Sesungguhnya sebaik-baik perkara yang sudah sepantasnya bagi hamba untuk dijadikan sebagai dzikir kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى adalah kalam-Nya, yang merupakan sebaik-baik perkataan, paling bagus, paling benar, dan paling bermanfaat. Ia adalah wahyu Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang tidak didatangi kebatilan dari depan dan tidak pula dari belakangnya. Ia adalah kitab paling utama yang diturunkan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى kepada Rasul paling utama, atas hamba-Nya, pilihan-Nya, dan yang terbaik di antara ciptaan-Nya, yaitu Muhammad bin Abdullah  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman menjelaskan tentang kemuliaan al-Qur’an ini dan keutamaannya :

وَلَا يَأۡتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ وَأَحۡسَنَ تَفۡسِيرًا

“Tidaklah mereka datang kepadamu (membawa) sesuatu yang aneh, kecuali Kami datangkan kepadamu kebenaran dan penjelasan yang terbaik.” (al-Furqan : 33)

Ibnu Katsir رَحِمَهُ اللهُ berkata, “Dalam ayat ini terdapat perhatian yang besar tentang kemuliaan Rasul, di mana malaikat datang kepadanya membawa al-Qur’an, baik pagi maupun petang, saat safar maupun mukim. Setiap waktu datang malainkan membawa al-Qur’an kepadanya. Bukan seperti proses turunnya kibab-kitab sebelumnya. Kedudukan ini lebih tinggi, lebih agung, dan lebih besar, dibandingkan dengan saudara-saudara dari kalangan para Nabi, secara keseluruhan. Al-Qur’an adalah kitab paling mulia yang diturunkan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Sedangkan Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah Nabi paling agung yang diutus Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.”[1]

Sesungguhnya keutamaan al-Qur’an, kemuliaannya, dan ketinggian kedudukan serta posisinya, adalah perkara yang tak tersembunyi bagi kaum Muslimin. Ia adalah kitab Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى pencipta semesta alam. Kalam pencipta seluruh ciptaan. Di dalamnya terdapat berita sebelum kita, kabar sesudah kita, hukum di antara kita, ia adalah pemutus bukan senda gurau. Barang siapa meninggalkannya karena keangkuhan, maka Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menghancurkannya, dan barang siapa mencari petunjuk pada selainnya niscaya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menyesatkannya. Ia adalah tali Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang kokoh, ia adalah dzikir yang sempurna, ia adalah jalan yang lurus, tidak bisa diselewengkan oleh hawa nafsu, tidak bisa disamarkan oleh lisan, para ulama tak pernah selesai mengkajinya, tidak membosankan karena sering diulang, tidak berakhir keajaiban-keajaibannya. Barang siapa berbicara dengan berdasarkan kepadanya niscaya dia benar, barang siapa mengamalkannya diberi pahala, barang siapa berhukum dengannya niscaya adil, dan siapa mengajak kepadanya, maka akan diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Sungguh kedudukan al-Qur’an dan keutamaannya sesuai kadar yang disifatkan kepadanya dan keutamaannya. Al-Qur’an adalah kalam Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan sifat-Nya. Sebagaimana Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tidak ada yang serupa dan mirip dengan-Nya dalam hal nama-nama dan sifat-sifat-Nya, maka tidak ada pula yang serupa dan mirip dengan-Nya dalam hal kalam-Nya. Bagi Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى kesempurnaan yang mutlak pada dzat, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya. Tidak ada sesuatu yang menyerupainya di antara ciptaan-Nya. Begitu pula Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tidak serupa dengan sesuatu di antara ciptaan-Nya. Mahatinggi Allah dan Mahasuci dari penyerupaan dan kemiripan .

لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (asy-Syura : 11)

Perbedaan antara kalam Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan kalam makhluk sama seperti perbedaan antara pencipta dengan ciptaan.

Abu Abdurrahman As-Sulami رَحِمَهُ اللهُ berkata, “Keutamaan al-Qur’an atas semua perkataan adalah seperti keutamaan Rabb atas ciptaan-Nya, karena ia berasal dari-Nya.” [2]

Lafazh seperti ini telah dinukil sampai pada Nabi  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, namun penisbatannya kepada Nabi  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tidak dapat dibuktikan, seperti dijelaskan al-Imam al-Bukhari dalam kitabnya ‘Khalqu Af’aal al-Ibaad, [3] dan selainnya di antara imam ahli ilmu.

Adapun maknanya adalah haq tanpa ada keraguan lagi. Tak ada keraguan dalam hal kebagusannya, kekuatannya, kelurusannya, keindahan kandungannya. Para ahli ilmu telah memaparkan sejumlah nash untuk mendukung kebenaran makananya. Bahkan Imam al-Bukhari menjadikannya sebagai judul bab dalam pembahasan keutamaan al-Qur’an di kitab Shahihnya. Beliau berkata pada bab ke-17 dalam pembahasan tersebut, “Bab keutamaan al-Qur’an atas seluruh perkataan.” Lalu beliau menyebutkan dalam bab ini dua hadis yang sangat agung, yaitu :

Pertama, hadis Abu Musa al-Asy’ariy رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, dari Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  beliau bersabda :

مَثَلُ المُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ الأُتْرُجَّةِ، رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ، ومَثَلُ المُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ، لَا رِيْحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ، ومَثَلُ المُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ، رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ، ومَثَلُ المُنافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ، لَيْسَ لَهَا رِيْحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ

“Perumpamaan orang Mukmin yang membaca al-Qur’an seperti utrujjah, aromanya harum dan rasanya enak. Perumpamaan orang Mukmin yang tidak membaca al-Qur’an seperti tamrah (kurma), tidak ada aromanya, namun rasanya enak. Perumpamaan orang munafik yang membaca al-Qur’an seperti raihanah, aromanya harum namun rasanya pahit. Perumpamaan munafik yang tidak membaca al-Qur’an seperti hanzhalah, tidak ada aromanya dan rasanya pahit.” [4]

Ibnu Katsir رَحِمَهُ اللهُ berkata dalam kitab Fadha-il al-Qur’an -dan kitab ini adalah penjelasan ringkas penuh faidah terhadap kitab Fadhaa-il al-Qur’an dalam Shahih Bukhari-, “Letak kesesuaian judul bab terhadap hadis ini bahwa aroma yang harum dikaitkan dengan al-Qur’an, antara keberadaan dan ketiadannya. Maka ini menunjukkan keutamaan al-Qur’an atas selainnya yang berupa perkataan berasal dari orang baik maupun pelaku dosa.” [5]

Kedua, hadis Ibnu Umar رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, dari Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  , beliau bersabda :

 إنَّمَا أَجَلُكُمْ فِي أَجَلِ مَنْ خَلَا مِنَ الأُمَمِ، كَمَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعَصْرِ، ومَغْرِبِ الشَّمْسِ، ومَثَلُكُمْ ومَثَلُ اليَهُودِ والنَّصارى، كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَعْمَلَ عُمّالًا، فَقَالَ: مَن يَعْمَلُ لي إِلَى نِصْفِ النَّهَارِ عَلَى قِيْرَاطٍ، فَعَمِلَتِ اليَهُودُ، فَقَالَ: مَن يَعْمَلُ لِي مِن نِصْفِ النَّهارِ إِلَى الْعَصْرِ عَلَى قِيرْاَطٍ، فَعَمِلَتِ النَّصَارَى، ثُمَّ أَنْتُمْ تَعْمَلُونَ مِنَ العَصْرِ إِلَى المَغْرِبِ بِقِيرْاَطَيْنِ قِيْرَاطَيْنِ، قَالُوْا: نَحْنُ أكْثَرُ عَمَلًا وَأَقَلُّ عَطَاءً، قَالَ : هَلْ ظَلَمْتُكُمْ مِنْ حَقِّكُمْ؟ قَالُوْا: لَا، قَالَ: فَذَاكَ فَضْلِي أُوْتِيْهِ مَنْ شِئْتُ.

“Hanya saja batas waktu bagi kalian dibandingkan batas waktu mereka yang telah terdahulu di antara umat-umat, sama seperti antara Ashar dan terbenamnya matahari. Perumpamaan kalian dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani sama seperti seseorang mengupah pekerja. Orang itu berkata, ‘Siapa mau bekerja untukku hingga tengah hari dan masing-masing mendapatkan satu qirath ?’ maka orang-orang Yahudi mengerjakannya. Lalu orang itu berkata, ‘Sipa mau bekerja untukku dari tengah hari hingga Ashar ? maka orang-orang Nashara mengerjakannya. Kemudian kalian berkerja dari Ashar hingga Maghrib dengan upah masing-masing dua qirath. Mereka berkata, ‘Kami lebih banyak pekerjaannya namun lebih sedikit pemberiannya.’ Orang itu berkata, ‘Apakah aku menzhalimi kalian dari hak kalian ?’ Mereka berkata, ‘Tidak.’ Dia ‘Itulah anugerahku yang aku berikan siapa yang aku kehendaki.’ ” [6]

Ibnu Katsir رَحِمَهُ اللهُ  berkata, “Kesesuaian hadis ini dengan judul bab, bahwa umat ini meski ringkas waktunya, namun ia melebihi keutamaan umat-umat terdahulu walau waktu mereka lebih lama, seperti firman سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى Allah :

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِآل عمران

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (Ali Imran : 110)

Dalam al-Musnad dan Sunan, dari Bahz bin Hakim, dari bapaknya, dari bapaknya, dia berkata, Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda :

أَنْتُمْ تُوْفُوْنَ سَبْعِيْنَ أُمَّةً. أَنْتُمْ خَيْرُهَا وَأَكْرَمُهَا عَلَى اللهِ

“Kalian menggenapkan tujuh puluh umat. Kalian yang terbaik di antaranya, paling utama, dan paling mulia di sisi Allah.” [7]

Mereka mendapatkan kemenangan ini hanyalah disebakan oleh keberkahan al-Qur’an yang agung. Al-Qur’an yang telah dimuliakan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى atas semua kitab yang diturunkannya, mencakup kitab-kitab tersebut, menghapusnya, dan menjadi penutup baginya. Sebab semua kitab terdahulu turun ke bumi dengan sekaligus. Sedangan al-Qur’an ini turun berangsur-angsur sesuai kejadian karena besarnya pemeliharaan terhadapnya dan (Rasul) yang menerimanya. Setiap kali turun, maka sama seperti turunnya salah satu kitab di antara kitab-kitab terdahulu.

Umat-umat terdahulu yang paling besar adalah Yahudi dan Nashara. Yahudi dipekerjakan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى sejak Nabi Musa عَلَيْهِ السَّلَامُ hingga zaman Isa عَلَيْهِ السَّلَامُ . Nashara dari masa ini hingga kedatangan Nabi Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  mempekerjakan umat Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ini hingga hari Kiamat. Inilah yang diserupakan dengan akhir dari waktu siang. Lalu Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memberikan kepada (ummat) yang terdahulu masing-masing satu qirath. Namun Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memberikan kepada umat ini masing-masing dua qirath. Dua kali lipat dari apa yang diberikan kepada umat sebelumnya. Maka mereka berkata, ‘Wahai Rabb kami, mengapa kami lebih banyak pekerjaannya namun lebih sedikit ganjarannya ?’ Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman, ‘Apakah Aku menzhalimi kalian atas sesuatu dari upah kalian ?’ Mereka berkata, ‘Tidak’. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman, ‘Itulah karunia-Ku.’ Yakni, kelebihan dari apa yang Aku berikan kepada kalian, Aku berikan pada siapa saja yang Aku kehendaki. Seperti firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى:

﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (28) لِئَلَّا يَعْلَمَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَلَّا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَأَنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ (29)﴾ [الحديد: 28-29]

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya (Nabi Muhammad), niscaya Allah menganugerahkan kepadamu dua bagian dari rahmat-Nya dan menjadikan cahaya untukmu yang dengan cahaya itu kamu berjalan serta Dia mengampunimu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

(Allah menganugerahkan itu) agar Ahlulkitab (yang tidak beriman kepada Nabi Muhammad) mengetahui bahwa mereka sedikit pun tidak akan mendapat karunia Allah dan bahwa karunia itu ada di tangan Allah. Dia menganugerahkannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah Pemilik karunia yang agung.” (al-Hadid : 28-29) [8]

Sungguh kewajiban bagi kita adalah mengagungkan al-Qur’an yang mulia ini, yang mana ia adalah sumber kemuliaan kita dan jalan kebahagiaan kita. Kita memelihara untuknya tempat dan posisinya. Menghormatinya dengan sebenar-benar penghormatan-dan mengamalkannya-.

Ibnu Mas’ud رَضِيَ اللهُ عَنْهُ mengatakan, “Barang siapa ingin mengetahui apakah dirinya mencintai Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, maka hendaklah dia menguji dirinya dengan al-Qur’an. Apabila dia mencintai al-Qur’an berarti dia mencintai Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Karena sesungguhnya al-Qur’an adalah kalam Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.”

Beliau رَضِيَ اللهُ عَنْهُ berkata juga, “al-Qur’an adalah kalam Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى , barang siapa menolak sesuatu darinya, maka sesungguhnya dia menolak Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.”

Atsar-atsar yang semakna dengan ini cukup banyak. Kita mohon kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang pemurah untuk meramaikan hati kita dengan kecintaan terhadap al-Qur’an, mengagungkannya, menghormatinya (dan mengamalkannya). Lalu menjadikan kita sebagai ahli al-Qur’an yang mereka adalah orang-orang khusus bagi Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

Amin

Wallahu A’lam

(Redaksi)

Sumber :

Fiqhu al-Ad-‘iyyah Wa al-Adz-kar, Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin al-Abbad al-Badr, 1/54-57.

 

Catatan :

[1] Tafsir al-Qur’an al-Azhim, 6/118.

[2] Diriwayatkan al-Baihaqi dalam Al-Asma’ Washifat, 1/504.

[3] Halaman 162, dan lihat pula As-Silsilah Adh-Dha’ifah karya Al-Albani, 3/505.

[4] Shahih al-Bukhari, No. 5020, dan Shahih Muslim, No. 797.

[5] Fadha-il al-Qur’an, hal. 101.

[6] Shahih al-Bukhari, No. 5021.

[7] Al-Musnad, 5/3, Sunan At-Tirmidzi, No. 3001, Sunan Ibnu Majah, No. 4288, dan dinyatakan has2an oleh al-‘Allamah Al-Albani dalam Shahih al-Jami’, No. 2301.

[8] Fadha-il al-Qur’an, hal. 102, 103.