Pembahasan yang terdahulu berkisar tentang penyebutan sejumlah nash nabawi yang menunjukkan keutamaan empat kalimat; subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illallah, wallahu akbar.
Adapun pembahasan mendatang akan mengulas keutamaan-keutamaan kalimat لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ, ‘laa ilaaha illallah’ yang merupakan kalimat yang paling utama di antara empat kalimat tersebut, paling agung di antaranya, dan paling mulia. Dikarenakan kalimat ini diciptakanlah ciptaan, diutuslah para Rasul, diturunkan kitab-kitab, dan karenanya terpisah manusia menjadi Mukmin dan kafir, bahagia sebagai penghuni surga dan sengsara sebagai penghuni neraka. la adalah urwah al-wutsqa (tali Yang kokoh), ia adalah kalimat takwa, ia adalah rukun agama yang terbesar, cabang keimanan yang paling penting, jalan menuju kemenangan dengan meraih surga dan keselamatan dari neraka. la adalah kalimat syahadat, pembuka negeri kebahagiaan, pokok agama dan asasnya serta puncak urusannya. Keutamaan-keutamaan kalimat ini dan kedudukannya dalam agama, di atas dari apa yanq disifatkan orang-orang mensifatinya, dan melebihi dari apa yang diketahui orang-orang arif.
﴿شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ﴾ [آل عمران: 18]
Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia, (Allah) yang menegakkan keadilan. (Demikian pula) para malaikat dan orang berilmu. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ali Imran : 18)
Sungguh kalimat yang besar ini memiliki keutamaan-keutamaan yang agung, kelebihan-kelebihan yang mulia, dan keistimewaan-keistimewaan yang sangat banyak. Tidak mungkin bagi seseorang mengumpulkan seluruhnya. Di antara keterangan tentang keutamaan kalimat ini dalam Al-Qur’an yang mulia, bahwa Allah menjadikannya sebagai pokok dakwah para Rasul, dan intisari risalah mereka. Allah berfirman :
﴿وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ﴾ [الأنبياء: 25]
Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan Kami mewahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku. (al-Anbiya : 25)
﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ﴾ [النحل: 36]
Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah dan jauhilah tagut!” (an-Nahl : 36)
﴿يُنَزِّلُ الْمَلَائِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ أَنْذِرُوا أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاتَّقُونِ﴾ [النحل: 2]
Dia menurunkan para malaikat membawa wahyu atas perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu (dengan berfirman), “Peringatkanlah (hamba-hamba-Ku) bahwa tidak ada tuhan selain Aku. Maka, bertakwalah kepada-Ku.” (an-Nahl : 2)
Ayat ini merupakan perkara pertama yang disebutkan Allah kepada hamba-hambaNya berupa nikmat-nikmatNya dalam surah tersebut. Maka ia menunjukkan bahwa taufik kepada hal tersebut merupakan nikmat yang paling besar di antara nikmat-nikmat Allah yang Dia limpahkan kepada hamba-hambaNya, seperti firman Allah
﴿وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً﴾ [لقمان: 20]
“Allah melimpahkan atas kamu nikmat-nikmatNya baik yang lahir maupun yang batin.” (Luqman: 20). Mujahid berkata, “Laa ilaaha illallah.” [1]
Sufyan Ibnu Uyainah berkata, “Tidak ada nikmat yang diberikan Allah kepada seorang hamba di antara hamba-hambaNya, lebih agung daripada (nikmat) diperkenalkannya mereka laa ilaaha illallah. ” [2]
Di antara keutamaan-keutamaan kalimat ini adalah :
Pertama, Allah mensifatinya dalam al-Qur’an, bahwa ia adalah kalimat mulia. Allah berfirman :
﴿أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ﴾
﴿تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ﴾
Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimah ṭayyibah?386) (Perumpamaannya) seperti pohon yang baik, akarnya kuat, cabangnya (menjulang) ke langit,
dan menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan untuk manusia agar mereka mengambil pelajaran. (Ibrahim : 24-25)
Kedua, ia adalah perkataan yang teguh dalam firman-Nya :
﴿يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ﴾ [إبراهيم: 27]
Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh388) dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Allah menyesatkan orang-orang yang zalim, dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. (Ibrahim : 27)
Ketiga, ia adalah perjanjian dalam firman Allah :
﴿لَا يَمْلِكُونَ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمَنِ عَهْدًا﴾ [مريم: 87]
Mereka tidak punya (hak mendapat atau memberi) syafaat (pertolongan), kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi (Allah) Yang Maha Pengasih (Maryam : 87)
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, sesungguhnya beliau berkata, “Perjanjian yang dimaksud adalah persaksian tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah, berlepas diri-menuju Allah-dari segala upaya dan kekuatan dan ia adalah puncak setiap ketakwaan.”[3]
Keempat, ia adalah urwatul wustqa (tali yang kokoh), barang siapa berpegang dengannya niscaya selamat, dan siapa yang tidak berpegang dengannya akan binasa. Allah berfirman :
﴿فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى﴾ [البقرة: 256]
“Barang siapa kafir terhadap thaghut dan beriman kepada Allah, sungguh dia telah berpegang kepada urwatul wutsqa (tali yang kokoh). ” (AI-Baqarah: 256)
Kelima, ia adalah kalimat kekal yang jadikan oleh Ibrahim Al-Khalil pada keturunannya, mudah-mudahan mereka kembali (kepadanya). Allah berfirman :
﴿وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ (26) إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ (27) وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (28)﴾ [الزخرف: 26-28]
(Ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, kecuali (kamu menyembah) Allah yang menciptakanku. Sesungguhnya Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”
Dia (Ibrahim) menjadikannya (kalimat tauhid) perkataan yang kekal pada keturunannya agar mereka kembali kepadanya (Zukhruf : 26-28)
Keenam, ia adalah kalimat takwa yang Allah haruskan kepada dan mereka lebih berhak terhadapnya,
﴿إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَى وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا﴾ [الفتح: 26]
“Ketika orang-orang kafir menjadikan dalam hati mereka kefanatikan, (yaitu) kefanatikan jahiliyah, maka Allah menurunkan ketenangan dari-Nya kepada Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, dan mewajibkan kepada mereka kalimat takwa, dan mereka lebih berhak terhadapnya serta ahlinya, dan Allah mengetahui segala sesuatu. ” (Al-Fath: 26)
Abu Ishak As-Subai’iy meriwayatkan dari Amr bin Maimun dia berkata, “Tidaklah manusia mengucapkan sesuatu yang lebih utama daripada لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ‘laa ilaaha illallah.'” Saad bin lyadh berkata, “Apakah engkau tahu apakah ia wahai Abu Abdillah? Demi Allah, ia adalah kalimat takwa, Allah mewajibkannya kepada sahabat-sahabat Muhammad, dan mereka lebih berhak terhadapnya, dan sebagai ahlinya, semoga Allah meridhai mereka ” [4]
Ketujuh, ia adalah akhir dari kebenaran dan puncaknya. Allah berfirman :
﴿يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلَائِكَةُ صَفًّا لَا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَقَالَ صَوَابًا﴾ [النبأ: 38]
“Pada hari ruh dan malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berbicara kecuali siapa yang diizinkan Ar-Rahman, dan dia berkata benar. ” (An-Naba : 38)
Ali bin Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firman Allah :
إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَقَالَ صَوَابًا
“Kecuali siapa yang diizinkan Ar-Rahman, dan dia berkata benar. ” bahwa beliau berkata, “Kecuali siapa yang diizinkan Rabb mengucapkan syahadat لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ, dan ia adalah akhir dari kebenaran.” [5]
Ikrimah berkata, ”Adapun yang benar adalah لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ Iaa ilaaha illallah. ”[6]
Kedelapan, ia adalah dakwah haq yang dimaksud dengan firman Allah :
﴿لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ﴾ [الرعد: 14]
”Baginya dakwah haq, dan orang-orang menyeru selain-Nya, mereka tidak akan menyambut seruan mereka, kecuali seperti orang yang menjulurkan kedua telapak tangannya ke air untuk mencapai mulutnya, namun tidak dapat menyampaikannya, dan tidaklah seruan orang-orang kafir melainkan dalam kesesatan.” (Ar-Ra’d: 14)
Kesembilan, ia adalah pengikat hakiki yang mana orang-orang yang memeluk Islam berkumpul atasnya, atas dasar kalimat itulah mereka bersikap loyal dan bermusuhan, dengannya mereka mencintai dan membenci, dan dengan sebabnya jadilah masyarakat Muslim seperti tubuh yang satu, atau seperti bangunan yang kokoh, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.
Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad Amin Asy-Syanqithi berkata dałam kitabnya Adhwa AI-Bayan, “Kesimpulannya, sesungguhnya pengikat hakiki yang mengumpulkan perkara terpisah-pisah, dan menyatukan yang berselisih, ia adalah ikatan ‘laa ilaaha illallah. ‘ Tidakkah Anda perhatikan, bahwa ikatan ini yang mengumpulkan masyarakat Islami seluruhnya seakan-akan satu jasad, dan menjadikannya laksana bangunan yang saling menguatkan satu sama lain, menimbulkan rasa sayang di hati para malaikat pembawa ‘Arsy dan para malaikat yang berada di sekitarnya terhadap anak keturunan Adam, meskipun di antara mereka terdapat perselisihan. Allah berfirman :
﴿الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ﴾
﴿رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (8) وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (9)﴾ [غافر: 7-9]
(Para malaikat) yang memikul ʻArasy dan yang berada di sekelilingnya selalu bertasbih dengan memuji Tuhannya, beriman kepada-Nya, dan memohonkan ampunan untuk orang-orang yang beriman. (Mereka berkata,) “Wahai Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu. Maka, berikanlah ampunan kepada orang-orang yang bertobat serta mengikuti jalan-Mu dan lindungilah mereka dari azab (neraka) Jahim.
Wahai Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka serta orang yang saleh di antara nenek moyang, istri, dan keturunan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Lindungilah mereka dari keburukan. Siapa yang Engkau lindungi dari keburukan pada hari itu, sungguh, Engkau telah menganugerahkan rahmat kepadanya. Itulah kemenangan yang agung.”(Ghafir : 7-9)
Allah telah mengisyaratkan bahwa pengikat yang mengikat pembawa ‘Arsy serta siapa di sekitarnya dari malaikat dengan anak keturunan Adam di muka bumi, hingga para malaikat itu berdoa kepada Allah untuk manusia, dengan doa sangat agung tersebut, ia adalah iman kepada Allah. “
Sampai beliau berkata, “Ringkasnya, tidak ada perbedaan antara kaum Muslimin, bahwa pengikat yang mengikat antara individu-individu di antara penghuni bumi, satu sama lain, dan pengikat antara penghuni bumi dan penghuni langit, ia adalah pengikat ‘laa ilaha illallah, ‘ tidak boleh sekali-kali menyeru dengan pengikat selainnya.”[7]
Kesepuluh, ia adalah seutama-utama kebaikan. Allah berfirman:
﴿مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِنْهَا﴾
“Barang siapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik dari padanya.” (An-NamI: 89 dan AI-Qashash : 84)
Disebutkan dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, dan selain mereka, bahwa maksud ‘hasanah’ (kebaikan) pada ayat itu adalah ‘laa ilaaha illallah.’ [8]
Sementara diriwayatkan dari Ikrimah tentang firman Allah, “Barang siapa datang membawa kebaikan maka baginya lebih baik darinya,” beliau berkata, “Ucapan ‘laa ilaaha illallah. “‘ Beliau berkata, “Baginya kebaikan dari kalimat itu, karena tidak ada sesuatu yang lebih dari pada ‘laa ilaaha illallah. [9]
Tercantum dalam Al-Musnad dan selainnya, dari Abu Dzar dia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, ajarkan padaku amalan yang mendekatkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka.’ Beliau bersabda :
إِذَا عَمِلْتَ سَيِّئَةً فَاعْمَلْ حَسَنَةً فَإِنَّهَا عَشْرُ أَمْثَالِهَا
‘Apabila engkau mengerjakan suatu keburukan maka kerjakan ‘hasanah’ (kebaikan), sesungguhnya ia sepuluh kali lipat yang sepertinya.’ Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah ‘laa ilaaha illallah’ termasuk ‘hasanah’ (kebaikan)?’ Beliau bersabda :
نَعَمْ هِيَ أَحْسَنُ الْحَسَنَاتِ
‘Benar, ia kebaikan yang paling baik. ‘” [10]
Inilah sebagian keutamaan dari kalimat agung ini yang disarikan dari apa-apa yang tercantum dalam Al-Quean Al-Karim. Insya Allah, kita akan menyempurnakan pemaparan keutamaan-keutamaannya yang disarikan dari hadits Rasulullah, dan taufik itu di tangan Allah semata.
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Sumber :
Fiqhu al-Ad-‘iyyah Wa al-Adz-kar, Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Abbad al-Badr, 1/134-138.





