Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman:
﴿نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى (13) وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا (14) هَؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لَوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا (15)﴾ [الكهف: 13-15]
Kami menceritakan kepadamu kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami menambahkan petunjuk kepada mereka.
Kami meneguhkan hati mereka ketika mereka berdiri lalu berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi. Kami tidak akan menyeru Tuhan selain Dia. Sungguh, kalau kami berbuat demikian, kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran.”
(Salah seorang dari para pemuda itu berkata kepada yang lain,) “Mereka itu kaum kami yang telah menjadikan tuhan-tuhan (untuk disembah) selain Dia. Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang jelas (tentang kepercayaan mereka)? Maka, siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” [al-Kahfi : 13-15]
Makna Global
Setelah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menyebutkan secara global pembicaraan mengenai ashabul kahfi, mulailah Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى merincikan kisah mereka, seraya berfirman : نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ [Kami menceritakan kepadamu] -wahai Muhammad-berita tentang ashabul kahfi dengan benar.
Sesungguhnya ashabul kahfi itu mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Allah, dan Kami tambahkan kepada mereka keteguhan hati dan petunjuk.
Kami pun teguhkan hati mereka dengan keimanan. Ketika mereka berdiri lalu mereka mengatakan, “Rabb kami dialah Rabb langit dan bumi. Kami tidak akan menyeru sesembahan-sesembahan selain-Nya. Andaikan kami menyeru selain-Nya, niscaya kami benar-benar telah mengatakan perkataan-perkataan yang menyimpang yang sangat jauh dari kebenaran.
Mereka, kaum kami telah menjadikan selain Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى sebagai sesembahan. Mengapakah mereka tidak mendatangkan sebuah dalil yang jelas akan kebenaran peribadatan mereka terhadap sesembahan itu. Karena sesungguhnya tak seorang pun yang lebih zhalim daripada orang yang membuat-buat kedustaan atas Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Ia menklaim adanya sekutu bagi-Nya dalam keilahiyahan-Nya.
Tafsir Ayat
[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ
Kami menceritakan kepadamu kisah mereka dengan sebenarnya.
Yakni, Kami-wahai Muhammad-bukan selain Kami, Kami riwayatkan untukmu berita ashabul kahfi dengan benar sesuai dengan kenyataan, dan dengan penuh keyakinan yang tidak ada keraguan padanya. [1]
[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]
إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ
Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka.
Yakni, Sesungguhnya ashabul kahfi itu mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dengan benar[2], maka mereka mengesakan-Nya dan mereka tidak menyekutukan-Nya sedikit pun dengan sesuatu apa pun.[3]
[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]
وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
dan Kami menambahkan petunjuk kepada mereka
Yakni, dan disebabkan pondasi hidayah mereka kepada keimanan sebelumnya, maka Kami tambahkan kepada mereka keimanan, pengetahuan tentang kebenaran dan amalan yang shaleh. [4]
Sebagaimana Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :
﴿وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ﴾ [محمد: 17]
Orang-orang yang mendapat petunjuk akan ditambahi petunjuk(-nya) dan dianugerahi ketakwaan (oleh Allah). (Muhammad : 17)
[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]
وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا
Kami meneguhkan hati mereka ketika mereka berdiri lalu berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi. Kami tidak akan menyeru Tuhan selain Dia. Sungguh, kalau kami berbuat demikian, kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran.”
[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]
وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ
Kami meneguhkan hati mereka
Yakni, Kami kuatkan hati mereka, dan Kami teguhkan hati mereka itu dengan keimanan dan kesabaran, sehingga kokoh tekad mereka dan kuat kesabaran mereka.[5]
Seperti kata Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :
﴿وَأَصْبَحَ فُؤَادُ أُمِّ مُوسَى فَارِغًا إِنْ كَادَتْ لَتُبْدِي بِهِ لَوْلَا أَنْ رَبَطْنَا عَلَى قَلْبِهَا لِتَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ﴾ [القصص: 10]
Hati ibu Musa menjadi hampa. Sungguh, hampir saja dia mengungkapkan (bahwa bayi itu adalah anaknya), seandainya Kami tidak meneguhkan hatinya agar dia termasuk orang-orang yang beriman (kepada janji Allah). (al-Qashash : 10)
[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]
إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا
ketika mereka berdiri lalu berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi. Kami tidak akan menyeru Tuhan selain Dia.”
Yakni, Kami kuatkan hati mereka ketika mereka bangkit karena Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, lalu mereka mengatakan kebenaran, “Rabb kami adalah Dzat yang telah menciptakan kami, yang menguasai kami, yang memberikan rizki kepada kami, dan yang mengurusi urusan-urusan kami, Dialah Rabb yang sendiri menciptakan langit dan bumi, menguasainya dan mengaturnya, kami tidak akan menyembah selain-Nya selamanya. Karena, Dialah sesembahan yang berhak untuk dibadahi semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.[6]
[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]
لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا
Sungguh, kalau kami berbuat demikian, kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran.”
Yakni, kalau kami menyeru kepada selain Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, niscaya kami benar-benar telah melampaoi batas dalam mengatakan kedustaan dan dalam berbicara dengan kebatilan dan dalam melakukan tuduhan yang dusta.[7]
[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]
هَؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لَوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا
(Salah seorang dari para pemuda itu berkata kepada yang lain,) “Mereka itu kaum kami yang telah menjadikan tuhan-tuhan (untuk disembah) selain Dia. Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang jelas (tentang kepercayaan mereka)? Maka, siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?”
Korelasi Ayat Ini dengan Ayat Sebelumnya
Ketika para pemuda ini mengesakan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan mereka menolak sesembahan-sesembahan selain-Nya, dan mereka pun menyebutkan apa yang telah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى karuniakan kepada mereka berupa iman dan petunjuk; mereka menengok kepada kebiasaan kaumnya berupa menjadikan sesembahan-sesembahan selain Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, mereka pun mencela mereka dan menganggap buruk tindakan mereka, dan bahwa mereka itu tidak memiliki hujjah dalam tindakan mereka beribadah kepada selain Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, kemudian mereka menganggap besar kelancangan orang yang membuat-buat kedustaan terhadap Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.[8]
[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]
هَؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً
(Salah seorang dari para pemuda itu berkata kepada yang lain,) “Mereka itu kaum kami yang telah menjadikan tuhan-tuhan (untuk disembah) selain Dia.”
Yakni, para pemuda yang beriman ini [9] mengatakan (perihal kaumnya): mereka itu orang-orang yang hidup sezaman dengan kami dan para penduduk negeri kami, mereka menjadikan selain Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى sebagai sesembahan yang mereka sembah.[10]
[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]
لَوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ
Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang jelas (tentang kepercayaan mereka)?
Yakni, mengapa kaum kita tidak mendatangkan hujjah yang jelas yang menunjukkan kebenaran ibadah yang mereka lakukan terhadap sesembahan-sesembahan itu yang mereka jadikan sebagai sesembahan?!.[11]
[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]
فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا
Maka, siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?
Korelasi Ayat Ini dengan Ayat Sebelumnya
Bahwa disebabkan karena ketidakmampuan mereka untuk mendatangkan sebuah dalil argumentasi, jadilah mereka orang-orang zhalim yang paling zhalim; karena tindakan membuat-buat kebohongan tentang Maha Diraja dan Tuhan pemilik kekuasaan; oleh karena itu mereka mengatakan,[12]
فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا
Maka, siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?
Yakni, maka tidak ada seorang pun yang lebih zalim daripada orang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, di mana ia mendakwa atau menganggap bahwa Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memiliki sekutu yang disembah.[13]
Faedah
1.
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman:
إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami menambahkan petunjuk kepada mereka.
Difahami dari ayat yang mulia ini, bahwa barang siapa beriman kepada Rabbnya dan mentaati-Nya, niscaya Rabb akan menambahkan petunjuk kepadanya; karena ketaatan itu merupakan sebab untuk menambah petunjuk dan keimanan, dan bahwasanya termasuk pahala kebaikan itu adalah kebaikan setelahnya, dan barang siapa mengamalkan apa yang diketahuinya niscaya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya.[14]
2.
[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]
وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ
Kami meneguhkan hati mereka
Difahami dari firman-Nya ini bahwa barang siapa berada dalam ketaatan kepada Rabbnya جَلَّ وعَلا, niscaya Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan menguatkan hatinya, dan meneguhkannya untuk memikul beban berat dan untuk bisa sabar dangan kesabaran yang baik.[15]
3.
Dalam firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى:
وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ
Kami meneguhkan hati mereka
Terdapat faedah bahwa hal yang paling dibutuhkan seorang Mukmin adalah agar Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى meneguhkan hatinya, dan kalaulah bukan sebab peneguhan hati itu, niscaya mereka akan terpapar fitnah.[16]
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Korelasi Ayat Ini dengan Ayat Sebelumnya
Ketika para pemuda ini mengesakan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan mereka menolak sesembahan-sesembahan selain-Nya, dan mereka pun menyebutkan apa yang telah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى karuniakan kepada mereka berupa iman dan petunjuk; mereka menengok kepada kebiasaan kaumnya berupa menjadikan sesembahan-sesembahan selain Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, mereka pun mencela mereka dan menganggap buruk tindakan mereka, dan bahwa mereka itu tidak memiliki hujjah dalam tindakan mereka beribadah kepada selain Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, kemudian mereka menganggap besar kelancangan orang yang membuat-buat kedustaan terhadap Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. [8]
Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
هَؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً
(Salah seorang dari para pemuda itu berkata kepada yang lain,) “Mereka itu kaum kami yang telah menjadikan tuhan-tuhan (untuk disembah) selain Dia.”
Yakni, para pemuda yang beriman ini [9] mengatakan (perihal kaumnya): mereka itu orang-orang yang hidup sezaman dengan kami dan para penduduk negeri kami, mereka menjadikan selain Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى sebagai sesembahan yang mereka sembah. [10]
Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
لَوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ
Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang jelas (tentang kepercayaan mereka)?
Yakni, mengapa kaum kita tidak mendatangkan hujjah yang jelas yang menunjukkan kebenaran ibadah yang mereka lakukan terhadap sesembahan-sesembahan itu yang mereka jadikan sebagai sesembahan?! [11]
Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا
Maka, siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?
Korelasi Ayat Ini dengan Ayat Sebelumnya
Bahwa disebabkan karena ketidakmampuan mereka untuk mendatangkan sebuah dalil argumentasi, jadilah mereka orang-orang zhalim yang paling zhalim; karena tindakan membuat-buat kebohongan tentang Maha Diraja dan Tuhan pemilik kekuasaan; oleh karena itu mereka mengatakan, [12]
فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا
Maka, siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?
Yakni, maka tidak ada seorang pun yang lebih zalim daripada orang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, di mana ia mendakwa atau menganggap bahwa Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memiliki sekutu yang disembah. [13]
Faedah
1.
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman:
إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami menambahkan petunjuk kepada mereka.
Difahami dari ayat yang mulia ini, bahwa barang siapa beriman kepada Rabbnya dan mentaati-Nya, niscaya Rabb akan menambahkan petunjuk kepadanya; karena ketaatan itu merupakan sebab untuk menambah petunjuk dan keimanan, dan bahwasanya termasuk pahala kebaikan itu adalah kebaikan setelahnya, dan barang siapa mengamalkan apa yang diketahuinya niscaya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya. [14]
2.
Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى:
وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ
Kami meneguhkan hati mereka.
Difahami dari firman-Nya ini bahwa barang siapa berada dalam ketaatan kepada Rabbnya جَلَّ وَعَلَا, niscaya Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan menguatkan hatinya, dan meneguhkannya untuk memikul beban berat dan untuk bisa sabar dengan kesabaran yang baik. [15]
3.
Dalam firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى:
وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ
Kami meneguhkan hati mereka.
Terdapat faedah bahwa hal yang paling dibutuhkan seorang Mukmin adalah agar Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى meneguhkan hatinya, dan kalaulah bukan sebab peneguhan hati itu, niscaya mereka akan terpapar fitnah. [16]
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Catatan
[1] Lihat: Tafsir Ibnu Jarir, 15/178–179; Tafsir as-Sa’diy, hlm. 471; Tafsir Ibnu Asyur, 15/271; Tafsir Ibnu Utsaimin surat al-Kahfi, hlm. 26.
[2] Ibnu Katsir mengatakan: Disebutkan bahwa mereka (ashabul kahfi ini) berada di atas agama Isa bin Maryam عَلَيْهِ السَّلَامُ, Wallahu A’lam. Namun, yang nampak bahwa mereka ini sebelum agama Nasrani secara keseluruhan. Karena, kalaulah mereka ini berada di atas agama Nasrani, niscaya para pendeta Yahudi tidak perhatian untuk menjaga dan menghafal berita mereka dan urusan mereka; karena jelasnya berita mereka bagi mereka. (Tafsir Ibnu Katsir, 5/140).
[3] Lihat: Tafsir Ibnu Jarir, 15/179; Tafsir Ibnu Katsir, 5/140; Tafsir as-Sa’diy, hlm. 471.
[4] Lihat: Tafsir Ibnu Jarir, 15/179; Tafsir al-Qurthubi, 10/365; Tafsir as-Sa’diy, hlm. 471.
[5] Lihat: Tafsir Ibnu Jarir, 15/179; Tafsir al-Qurthubiy, 10/365; Madarij as-Saalikin karya Ibnul Qayyim, 3/68; Tafsir Ibnu Katsir, 5/140; Tafsir as-Sa’diy, hlm. 472; Adhwa-ul Bayan karya asy-Syinqithi, 3/214; Tafsir al-Kahfi karya Ibnu Utsaimin, hlm. 26.
[6] Lihat: Tafsir Ibnu Jarir, 15/179; Tafsir al-Qusyairiy, 2/381; Bada-i’ al-Fawa-id karya Ibnul Qayyim, 3/6; Tafsir as-Sa’diy, hlm. 472; Tafsir Ibnu Utsaimin surat al-Kahfi, hlm. 26–27.
[7] Lihat: Tafsir Ibnu Jarir, 15/179–180; Tafsir Ibnu Katsir, 5/141; Adhwa-ul Bayan, 3/215–216.
[8] Lihat: Tafsir Abu Hayyan, 7/149; Tafsir as-Sa’diy, hlm. 472.
[9] Ibnu ‘Athiyyah mengatakan: dan perkataan mereka, “هَؤُلَاءِ قَوْمُنَا” (mereka adalah kaum kami) merupakan perkataan yang layak untuk menjadi bagian dari hal yang mereka katakan tentang kedudukan mereka di hadapan raja, dan layak pula untuk dijadikan sebagai bagian dari perkataan sebagian mereka terhadap sebagian yang lainnya ketika mereka melakukan perkara yang telah mereka tekadkan. (Tafsir Ibnu ‘Athiyyah, 3/501).
[10] Lihat: Tafsir Ibnu Jarir, 15/180; al-Wajiz karya al-Wahidiy, hlm. 655; Tafsir al-Qurthubiy, 10/366; Tafsir Ibnu Utsaimin surat al-Kahfi, hlm. 28.
[11] Lihat: Tafsir Ibnu Jarir, 15/180–181; Tafsir al-Qurthubiy, 10/366; Tafsir Ibnu Katsir, 5/141; Tafsir as-Sa’diy, hlm. 472; Tafsir al-Kahfi karya Ibnu Utsaimin, hlm. 28.
[12] Lihat: Nazhmu ad-Durar karya al-Biqa’iy, 12/23.
[13] Lihat: Tafsir Ibnu Jarir, 15/181; Tafsir Ibnu Asyur, 15/275; Adhwa-ul Bayan karya asy-Syinqithiy, 3/216. Ibnu Asyur mengatakan: maknanya, bahwa mereka ini membuat-buat kebohongan terhadap Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Yang demikian itu bahwa mereka menyekutukan-Nya dengan selain-Nya dalam keuluhiyahan-Nya; sungguh mereka telah membuat kebohongan terhadap Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dalam hal itu. Karena mereka telah menetapkan bagi-Nya sebuah sifat yang menyelisihi fakta. (Tafsir Ibnu Asyur, 15/275).
[14] Lihat: Tafsir Aayaat Min al-Qur’an al-Karim, 5/243, tercetak dalam kumpulan karya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab.
[15] Lihat: Adhwa-ul Bayan karya asy-Syinqithiy, 3/214.
[16] Lihat: Tafsir Aayaat Min al-Qur’an al-Karim, 5/243, tercetak dalam kumpulan karya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab.




