[Khutbah Pertama]
اَلحَمْدُ ِللهِ, اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِي أَنْشَأَ وَبَرَى وَخَلَقَ السَّمَاءَ وَالثَّرَى. لَا يَعْزُبُ عَنْ عِلْمِهِ مَا عَنَّا وَمَا طَرَى, يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى وَالصِّفَاتُ الْعُلَى
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدٍا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَيْرُ الْوَرَى وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى هَدْيِهِمْ وَاقْتَفَى
Segala puji bagi Allah. Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan dan mengadakan segala sesuatu. Dia menciptakan langit dan bumi. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuannya, baik yang tersembunyi maupun yang tampak. Dia mengetahui rahasia dan segala sesuatu yang lebih tersembunyi lagi.
Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Miliknya nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang sempurna.
Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya, manusia terbaik.
Semoga selawat dan salam tercurah kepada beliau, segenap keluarga, para sahabat beliau, serta orang-orang mengikuti petunjuk mereka.
Amma ba’du,
Aku berwasiat kepada diri sendiri dan kepada kalian semua agar bertakwa kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Karena takwa merupakan jalan keselamatan dan keamanan serta jalan menuju kemenangan dan kemuliaan.
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾ [الأحزاب: 71]﴿
“Dan barang siapa menaati Allah dan rasul-Nya, maka sungguh dia telah memperoleh kemenangan yang besar.”
Kaum muslimin sekalian, sungguhnya di antara nikmat terbesar yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى anugerahkan kepada manusia serta salah satu bentuk karunia dan kebaikannya yang paling agung adalah suatu nikmat yang tidak akan mampu dijelaskan seluruh keutamaannya dengan kata-kata dan tidak akan sanggup diungkapkan seluruh haknya dengan uraian yang panjang. Dengan nikmat itu, seseorang dapat membedakan antara orang yang sakit dan orang yang sehat, membedakan yang baik dari yang buruk, menghindari bahaya, dan melindungi dirinya dari berbagai kemudaratan. Nikmat itu adalah nikmat penglihatan.
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِ﴾ [البلد: 8]﴿
“Bukankah kami telah menjadikan baginya dua mata?”
Oleh karena itu, sangat besar pahala bagi orang yang diuji dengan kebutaan. Lalu ia bersabar mengharapkan pahala dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan tetap tabah dalam menghadapi ujian tersebut.
Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, ia berkata, “Aku mendengar Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,
إنَّ اللَّهَ قالَ: إذا ابْتَلَيْتُ عَبْدِي بحَبِيبَتَيْهِ، فَصَبَرَ؛ عَوَّضْتُهُ منهما الجَنَّةَ
“Sesungguhnya Allah berfirman, jika aku menguji hambaku dengan kehilangan kedua sesuatu yang dicintainya, lalu ia bersabar, maka aku akan menggantinya dengan surga.”
Yang dimaksud dengan kedua sesuatu yang dicintainya itu adalah kedua matanya.
Ibadallah !
Penglihatan merupakan nikmat yang menuntut kita untuk memuji dan bersyukur kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى serta mengakui dengan tulus segala karunia yang telah diberikan-Nya.
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ﴾ [النحل: 78]﴿
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Lalu dia memberikan kepadamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.”
Ibadallah !
Di antara bentuk syukur kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى atas nikmat penglihatan adalah dengan tidak menggunakannya kecuali untuk perkara yang diridai oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan sesuatu yang bermanfaat bagi agama maupun kehidupan dunia seseorang. Selain itu, seseorang hendaknya menjaga pandangannya dari hal yang haram dan melindunginya dari perbuatan dosa.
Ibadallah !
Sesungguhnya pandangan mata merupakan salah satu pintu menuju hati yang paling berbahaya dan paling besar pengaruhnya. Mata adalah utusan hati sekaligus penyampai beritanya. Ketika mata melihat sesuatu, hati pun akan terikat kepadanya. Ketika hati telah terikat, syahwat akan bergerak. Lintasan-lintasan pikiran akan bermunculan. Berbagai keinginan akan semakin banyak dan bisikan-bisikan setan pun akan terus berdatangan.
Hadirin sekalian, ketika keadaan demikian adanya dan syariat Islam datang untuk menutup segala jalan yang dapat mengantarkan kepada perkara yang haram, maka syariat tidak hanya mengharamkan perbuatan keji itu sendiri, namun juga mengharamkan segala sarana dan menutup semua celah yang menuju kepadanya serta memutus sebab-sebab yang dapat menjeruskan manusia ke dalamnya.
Oleh sebab itu, datanglah perintah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang sangat jelas agar manusia menundukkan pandangan mereka dari segala sesuatu yang diharamkan. Bahkan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mendahulukan perintah untuk menjaga pandangan sebelum menjaga kemaluan. Karena keduanya memiliki hubungan yang sangat erat.
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (30) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ [النور: 30-31]
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menahan sebagian pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat.
Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman agar mereka menahan sebagian pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka.
Ibadallah !
Pandangan yang haram adalah salah satu anak panah beracun milik iblis serta perangkap-perangkapnya yang membinasakan. Dengan panah itulah ia menyerang hati manusia hingga menghancurkannya. Ia memadamkan cahaya hati sehingga hati menjadi buta. Apabila panah tersebut telah menancap kuat di dalam hati, seseorang akan menjadi tertawan. Seorang akan menjadi tawanan syahwat dan terbelenggu oleh hawa nafsunya. Akibatnya ia tidak lagi mengenali kebaikan dan tidak pula mengingkari kemungkaran.
Ibadallah !
Ketahuilah -semoga Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى merahmati kalian, bahwa mata seringkiali membuat sesuatu yang tidak dapat diraih tanpa indah serta menghiasi sesuatu yang sungguhnya tidak mungkin dimiliki atau melihat sesuatu tidak sebagaimana hakikatnya dan tidak sesuai dengan kenyataannya. Oleh karena itu, hendaklah orang yang cerdas berhati-hati dalam melepaskan pandangannya. Sebab bersabar, sebab bersabar untuk menundukkan pandangan jauh lebih mudah daripada bersabar menghadapi rasa sakit dan penyesalan yang muncul setelahnya.
Terlebih lagi pada zaman sekarang. Ketika berbagai sarana yang membangkitkan syahwat semakin banyak, berbagai cara untuk menyesatkan manusia pun semakin beragam hingga semuanya menjadi ladang perdagangan yang menguntungkan dan komoditas yang laris di pasaran. Semua itu disebarkan. Semua itu disebarkan melalui berbagai perangkat, layar, media sosial, dan saluran informasi yang menyusup ke dalam rumah-rumah dan memenuhi pikiran manusia tanpa meminta izin terlebih dahulu serta tanpa memberikan perbedaan adat, istiadat, budaya, maupun agama. Betapa besarnya kebutuhan kita pada masa seperti ini untuk terus mengingatkan pentingnya menundukkan pandangan. Karena hal itu merupakan salah satu bentuk ketakwaan yang paling agung pada zaman ini.
Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya menundukkan pandangan akan menyakinkan hati, mengarahkannya kepada berbagai bentuk ketaatan, serta mencegahnya dari tersesat di lembah-lembah syahwat.
Menundukkan pandangan juga akan menjaga hati dari berbagai fitnah dan kesesatan.
Dengan mendukkan pandangan, seorang hamba akan memperoleh ketenangan jasmani, kebahagiaan rohani, manisnya iman, dan kenikmatan dalam beribadah.
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga akan membukakan baginya pintu-pintu ilmu dan pengetahuan serta mengumpulkan dalam dirinya kekuatan pandangan batin, kemampuan berhujah, dan kekuatan.
Selain itu, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan menganugerahkan kepadanya hikmah, petunjuk kecerdasan ketajaman firasat keteguhan keberanian dan cahaya dalam hati.
Semakin seseorang menundukkan pandangannya dari sesuatu yang haram, semakin besar pula bagian cahaya yang akan diperolehnya.
Ibadallah !
Di antara buah dari menundukkan pandangan adalah seorang akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk memikirkan berbagai perkara yang bermanfaat bagi agama dan kehidupan dunianya. Sebab pandangan yang dibiarkan bebas akan mengganggu konsentrasi, mengacaukan pikiran, melelahkan anggota tubuh, membebani jiwa, dan menyebabkan berbagai rusan menjadi berantakan.
Ibadallah !
Orang yang cerdas dan bijaksana akan selalu memikirkan akibat dan dampak dari setiap perbuatannya. Ia menyadari bahwa kenikmatan memandang sesuatu yang haram hanyalah berlangsung sesaat, sedangkan penyesalan akibatnya dapat berlangsung selama bertahun-tahun.
Ia juga memahami bahwa apa yang ada di sisi Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى jauh lebih baik dan lebih kekal.
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى﴾ [طه: 131]﴿
“Dan janganlah engkau mengarahkan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya dan karunia Tuhan-Mu lebih baik dan lebih kekal.”
Hadirin sekalian, semoga Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memberikan manfaat kepada kita melalui petunjuknya serta sunah nabinya Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Demikianlah apa yang disampaikan dan aku memohon ampunan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى untuk kita semua dan seluruh kaum muslimin atas setiap dosa dan kesalahan. Mohonlah ampunan kepada-Nya karena sungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
[Khuthbah Kedua]
اَلْحَمْدُ ِللهِ اَلْحَمْدُ ِللهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ نَبِيِّنَا مُحُمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمْنَ وَلَاهُ
Amma ba’du. Hamba Allah sekalian, di antara perkara yang dapat membantu seseorang untuk menundukkan pandangan adalah bertakwa kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang Maha Mulia dan Maha Agung, takut terhadap azab-Nya, memperbanyak doa kepada-Nya, serta bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu.
Barang siapa menjaga kehormatan dirinya, niscaya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan menjaganya. Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, niscaya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik darinya.
Salah seorang ulama salaf pernah ditanya, “Dengan apakah seorang dapat terbantu untuk menundukkan pandangannya?” Beliau menjawab, ’dengan menyadari bahwa pandangan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى kepadamu lebih dahulu daripada pandanganmu kepada apa yang engkau lihat.’
Ibadallah !
Di antaranya juga adalah menjauhkan diri dari tempat-tempat yang menimbulkan keraguan, fitnah dan majelis-majelis yang buruk. Sesungguhnya hati manusia itu lemah. Sedangkan fitnah datang dengan sangat cepat dan dapat menyeret seseorang ke dalam kebinasaan.
Ketahuilah -semoga Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى merahmati kalian- bahwa menundukkan pandangan bukanlah sesuatu bentuk kehilangan atau kekurangan melainkan suatu kemuliaan. Mendudukkan pandangan bukanlah pengekangan melainkan bentuk penjagaan diri dan pengamalan ajaran agama.
Bertakwalah kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى wahai hamba-hamba Allah dan tundukkanlah pandangan kalian dari segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Merasalah selalu diawasi oleh-Nya baik ketika kalian sendirian maupun ketika berada di tengah-tengah manusia. Sesungguhnya kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh perbuatan. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا﴾ [الإسراء: 36]﴿
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.”
Hamba Allah sekalian, bersalawatlah dan ucapkanlah salam kepada orang yang diutus dengan membawa hikmah dan petunjuk, manusia terbaik dan makhluk paling mulia yang pernah menginjakkan kaki di muka bumi. Sebagaimana Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah memerintahkan hal tersebut melalui firmannya,
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الأحزاب: 56]﴿
“Sesungguhnya Allah dan para Malaikatnya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمِيْنَ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ يا رب العالمينَ
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا أَوْزِعْناَ أَنْ نَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيْنَا وَعَلَى وَالِدِينا وَأَنْ نعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنا بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
رَبَّنَا أَوْزِعْناَ أَنْ نَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيْنَا وَعَلَى وَالِدِينا وَأَنْ نَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لنا فِي ذُرِّيَّتنا إِنّنا تُبْنا إِلَيْكَ وَإِنّنا مِنَ الْمُسْلِمِينَ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ
رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين




