Para sahabat Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, itulah generasi qur’ani satu-satunya yang keluar dari madrasah nubuwwah. Mereka memiliki pijakan yeng kokoh dalam mengikuti Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , mendukung dan menolongnya. Karena itu, mereka berhak menyandang keutamaan dan kemuliaan. Mencintai mereka menjadi sebuah kewajiban atas setiap muslim. Dan, meremehkan dan menghina mereka adalah termasuk dosa besar.
Telah lalu pembicaraan tentang beberapa keutamaan mereka di dalam al-Qur’an al-Karim. Dan, dalam tulisan ini, kita akan sejenak menyimak sejumlah hadis Nabi di mana di dalamnya Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyanjung para sahabatnya dan menjelaskan beberapa keutamaan mereka. Antara lain :
1-Imran bin Hushain رَضِيَ اللهُ عَنْهُ meriwayatkan bawa Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,
خَيْرُ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ قَالَ عِمْرَانُ فَلَا أَدْرِي أَذَكَرَ بَعْدَ قَرْنِهِ قَرْنَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا ثُمَّ إِنَّ بَعْدَكُمْ قَوْمًا يَشْهَدُونَ وَلَا يُسْتَشْهَدُونَ وَيَخُونُونَ وَلَا يُؤْتَمَنُونَ وَيَنْذُرُونَ وَلَا يَفُونَ وَيَظْهَرُ فِيهِمْ السِّمَنُ
“Sebaik-baik umatku adalah orang-orang yang hidup pada zamanku (generasiku), kemudian orang-orang yang datang setelah mereka, kemudian orang-orang yang datang setelah mereka.”
Imran berkata, ‘Aku tidak tahu apakah setelah menyebut generasi beliau, beliau menyebut lagi dua generasi atau tiga generasi setelahnya.’
“Kemudian akan datang setelah kalian suatu kaum yang mereka bersaksi padahal tidak diminta bersaksi dan mereka suka berkhianat (sehingga) tidak dipercaya, mereka suka bernazar namun tidak menepati nazarnya dan nampak dari ciri mereka berbadan gemuk.” [1]
Yang dimaksud dengan generasi pertama adalah para sahabat Rasul صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, kemudian generasi tabi’in dan generasi Tabi’ut Tabi’in. Maka, inilah tiga genderasi yang utama. Dan, generasi yang paling utama adalah generasi para sahabat. Dan, bukanlah yang dimaksudkan dengan ‘qurun’ (abad) di sini adalah apa yang telah dikenal secara istilah, yaitu masa selama 100 tahun. Namun, yang dimaksudkan adalah satu rentang waktu. Generasi pertama berakhir dengan wafatnya Abu Thufail رَضِيَ اللهُ عَنْهُ pada tahun 120 H. Sedangkan generasi tabi’in (hidup) sekitar 80 tahun, dan demikian pula generasi setelah mereka. [2]
Adapun generasi yang setelah itu, maka sungguh telah menyebar di tengah-tengah mereka sejumlah sifat yang tercela, antara lain ; sedikitnya sifat amanah, hingga salah seorang di antara mereka bersaksi dan bersumpah atas persaksiannya sebelum persaksian itu diminta dari dirinya karena saking meremehkan (persoalan tersebut), dan kesemangatan manusia terhadap urusan dunia mereka, memperbanyak dalam mengumpulkan harta dan makanannya, serta saling membangga-banggakannya.
2-Dari Abu Sa’id al-Khudhri رَضِيَ اللهُ عَنْهُ mengatakan, Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,
لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِى لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِى فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ
“Janganlah kalian mencaci maki para sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya salah seseorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka ia tidak akan dapat menandingi satu mud atau setengahnya dari apa yang telah diinfakkan mereka (para sahabatku).” [3]
Satu mud sama dengan ¼ sha’. Sedangkan, نَصِيفَ maknanya, 1/2 . Maka, lihatlah kepada besarnya pahala infak para sahabat sekalipun kadar yang dinfakkannya sedikit. Hal itu di sisi Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى lebih besar daripada pahala infak yang dilakukan oleh selain mereka, meskipun kadar infaknya adalah emas sebesar gunung Uhud.
Imam an-Nawawi رَحِمَهُ اللهُ mengatakan, “Dan sebab keunggulan infak mereka terserbut adalah bahwa infak mereka tersebut dikeluarkan pada saat yang sangat darurat dan dalam kondisi sempit, berbeda halnya dengan selain mereka. Juga karena infak mereka tersebut adalah dalam rangka menolong dan melindungi Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , dan keadaan tersebut tidak ada sepeninggal beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Demikian pula halnya jihad dan seluruh bentuk ketaatan yang mereka lakukan….dan ini semuanya di barengi dengan apa yang ada dalam jiwa mereka berupa simpati dan belas kasihan, kecintaan, kekhusyu’an, ketawadhu’an, sikap itsar (lebih mendahulukan kepentingan dan kemaslahatan orang lain), dan jihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad. Dan, keutamaan kedudukan sebagai sahabat nabi meskipun sesaat tidak dapat dibandingkan dengan amal apa pun, dan tidak dapat diperoleh derajatnya dengan sesuatu apa pun. Dan, keutamaan-keutamaan ini tidaklah diambil dengan kias, dan hal tersebut merupakan karunia Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berikan kepada orang yang Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى kehendaki.” [4]
Maka, betapa buruknya kejahatan orang yang berani bersikap lancang terhadap para sahabat dengan melakukan celaan, cacimakian, dan hinaan terhadap kemuliaan dan keutamaan mereka. Padahal mereka (para sahabat Nabi) merupakan pembawa panji agama ini ke seluruh penjuru bumi.
3-Dari Abdullah bin Mughaffal رَضِيَ اللهُ عَنْهُ , ia berkata, Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,
اللَّهَ اللَّهَ فِي أَصْحَابِي اللَّهَ اللَّهَ فِي أَصْحَابِي لَا تَتَّخِذُوهُمْ غَرَضًا بَعْدِي فَمَنْ أَحَبَّهُمْ فَبِحُبِّي أَحَبَّهُمْ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ فَبِبُغْضِي أَبْغَضَهُمْ وَمَنْ آذَاهُمْ فَقَدْ آذَانِي وَمَنْ آذَانِي فَقَدْ آذَى اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَمَنْ آذَى اللَّهَ فَيُوشِكُ أَنْ يَأْخُذَهُ
“Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah terkait para sahabatku. Janganlah kalian menjadikan mereka sebagai sasaran (bahan cacian dan cercaan) sepeninggalku, barang siapa mencintai mereka, maka dengan kecintaanku aku pun mencintai mereka (orang-orang yang mencintai para sahabat), dan barang siapa membenci mereka, maka dengan kebencianku, aku pun membenci mereka (yang membenci para sahabat), dan barang siapa menyakiti mereka berarti dia telah menyakitiku dan barang siapa menyakitiku berarti dia telah menyakiti Allah, dan barang siapa menyakiti Allah, maka hampir saja Allah menyiksanya.” [5]
Maknanya, ‘aku ingatkan kalian terkait hak para sahabatku, maka hormatilah dan muliakanlah mereka dan kenali dan pahamilah hak-hak mereka. Hati-hatilah, jangan sampai kalian menciderainya dengan perkataan yang buruk, dan barang siapa mencintai mereka, sungguh ia telah melakukan hal itu (menghormati dan memuliakan mereka, serta menjaga hak-hak mereka) karena ia mencintai Rasul صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , dan barang siapa membenci mereka, maka sungguh ia tengah membenci Rasul صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , dan hal ini merupakan puncak kegagalan, kesengsaraan dan kebinasaan.’[6]
3-Abu Burdah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ meriwayatkan dari ayahnya, ia berkata, Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,
النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتِ النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِى فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِى مَا يُوعَدُونَ وَأَصْحَابِى أَمَنَةٌ لِأُمَّتِى فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِى أَتَى أُمَّتِى مَا يُوعَدُونَ
“Bintang-bintang ini adalah stabilisator langit. Apabila bintang-bintang itu hilang, maka langit akan tertimpa apa yang telah dijanjikan. Aku adalah penentram para sahabatku. Kalau aku sudah tidak ada, maka mereka, para sahabatku adalah penentram umatku. Apabila para sahabatku telah tiada, maka umatku pasti akan tertimpa apa yang telah dijanjikan kepada mereka.” [7]
Di dalam hadis ini terdapat sebuah isyarat akan terjadinya berbagai macam bentuk fitnah dan akan datangnya keburukan saat kepergian orang-orang yang baik. Pada masa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, para sahabat dulu mereka merujuk kepada beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ manakala terjadi perbedaan pandangan di tengan-tengah mereka. Sepeninggal beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, manusia merujuk kepada para sahabat. Dan setiap orang yang berjalan di atas petunjuk mereka dan berpegang teguh dengan kitab suci yang jelas, niscaya ia akan selamat dari keburukan-keburukan fitnah-fitnah tersebut dan bahaya-bahayanya.
Beberapa keutamaan yang khusus pada sebagian sahabat Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Setelah kami memaparkan dalil-dalil dari al-Qur’an dan sunnah yang paling menonjol tentang penjelasan mengenai beberapa keutamaan para sahabat Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ secara umum, kami ingin untuk menjelaskan dengan ringkas tentang sebagian keutamaan yang bersifat khusus pada sejumlah orang dari kalangan para sahabat, dan apa-apa yang datang di dalam hadis-hadis nabi berupa sanjungan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ terhadap mereka dan penjelasan tentang kedudukan mereka.
1-Para sahabat Nabi yang diberi kabar gembira berupa Surga.
Dari Sa’id bin Zaed رَضِيَ اللهُ عَنْهُ bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,
عَشَرَةٌ فِي الْجَنَّةِ أَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ وَ عُمَرُ فِي الْجَنَّةِ وَ عُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَ عَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ وَ طَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ وَ الزُّبَيْرُ فِي الْجَنَّةِ وَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ وَ سَعْدُ فِي الْجَنَّةِ وَسَعِيْدُ فِي الْجَنَّةِ وَأَبُو عُبَيْدَة بْنُ الْجَرَّاح فِي الْجَنَّةِ
“Sepuluh orang akan masuk Surga; yaitu, Abu Bakar masuk Surga, Umar masuk Surga, Utsman masuk Surga, Ali masuk Surga, Thalhah masuk Surga, Zubair masuk Surga, Abdurrahman bin Auf masuk Surga, Sa’d [8] masuk Surga, Sa’id [9] masuk Surga, dan Abu Ubaidah bin Jarrah masuk Surga.” [10]
Orang-orang yang diberi kabar gembira berupa akan masuk Surga dari kalangan para sahabat cukup banyak [11], akan tetapi yang paling menonjol adalah mereka sepuluh orang ini yang disebutkan secara bersamaan dalam satu hadis.
2-Manaqib dan Keutamaan Sebagian Sahabat
Dari Anas bin Malik رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, ia berkata, Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,
أَرْحَمُ أُمَّتِي بِأُمَّتِي أَبُو بَكْرٍ وَأَشَدُّهُمْ فِي أَمْرِ اللهِ عُمُرُ وَأَصْدَقُهُمْ حَيَاءً عُثْمَانُ وَأَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ أُبَي بْنِ كَعْبٍ وَأَفْرَضُهُم ْزَيْدُ بْنِ ثَابِتٍ وَأَعْلَمُهُمْ بِالْحَلَالِ وَالْحَرَامِ مُعَاذُ بْنِ جَبَلٍ أًلًا وًإِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ أَمِيْنًا وَإِنَّ أَمِيْنَ هَذِهِ الْأُمَّةِ أَبُو عُبَيْدَةُ بْنِ الْجَرَّاحِ
“Orang yang paling belas kasihan dari kalangan umatku terhadap umatku adalah Abu Bakar, sedangkan yang paling tegas terhadap perintah Allah adalah Umar, yang paling pemalu adalah Utsman, yang paling bagus bacaannya adalah Ubay bin Ka’ab, yang paling mengetahui tentang Faraidh (ilmu pembagian waris) adala Zaed bin Tsabit, dan yang paling mengetahui halal haram adalah Mu’adz bin Jabal. Ketahuilah, sesungguhnya setiap umat memiliki orang kepercayaan, dan sesungguhnya orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah.” [12]
3-Beberapa keutamaan Orang-orang Anshar
Dari Zaed bin Arqam رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, ia berkata, Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلأَنْصَارِ وَلأَبْنَاءِ الأَنْصَارِ وَأَبْنَاءِ أَبْنَاءِ الأَنْصَارِ
“Ya Allah ! ampunilah orang-orang Anshar, anak-anak orang-orang Anshar dan cucu-cucu orang-orang Anshar.” [13]
Dan dari al-Bara رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, dari Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bahwa beliau pernah bersabda terkait orang-orang Anshar,
لاَ يُحِبُّهُمْ إِلاَّ مُؤْمِنٌ وَلاَ يُبْغِضُهُمْ إِلاَّ مُنَافِقٌ مَنْ أَحَبَّهُمْ أَحَبَّهُ اللَّهُ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ أَبْغَضَهُ اللَّهُ
“Tidaklah mencintai mereka kecuali seorang Mukmin dan tidaklah membenci mereka kecuali seorang Munafik. Siapa yang mencintai mereka, niscaya Allah mencintainya. Dan, siapa yang membenci mereka, niscaya Allah membencinya.” [14]
4-Orang-orang yang ikut serta dalam Bai’atu Ridhwan
Mereka ini adalah orang-orang yang bersama Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pada hari Hudaibiyah, dan mereka ini dinamakan dengan Ahlu Bai’atu ar-Ridhwan; karena Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah ridha terhadap mereka. Hal itu terdapat di dalam firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ
“Sungguh, Allah benar-benar telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Nabi Muhammad) di bawah sebuah pohon.” [15]
Dan sungguh Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ telah menyanjung mereka, sebagaimana di dalam hadis Jabir bin Abdillah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, ia berkata,
قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ أَنْتُمْ خَيْرُ أَهْلِ الْأَرْضِ وَكُنَّا أَلْفًا وَأَرْبَعَ مِائَةٍ وَلَوْ كُنْتُ أُبْصِرُ الْيَوْمَ لَأَرَيْتُكُمْ مَكَانَ الشَّجَرَةِ
“Pada hari Hudaibiyah, Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan kepada kami, ‘Kalian (wahai para Sabatku) adalah sebak-baik penduduk bumi.’ Dan, kala itu kami berjumlah 1.400 orang. Andaikan aku pada hari ini masih dapat melihat, niscaya aku bakal memperlihatkan kepada kalian tempat pohon itu.” [16]
Kami tutup pembicaraan kita di dalam tulisan ini dengan perkataan Abdullah bin Mas’ud رَضِيَ اللهُ عَنْهُ yang menjelaskan tentang beberapa keutamaan para sahabat Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan kewajiban untuk meneladani mereka serta berjalan di atas langkah mereka.
Abdullah bin Mas’ud رَضِيَ اللهُ عَنْهُ mengatakan,
إِنَّ اللَّهَ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ فَاخْتَارَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَبَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ النَّاسِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ فَوَجَدَ قُلُوبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ
“Sesungguhnya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى melihat pada hati-hati para hamba. Maka, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memilih Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Lalu, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengutus beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dengan membawa risalah-Nya. Kemudian, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى melihat pada hati-hati manusia setelah beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , maka Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memilih sahabat-sahabat untuk beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , lalu Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjadikan sahabat-sahabat beliau tersebut sebagai para penolong agama-Nya dan sebagai para pembantu nabi-Nya.” [17]
Abdullah bin Mas’ud رَضِيَ اللهُ عَنْهُ juga mengatakan,
مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مُتَأَسِّيًا فَلْيَتَأَسَّ بِأَصْحَابِ مُحَمَّدٍ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فَإِنَّهُمْ كَانُوْا أَبَرَّ هَذِهِ الْأُمَّةِ قُلُوْبًا، وَأَعْمَقَهَا عِلْمًا، وَأَقَلَّهَا تَكَلُّفًا، وَأَقْوَمَهَا هَدْيًا، وَأَحْسَنَهَا حَالًا، قَوْمٌ اِخْتَارَهُمُ اللهُ لِصُحْبَةِ نَبِيِّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسلَّمَ- وَإِقَامَةِ دِيْنِهِ، فَاعْرِفُوْا لَهُمْ فَضْلَهُمْ، وَاتَّبِعُوْهُمْ فِي آثَارِهِمْ فَإِنَّهُمْ كَانُوْا عَلَى الْهُدَى الْمُسْتَقِيْمِ
“Barang siapa di antara kalian ingin meneladani seseorang, maka hendaklah ia meneladani para sahabat Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Karena, sesunguhnya mereka itulah orang-orang dari kalangan ummat ini yang paling baik hatinya, paling mendalam ilmunya, paling sedikit membebani dirinya, paling lurus petunjuknya, dan paling baik keadaannya. Mereka adalah suatu kaum yang dipilih oleh Allah untuk menemani nabi-Nya صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan menegakkan agama-Nya. Oleh karena itu, kenalilah keutamaan yang dimiliki mereka. Ikutilah mereka dalam meniti jejak langkahnya, karena sesungguhnya mereka itu berada di atas petunjuk yang lurus.” [18]
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Sumber :
Fadha-il ash-Shahabah Fi as-Sunnah an-Nabawiyah dalam Shahabatu Rasulillah Wa Juhuduhum Fi Ta’limi al-Qur’an al-Karim Wa al-‘Inayatu Bihi, Dr. Anas Ahmad Karzun, hal. 32-38.
Catatan :
[1] HR. al-Bukhari, no. 3450 dan Muslim, no. 2535.
[2] Lihat : Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari, 7/8.
[3] HR. Muslim, no. 2540.
[4] Syarh Muslim, karya : an-Nawawi, 16/93.
[5] HR. Ahmad (4/78, 5/54), at-Tirmidzi di dalam al-Manaqib, no. 3862.
[6] Lihat : Fadha-il ash-Shahabah, karya : at-Talidiy, hal. 61.
[7] HR. Muslim, no. 2531.
[8] Dia adalah Sa’d bin Abi Waqash رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
[9] Dia adalah Sa’id bin Zaed رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
[10] HR. at-Tirmidzi , No. 3747, dan lihat sejumlah riwayat yang cukup banyak lainnya yang serupa di dalam Jami’ al-Ushul, 8/557-564)
[11] Silakan lihat kitab : al-Mubasysyiruna Bil-Jannati, karya : Syaikh Abdullah at-Talidiy.
[12] HR. at-Tirmidzi, no. 3791, dan dia mengatakan : Hadis hasan shahih.
[13] HR. Muslim, no. 2506.
[14] HR. Muslim, no. 75.
[15] Qur’an Surat al-Fath, ayat : 18.
[16] HR. al-Bukhari, no. 3923.
[17] HR. Imam Ahmad di dalam Musnadnya, 1/379 dan Abu Nu’aim di dalam Ma’rifatu ash-Shahabah, 1/142, dengan sanad hasan, dan al-Haitsami di dalam Majma’ az-Zawa-id, 1/177 mengatakan : para rawinya tsiqah (kredibel).
[18] Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr di dalam Jami’ Bayan al-‘Ilmi Wa Fadhlihi, 2/97, dan lihat : Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah, karya : Ibnu Taimiyah, 2/76.



