا مِّنكُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡكُمۡ ءَايَٰتِنَا وَيُزَكِّيكُمۡ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمۡ تَكُونُواْ تَعۡلَمُونَ ١٥١ فَٱذۡكُرُونِيٓ أَذۡكُرۡكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِي وَلَا تَكۡفُرُونِ ١٥٢

“Sebagaimana Kami utus di antara kalian Rasul dari kalangan kalian, membacakan kepada kalian ayat-ayat Kami, mensucikan kalian, mengajarkan kalian al-Kitab dan al-Hikmah, dan mengajarkan pada kalian apa-apa yang kalian belum ketahui. Berdzikirlah kepada-Ku niscaya aku akan menyebut kalian serta bersyukurlah pada-Ku dan jangan inkar.” (al-Baqarah : 151-152)

Jadi, suatu balasan adalah sesuai dengan jenis perbuatan. Barang siapa dzikir kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى pada dirinya, maka Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menyebutnya pada diri-Nya. Barang siapa dzikir kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى di tengah khalayak manusia, maka Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menyebutnya di khalayak yang lebih baik daripada mereka. Sedangkan orang yang lupa Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, niscaya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى melupakannya.

Orang-orang yang banyak berdzikir pada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mendapatkan keberuntungan yang besar dan bagian yang sempurna berupa penyebutan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى terhadap mereka. Begitu pula shalawat Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى atas mereka dan para malaikat-Nya.

Diriwayatakan dari Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُ tentang makna ayat itu bahwa beliau رَضِيَ اللهُ عَنْهُ berkata, “Apabila kamu melakukan hal itu -yakni memperbanyak dzikir kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى – niscaya Allah akan bershalawat kepada kalian dan juga para malaikat-Nya.”

Shalawat Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى terhadap hamba-hamba-Nya yang disebutkan itu adalah pujian atas mereka di khalayak tertinggi di sisi malaikat yang mulia lagi baik-baik. Sedangkan shalawat malaikat atas mereka bermakna doa bagi mereka serta permohonan ampunan. Seperti firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

﴿ٱلَّذِينَ يَحۡمِلُونَ ٱلۡعَرۡشَ وَمَنۡ حَوۡلَهُۥ يُسَبِّحُونَ بِحَمۡدِ رَبِّهِمۡ وَيُؤۡمِنُونَ بِهِۦ وَيَسۡتَغۡفِرُونَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْۖ رَبَّنَا وَسِعۡتَ كُلَّ شَيۡءٖ رَّحۡمَةٗ وَعِلۡمٗا فَٱغۡفِرۡ لِلَّذِينَ تَابُواْ وَٱتَّبَعُواْ سَبِيلَكَ وَقِهِمۡ عَذَابَ ٱلۡجَحِيمِ﴾ ﴿رَبَّنَا وَأَدۡخِلۡهُمۡ جَنَّٰتِ عَدۡنٍ ٱلَّتِي وَعَدتَّهُمۡ وَمَن صَلَحَ مِنۡ ءَابَآئِهِمۡ وَأَزۡوَٰجِهِمۡ وَذُرِّيَّٰتِهِمۡۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ٨ وَقِهِمُ ٱلسَّيِّـَٔاتِۚ وَمَن تَقِ ٱلسَّيِّـَٔاتِ يَوۡمَئِذٖ فَقَدۡ رَحِمۡتَهُۥۚ وَذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ٩﴾ [غافر: 7-9]

“(Para malaikat) yang memikul ʻArasy dan yang berada di sekelilingnya selalu bertasbih dengan memuji Tuhannya, beriman kepada-Nya, dan memohonkan ampunan untuk orang-orang yang beriman. (Mereka berkata,) “Wahai Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu. Maka, berikanlah ampunan kepada orang-orang yang bertobat serta mengikuti jalan-Mu dan lindungilah mereka dari azab (neraka) Jahim.

Wahai Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka serta orang yang saleh di antara nenek moyang, istri, dan keturunan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Lindungilah mereka dari keburukan. Siapa yang Engkau lindungi dari keburukan pada hari itu, sungguh, Engkau telah menganugerahkan rahmat kepadanya. Itulah kemenangan yang agung.” (Ghafir : 7-9)

Imam Bukhari telah menyebutkan dalam kitab Shahihnya dari Abu al-Aliyah, bahwa dia berkata tentatang makna firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalain untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (al-Ahzab : 56)

Shalawat Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى adalah pujian-Nya atas beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ di hadapan para malaikat. Sedangkan shalawat para malaikat adalah Doa [1]

Kemudian, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى -disebabkan oleh rahmat-Nya kepada orang-orang yang banyak berdzikir, pujian-Nya atas mereka, dan doa malaikat-Nya untuk mereka-, maka Dia  سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Oleh karena itu Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

هُوَ ٱلَّذِي يُصَلِّي عَلَيۡكُمۡ وَمَلَٰٓئِكَتُهُۥ لِيُخۡرِجَكُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِۚ

“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari berbagai kegelapan menuju cahaya (yang terang benderang). Dia Maha Penyayang kepada orang-orang mukmin.” (al-Ahzab : 43)

(Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengeluarkan mereka) dari kegelapan kebodohan dan kesesatan menuju cahaya petunjuk dan keyakinan. Lalu Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

وَكَانَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَحِيمٗا

“Adalah Dia sangat penyayang terhadap orang-orang beriman.”   

Yakni, di dunia dan akhirat. Adapun di dunia, sesungguhnya Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah menunjuki mereka kepada kebenaran yang mereka tidak ketahui, memperlihatkan kepada mereka jalan yang menyimpang darinya orang-orang selain mereka, dari kalangan penyeru kepada kekafiran, atau bid’ah, atau kebatilan.

Sedangkan rahmat Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى terhadap mereka di akhirat adalah memberi mereka keamanan dari kepanikan yang besar. Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga memerintahkan para malaikat-Nya agar menyambut mereka dengan berita gembira dan keberuntungan yang berupa Surga dan keselamatan dari Neraka. Tidaklah yang demikian itu kecuali karena kecintaan dan kasih sayang-Nya terhadap mereka. Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjadikan kami dan kalian termasuk golongan mereka.

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman dalam ayat lain menjelaskan keutamaan laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, menegaskan urusan mereka, meninggikan sebutan mereka, dan menjelaskan keagungan pahala serta ganjaran mereka :

إِنَّ ٱلۡمُسۡلِمِينَ وَٱلۡمُسۡلِمَٰتِ وَٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ وَٱلۡقَٰنِتِينَ وَٱلۡقَٰنِتَٰتِ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلصَّٰدِقَٰتِ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰبِرَٰتِ وَٱلۡخَٰشِعِينَ وَٱلۡخَٰشِعَٰتِ وَٱلۡمُتَصَدِّقِينَ وَٱلۡمُتَصَدِّقَٰتِ وَٱلصَّٰٓئِمِينَ وَٱلصَّٰٓئِمَٰتِ وَٱلۡحَٰفِظِينَ فُرُوجَهُمۡ وَٱلۡحَٰفِظَٰتِ وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغۡفِرَةٗ وَأَجۡرًا عَظِيمٗا

“Sesungguhnya muslim dan muslimat, mukmin dan mukminat, laki-laki dan perempuan yang taat, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan penyabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kemaluannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, untuk mereka Allah telah menyiapkan ampunan dan pahala yang besar.” (al-Ahzab : 35)

Yakni Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menyiapkan bagi dosa-dosa mereka berupa maaf dan ampnunan, bagi amal-amal shalih mereka pahala yang besar dan tingkatan sangat tinggi dalam Surga, (karunia) yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak didengar oleh telinga, dan tidak pula terbetik dalam hati manusia.

Sesungguhnya orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, merekalah orang-orang tak tertandingi lagi terdahulu kepada kebaikan, mendapatkan keberuntungan berupa tingkatan yang tertinggi dan kedudukan paling atas. Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya, dari Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ dia berkata :

«كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسِيرُ فِي طَرِيقِ مَكَّةَ، فَمَرَّ عَلَى جَبَلٍ يُقَالُ لَهُ جُمْدَانُ فَقَالَ : سِيرُوا هَذَا جُمْدَانُ سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ قَالُوا: وَمَا الْمُفَرِّدُونَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الذَّاكِرُونَ اللهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ»

Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah berjalan di jalan Mekah, lalu beliau melewati suatu gunung yang disebut Jumdan, maka beliau bersabda, ‘Berjalanlah, ini adalah Jumdan. Telah unggul al-Mufarriduun.’ Mereka berkata, ‘Siapakah al-Mufarridun ?’ Beliau bersabda, ‘Laki-laki yang banyak berdzikir kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan perempuan-perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.” [1]

Rasulullah  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ telah menafsirkan al-Mufarridun dengan arti laki-laki yang banyak berdzikir kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  dan perempuan-perempuan yang banyak berdzikir kepada-Nya. Asal kata ‘al-Mufarridun’ seperti dikatakan Ibnu Qutaibah رَحِمَهُ اللهُ dan semisal, “Orang-orang yang binasa saingannya dan menyendiri dari mereka , lalu mereka tetap eksis berdzikir kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.”

Sesungguhnya barang siapa yang mencermati nash-nash ini dan nash-nash lainnya-yang sangat banyak jumlahnya-tentang penjelasan keagungan pahala bagi kaum laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir, banyaknya ganjaran mereka, apa yang disiapkan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى untuk mereka yang berupa kenikmatan abadi, pahala yang besar di hari Kiamat, agar jiwa bangkit dalam kerinduan dan antusias, dan hati bergetar karena cinta dan penuh harap agar termasuk di antara mereka itu, yakni para pemilik kedudukan yang tinggi dan derajat yang paling atas ini.

Akan tetapi, bagaimana seorang hamba mencapai kedudukan itu ?

Ini adalah pertanyaan yang agung yang sudah sepantasnya bagi setiap Muslim untuk mengamati rambu-rambunya dan mengetahui jawabannya. Sementara itu, telah dinukil dari kalangan salaf sejumlah pernyataan tentang makna laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada-Nya. Di antara pernyatan itu adalah :

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُ dia berkata : “Seorang tidak tergolong laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى hingga dia berdzikir saat berdiri, duduk dan berbaring.”

Atha berkata,”Barang siapa shalat lima waktu dengan memenuhi hak-haknya, maka dia masuk ke dalam firman Allah  سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ

“laki-laki yang banyak berdzikir kepada Allah dan perempuan yang banyak berdzikir.” (al-Ahzab : 35) [2]

Di antara sifat mereka itu adalah shalat di malam hari. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah, al-Hakim, dan selain mereka, melalui sanad yang shahih, dan dinyatakan Shahih oleh al-Hakim, Adz-Dzahabi, an-Nawawi, al-Iraqi, dan selain mereka, dari hadis Abu Sa’id al-Khudhri, dia berkata, Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda :

«إِذَا أَيْقَظَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّيَا أَوْ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَمِيعًا كُتِبَا فِي الذَّاكِرِينَ وَالذَّاكِرَاتِ

“Apabila seorang laki-laki membangunkan istrinya di malam hari, lalu keduanya shalat, atau shalat dua rakaat bersama, keduanya ditulis sebagai kelompok laki-laki dan perempuan yang banyak  berdzikir kepada Allah.” [3]

Abu Amr bin Ash-Shalah رَحِمَهُ اللهُ pernah ditanya -sebagaimana dinukil oleh an-Nawawi dari beliau -dalam kitab al-Adzkar tentang batasan seseporang digolongkan laki-laki dan perempuan yang  banyak berdzikir kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, maka beliau berkata : “Apabila seseorang konsisten melakukan dzikir-dzikir yang dinukil dari salaf baik pagi maupun petang, pada waktu-waktu dan kondisi-kondisi yang berbeda-beda, baik siang maupun malam-sebagaimana dijelaskan dalam kitab Amalul Yaum Wallailah-maka mereka termasuk laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى [4]

Syaikh al-Allamah Abdurrahman As-Sa’di رَحِمَهُ اللهُ berkata, “Minimal dari hal itu adalah seseorang komitmen dengan wirid-wirid pagi dan petang, di belakang shalat-shalat lima waktu, dan ketika ada faktor-faktor tertentu dan kondisi-kondisi yang khusus. Menjadi keharusan melakukannya terus-menerus di semua waktu dalam segala keadaan. Sungguh itu adalah ibadah yang menjadikan unggul orang yang mengamalkannya sementara dia dalam keadaan santai. Ia juga merupakan faktor pendorong kepada kecintaan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan ma’rifat-Nya. Membantu kepada kebaikan dan menahan lisan dari perkataan-perkataan buruk.” [5] Demikian perkataan beliau.

Aku memohon kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dengan nama-nama-Nya yang indah, untuk menjadikan kami dan kamu termasuk laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, tergolong mereka yang disiapkan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ampunan dan pahala yang besar. Sungguh Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berkuasa atas hal itu dan sangat patut untuk mengabulkan permohonan.

Amin

Sumber :

Fiqhu al-Ad-‘iyyah Wa al-Adz-kar, Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Abbad al-Badr, 1/37-40.

 

Catatan :

[1] Shahih Muslim, No. 2676.

[2] Lihat atsar-atsar ini dalam kitab al-Adzkar karya Imam an-Nawawi, hal. 9-10.

[3] Sunan Abu Dawud, No. 1309, Sunan Ibnu Majah, No. 1335, Mustdrak al-Hakim, 1/316, dinyatakan shahih oleh al-Allamah al-Albani dalam Shahih al-Jaami’, No. 6030.

[4] Dinukil oleh an-Nawawi dalam kitab al-Adzkr, hal. 10.

[5] Taisiir al-Karim ar-rahman, 6/112.