Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى Maha Pengasih kepada para hambaNya dan Maha Mengetahui mereka berikut tabiatnya.

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ  [الملك : 14]

“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu tampakkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui ?” (al-Mulk : 14)

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengetahui bahwa manusia itu tetap manusia juga, meskipun mereka telah mencapai ketakwaan, keshalihan dan kewaraan. Ia pasti akan melakukan sebagian apa yang diharamkan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

Karena itu Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى membuka bagi hamba-hambaNya pintu taubat dan menyeru mereka menuju ke sana :

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ  [النور : 31]

“Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” (an-Nur : 31)

Dan pembicaraan mengenai taubat adalah sangat panjang dan para ahli ilmu telah membahas secara lebar. Tetapi saya akan menyinggung secara singkat yang menurut saya Anda perlu mengingatnya.

1-Kegembiraan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dengan Taubat HambaNya  

Masalahnya tidak berhenti sebatas ajakan kepada taubat dan janji diterimanya taubat serta anjuran atasnya; padahal ini saja sudah cukup memotivasi dan mendorong seorang muslim untuk melakukan hal itu. Tetapi (lebih dari itu) Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mencintai hamba-Nya yang bertaubat dan bergembira dengannya.

Termaktub dalam Ash-Shahihain (shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim) dari Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bahwa beliau bersabda,

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِى ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِى وَأَنَا رَبُّكَ. أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ ».

“Allah lebih bergembira dengan taubat hambaNya tatkala bertaubat daripada seorang dari kamu yang berada di atas kendaraannya di padang pasir yang tandus. Kemudian kendaraan itu hilang darinya, padahal di atas kendaraan itu terdapat makanan dan minumannya. Ia sedih kehilangan hal itu, lalu ia menuju pohon dan tidur di bawah naungannya dalam keadaan bersedih terhadap kendaraannya. Saat ia dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba kendaraannya muncul di dekatnya, lalu ia mengambil tali kendalinya. Kemudian ia berkata, karena sangat bergembira, ‘Ya Allah Engkau adalah hamba-Ku dan aku adalah Tuhanmu’. Ia salah karena sangat bergembira”. [1]

Al-Allamah Ibnul Qayyim  رَحِمَهُ اللهُ berkata, “Apa dugaanmu terhadap kekasihmu yang kamu cintai ditawan oleh musuhmu dan ia menghalangi antara kamu dengannya. Padahal kamu tahu bahwa musuh tersebut akan menimpakan kepadanya siksa yang pedih dan memberikan kepadanya berbagai bencana, sedangkan kamu ini lebih pantas bersamanya, karena ia adalah tanamanmu dan didikanmu. Kemudian ia lepas dari musuhnya dan menemuimu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Bukankah itu mengejutkanmu, sementara ia berada di depan pintumu merayumu, meminta kerelaanmu, meminta tolong kepadamu dan menyungkurkan wajahnya di depan pintumu. Bagaimana rasa gembiramu dengannya, padahal kamu mengistimewakannya buat hatimu, kamu merelakannya karena kedekatanmu dan kamu lebih mementingkannya daripada selainnya ?

Demikianlah kenyataannya, padahal bukan Anda yang menciptakannya dan mencukupkan nikmatmu kepadanya. Sementara Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menciptakan hambaNya dan memberikan kenikmatan kepadanya; dan Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى senang menyempurnakan nikmatNya itu kepadanya sehingga ia dapat menampakkan nikmat-Nya, menerimanya, mensyukurinya, mencintai pemiliknya, mentaatiNya dan menyembahNya serta memusuhi musuhNya, membencinya dan tidak mematuhinya.” [2]

Betapa indahnya kisah yang dikemukakan oleh Ibnul Qayyim  رَحِمَهُ اللهُ  dalam Madarij As-Salikin, di mana ia berkata, “Ini adalah hikayat yang masyhur dari sebagian arifin bahwa ia pernah terusir dari tuannya. Kemudian dia melihat di sebuah jalan ada pintu rumah terbuka. Keluarlah dari pintu itu seorang bocah yang sedang menangis, dan ibunya berada di belakangnya mengusirnya sehingga bocah itu keluar. Sang ibu lalu menutup pintu di hadapannya lantas masuk kembali. Bocah itu pun pergi tidak jauh dari rumahnya, kemudian ia berhenti dalam keadaan berpikir. Ia tidak  menemukan untuknya tempat tinggal selain rumah yang mana dia diusir darinya. Ia juga tidak menemukan orang yang mengajaknya bermain selain ibunya. Akhirnya ia kembali dengan hati yang menyesal lagi sedih, ternyata ia melihat pintu dalam keadaan tertutup. Kemudian ia berbaring sembari meletakkan pipinya di ondokan pintu lalu tidur. Ketika ibunya keluar dan melihat si bocah dalam keadaan seperti itu, hatinya merasa iba kepadanya. Diambilnya anak itu dan diciumnya. Ia menangis seraya berkata, “Wahai anakku, kemana kamu mau pergi dariku ? Siapa yang merawatmu selainku ? Bukankah aku katakan kepadamu, jangan menyelisihiku dan jangan melakukan pelanggaran kepadaku sebagai balasan atas apa yang telah aku berikan kepadamu berupa kasih sayang, belas kasih dan maksud baikku kepadamu ?” Kemudian sang ibu mengajaknya masuk.

Renungkanlah perkataan sang ibu : “Jangan melakukan pelanggaran kepadaku sebagai balasan atas apa yang telah aku berikan kepadamu berupa kasih sayang, belas kasih dan maksud baikku kepadamu.”

Dan renungkan perkataan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  :

لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا

“Allah lebih sayang kepada hamba-Nya daripada seorang ibu kepada anaknya.”

Manakah yang lebih nyata kasih sayang ibu dibandingkan kasih sayang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang meliputi segala sesuatu ?

Jika seorang hamba membuatNya marah karena bermaksiat kepadaNya, berarti mengundang larinya rahmat tersebut darinya. Jika dia bertaubat kepadaNya, maka berarti mengundang apa yang layak padanya (yaitu, rahmat Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى). Ini adalah sekelumit kecil yang memberikan gambaran kepada anda mengenai kegembiraan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى terhadap taubat hambaNya yang lebih besar daripada kegembiraan orang yang menemukan kendaraannya di tanah yang tandus setelah putus asa. Dan lain sebagainya yang tidak dapat dicakup oleh kata-kata dan tidak dapat dicapai oleh akal pikiran. [3]

2-Segera Bertaubat dari Kemaksiatan

Ketika Anda jatuh dalam kemaksiatan dan melakukannya maka bersegeralah bertaubat. Janganlah menunda-nunda taubat. Sebab umur itu berada di tangan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Tahukah anda seandainya anda dipanggil untuk berangkat, maka anda harus memenuhi panggilan itu dan anda harus meninggalkan dunia ini dan datang menghadap Tuhanmu dalam keadaan berdosa.

Kemudian menunda-nunda taubat adakalanya menyebabkan diteruskannya dosa dan rela dengan kemaksiatan tersebut. Jika sekarang Anda mempunyai motivasi untuk bertaubat dan menahan diri dari kemaksiatan, maka bisa jadi datang saat dimana anda mencari kesempatan tersebut itu, tapi kesempatan itu tidak datang pula kepada Anda.

Para arifin (orang-orang yang mengenal Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى) menilai sikap menunda-nunda taubat itu merupakan dosa lain yang harus bertaubat darinya. Al-Allamah Ibnul Qayyim رَحِمَهُ اللهُ mengatakan : “Bersegera bertaubat dari dosa ialah kewajiban yang harus segera ditunaikan dan tidak boleh ditunda-tunda. Kapan saja seseorang menunda-nundanya, maka ia telah bermaksiat dengan penundaan tersebut. Jika ia bertaubat dari dosa, maka ia harus melakukan taubat yang lainnya yaitu bertaubat karena menunda-nunda taubat tersebut. Jarang sekali ini terlintas di benak orang yang bertaubat. Bahkan baginya apabila sudah bertaubat dari dosa, maka sudah tidak ada sesuatu yang lain yang wajib atasnya, padahal ia masih harus bertaubat karena menunda-nunda taubat tersebut.” [4]      

3-Bersungkurlah di Hadapan Tuhanmu

Para pelaku kemaksiatan pada umumnya mengetahui bahwa ia terjerumus dalam kemaksiatan dan bahwa taubat wajib atas mereka; tetapi siapa di antara mereka yang mengagungkan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dengan sebenarnya, takut kepadaNya dan bersungkur di hadapanNya ?

Kita merasa heran dengan diri kita. Kita menikmati lezatnya kemaksiatan dan syahwatnya serta kita berkutat dalam lumpurnya. Setelah itu kita bertaubat, tetapi taubat kita tidak lebih sekedar istighfar dengan lisan, sementara kita lalai. Oleh karena itu, orang yang bertaubat selama ia tidak senantiasa berada dalam “mihrab” taubat, meniti jalan orang-orang yang khusyu’ dan tunduk kepada Kekasih (Tuhan)nya, maka hendaklah ia meninjau kembali kebenaran taubatnya.

Inilah aspek yang sering dilalaikan. Karena itu Ibnul Qayyim رَحِمَهُ اللهُ berkata : “Di antara kosekwensi taubat yang benar ialah ketundukan spesial yang diraih oleh hati yang tiada sesuatu pun yang menyerupainya dan tidak pula terdapat pada diri selain orang yang berdosa. Ia tidak dapat meraih dengan lapar dan latihan, tidak pula sekedar cinta saja. Rahasia di balik itu semua adalah hati yang menangis di hadapan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى secara sempurna yang meliputi seluruh aspek dirinya dan bersungkur di hadapan-Nya dengan ketundukan dan kekhusyuan. Seperti ihwal hamba yang lari dari tuannya, lalu ia datang di hadapannya. Ia tidak melihat ada orang yang dapat menyelematkannya dari siksa-Nya. Ia tidak melihat ada peluang untuk lari dariNya, sangat butuh kepada-Nya dan tidak mendapatkan tempat berlari darinya. Ia tahu bahwa kehidupannya, kebahagiaannya, keberuntungannya dan kesuksesannya berada dalam ridha-Nya kepadanya. Ia mengetahui Tuannya mengetahui seluruh aspek kehidupannya. Ini disertai dengan sangat cintanya kepada Tuannya, sangat membutuhkan kepada-Nya dan pengetahuannya akan kelemahan dirinya dan kekuatan Tuannya, kehinaan dirinya dan kemuliaan Tuannya. Karena berbagai keadaan tersebut, berhimpunlah tangisan penyesalan, kehinaan dan ketundukan yang bermanfaat bagi seorang hamba. Betapa besar manfaat semua itu yang kembali kepadanya, betapa perkasanya ia dengan semua itu, dan betapa dekatnya ia dengan semua itu kepada Tuannya.

Tidak ada sesuatu pun yang lebih dicintai Tuannya daripada ketundukan, bersungkur di hadapanNya dan berserah diri kepada-Nya. Sungguh manis ucapan orang yang mengadu kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى : “Aku memohon kepadaMu dengan segala kemulianMu, sedangkan aku hina kecuali bila Engkau merahmatiku; aku memohon kepadaMu dengan segala kekuatanMu, sedangkan aku lemah, dan kebutuhanku kepadaMu; inilah ubun-ubunku yang berdusta lagi berdosa ada di hadapanMu. Hamba-hambaMu selainku banyak dan aku tidak punya Tuan selainMu. Tidak ada tempat berlari dariMu kecuali kepadaMu. Aku memohn kepadaMu sebagai permintaan orang yang miskin. Aku berdoa kepadaMu sebagai doanya orang yang ketakutan, permintaan orang yang lehernya tunduk karenaMu dan hatinya tunduk karenaMu.”

Wahai Dzat yang kepadaNya aku berlindung dalam segala yang aku angankan.

Dan Dzat yang kepadaNya aku berlindung dalam segala yang aku khawatirkan

Manusia tidak dapat menempel tulang yang telah Engkau patahkan

Dan tidak pula dapat mematahkan tulang yang telah Engkau tempel

Ini, dan contoh-contoh yang serupa, merupakan pengaruh taubat yang benar. Barangsiapa tidak mendapatkan hal itu dalam hatinya, semestinya ia meragukan taubatnya dan membetulkannya kembali. Memang betapa sulitnya merealisasikan taubat yang benar itu, dan betapa mudahnya mengucapkannya dengan lisan. Tidak ada terapi yang lebih berat bagi orang yang jujur daripada taubat yang murni lagi jujur dan tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan seizin Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-.[5]

Wallahu A’lam

(Redaksi)

Sumber :

Sabilu an-Najah Min Syu’mi al-Ma’shiyah, Muhammad bin Abdullah ad-Duwaisy, hal. 35-43.

Baca juga: Taubatnya Sang Pembegal (al-Fudhail Bin Iyadh rahimahullah)

Catatan :

[1] HR. al-Bukhari, no. 6309; Muslim, no. 2747 dari hadis Anas dan dari hadis Ibnu Mas’ud. Muslim juga meriwayatkan dari hadis al-Barra dan dari hadis an-Nu’man bin Basyir ; dan at-Tirmidzi dari hadis Abu Hurairah.

[2] Madarij As-Salikin, 1/237-238

[3] Op cit., 1/235-236

[4] Op cit., 1/297.

[5] Op cit., 1/207-208