Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى . الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى . وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى . وَالَّذِي أَخْرَجَ الْمَرْعَى . فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَى . سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسَى . إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّهُ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفَى

“Sucikanlah nama Rabbmu Yang Paling Tinggi

Yang menciptakan dan menyempurnakan (ciptaan-Nya)

Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk

Dan yang menumbuhkan rumput-rumputan

Lalu dijadikan-Nya rumput-rumputan itu kering kehitam-hitaman

Kami akan membacakan (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa

Kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.” (al-A’la : 1-7)

***

Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

“Sucikanlah nama Rabbmu Yang Paling Tinggi.”

Kalimat ini ditujukan kepada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Kalimat-kalimat yang ditujukan kepada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dalam al-Qur’an ada tiga macam :

Pertama : Ada dalil yang menunjukkan bahwa perkara tersebut khusus bagi Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ,  maka masuk dalam bab khususiyah Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Kedua : Ada dalil yang menunjukkan bahwa perkara tersebut berlaku umum, maka berlaku atas segenap umat.

Ketiga : Tidak ada dalil yang menunjukkan kepada salah satu dari dua perkara di atas, maka secara lafal khusus bagi beliau dan secara hukum berlaku umum untuk beliau dan untuk segenap umat.

Contoh bentuk yang pertama adalah firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ . وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu ? dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu.” (asy-Syarh : 1-2)

Contoh lainnya adalah firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا

“Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia.” (an-Nisa : 79)

Sebagaimana dimaklumi bahwa perkara itu khusus bagi Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Contoh bentuk kedua, yakni kalimat yang ditujukan kepada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ namun indikasi menunjukkan bahwa maksudnya untuk umum adalah firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ

“Hai Nabi, apabila kalian menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar).” (ath-Thalaq : 1)

Kalimat itu sebenarnya pertama kali ditujukan kepada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :  يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ  “Hai Nabi” tidak mengatakan : “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menceraikan istri-istrimu”

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman : “Hai Nabi, jika kalian (jamak) menceraikan istri-istrimu”, tidak mengatakan : “Hai Nabi, jika engkau (mufrad) menceraikan istri-istrimu”

Itu semua menunjukkan bahwa perintah yang ditujukan kepada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ juga ditujukan kepada segenap umat.

Contoh bagi bentuk yang ketiga, banyak sekali kalimat yang ditujukan kepada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ secara lafal namun hukumnya berlaku umum untuk segenap umat.

Seperti ayat yang kita bahas ini, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

“Sucikanlah nama Rabbmu Yang Paling Tinggi.”

Firman Allah : سَبِّحِ”Sucikanlah” yakni sucikanlah Allah dari segala sesuatu yang tidak layak bagi kemuliaan dan keagungan-Nya. Tasbih maknanya memahasucikan Allah, apabila engkau mengucapkan : “Subhanallah” yakni aku memahasucikan Allah dari segala keburukan, aib, dan kekurangan. Oleh sebab itu salah satu dari asma Allah adalah : al-Quddus As-Salam (Yang Maha Suci dan Maha Sejahtera), karena Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى maha suci dari segala aib. Saya beri contoh : Salah satu sifat Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى adalah al-Hayat yakni Yang Maha Hidup, kehidupan yang tidak ada kekurangannya sama sekali. Kehidupan makhluk penuh dengan kekurangan-kekurangan, salah satu di antaranya kehidupan mereka didahului dengan ketiadaan, manusia sebelumnya tidak ada. Kemudian kehidupan mereka akan diiringi dengan kefanaan dan kebinasaan. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ

“Semua yang ada di bumi akan binasa.” (ar-Rahman : 26)

Contoh lain : Pendengaran Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى adalah pendengaran yang tidak ada kekurangan sama sekali. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dapat mendengar segala sesuatu. Sampai-sampai seorang wanita datang mengadu kepada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  seperti yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى sebutkan kisahnya di awal surat al-Mujadilah. Saat wanita tersebut berbicara kepada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, ‘Aisyah رَضِيَ للهُ عَنْهَا berada di dalam kamar dan tidak mendengar sebagian dari pembicaraannya. Akan tetapi Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman dalam kitab-Nya :

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya.” (al-Mujadilah : 1)

Oleh karena itulah ‘Aisyah رَضِيَ للهُ عَنْهَا berkata : “Segala puji bagi Allah yang pendengaran-Nya meliputi segala sesuatu” [1]

‘Aisyah رَضِيَ للهُ عَنْهَا berkata : “Wanita yang mengajukan gugatan dan mengadu kepada Rasulullah tersebut sebagian dari perkataannya tersamar (tidak jelas) oleh ‘Aisyah.”

Jadi, makna sabbih (sucikanlah) adalah sucikanlah Allah dari segala aib dan kekurangan.

Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

“Nama Rabbmu Yang Maha Tinggi.”

Sebagian ahli tafsir mengatakan : Nama Rabb-mu yakni Dzat Rabb-mu, sebab tasbih bukanlah untuk nama tapi untuk Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Namun makna yang shahih adalah : Sucikanlah Rabb-mu dengan menyebut nama-Nya, yakni janganlah engkau menyebutnya dalam hati saja tapi sebutlah dengan hati dan lisanmu, yaitu dengan menyebut nama-Nya. Makna ini didukung oleh firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang lain :

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ

“maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang Maha Besar.” (al-Waqi’ah : 96)

Yakni ucapkan tasbih dengan menyebut nama-Nya. Memahasucikan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى terkadang dengan hati, yakni dengan aqidah. Dan terkadang dengan lisan, terkadang dengan keduanya sekaligus. Yang dimaksud di sini adalah bertasbih dengan keduanya sekaligus, dengan hati dan mengucapkannya dengan lisan.

Firman-Nya :  رَبِّكَ (Rabb-mu)

Ar-Rabb maknanya adalah pencipta, pemilik, dan pengatur segala urusan. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى adalah pencipta, Dia-lah pemilik dan Dia-lah yang mengatur segala urusan. Kaum musyrikin mengakui hal ini, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka : “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi ? Tentu mereka akan menjawab : “Allah.” (Luqman : 25)

Dalam ayat lain Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka : “Siapakah yang menciptakan mereka ? niscaya mereka menjawab : “Allah”.” (az-Zukhruf : 87)

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengabarkan bahwa apabila mereka ditanya :

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ

Katakanlah (Nabi Muhamamd), “Siapakah yang menganugerahkan rezeki kepadamu dari langit dan bumi, siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan ?” Maka mereka menjawab : “Allah.” (Yunus : 31)

Mereka mengakui bahwa Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى adalah pemilik, pengatur segala urusan dan pencipta, akan tetapi mereka menyembah sesembahan lain selain Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Itu akibat kejahilan mereka. Bukankah mereka mengakui bahwa hanya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى semata yang menciptakan, memiliki dan mengatur segala urusan, namun mengapa mereka menyembah ilah selain-Nya !

Jadi, makna Ar-Rabb adalah pencipta, pemilik dan pengatur segala urusan. Siapa saja yang mengakui hal itu maka tidak boleh menyembah selian Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى semata, sebagaimana yang diisyaratkan dalam sejumlah ayat :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ  لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Rabb-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (al-Baqarah : 21)

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ

“sembahlah Rabb-mu Yang telah menciptakanmu.”

Yakni janganlah engkau menyembah selain Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى : الْأَعْلَى (Yang Paling Tinggi)

Diambil dari kata al-‘Uluw (tinggi). Maha Tinggi Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ada dua jenis : Pertama : Ketinggian sifat. Kedua : Ketinggian dzat. Ketinggian sifat maksudnya, sifat-sifat yang Maha sempurna hanyalah milik Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَى

“Dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi.” (an-Nahl  : 60)

Adapun ketinggian dzat, artinya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berada di atas seluruh hamba-Nya dan bersemayam di atas ‘Arsy. Seorang insan apabila berseru : “Ya Allah !” Ke arah manakah ia akan menghadap ? Tentu ia akan menengadahkan wajahnya ke langit, yakni ke atas. Jadi, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berada di atas segala sesuatu, bersemayam di atas ‘Arsy.

Ketika Anda membaca firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى,

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى [الأعلى : 1]

Sucikanlah nama Rabbmu Yang Paling Tinggi

Maka camkanlah dalam hatimu bahwa Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  Maha Tinggi sifat-Nya dan Maha Tinggi dzat-Nya. Oleh sebab itu, apabila seseorang sujud ia membaca : سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى (Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi), agar ia ingat kerendahan dirinya. Sebab ia sekarang dalam posisi rendah. Bagian tubuh manusia yang paling tinggi tempatnya dan paling mulia adalah wajahnya, namun demikian ia meletakkannya di atas lantai yang diinjak oleh kaki. Maka terdapat hikmah yang tinggi dalam ucapan : سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى (Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi) “ Yakni aku memahasucikan Rabb-ku yang berada di atas segala sesuatu, aku sekarang berada di bawah segala sesuatu. Anda memahasuci Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang maha tinggi sifat-Nya dan maha tinggi dzat-Nya. Ketika mengucapkan : سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى (Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi) Anda ingat bahwa Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berada di atas segala sesuatu, bahwa Dia memiliki sifat yang paling sempurna.[2]

Faedah :

1-Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

Sucikanlah nama Rabbmu Yang Paling Tinggi

Ini merupakan perintah dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى kepada Rasul-Nya Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- dan ummatnya sebagai pengikutnya- agar beliau mensucikan nama Rabbnya dari dinamaknnya selain-Nya dengan nama-Nya. Atau, dari disebutkannya diri-Nya atau nama-Nya di tempat yang kotor. Atau, dari disebutkannya nama-Nya dengan tanpa adanya pengagungan dan penghormatan. [3]

2-Wajibnya mensucikan dan membersihkan nama Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dari hal-hal yang tidak layak bagi-Nya seperti wajibnya mensucikan dan membersihkan Dzat Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dari hal-hal yang tidak layak bagi keagungan dan kesempurnaan-Nya.

3-Disyariatkannya ucapan : سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى (Maha Suci Rabb-ku yang Maha Tinggi) ketika membaca ayat ini :

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

Sucikanlah nama Rabbmu Yang Paling Tinggi [4]

4-Wajibnya bertasbih dengan ungkapan tasbih ini “ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى (Maha Suci Rabb-ku yang Maha Tinggi)”  di dalam sujud pada setiap sujud dalam shalat.

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ (فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ) قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- « اجْعَلُوهَا فِى رُكُوعِكُمْ ». فَلَمَّا نَزَلَتْ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) قَالَ « اجْعَلُوهَا فِى سُجُودِكُمْ ».

Dari Uqbah bin ‘Amir, ia berkata : Ketika turun (ayat) (فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ)   (Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Agung), Rasulullah  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, ‘Jadikanlah ia dalam rukuk kalian’. Lalu, ketika turun (ayat) (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى)  (Sucikanlah nama Rabb-mu yang Maha Tinggi)” , beliau bersabda, ‘Jadikanlah ia di dalam sujud kalian.”   (HR. Abu Dawud, no. 869)

Wallahu A’lam

(Redaksi)

Catatan :

[1] Hadis riwayat al-Bukhari secara mu’allaq dalam kitab at-tauhid bab firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى : “ Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (9) dan disebutkan secara maushul oleh Imam Ahmad dalam kitab al-Musnad (VI/46).

[2] Tafsir Juz ‘Amma, Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, ei, hal-292-298 (dengan ringkasan)

[3] Aisir at-Tafasir, al-Jazairi, 5/556

[4] Aisir at-Tafasir, al-Jazairi, 5/557. Telah datang beberapa atsar yang menunjukkan akan disyariatkannya ucapan : سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى, ketika dibacanya “ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى “, antara lain :

a-Dari Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا :

أَنَّ النَّبِىَّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- كَانَ إِذَا قَرَأَ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) قَالَ « سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى »

Bahwa Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ apabila telah membaca (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) . beliau mengucapkan : « سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى » (Maha Suci Rabb-ku yang Maha Tinggi) (HR. Abu Dawud, no. 883. Dan, dishahihkan oleh al-Albani)

b-Dari Khudzaefah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ :

Dia رَضِيَ اللهُ عَنْهُ berkata,

صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِىِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- ذَاتَ لَيْلَةٍ فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ فَقُلْتُ يَرْكَعُ عِنْدَ الْمِائَةِ. ثُمَّ مَضَى فَقُلْتُ يُصَلِّى بِهَا فِى رَكْعَةٍ فَمَضَى فَقُلْتُ يَرْكَعُ بِهَا. ثُمَّ افْتَتَحَ النِّسَاءَ فَقَرَأَهَا ثُمَّ افْتَتَحَ آلَ عِمْرَانَ فَقَرَأَهَا يَقْرَأُ مُتَرَسِّلاً إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَسْبِيحٌ سَبَّحَ وَإِذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ وَإِذَا مَرَّ بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ

Aku pernah shalat bersama Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pada suatu malam. Beliau membuka dengan membaca surat al-Baqarah (setelah membaca surat al-Fatihah). Lalu, aku berkata (dalam hatiku) ‘niscaya beliau akan rukuk setelah membaca 100 ayat (dari surat ini). Namun, ternyata beliau terus melanjutkannya. Maka, aku pun berkata (dalam hatiku), ‘niscaya beliau akan membacanya sampai selesai dalam satu rakaat, lalu, beliau akan rukuk. Namun, kemudian beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melanjutkan dengan membaca surat an-Nisa, sampai selesai. Kemudian, beliau melanjutkan dengan membaca surat Ali Imran sampai selesai. Bila beliau membaca ayat tasbih, beliau bertasbih, dan bila beliau membaca ayat yang memerintahkan untuk memohon, beliau memohon. Dan bila beliau membaca ayat ta’awwudz (ayat yang memerintahkan untuk memohon perlindungan) beliau memohon perlindungan…(HR. Muslim, no. 1850)

c-Dari Abdu Khair رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

Dia berkata :

سَمِعْتُ عَلِيًّا يَقْرَأُ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) فَقَالَ : سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى

Aku pernah mendengar Ali رَضِيَ اللهُ عَنْهُ membaca : (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) (Sucikanlah nama Rabbmu yang Maha Tinggi), lalu beliau mengucapkan : سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى (Maha Suci Rabbku yang Maha Tinggi) (HR. al-Baihaqi di dalam as-Sunan al-Kubra, no. 3845)

d-Dari Abu Ishaq al-Hamdaniy,

أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ كَانَ إِذا قَرَأَ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) يَقُوْلُ : سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى

Bahwa Ibnu Abbas biasanya bila beliau telah membaca :  (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) (Sucikanlah nama Rabbmu yang Maha Tinggi), beliau mengucapkan : سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى (Maha Suci Rabbku yang Maha Tinggi)