Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman:
نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (49) وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ (50)
“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dan bahwa sesungguhnya siksa-Kulah azab yang sangat pedih.” (QS. al-Hijr: 49–50)
Maka, seorang hamba hendaknya hatinya senantiasa berada di antara rasa takut dan harapan, serta antara keinginan untuk mendapatkan kebaikan dan ketakutan akan mendapatkan keburukan.
Apabila ia melihat kepada rahmat Tuhannya, ampunan-Nya, kedermawanan-Nya, dan kebaikan-Nya, hal itu memperbarui harapan dan kecintaannya kepada-Nya, serta keinginannya untuk mendapatkannya.
Namun, apabila ia melihat kepada dosa-dosa dirinya dan kekurangannya dalam memenuhi hak-hak Tuhannya, hal tersebut memperbarui rasa takutnya kepada-Nya. Hal itu pun mendorongnya untuk segera berhenti dan meninggalkan hal-hal yang menyebabkan dirinya terjatuh ke dalam perbuatan dosa.
(Abdurrahman bin Nashir as-Sa’diy, Taisir al-Karim ar-Rahman fii Tafsiri Kalami al-Mannan, 1/431)



