Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat 27–29

Allah ﷻ berfirman :

﴿وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا (27)﴾

﴿وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا (28)

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا (29)﴾ [الكهف: 27-29]

Bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhanmu (Al-Qur’an). Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya dan engkau tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain kepada-Nya.

Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melewati batas.

Katakanlah, “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Maka, siapa yang menghendaki (beriman), hendaklah dia beriman dan siapa yang menghendaki (kufur), biarlah dia kufur.” Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang-orang zalim yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta pertolongan (dengan meminta minum), mereka akan diberi air seperti (cairan) besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. (Itulah) seburuk-buruk minuman dan tempat istirahat yang paling jelek. (al-Kahfi : 27-29)

Makna Global

Dia ﷻ berfirman : “Dan bacalah -wahai Muhammad-apa yang Allah wahyukan kepadamu berupa al-Qur’an, dan sampaikanlah al-Quri’an itu kepada khalayak manusia dan ikutilah al-Qur’an itu; sesungguhnya tak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat Allah ; dan sekali-kali kamu tidak akan mendapatkan selain Rabbmu tempat berlindung dimana kamu berlindung kepada-Nya jika kamu tidak membacakan al-Qur’an, tidak pula mengikutinya dan tidak pula menyampaikannya (kepada manusia).

Kemudian Allah ﷻ mengarahkan dan membimbing Nabi-Nya ﷺ kepada salah satu adab yang sangat penting, seraya berfirman : kekanglah jiwamu -wahai Muhammad – bersama para sahabatmu orang-orang yang menyembah Rabb mereka semata, dan mereka berdoa memohon kepada-Nya pada awal waktu siang dan akhir waktunya dengan penuh keikhlasan dalam melakukan peribadahan kepadaNya, dan janganlah kamu palingkan pandanganmu dari mereka kepada selain mereka dari kalangan orang-orang kafir yang kaya dan memiliki kedudukan ; karena engkau senang untuk bermajlis dengan mereka. Dan, jangan pula kamu mentaati orang yang Kami jadikan hatinya lalai dari mengingat Kami dan hawa nafsunya menguasainya, dan urusannya dalam semua amalnya menjadi tersia-siakan dan melampoi batas.

Kemudian Allah ﷻ memerintahkan Nabi-Nya ﷺ untuk menyampaikan kalimat hak dengan lantang, seraya berfirman : “Dan katakanlah kepada mereka orang-orang lalai bahwa apa yang Aku datangkan kepadamu adalah kebenaran dari Rabb kalian. Maka, jika kalian mau (beriman), silakan kalian beriman, dan jika kalian mau (kafir), silakan kalian kafir. Namun, ingat, Kami telah menyiapkan untuk orang-orang kafir api yang sangat panas yang nyala apinya akan mengelilingi mereka dari segenap penjuru, dan jika mereka orang-orang kafir ini yang berada di neraka meminta bantuan untuk didatangkan air karena saking luar biasanya rasa haus yang mereka rasakan, akan didatangkan kepada mereka air yang sangat berbau busuk lagi hitam dan sangat panas sekali yang akan memanggang wajah-wajah mereka. Alangkah buruknya minuman yang diberikan kepada mereka ini, dan alangkah buruknya neraka sebagai tempat berdiam dan istirahatnya mereka ini.

Tafsir Ayat

[Firman-Nya ﷻ]

﴿وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا (27)﴾

Bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhanmu (Al-Qur’an). Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya dan engkau tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain kepada-Nya.

Korelasi Ayat Ini dengan Ayat Sebelumnya

Bahwa ketika Allah ﷻ telah menurunkan kepada NabiNya ﷺ apa yang Dia turunkan berupa kisah Ahlu al-Kahfi (orang-orang yang tinggal di dalam gua) ; Dia ﷻ perintahkan beliau agar beliau menceritakan dan membacakan kepada orang-orang yang hidup semasa beliau apa-apa yang Allah ﷻ wahyukan kepadanya dari kitab-Nya tentang kisah ahlu al-Kahfi dan tentang selain mereka.[1]

Dan juga ketika cakupan al-Qur’an menunjukkan kepada kisah ashabul kahfi, dari sisi bahwa kisah tersebut termasuk perkara ghaib ketika disandarkan kepada Rasul ﷺ, bahwa hal tersebut merupakan wahyu yang mengandung mu’jizat ; Dia ﷻ perintahkan beliau untuk mendawamkan pengkajiannya dan pengajarannya dan agar beliau membersamai terus para sahabatnya.[2]

Dan juga, ketika Allah ﷻ telah mengkhabarkan bahwa hal-hal ghaib di langit dan di bumi adalah milikNya, maka tidak ada jalan bagi para makhluk kepada hal tersebut kecuali melalui jalan yang Dia ﷻ khabarkan kepada para hamba-Nya, sementara al-Qur’an ini mengandung banyak berita tentang perkara-perkara ghaib; maka Dia ﷻ perintahkan beliau untuk menerimanya dan memusatkan perhatiannya kepadanya, (dengan menyampaikannya kepada manusia) seraya berfirman [3] :

وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ

Bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhanmu (Al-Qur’an)

Yakni, dan bacakanlah -wahai Muhammad- apa yang Allah wahyukan kepadamu berupa al-Qur’an dan sampaikanlah al-Qur’an itu kepada khalayah manusia, serta ikutilah ia dengan membenarkan berita-beritanya dan mengamalkan apa-apa yang terkandung di dalamnya, dengan menunaikan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya.[4]

Seperti kata Allah ﷻ :

﴿اتَّبِعْ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ﴾ [الأنعام: 106]

Ikutilah apa (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu. (al-An’am : 106)

Dan Allah ﷻ juga berfirman :

﴿إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ (91) وَأَنْ أَتْلُوَ الْقُرْآنَ﴾ [النمل: 91-92]

Sesungguhnya aku (Nabi Muhammad) hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Makkah) yang telah menjadikannya suci dan memiliki segala sesuatu. Aku diperintahkan agar masuk ke dalam golongan orang-orang muslim. (Aku juga hanya diperintahkan) agar membacakan Al-Qur’an (kepada manusia)…(an-Naml : 91-92)

Dan Allah ﷻ juga berfirman :

﴿فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ إِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ﴾ [الزخرف: 43]

Maka, berpegang teguhlah pada (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya engkau berada di jalan yang lurus.(az-Zukhruf : 43)

Dan Allah ﷻ juga berfirman :

﴿وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا﴾ [المزمل: 4]

Bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. (Al-Muzammil : 4)

[Firman-Nya ﷻ]

لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ

Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya

Yakni, tidak ada seorang pun yang akan dapat mengubah kalimat-kalimat[5] Syar’iyyah Allah ﷻ, sehingga dia mengubah al-Qur’an dengan mengubah berita-beritanya, mengganti hukum-hukumnya, atau memalingkan makna-maknanya yang benar [6] (kepada makna yang tidak benar) dan dia juga tidak akan dapat merubah kalimat-kalimat kauniyah-Nya.[7]

Seperti kata Allah ﷻ :

﴿وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ﴾ [الأنعام: 115]

Telah sempurna kalimat Tuhanmu (Al-Qur’an) dengan (mengandung) kebenaran dan keadilan. Tidak ada (seorang pun) yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. (al-An’am : 115)

Allah ﷻ juga berfirman :

﴿إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ﴾ [الحجر: 9]

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya. (al-Hijr : 9)

Allah ﷻ juga berfirman :

﴿وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا ائْتِ بِقُرْآنٍ غَيْرِ هَذَا أَوْ بَدِّلْهُ قُلْ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أُبَدِّلَهُ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِي﴾ [يونس: 15]

Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami secara jelas, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami (di akhirat) berkata, “Datangkanlah kitab selain Al-Qur’an ini atau gantilah!” Katakanlah (Muhammad), “Tidaklah pantas bagiku menggantinya atas kemauanku sendiri.” (Yunus : 15)

[Firman-Nya ﷻ :]

وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا

dan engkau tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain kepada-Nya.

Yakni, dan engkau -wahai Muhammad- tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain Allah ﷻ di mana engkau akan berlari menuju kepadanya, dan engkau melindungi diri dengannya dari siksa, jika engkau tidak membacakan al-Qur’an, mengikutinya dan menyampaikannya.[8]

Seperti kata Allah ﷻ :

﴿قُلْ إِنِّي لَنْ يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا﴾ [الجن: 22]

Katakanlah, “Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan aku tidak akan memperoleh tempat berlindung selain-Nya. (al-Jin : 22)

Dan Allah ﷻ berfirman :

﴿يَاأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ﴾ [المائدة: 67]

Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika engkau tidak melakukan (apa yang diperintahkan itu), berarti engkau tidak menyampaikan risalah-Nya. Allah menjaga engkau dari (gangguan) manusia. (al-Maidah : 67)

Faedah

1-Firman Allah ﷻ:

وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ،

Bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhanmu (Al-Qur’an). Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya

Yakni, tidak ada dari kalangan manusia yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Kalaulah tidak demikian, sesungguhnya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dapat menggantinya; Allah ﷻ berfirman :

مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا [البقرة: 106]

Ayat yang Kami nasakh (batalkan) atau Kami jadikan (manusia) lupa padanya, pasti Kami ganti dengan yang lebih baik atau yang sebanding dengannya. (al-Baqarah : 106)

Allah ﷻ juga berfirman :

وَإِذَا بَدَّلْنَا آيَةً مَكَانَ آيَةٍ… الآيةَ [النحل: 101] .

Apabila Kami ganti suatu ayat di tempat ayat yang lain, (an-Nahl : 101).

2-Allah ﷻ berfirman :

وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ

Bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhanmu (Al-Qur’an)

Pada kasus penyandaran kata Rabb kepada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم (yaitu, pada firman-Nya “رَبِّكَ” (Rabb kamu, wahai Rasulullah) terdapat dalil yang menunjukkan bahwa apa yang Allah ﷻ wahyukan kepada Rasul-Nya ﷺ termasuk hal yang menunjukkan kesempurnaan perhatian-Nya kepada beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم.

3-Firman Allah ﷻ :

وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ

Bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhanmu (Al-Qur’an)

Kata kerja أُوحِيَ disebutkan dalam bentuk mabni lil majhul ; karena pembicaraan di sini bersama Nabi ﷺ, di mana hal itu dapat dipastikan bahwa yang memberikan wahyu kepada beliau ﷺ adalah Allah ﷻ. [9]

4-Firman-Nya ﷻ :

وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ

Bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhanmu (Al-Qur’an). Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya.

Di dalamnya terdapat pengagungan terhadap al-Qur’an, pada kandungannya terdapat dorongan (terhadap seseorang) untuk menyambutnya dengan baik, mengikutinya, dan menyampaikannya kepada orang lain [10].

5-Firman-Nya ﷻ :

وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا

Dan engkau tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain kepada-Nya

Maka, bila dipastikan bahwasanya Dia ﷻ lah semata tempat berlindung itu pada semua perkara dan urusan, maka dipastikan bahwa Dia-lah Dzat yang berhak disembah dan diibadahi, Dzat yang diharapkan dalam kondisi lapang dan sempit, Dzat yang dibutuhkan pada semua keadaan, Dzat yang diminta dalam semua permintaan-permintaan. [11]

Wallahu A’lam

(Redaksi)

Catatan

[1] Lihat : Tafsir Abu Hayyan, 7/165.

[2] Lihat : Tafsir al-Baidhawiy, 3/279.

[3] Lihat : Tafsir as-Sa’diy, hal. 475.

[4] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/234, Tafsir as-Sa’diy, hal. 475. Adh-Waa-ul Bayan, karya : asy-Syinqithiy, 3/261, Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 55.

[5] Berkata Ibnul Jauziy :

Pada firman-Nya : لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ , Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya, terdapat dua pendapat. Pertama : (maknyanya) orang-orang yang biasa membuat-buat kedustaan tak akan mempu untuk menambah-nambahi sesuatu yang ada di dalam kalimat-kalimat itu dan tak akan mampu pula untuk menguranginya. Kedua : (maknanya) : tidak ada keingkaran bagi janji-janji-Nya (yang telah disampaikan-Nya di dalam al-Qur’an) dan tidak ada pula yang dapat mengubah kententuan hukum-Nya (yang telah ditetapkan-Nya di dalam al-Qur’an) (Tafsir Ibnul Jauziy, 2/69, dan lihat : 2/24).

Ibnu Jarir mengatakan :

لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ , yakni, tidak ada yang akan dapat mengubah apa-apa yang Dia ancamkan dengan kalimat-Nya kepada orang-orang yang menentang dan menyelisihi-Nya, serta orang-orang yang beramal dengan senyelisihi kitab ini yang telah Kami wahyukan kepadamu (wahai Muhammad) (Tafsir Ibnu Jarir, 15/234).

Ibnu Juzziy mengatakan :

Berkemungkinan bahwa yang dimaksud dengan ‘kalimat-kalimat’ di sini adalah al-Qur’an, sehingga maknanya, tak seorang pun yang akan mampu mengganti al-Qur’an dan mengubahnya. Berkemungkinan pula bahwa yang dimaksud dengan ‘kalimat-kalimat’ (di sini) adalah Qadha dan Qadar (Tafsir Ibnu Juzziy, 1/464). Dan, lihat pula : Majmu’ al-Fatawa, karya : Ibnu Taimiyah, 16/245.

[6] Lihat : Ma’aniy al-Qur’an, karya : Zajjaj, 3/280. Tafsir Zamakhsyariy, 2/716. Tafsir al-Baidhawiy, 3/279. Tafsir Ibnu Katsir, 5/151. Tafsir Syaukaniy, 3/333. Tafsir al-Alusiy, 8/243, 244. Tafsir as-Sa’diy, hal. 475. Adh-Waa-ul Bayan, karya : asy-Syinqithiy, 3/261.

Al-Biqaa-‘iy mengatakan :

(فلا عُذرَ في التقصيرِ في إبلاغِها).

Maka, tidak ada udzur pada kekurangan dalam menyampaikannya (Nazhmu ad-Durar, 12/48)

[7] Lihat : Tafsir Ibnu Utsaimin -surat al-kahfi, hal. 57.

Berkata Ibnu Utsaimin :

Firman-Nya : لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ yakni, لا أحدَ يستطيعُ أن يُبدِّلَ كلماتِه، لا الكونيةَ ولا الشرعيةَ, tidak ada seorang pun yang dapat mengganti kalimat-kalimat-Nya, tidak pada kalimat-kalimatNya yang bersifat kauniyyah, tidak pula pada kalimat-kalimatNya yang bersifat syar’iyyah. (referensi yang lalu)

Beliau rahimahullah juga mengatakan : “Adapun (kalimat-kalimatNya) yang bersifat syar’iyyah, maka tak ada seorang pun yang akan mampu secara syar’iy untuk mengganti kalimat-kalimat-Nya yang bersifat syar’iyyah tersebut. Dan, penafiyan (peniadaan) di sini bukan menafikan keberadaan, akan tetapi penafiyan di sini adalah untuk menafikan adanya kemungkinan secara syar’iy. Maka, tidak ada seorang pun yang akan mampu secara syar’i untuk mengubah kalimat-kalimat Allah yang bersifat syar’iyyah; oleh karena itu, wajib atas semuanya untuk berpasrah diri kepada Allah. Lantas, kalau ada yang mengatakan :

“Kami dapati ada orang yang mengganti kalamullah…” kita katakan : ini penggantian yang bersifat syar’iy, dan penggantian yang bersifat syar’iy, boleh jadi kadang dilakukan oleh manusia, sehingga mereka mengubah kalam (Allah) itu dari tempatnya, dan mereka menafsirkan kalamullah dengan sesuatu yang tidak dikehendaki Allah. (referensi yang lalu)

[8] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/234. Tafsir al-Qurthubiy, 10/389. Bada-‘I al-Fawaa-id, karya : Ibnul Qayyim, 1/169. Tafsir Ibnu Katsir, 5/151. Nazhmu ad-Durar, karya : al-Biqa’iy, 12/48. Tafsir as-Sa’diy, hal. 475. Adh-Waa-ul Bayan, karya : Syinqithiy, 3/262. Tafsir al-Kahfi, karya : Ibnu Utsaimin, hal. 57.

[9] Lihat : Nazhmu ad-Durar, karya : al-Biqa-‘iy, 12/48.

[10] Lihat : Taisir al-Karimi ar-Rahman, karya : as-Sa’diy, hal. 475.

[11] Lihat : Taisir al-Karimi ar-Rahman, karya : as-Sa’diy, hal. 475.