Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :
﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا (1) قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا (2) مَاكِثِينَ فِيهِ أَبَدًا (3) وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا (4(مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا لِآبَائِهِمْ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا (5) فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَى آثَارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا (6)﴾ [الكهف: 1-6]
“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak membuat padanya sedikit pun kebengkokan.”
“(Dia menjadikannya kitab) yang lurus agar Dia memberi peringatan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik.”
“Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.”
“(Dia menurunkan Al-Qur’an itu) juga agar Dia memberi peringatan kepada orang-orang yang berkata, “Allah mengangkat seorang anak.”
“Mereka sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang (hal) itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah besar (dosa) perkataan yang keluar dari mulut mereka. Mereka hanya mengatakan (sesuatu) kebohongan belaka.
Maka, boleh jadi engkau (Nabi Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur’an).”
Makna Global
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman dengan membuka surat ini dengan sanjungan dan pujian kepada diri-Nya sendiri : Segala puji bagi Allah Dzat yang telah menurunkan al-Qur’an kepada hamba-Nya dan Rasul-Nya Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , dan tidak menjadikan pada al-Qur’an itu adanya kebengkokan dari kebenaran, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menurunkannya dalam keadaan lurus, yang akan menegakkan kemaslahatan-kemaslahatan untuk para hamba-Nya, menjaga seluruh kitab-kitab ilahiyah, membenarkan kitab-kitab tersebut, dan sebagai saksi akan keabsahan kitab tersebut. Dengan kitab ini (al-Qur’an) Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memberikan peringatan terhadap orang-orang kafir akan adanya siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya, dan (dengan kitab ini pula) Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memberikan kabar gembira terhadap orang-orang yang beriman yang melakukan amal-amal sholeh bahwa pahala yang sangat besar akan mereka dapatkan, yaitu Surga. Mereka akan tetap tinggal di dalam pahala yang sangat besar ini, mereka tidak akan meninggalkannya untuk selama-lamanya. Demikian pula Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memberi peringatan dengan al-Qur’an ini terhadap orang-orang kafir yang mengatakan “Allah mengangkat seorang anak.” Tidaklah orang-orang musyrik ini mereka memiliki ilmu atas dakwaan mereka terhadap Allah bahwa Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengangkat seorang anak, sebagaimana pula moyang mereka orang-orang yang bodoh.
Kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mencela mereka itu dengan celaan yang sangat keras atas perkataan mereka ini, seraya mengatakan,” Alangkah besar (dosa) perkataan yang keluar dari mulut mereka. Mereka hanya mengatakan (sesuatu) kebohongan belaka.”
Kemudian, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman seraya memberikan hiburan terhadap Rasul-Nya صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dari sesuatu yang menimpa beliau berupa rasa sedih disebabkan karena berpalingnya orang-orang musyrikin dari sebuah ajakan kebenaran : “Boleh jadi engkau -Nabi Muhammad- akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling darimu sekiranya mereka tidak membenarkan Al-Qur’an ini dan tidak pula mereka beramal berdasarkan al-Qur’an.
Tafsir Ayat
[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ]
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ
“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab kepada hamba-Nya.”
Yakni, Segala puji bagi Allah Dzat yang telah menurunkan al-Qur’an kepada hamba-Nya Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَبْهِ وَسَلَّمَ [1]
وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا
“dan Dia tidak membuat padanya sedikit pun kebengkokan.”
Yakni, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menurunkannya kepada hamba-Nya di mana kondisinya Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tidak menjadikan pada Al-Qur’an itu kecondongan dan kebengkokan dari kebenaran apa pun bentuknya, dan tidak ada sedikit pun di dalamnya saling bertolak belakang dan pertentangan, tidak ada pula di dalamnya kesalahan dan kekeliruan pada lafazh-lafazhnya dan makna-maknanya ; maka berita-berita yang disebutkan di dalamnya adalah benar dan hukum-hukumnya adalah adil. [2] Sebagaimana Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :
قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ
“(Yaitu) Al-Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya).” (az-Zumar : 28)
Dan, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman :
وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
“Seandainya (Al-Qur’an) itu tidak datang dari sisi Allah, tentulah mereka menemukan banyak pertentangan di dalamnya.” (an-Nisa : 82)
Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman :
وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا
“Telah sempurna kalimat Tuhanmu (Al-Qur’an) dengan (mengandung) kebenaran dan keadilan.” (al-An’am : 115)
[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ]
قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا
“(Dia menjadikannya kitab) yang lurus agar Dia memberi peringatan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik.”
Yakni, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menurunkannya dalam keadaan lurus [3], untuk menegakkan berbagai kemaslahatan para hamba dalam urusan agama mereka dan urusan dunia mereka [4], sebagai penjaga (acuan kebenaran terhadapnya) atas seluruh kitab-kitab ilahiyah, sebagai pembenar kitab-kitab tersebut, dan sebagai saksi akan keabsahannya. Seperti kata Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus.” (al-Isra : 9)
[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]
لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ
“agar Dia memberi peringatan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya.” (al-Kahfi : 2)
Korelasi ayat ini dengan ayat sebelumnya
Ketika Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah menyebutkan bahwa Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah menurunkan kepada hamba-Nya kitab yang disifati-Nya dengan sifat-sifat yang disebutkannnya ini (yakni, bahwa tidak ada kebengkokan di dalamnya) ; Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى kemudian merangkainya dengan menjelaskan maksud dan tujuan dari penurunan kitab tersebut.
لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ
“agar Dia memberi peringatan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya.” (al-Kahfi : 2)
Yakni, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menurunkan al-Qur’an kepada Nabi-Nya Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ; untuk memberi peringatan [5] terhadap orang-orang kafir akan siksa yang sangat pedih di dunia dan akhirat, yang akan mendatangi mereka dari sisi Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. [6]
Seperti firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :
وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ
“Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengan itu aku mengingatkan kalian.” (al-An’am : 19)
[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]
وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا
“dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik.”
Yakni, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menurunkan al-Qur’an kepada Nabinya ; untuk memberikan kabar gembira terhadap orang-orang yang beriman kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan Rasul-Nya dan segala hal yang wajib mereka Imani, dan mereka telah membenarkan keimanan mereka dengan tindakan mereka melakukan amal shaleh ; memberi kabar gembira kepada mereka bahwa mereka akan memperoleh pahala yang besar nan indah, yaitu, Surga. [7]
Seperti firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :
﴿وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ﴾ [البقرة: 25]
Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Setiap kali diberi rezeki buah-buahan darinya, mereka berkata, “Inilah rezeki yang diberikan kepada kami sebelumnya.” Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang disucikan. Mereka kekal di dalamnya.(al-Baqarah : 25)
Dan, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman :
﴿إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا (9) وَأَنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (10)﴾ [الإسراء: 9-10]
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa bagi mereka ada pahala yang sangat besar. Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang tidak beriman pada akhirat telah Kami sediakan bagi mereka azab yang sangat pedih.” (al-Isra : 9-10)
[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]
مَاكِثِينَ فِيهِ أَبَدًا
“Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.”
Yakni, keadaan mereka kekal berada dalam pahala yang baik yang telah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى siapkan untuk mereka, tidak hilang dan tanpa ada putus-putusnya. [8]
Seperti firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :
﴿وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا﴾ [النساء: 122]
“Orang-orang yang beriman dan beramal saleh akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Janji Allah itu benar. Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah ?.” (An-Nisa : 122)
Dan, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman :
﴿يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُمْ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَهُمْ فِيهَا نَعِيمٌ مُقِيمٌ (21) خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ (22)﴾ [التوبة: 21-22]
Tuhan mereka memberi kabar gembira kepada mereka dengan rahmat dari-Nya, dan keridaan serta surga-surga. Bagi mereka kesenangan yang kekal di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang sangat besar. (at-Taubah : 21-22)
[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]
وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا
“(Dia menurunkan Al-Qur’an itu) juga agar Dia memberi peringatan kepada orang-orang yang berkata, “Allah mengangkat seorang anak.”
Korelasi ayat ini dengan ayat sebelumnya
Ketika pada ghalibnya seseorang bersikap menyelisihi perintah-perintah (yang diperintahkan kepadanya untuk dilakukannnya) ; karena perkara yang telah disematkan kepadanya berupa banyaknya berbagai macam bentuk kekurangan pada dirinya, maka pemberian peringatan itu menjadi perkara yang lebih atau sangat penting. Maka, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى kembali mengulanginya untuk itu, dan karena poposisanya cocok untuk hal itu, sebagai sarana untuk menimbulkan kesedihan pada diri orang-orang Yahudi yang telah menyesatkan jalan orang-orang Arab dan untuk menimbulkan kesedihan pada diri orang-orang yang mengatakan dengan model perkataan dan ucapan mereka. [9]
وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا
(Dia menurunkan Al-Qur’an itu) juga agar Dia memberi peringatan kepada orang-orang yang berkata, “Allah mengangkat seorang anak.”
Yakni, Dan Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memberi peringatan kepada orang-orang kafir -orang-orang yang mengatakan : “Allah mengangkat seorang anak untuk diri-Nya.” Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memperingatkan mereka dengan akan adanya siksa-Nya yang keras di dunia dan di akhirat. [10]
[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]
مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا لِآبَائِهِمْ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا
“Mereka sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang (hal) itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah besar (dosa) perkataan yang keluar dari mulut mereka. Mereka hanya mengatakan (sesuatu) kebohongan belaka.”
مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا لِآبَائِهِمْ
Mereka sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang (hal) itu, begitu pula nenek moyang mereka.
Yakni, orang-orang yang mengatakan hal itu bahwa Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengangkat seorang anak tidaklah memiliki ilmu sedikitpun, begitu pula nenek moyang mereka orang-orang yang bodoh sebelum mereka yang mengatakan seperti perkataan dan ucapan mereka itu. [11]
Sebagaimana Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :
مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ
“Mereka benar-benar tidak mengetahui (siapa sebenarnya yang dibunuh itu), kecuali mengikuti persangkaan belaka.” (an-Nisa : 157)
Dan Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman :
إِنَّهُمْ أَلْفَوْا آبَاءَهُمْ ضَالِّينَ (69) فَهُمْ عَلَى آثَارِهِمْ يُهْرَعُونَ (70)
“Sesungguhnya mereka mendapati nenek moyang mereka dalam keadaan sesat. Mereka tergesa-gesa mengikuti jejak (nenek moyang) mereka.” (Ash-Shaaffaat : 69-70)
[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]
كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ
“Alangkah besar (dosa) perkataan yang keluar dari mulut mereka.”
Yakni, alangkah besar(dosa)perkataan mereka ini, sebuah ungkapan kata yang keluar dari mulut mereka, karena perkataan mereka ‘Allah mengangkat anak’. Maka, betapa beruknya perkataan ini, dan betapa kejinya tindak kecerobohan mereka untuk mengucapkan kata-kata tersebut. [12]
Sebagaimana Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :
﴿وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا (88) لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (89) تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91)﴾ [مريم: 88-91]
“Mereka berkata, “(Allah) Yang Maha Pengasih telah mengangkat anak.” Sungguh, kamu benar-benar telah membawa sesuatu yang sangat mungkar. Karena ucapan itu, hampir saja langit pecah, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh berkeping-keping. (Hal itu terjadi) karena mereka menganggap (Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak.” (Maryam : 88-91)
[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]
إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا
“Mereka hanya mengatakan (sesuatu) kebohongan belaka.”
Yakni, apa yang dikatakan oleh orang-orang yang mengatakan perkataan yang berisikan penisbatan seorang anak kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى hanyalah merupakan kedustaan atas Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ; karena apa yang dikatakan mereka itu menafikkan kebenaran, menyelisihi fakta, tak sedikit pun mengandung kebenaran dari sisi manapun juga. [13]
[Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى]
فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَى آثَارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا
“Maka, boleh jadi engkau (Nabi Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur’an).”
Yakni, boleh jadi engkau -wahai Muhammad- akan membunuh dirimu dan membinasakannya ; kerena saking sedihnya dirimu karena perilaku buruk mereka berupa berpaling dari dirimu, di mana mereka belum saja mau beriman terhadap al-Qur’an ini yang Aku turunkan kepadamu [14]
Seperti firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :
وَلَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لَنْ يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا يُرِيدُ اللَّهُ أَلَّا يَجْعَلَ لَهُمْ حَظًّا فِي الْآخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Janganlah engkau (Nabi Muhammad) dirisaukan oleh orang-orang yang dengan cepat melakukan kekufuran. Sesungguhnya sedikit pun mereka tidak merugikan Allah. Allah tidak akan memberi bagian (pahala) kepada mereka di akhirat dan mereka akan mendapat azab yang sangat besar.” (Ali Imran : 176)
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman :
لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ أَلَّا يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ
“Boleh jadi engkau (Nabi Muhammad) akan membinasakan dirimu (dengan kesedihan) karena mereka (penduduk Makkah) tidak beriman.” (Asy-Syu’ara : 30)
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman :
فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ
“Maka, jangan engkau (Nabi Muhammad) biarkan dirimu binasa karena kesedihan terhadap (sikap) mereka.” (Fathir : 8)
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman :
﴿وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ (87) لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ (88) وَقُلْ إِنِّي أَنَا النَّذِيرُ الْمُبِينُ (89)﴾ [الحجر: 87-89]
“Sungguh, Kami benar-benar menganugerahkan kepadamu tujuh (ayat) yang (dibaca) berulang-ulang) dan Al-Qur’an yang agung. Jangan sekali-kali engkau (Nabi Muhammad) menujukan pandanganmu (tergiur) pada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang kafir). Jangan engkau bersedih hati atas (kesesatan) mereka dan berendahhatilah engkau terhadap orang-orang mukmin. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang jelas.” (al-Hijr : 87-89)
Faedah :
1-Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ
“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya.”
Merupakan berita dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى bahwa Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memuji diri-Nya, dan di dalamnya terkandung bimbingan dan arahan kepada para hamba-Nya agar mereka memuji-Nya atas (nikmat) diutusnya Rasul kepada mereka, dan atas (nikmat) diturunkannya Kitab (al-Qur’an) kepada mereka. [15]
2-Bahwasanya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjadikan kitab al-Qur’an menjadi kitab yang lurus, yang tidak ada kebengkokan di dalamnya.
3-Bahwanya iman harus disertai dengan amal shaleh. Maka, iman saja tidaklah cukup. Tapi, harus disertai dengan amal shaleh. Oleh karena itu, dikatakan kepada sebagian kalangan salaf, “Bukankah kunci (masuk) Surga itu adalah لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ (tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah) ?” yakni, siapa yang memba kunci tersebut, niscaya bakal dibukakan untuknya (pintu Surga dan dia dipersilahkan untuk masuk ke dalamnya). Ia menjawab, ‘Tentu saja.” Akan tetapi, apakah kunci itu dapat membuka (pintu) tanpa ada gigi-gigi pada kunci itu. ?” [16]
4-Firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :
وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا
“dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan (amal shaleh) bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik.”
Disebutkannya iman dan amal shaleh ; untuk mengisyaratkan bahwa keberkahan mendapatkan balasalan yang baik tersebut adalah ketika dua hal ini (iman dan amal shaleh) terwujudkan. [17]
5-Tentang amal-amal shaleh yang disebutkan dalam firman-Nya di atas, dijelaskan maksudnya dalam ayat-ayat yang lain, dimana disimpulkan bahwa amal itu tidak dapat disebut sebagai amal shaleh kecuali bila memenuhi tiga hal :
Pertama, Amal tersebut selaras dengan apa yang datang dari Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ; maka, setiap amal yang menyelisihi apa yang datang dari beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tidaklah dikatakan sebagai amal baik, bahkan amal tersebut adalah batil.
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ [الحشر: 7]
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah.” (al-Hasyr : 7)
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ [النساء: 80]
“Siapa yang menaati Rasul (Muhammad), maka sungguh telah menaati Allah.” (an-Nisa : 80)
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ [آل عمران: 31]
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.” (Ali Imran : 31)
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ [الشورى: 21]
“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang menetapkan bagi mereka aturan agama yang tidak diizinkan (diridai) oleh Allah?.” (asy-Syura : 21)
Dan beberapa ayat yang lainnya.
Kedua, Perlaku yang melakukan amal tersebut ikhlash dalam melakukannya hanya untuk Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ [البينة: 5]
“Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya.” (al-Bayyinah : 5)
قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ * وَأُمِرْتُ لِأَنْ أَكُونَ أَوَّلَ الْمُسْلِمِينَ * قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ * قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي * فَاعْبُدُوا مَا شِئْتُمْ مِنْ دُونِهِ [الزمر: 11 – 15]
“Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Aku diperintahkan untuk menjadi orang pertama (dari umatnya) yang berserah diri (kepada Allah).” Katakanlah, “Sesungguhnya aku takut azab pada hari yang besar (kiamat) jika aku durhaka kepada Tuhanku.” Katakanlah, “Hanya Allah yang aku sembah dengan mengikhlaskan ketaatanku kepada-Nya.” Maka, sembahlah sesukamu selain Dia (wahai orang-orang musyrik!).” (az-Zumar : 11-15)
Dan beberapa ayat yang lainnya.
Ketiga, Amal yang dilakukan dibangun di atas dasar iman dan akidah yang benar; karena amal itu layaknya atap, sedangkan akidah seperti pondasi.
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan.” (an-Nahl : 97)
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjadikan ‘iman’ sebagai ikatan dalam hal tersebut. [18]
6-Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :
فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَى آثَارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا
“Maka, boleh jadi engkau (Nabi Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini.” (Al-Qur’an).
Dalam ayat ini dan yang semisalnya terdapat ibrah (pelajaran) bahwa yang diperintahkan kepada pendakwah kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى adalah ia berkewajiban untuk menyampaikan dan berupaya dengan segala sebab yang akan dapat menyampaikan kepada diperolehnya hidayah, menutup semua jalan yang sesat dan menyimpang, dengan melakukan sesuatu yang memungkin seseorang untuk melakukannya, disertai dengan tawakkal kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dalam melakukan hal tersebut. Jika kemudian mereka (orang-orang yang diseru kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى) mendapatkan petunjuk, maka hal tersebutlah yang diinginkan dan hal tersebut merupakan karunia yang besar. Kalua pun tidak, maka hendaknya seorang pendakwah tidak bersedih hati. Karena kesedihan hati itu akan melemahkan jiwa, menghancurkan kekuatan, tidak ada faedah di dalamnya. Hedaknya, tetap melangkah dan melanjutkan tindakannya (berdakwah) yang merupakan kewajiban yang dibebankan kepada dirinya. Adapun selain itu, maka itu keluar dari kemampuannya. Bilamana Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah dikatakan kepadanya :
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ [القصص: 56]
Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) tidak (akan dapat) memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi…(al-Qashash : 56)
Sedangkan Nabi Musa عَلَيْهِ السَّلَامُ mengatakan :
رَبِّ إِنِّي لَا أَمْلِكُ إِلَّا نَفْسِي وَأَخِي
“Ya Tuhanku, aku tidak mempunyai kekuasaan apa pun, kecuali atas diriku sendiri dan saudaraku.” (al-Maidah : 25)
Maka, selain mereka, tentunya lebih tidak mampu.
فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ * لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ [الغاشية: 21- 22]
“Maka, berilah peringatan karena sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.” (al-Ghasyiyah : 21-22) [19]
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Catatan :
[1] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/140. Tafsir al-Baghawi, 3/172, Tafsir as-Sa’diy, hal.469.
Ibnu Utsaimin رَحِمَهُ اللهُ mengatakan, “الْحَمْدُ” adalah menyifati yang dipuji dengan kesempurnaan karena kecintaan dan pengagungan. (Tafsir Ibnu Katsir -surat al-Kahfi, hal. 7).
As-Sa’diy mengatakan : “ الْحَمْدُ لِلَّهِ” adalah sanjungan kepada-Nya dengan sifat-Nya yang mana sifat-Nya tersebut seluruhnya merupakan sifat kesempurnaan, dan karena kenikmatan-kenikmatan-Nya yang zhahir dan batin, yang bersifat agamawi dan duniawi, dan nikmat-Nya yang paling agung secara mutlak adalah diturunkannya kitab-Nya yang agung kepada hamba-Nya dan Rasul-Nya Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (Tafsir as-Sa’diy, hal. 469) dan lihat : Nazhmu ad-Durar, karya al-Biqaa-iy, (2/12)
[2] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir (15/141, 142), Tafsir Ibnu Athiyyah, (3/494, 495), Tafsir Ibnu Katsir, 5/135, Nazhmu ad-Durar, al-Biqaa-I, 3/12, Tafsir as-Sa’diy (hal.469), Adh-waa-ul Bayan, asy-Syinqithi, 3/192.
Ibnu Utsaimin mengatakan : wajib menghentikan bacaan pada firman-Nya : وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا (dan Dia tidak membuat padanya sedikit pun kebengkokan.); karena sesungguhnya kalau Anda menyambung bacaan niscaya dalam perkataan (ungkapan) terdapat sesuatu yang bertolak belakang ; karena akan menimbulkan ketidak jelasan bahwa maknanya ‘tidak memiliki kebengkekokn yang lurus’. (tafsir Ibnu Utsaimin -surat al-Kahfi) (hal.9), dan lihat : al-Muktafa Fii al-Waqfi Wa al-Ibtida, Abu Umr ad-Daaniy (hal. 124), Iidhaah al-Waqf Wa al-Ibtida, Abu Bakar al-Anbariy, 2/756.
[3] Di antara kalangan ahli tafsir yang memilih pendapat bahwa kata قَيِّمًا bermakna مُستَقيمًا (lurus) adalah : Muqatil bin Sulaiman, Ibnu Jarir, Ibnu Katsir, asy-Syinqithi-dan beliau menisbatkannya kepada Jumhur-, dan Ibnu Utsaimin. Lihat : Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 2/572, Tafsir Ibnu Jarir, 15/140-141), Tafsir Ibnu Katsir, 5/135, Adh-Waa-ul Bayan, karya asy-Syinqithi, 3/192, 193, Tafsir Ibnu Utsaimin -Surat al-Kahfi, hal. 9.
Dan di antara yang berpendapat dengan pendapat ini dari kalangan Salaf adalah Ibnu Abbas, Qatadah, adh-Dhahhak, dan Ibnu Ishaq. Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/140.
[4] Di antara kalangan yang memilih pendapat bahwa yang dimaksud adalah (bahwa al-Qur’an diturunkan) untuk memberikan petunjuk kepada umat, dan menegakkan kemaslahatan para hamba dalam urusan yang bersifat agamawi dan duniawi adalah ar-Raziy, Abu Sa’ud, dan Ibnu Asyur. Lihat : Tafsir ar-Raziy, 21/422-423, Tafsir Abu Sa’ud, 5/202, Tafsir Ibnu Asyur, 15/248.
[5] Ibnu Utsaimin رَحِمَهُ اللهُ mengatakan : Dhomir (kata ganti) pada firman-Nya : لِيُنْذِرَ agar dia memberi peringatan), berkemungkinan kembali kepada kata عَبْدِهِ (hamba-Nya) dan berkemungkinan pula kata ganti tersebut kembali kepada kata الْكِتَابَ (al-Qur’an), dan kedua kemungkinan tersebut benar, karena الْكِتَابَ (al-Qur’an) itu Dia turunkan kepada Rasul صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم agar dia memberi peringatan dengannya (kitab tersebut), dan kitab (al-Qur’an) itu sendiri pemberi peringatan, ia memberi peringatan kepada manusia…, dan ‘memberikan peringatan’ maknanya, ‘pemberitahuan dengan sesuatu yang menakutkan.’ (Tafsir Ibnu Utsaimin-Surat al-Kahfi, hal. 9,10).
[6] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/145, Tafsir Ibnul Jauziy, 3/64, Tafsir al-Qurthubiy, 10/348, Tafsir Ibnu Katsir, 5/135, Tafsir as-Sa’diy, hal. 470.
[7] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/146, Tafsir Ibnu Katsir, 5/135, Tafsir as-Sa’diy, hal. 470, Adh-Waa-ul Bayan, karya : Asy-Syinqithi, 3/197, Tafsir Ibnu Utsaimin-Surat al-Kahfi, hal. 10)
[8] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/146, Tafsir Ibnu Katsir, 5/135, Tafsir as-Sa’diy, hal. 470, Adh-Waa-ul Bayan, karya : asy-Syinqithi, 3/197, Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 12.
Dan, as-Sa’diy mengatakan : … maka pahala yang baik ini, mereka tetap berada di dalamnya selamanya, pahala yang baik ini tidak hilang dari mereka, dan mereka juga tidak hilang dari pahala yang baik tersebut. Bahkan, kenikmatan yang mereka dapatkan selalu terus bertambah setiap waktu. Dan, dalam penyebutan kabar gembira terdapat sesuatu yang mengharuskan untuk disebutkannya amal-amal yang mewajibkan untuk diberikan kabar gembira dengan mengerjakannya, yaitu bahwa al-Qur’an ini benar-benar berisikan keterangan tentang setiap bentuk amal shaleh yang akan menyampaikan (seseorang yang melakukannya) kepada sesuatu yang menjadikan jiwa bergembira dan menjadikan ruh senang dan bahagia (Tafsir as-Sa’diy, hal. 470).
[9] Lihat : Nazhmu ad-Durar, karya : al-Biqa’iy, 7/12
[10] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/147,Tafsir as-Sa’diy, hal. 470, Adh-Waa-ul Bayan, karya : asy-Syinqithi, 3/198, Tafsir Ibnu Utsaimin-Surat al-Kahfi, hal. 13.
[11] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/147, Tafsir Ibnu Katsir, 5/136, Adh-Waa-ul Bayan, karya : asy-Syinqithi, 3/198, Tafsir Ibnu Utsaimin- surat al-Kahfi, hal.13. Ibnu Jarir mengatakan : “Maka, oleh karena kebodohan mereka tentang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan keagungan-Nya-lah mereka mengatakan hal itu.” (Tafsir Ibnu Jarir, 15/147)
[12] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/148, Tafsir Ibnu Katsir, 5/136, Nazhmu ad-Durar, karya : al-Biqaa-‘I, 9/12, Tafsir asy-Syaukani, 3/320, Tafsir as-Sa’diy, hal. 470, Tafsir Ibnu ‘Asyur, 15/252, Adh-Waa-ul Bayan, karya : asy-Syinqithi, 3/199.
[13] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/148, al-Wasith, karya : al-Waahidiy, 3/136, Nazhmu ad-Durar, karya : al-Biqaa-‘iy, 9/12, Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal.15)
[14] Lihat Tafsir Ibnu Jarir, 15/149-151, Tafsir az-Zamakhsyari, 2/702, 704, Tafsir Ibnul Jauzi, 3/64, Tafsir Ibnu Katsir, 5/137, Tafsir asy-Syaukani, 3/320, Tafsir as-Sa’diy, hal.470, Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal.16.
[15] Lihat : Tafsir as-Sa’diy, hal. 469, Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 8.
[16] Lihat : Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 10. Dan, atsar ini disebutkan oleh al-Bukhari di dalam shahihnya secara mu’allaq dari Wahab bin Munabbih di dalam kitab al-Janaa-iz, bab pertama, sebelum hadis no. 1237.
[17] Lihat : Tafsir Ibnu ‘Asyur, 15/250.
[18] Lihat : Adh-Waa-ul Bayaan, karya : asy-Syinqithi, 3/196.
[19] Lihat : Tafsir as-Sa’diy, hal. 470




