اَلْحَمْدُ لِلهِ مُدَبِّرُ الشُّهُوْرِ وَالْأَعْوَام وَمُصَرِّفُ اللَّيَالِي وَالْأَيَّام

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ذُوْ الْجَلَالِ وَالْإِكْرَام

وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْأَنَام

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَام

Segala puji bagi Allah, yang mengatur perjalanan bulan dan tahun. Yang mempergilirkan malam dan siang.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.

Aku juga bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang diutus sebagai rahmat bagi manusia.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam serta keberkahan kepada beliau, keluarga, dan para sahabat beliau yang mulia.

Amma ba’du :

Sesungguhnya, wasiat Allah kepada umat terdahulu maupun umat yang datang kemudian adalah agar senantiasa bertakwa dan taat kepadaNya. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

وَلَقَدۡ وَصَّيۡنَا ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلِكُمۡ وَإِيَّاكُمۡ أَنِ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ [النساء: 131]

“Dan sungguh Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan juga kepada kamu, bertakwalah kepada Allah.” (an-Nisa : 131)

Ibadallah !

Kini kita berada di penghujung tahun hijriyah yang perhitungannya bermula dari hijrah Nabi yang paling agung صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Oleh karena, itu setiap muslim harus senantiasa mengingat sirah dan perjalanan hidup Rasulullah  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ agar hidupnya di dunia menjadi baik dan di akhirat pun menjadi terpuji. Dan menjadikan sirah Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sebagai pedoman hidup, akan memperoleh keberuntungan, dan dengan meniti jalan yang beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tunjukkan, seorang muslim akan meraih kebaikan. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ [آل عمران: 31]

“Katakanlah jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.”(Ali Imran : 31)

Ibadallah !

Di antara bagian dari sirah beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yang harum dan suci adalah peristiwa hijrah. Dengan segala kesulitan, penderitaan, ujian, dan berbagai peristiwa yang menyertainya, umat Islam semestinya menjadikan peristiwa tersebut pelita dan pedoman dalam menjalani kehidupan, baik pada tingkat individu maupun masyarakat.

Dengan menjadikan hijrah sebagai manhaj kehidupan, mereka akan mampu menerapkan firman Rabb mereka, memahami rahasia-rahasianya, menyadari makna-maknanya, serta menghayati petunjuk-petunjuknya. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلذِّكۡرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيۡهِمۡ وَلَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ [النحل: 44]

“Dan Kami turunkan kepadamu adz-Dzikr (yaitu, al-Qur’an) agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan.” (an-Nahl : 44)

Ibadallah !

Umat Islam tidak akan mampu mencapai solusi yang berhasil bagi berbagai persoalan yang mereka hadapi serta keluar dari krisis dan luka-luka yang menyakitkan kecuali membaca wahyu Rabb mereka secara sadar dan mendalam, mengikuti petunjuk Nabi mereka صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ disertai pemahaman yang benar dan analisis yang cermat dan mendalam, serta ketelitian dalam mengambil riwayat-riwayat yang shahih dari sirah beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Peristiwa hijrah yang mulia ini mengandung pelajaran-pelajaran yang agung dan hikmah-hikmah yang menerangi jalan kehidupan. Di dalamnya terdapat kaedah untuk meraih dan memperbanyak kemaslahatan, menolak dan meminimalisir kerusakan, baik dalam urusan dunia maupun agama. Pelajaran-pelajaran tersebut sangat banyak, sehingga tidak mungkin diuraikan seluruhnya dalam kesempatan yang singkat seperti ini. Namun, kita akan berhenti sejenak pada dua pelajaran penting dari peristiwa besar dan nikmat agung bagi seluruh umat manusia ini.

Pelajaran Pertama :  

Sesungguhnya perjalanan hidup Nabi kita Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pada setiap  fase dan peristiwanya memiliki tujuan-tujuan pokok dan tujuan-tujuan pendukung. Adapun tujuan terbesar dan sasaran tertinggi dari seluruh perjalanan hidup beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah merealisasikan tauhid kepada Allah dalam Rububiyah, uluhiyah dan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Tidak ada satu fase pun dari perjalanan hidup Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, termasuk peristiwa hijrah itu, yang kosong dari seruan dan penegasan bukti-buktinya, serta perlawanan terhadap syirik dan segala bentuk manifestasinya. Beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tidak pernah berpaling dari dakwah tauhid ketika sedang menempuh perjalanan hijrah, padahal musuh-musuhnya sangat gencar mengejar beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ juga tidak pernah menghentikan pembicaraan tentang tauhid ketika telah tiba di Madinah dan berada di tengah para penolong serta pendukungnya. Bahkan setelah penaklukan kota Makkah pun, pada Fathu Makkah, beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tidak pernah menutup pintu pembahasan tentang tauhid. Oleh karena itu, tauhid dan perhatian terhadapnya harus menjadi prioritas pertama dan terakhir pada setiap zaman dan tempat. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٦٢ لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ١٦٣ [الأنعام: 162-163]

“Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya. Demikianlah aku diperintahkan dan aku adalah orang pertama yang berserah diri.” (162-163)

Wahai hamba-hamba Allah !

Esakanlah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dengan pengagungan yang sempurna dan pemuliaan yang penuh. Jauhilah segala sesuatu yang bertentangan dengan makna penghambaan, ketundukan, kerendahan diri, dan kepasrahan yang hanya boleh ditujukan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى semata.

Hindarilah setiap lintasan pikiran yang dapat menciderai kemurnian penghambaan seorang hamba kepada Rabbnya.

Putuskanlah seluruh ikatan peribadatan kepada makhluk dan teguhkanlah hubungan dengan Sang Pencipta Yang Maha Agung semata, yang di tangan-Nya terdapat segala manfaat dan mudharat. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ [المائدة: 72]

“Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan Allah, maka Allah mengharamkan Surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu. (al-Maidah : 72)

 

Dan Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,

مَنْ مَاتَ وَهْوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ

“Barang siapa mati dalam keadaan berdoa kepada selain Allah sebagai tandingan bagi-Nya, maka ia akan masuk Neraka.” (Muttafaq ‘Alaih)

Karena itulah tauhid harus menjadi tujuan utama seorang muslim sepanjang hidupnya.

Tauhid yang dengannya hati dan nurani dibersihkan dari penghambaan dan ketundukan kepada selain Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

Tauhid yang dengannya anggota badan dan berbagai bentuk ibadah disucikan dari dipersembahkan kepada kelain Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

Tauhid yang dengannya hukum-hukum dan syariat dimurnikan agar ia diambil hanya dari Syariat Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan Sunnah Rasul-Nya صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, bukan dari teori-teori akal semata atau pun istilah-istilah logika yang menyimpang dari petunjuk wahyu. Akan tetapi, semuanya dipahami dengan pemahaman yang benar sebagaimana dipahami oleh para sahabat dan generasi salaf ummat ini, semoga Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى merahmati mereka.

Pelajaran yang Kedua :

Sesungguhnya perjalanan hidup Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah sirah kenabian yang agung. Dengan mengikutinya, seseorang akan memperoleh petunjuk, keamanan, keberuntungan, dan keselamatan. Rabb kita telah menggantungkan kebahagiaan dunia dan akhirat pada kesetiaan mengikuti sunnah beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan menjadikan kesengsaraan, rasa takut, kesesatan, kehinaan, di dunia dan di akhirat sebagai akibat dari menyelisihi petunjuk beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

وَإِن تُطِيعُوهُ تَهۡتَدُواْۚ وَمَا عَلَى ٱلرَّسُولِ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ٥٤﴾ [النور: 54]

“Dan jika kalian mentaati Rasul, niscaya kalian akan mendapat petunjuk. Tidak ada kewajiban atas Rasul selain menyampaikan dengan jelas.” (an-Nuur : 54)

Sesungguhnya berbagai perpecahan dan kebingungan yang dialami umat Islam pada masa ini dalam urusan agama mereka, serta berbagai fitnah berupa perpecahan, fanatisme golongan, dan sikap ta’asub yang tercela semuanya berpangkal dari penyelisihan terhadap jalan sunnah Nabi yang dahulu ditempuh oleh para sahabat, para tabi’in, dan generasi terbaik umat ini. Selain itu juga karena mengikuti hawa nafsu, bid’ah, pendapat-pendapat yang tercela, metode ilmu kalam, pendekatan rasional yang menyimpang, serta selera dan penilaian pribadi yang dijadikan tolak ukur agama. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ [النور: 63]

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul itu takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih.” (Qs. An-Nuur : 63)

Wahai ummat Islam, wahai para ulama ummat, berpegang teguhlah kepada sunnah, niscaya kalian akan memperoleh petunjuk, bersatu, dan menjadi kuat. Tempuhlah jalan sunnah dan jadilah pembelanya. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُقَدِّمُواْ بَيۡنَ يَدَيِ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۖ [الحجرات: 1]

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya.” (al-Hujurat : 1)

Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersaba :

«أوصيكُم بتقوى الله والسمعِ والطَّاعةِ وإنْ عَبْداً حبشيَّاً، فإنَّه من يَعِشْ منكم بَعْدي فسَيَرى اختلافاً كثيراً، فعليكُم بسنَّتي وسُنَّةِ الخُلفاءِ، الرَّاشدينَ المَهديِّينَ مِنْ بَعْدِي ، تَمَسَّكوا بها وعَضُّوا عليها بالنَّواجذِ، وإيَّاكم ومُحْدَثاتِ الأمورِ، فإن كُلَّ مُحدَثَةٍ بدْعَةٌ، وكل بدعَةٍ ضَلالةٌ»

“Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, serta mendengar dan taat meskipun yang memimpin kalian adalah seorang hamba. Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup sepeninggalku akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk setelahku. Peganglah ia erat-erat dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah perkara-perkara baru dalam agama karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan. (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memberkahi kita dengan apa yang telah kita dengar, dan menambahkan petunjuk dan taufik, serta ilmu yang bermanfaat kepada kita semua.

[Khuthbah Kedua]

اَلْحَمْدُ لِلهِ وَحْدَهُ

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ

Segala puji bagi Allah semata.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya.

Aku juga bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Semoga shalawat dan salam serata keberkahan senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya.

Amma ba’du :

Bertakwalah kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, niscaya kalian akan beruntung dan memperoleh kecukupan.

Di antara pelajaran besar dari peristiwa hijrah adalah bahwa siapa saja yang berdakwah kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  dan merealisasikan ketaatan kepada-Nya maka Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan senantiasa menyertainya dengan pertolongan, dukungan, penjagaan, perlindungan, taufik, dan bimbingan. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدۡ نَصَرَهُ ٱللَّهُ إِذۡ أَخۡرَجَهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ثَانِيَ ٱثۡنَيۡنِ إِذۡ هُمَا فِي ٱلۡغَارِ إِذۡ يَقُولُ لِصَٰحِبِهِۦ لَا تَحۡزَنۡ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَاۖ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَيۡهِ وَأَيَّدَهُۥ بِجُنُودٖ لَّمۡ تَرَوۡهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱلسُّفۡلَىٰۗ وَكَلِمَةُ ٱللَّهِ هِيَ ٱلۡعُلۡيَاۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ [التوبة: 40]

“Jika kalian tidak menolongnya (Muhammad), maka sungguh Allah telah menolongnya, yaitu ketika orang-orang kafir mengusirnya, sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada di dalam gua. Ketika dia berkata kepada sahabatnya : Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita. “ Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya dan menguatkannya dengan bala tantara yang tidak kalian lihat, dan menjadikan kalimat orang-orang kafir itu rendah sedangkan kalimat Allah itulah yang tinggi. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Qs. At-Taubah : 40)

Wahai hamba-hamba Allah !

Sesungguhnya sebagian penulis yang mengisahkan peristiwa hijrah Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ meriwayatkan banyak kisah yang sanadnya lemah dan tidak terbukti kebenarannya. Karena itu, kita wajib merujuk kepada kitab-kitab sunnah yang terpercaya dan memastikan kebenaran setiap peristiwa sirah sebelum menyebarkannya.

Sikap tabayyun dan verifikasi ini pada hakikatnya mudah dilakukan. Terlebih pada zaman sekarang ketika akses kepada penjelasan para ulama yang kredibel mengenai riwayat-riwayat yang disebutkan dan disebarkan begitu mudah didapatkan. Dan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  adalah pelindung orang-orang yang bertakwa.

Sesunguhnya di antara amalan yang paling besar pahalanya adalah memperbanyak shalawat dan salam kepada Nabi yang mulia.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam serta keberkahan kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya.

Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.

Ya Allah, jagalah kaum Muslimin, lapangkanlah kesulitan-kesulitan mereka, dan mudahkanlah segala urusan mereka.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin kami untuk melakukan apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Jadilah Engkau penolong dan pendukung baginya.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada seluruh pemimpin kaum Muslimin untuk menempuh jalan yang membawa kebaikan dan kemaslahatan bagi masyarakat mereka.

Dan akhir doa kami adalah segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.

Catatan :

[1] Diterjemahkan dari Khuthbah Jum’ah Syaikh Husain Alu Syaikh, 26 Dzul Hijjah 1447 H. di Masjid Nabawi.