Setelah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman, menjelaskan bahwa Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang menumbuhkan (rerumputan) padang gembala, lalu menjadikannya kering kehitam-hitaman, kemudian Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسَى (6) إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ إِنَّهُ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفَى (7) [الأعلى : 6 ، 7]

Kami akan membacakan (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa, kecuali Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi (al-A’la : 6-7)

Ini merupakan janji Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى untuk Rasul-Nya bahwa Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan membacakan al-Qur’an kepada beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tidak akan lupa. Biasanya Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ terburu-buru untuk menghafal wahyu yang dibawa oleh malaikat Jibril عَلَيْهِ السَّلَامُ, maka Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berkata kepada beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ (16) إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ (17) فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ (18) ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ (19) [القيامة : 16 – 19]

Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.” (al-Qiyamah : 16-19)

Sesudah itu, Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ diam hingga malaikat Jibril selesai membacakan wahyu kemudian barulah beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ membacanya.

Dalam ayat ini Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسَى . إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ

Kami akan membacakan (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa, kecuali Allah menghendaki.

Yakni kecuali apa-apa yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى kehendaki engkau melupakannya, karena semua urusan berada di tangan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ  [الرعد : 39]

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki) (ar-Ra’d : 39)

Dalam ayat lain, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (106) أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ (107) [البقرة : 106 ، 107]

“Apa saja ayat yang Kami nasakhkan (hapus), atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik dari padanya atau sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah ? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong.” (al-Baqarah : 106-107)

Adakalanya Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ terlupa sebuah ayat dalam Kitabullah, akan tetapi beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ akan segera mengingatnya kembali.

Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

إِنَّهُ يَعْلَمُ الْجَهْرَ

Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang

Yakni, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengetahui segala sesuatu yang nyata. Al-Jahr artinya sesuatu yang dinyatakan dan diucapkan oleh manusia.

Kemudian firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

وَمَا يَخْفَى

dan (Dia mengetahui pula) yang tersembunyi

Yakni yang tersimpan dan tidak dinyatakan, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi seperti yang disebutkan dalam ayat lain :

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ  [ق : 16]

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya. (Qaaf : 16)

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengetahui segala sesuatu yang nyata maupun yang tersembunyi.

Kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَى  [الأعلى : 8]

Dan Kami akan memberimu taufik kepada jalan yang mudah (al-A’la : 8)

Ini juga termasuk janji Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى bagi Rasul-Nya, bahwa Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan memberinya taufik kepada jalan yang mudah.  اَلْيُسْرَى (Al-Yusra), maksudnya adalah memudahkan seluruh urusan beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Terutama dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Ketika Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengabarkan bahwa tiada seorang pun melainkan telah dituliskan tempatnya di jannah (surga) atau di neraka, semua bani Adam telah ditulis tempatnya di Surga bila ia penghuni Surga, atau di neraka bila ia termasuk penghuni neraka. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kalau begitu kami tidak usah beramal dan kami bertawakkal saja-tawakkal kepada takdir yang telah ditentukan-? Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ berkata :

لَا اِعْمَلُوْا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

Tidak, namun beramallah, sesungguhnya tiap-tiap orang akan dimudahkan kepada apa yang telah dituliskan baginya.

Orang yang berbahagia akan dimudahkan untuk mengerjakan amalan orang-orang yang bahagia. Dan orang yang celaka akan dimudahkan untuk mengerjakan amalan orang-orang yang celaka.

Kemudian beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ membaca ayat :

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (5) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (6) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (7)  [الليل : 5 – 8]

Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (Surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah (al-Lail : 5-8) [1]

Hadis ini mematahkan argumentasi orang-orang yang berdalih dengan takdir untuk berbuat maksiat kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Ia berbuat maksiat lalu berkata : “Ini sudah ditakdirkan bagiku !” Itu bukan alasan ! Sebab Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, “Beramallah, sesungguhnya tiap-tiap orang akan dimudahkan kepada apa yang telah dituliskan baginya.”

Adakah orang lain yang menghalangimu mengerjakan amal shalih bila kamu menghendakinya ? Sekali-kali tidak ada ! Oleh karena itu, bila ada seseorang yang memaksamu berbuat maksiat maka kamu tidak terkena dosa. Kamu tidak dikenai dosa sebagaimana halnya orang yang melakukan maksiat atas kemauannya sendiri. Sampai-sampai kekufuran yang merupakan dosa paling besar. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ  [النحل : 106]

“Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (an-Nahl : 106).

Jadi, kita serukan : Beramallah wahai sekalian manusia, lakukanlah amal kebaikan dan jauhilah amal keburukan, supaya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memberimu taufik kepada jalan yang mudah dan menjauhkan kamu dari jalan yang sulit. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah menjanjikan untuk nabi-Nya taufik kepada jalan yang mudah dan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah memudahkan urusan beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Oleh karena itu, setiap kali kesulitan dan kesempitan menimpa beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pasti ada jalan keluar baginya.

Faidah :

1-Korelasi ayat ini dengan ayat sebelumnya, bahwa ketika Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memerintahkan beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ untuk bertasbih, mensucikan-Nya (sebagaimana di ayat pertama surat ini, surat al-A’la), sementara mensucikan-Nya tersebut tidak dapat dilakukan kecuali dengan membaca apa yang diturunkan kepada beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ berupa al-Qur’an, dan beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sendiri pun mengingat-ingatnya dalam dirinya sendiri karena takut akan lupa ; maka (Dia سُبحَانَهُ وَتَعَالَى) hilangkan kekhawatiran itu dari beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, dan Dia سُبحَانَهُ وَتَعَالَى memberikan kabar gembira kepada beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bahwa Dia سُبحَانَهُ وَتَعَالَى akan membacakan al-Qur’an itu kepadanya dan bahwa beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tidak akan lupa, dan Dia سُبحَانَهُ وَتَعَالَى mengecualikan apa yang Dia سُبحَانَهُ وَتَعَالَى kehendaki untuk membuat beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melupakannya untuk suatu kemaslahatan, seperti dengan menasakh/menghapusnya dan dengan cara yang lainnya. [2]

2-Dalam firman-Nya سُبحَانَهُ وَتَعَالَى :

سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسَى

Kami akan membacakan (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa.

Di dalamnya terdapat bisyarah (kabar gembira) yang besar dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى kepada hamba-Nya dan Rasul-Nya Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : bahwa Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan mengajarkan kepada beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sebuah ilmu yang mana beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tidak akan melupakannya [3]

3-Dalam firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسَى . إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ

Kami akan membacakan (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa, kecuali Allah menghendaki.

Di dalamnya terdapat faidah bahwasanya Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ boleh jadi lupa akan hal-hal yang tidak terkait dengan tugas menyampaikan risalah. [4]

4-Di dalam firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسَى

Kami akan membacakan (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa.

Di dalamnya terdapat sebuah kemu’jizatan. Hal tersebut ditinjau dari dua sisi :

Pertama, bahwa beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah seorang lelaki yang ummi (tidak bisa menulis dan tidak bisa menghitung) ; maka hafalnya beliau akan kitab (al-Qur’an) yang panjang ini tanpa adanya pembelajaran, tanpa adanya pengulangan, dan tanpa adanya penulisan (yang dilakukan oleh beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ); merupakan perkara yang keluar dari kebiasaan ; sehingga hal tersebut menjadi sebuah mu’jizat.

Kedua, Bahwa surat ini (surat al-A’la) termasuk surat yang pertama-tama turun di Makkah; maka hal ini merupakan pemberitaan tentang perkara yang menakjubkan dan mengherankan yang akan terjadi (pada diri Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) di masa yang akan datang, dan hal itu benar-benar akan terjadi. Berarti, ini merupakan berita tentang perkara ghaib; sehingga hal tersebut menjadi sebuah kemu’jizatan. [5]

5-Dalam firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسَى . إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ

Kami akan membacakan (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa, kecuali Allah menghendaki.

Di dalamnya terdapat sebuah pertanyaan, bahwa di dalam ayat-ayat ini terdapat petunjuk yang menunjukkan bahwa Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ akan lupa sebagian dari al-Qur’an sesuai apa yang dikehendaki Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  untuk membuat beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melupakannya, sedangkan terdapat sejumlah ayat yang cukup banyak yang menunjukkan akan terjaganya atau terpeliharanya al-Qur’an dari hilang, seperti firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ (16) إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ (17) [القيامة : 16 ، 17]

Jangan engkau (Nabi Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca al-Qur’an) karena hendak tergesa-gesa (menguasai)-nya. Sesungguhnya tugas Kamilah untuk mengumpulkan (dalam hatimu) dan membacakannya (al-Qiyamah : 16-17)

Dan firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ  [الحجر : 9]

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya (al-Hijr : 9)

(Bagaimana mengompromikan dua hal yang secara zhahir terkesan bertolak belakang ini ?)

Jawabannya :

Bahwa al-Qur’an itu, meski terjaga dari kehilangan, namun sebagiannya menasakh sebagian yang lainnya. Dan, tindakan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى membuat lupa Nabi-Nya terhadap sebagian dari al-Qur’an itu (masuk dalam kategori) hukum naskh (penasahan), maka bila Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى membuat beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ lupa terhadap suatu ayat, maka seolah-oleh Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menasakhnya, dan harus mendatangkan ayat yang lebih baik dari ayat yang dinasakh-Nya tersebut atau mendatangkan ayat yang semisalnya, sebagaimana Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menyatakan dengan gamblang dalam firman-Nya :

مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا [البقرة : 106]

Ayat yang Kami nasakh (batalkan) atau Kami jadikan (manusia) lupa padanya, pasti Kami ganti dengan yang lebih baik atau yang sebanding dengannya. (al-Baqarah : 106)

Dan dalam firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

وَإِذَا بَدَّلْنَا آيَةً مَكَانَ آيَةٍ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُنَزِّلُ [النحل : 101]

Apabila Kami ganti suatu ayat di tempat ayat yang lain, padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya. (an-Nahl : 101)

Dan, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengisyaratkan di sini karena pengetahuan-Nya tentang hikmah di balik penasahannya dengan firman-Nya,

إِنَّهُ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفَى

Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi. [6]

6-Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

إِنَّهُ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفَى

Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.

Dan, termasuk hal tersebut adalah bahwasanya Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengetahui apa-apa yang bermaslahat bagi para hamba-Nya. Oleh karena itu, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mensyariatkan apa-apa yang diinginkan-Nya, dan Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menentukan dan menetapkan hukum dengan apa-apa yang diinginkan-Nya pula. [7] sebagaimana ditegaskan-Nya dalam firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ  [المائدة : 1]

Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji ! Dihalalkan bagimu hewan ternak, kecuali yang akan disebutkan kepadamu (keharamannya) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang berihram (haji atau umrah). Sesungguhnya Allah menetapkan hukum sesuai dengan yang Dia kehendaki (al-Maidah : 1)

7-Dalam firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَى  [الأعلى : 8]

Dan Kami akan memberimu taufik kepada jalan yang mudah (al-A’la : 8)

Di dalamnya terdapat bisyarah (kabar gembira) yang besar; bahwasanya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan memberi Rasul-Nya صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ taufik kepada jalan yang mudah pada semua urusannya, dan Dia  سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan menjadikan syariat-Nya dan agama-Nya menjadi mudah [8]. Alhamdulillah

Wallahu A’lam

(Redaksi)

Catatan :

[1] Hadis riwayat al-Bukhari dalam kitab al-Janaiz bab Nasihat dari seorang Muhaddits (1362) dan Muslim dalam kitab al-Qadr Bab : Kaifiyat penciptaan bani Adam di dalam perut ibunya (2647).

[2] Lihat : Tafsir Abu Hayyan, 10/457.

[3] Lihat : Tafsir as-Sa’diy, hal. 921.

[4] Lihat : Fathul Baariy, Ibnu Hajar, 11/138.

[5] Lihat : Tafsir ar-Raziy, 31/130.

[6] Lihat : Daf’u Ihami al-Idh-Thirab, asy-Syinqithiy, hal. 257.

[7] Lihat : Tafsir as-Sa’diy, hal. 921.

[8] Lihat : Tafsir as-Sa’diy, hal. 921.