Dari Abu Sa’id bin al-Mu’alla رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ia berkata :

كُنْتُ أُصَلِّي فِي الْمَسْجِدِ فَدَعَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أُجِبْهُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ أُصَلِّي فَقَالَ أَلَمْ يَقُلْ اللَّهُ {اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ} ثُمَّ قَالَ لِي لَأُعَلِّمَنَّكَ سُورَةً هِيَ أَعْظَمُ السُّوَرِ فِي الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ الْمَسْجِدِ ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِي فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ قُلْتُ لَهُ أَلَمْ تَقُلْ لَأُعَلِّمَنَّكَ سُورَةً هِيَ أَعْظَمُ سُورَةٍ فِي الْقُرْآنِ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ-رواه البخاري

Saat aku tengah shalat di masjid, tiba-tiba Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memanggilku, namun aku tidak menjawab panggilan beliau. (Lalu seusai shalat) aku katakan (kepada beliau), ‘Wahai Rasulullah ! Sesungguhnya aku tadi tengah mengerjakan shalat. Maka beliau mengatakan, ‘Bukankah Allah berfirman :

{اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ}

Wahai orang-orang yang beriman ! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu (al-Anfal : 24).

Kemudian, beliau mengatakan kepadaku, ‘Sungguh, benar-benar aku akan mengajarimu surat yang merupakan surat teragung di dalam al-Qur’an sebelum engkau keluar dari masjid.’ Kemudian, beliau memegang tanganku. Lalu, ketika beliau hendak keluar (dari masjid) aku katakan kepada beliau, ‘bukankah Anda mengatakan (kepadaku) ‘Sungguh, benar-benar aku akan mengajarimu surat yang merupakan surat teragung di dalam al-Qur’an.’? (Maka) beliau bersabda : “الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  “ (surat al-Fatihah) tujuh ayat yang diulang-ulang bacaannya dan al-Qur’an (bacaan) yang agung yang diberikan kepadaku.” (HR. al-Bukhari)

Nama-nama surat ini

Surat teragung di dalam al-Qur’an ini memiliki beberapa nama, antara lain :

1-Fatihatul Kitab

Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda :

« لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ »مسلم

Tidak sah shalat bagi siapa yang tidak membaca Fatihatul Kitab (pembuka kitab, yakni, surat al-Fatihah) (HR. Muslim)

2-Ummul Kitab

‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهَا berkata :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَفِّفُ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ حَتَّى إِنِّي لَأَقُولُ هَلْ قَرَأَ بِأُمِّ الْكِتَابِ. البخاري

Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ biasa meringankan dua rakaat yang dilakukan sebelum shalat Subuh, sampai-sampai aku mengatakan, ‘Apakah beliau membaca ummul kitab (induk al-Kitab, yakni, surat al-Fatihah).’ (HR. al-Bukhari)

3-Ummul Qur’an, as-Sab’u al-Matsani, dan al-Qur’an al-Adzim 

Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda :

أُمُّ الْقُرْآنِ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ- البخاري

Ummul Qur’an (yakni, surat al-Fatihah) adalah as-Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang bacaannya) dan al-Qur’an al-‘Azhim (bacaan yang agung) (HR. al-Bukhari)

 

Keutamaan Surat ini :

Surat teragung di dalam al-Qur’an ini memiliki beberapa keutamaan, antara lain :

1-Cahaya, belum pernah diberikan kepada seorang Nabi pun sebelum Nabi Muhammad-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-.

Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُ berkata : “Ketika Jibril duduk di sisi Nabi  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , beliau mendengar suara (seperti suara pintu ketika dibuka) dari atasnya. Maka, beliau mendongakkan kepalanya. Lalu, Jibril mengatakan : “Ini sebuah pintu dari langit di buka pada hari ini, belum pernah dibuka sama sekali kecuali pada hari ini.’ Lalu turunlah Malaikat dari pintu tersebut. Maka, Jibril mengatakan, ‘Ini malaikat turun ke bumi, ia belum pernah sama sekali turun kecuali pada hari ini. Lalu, malaikat itu pun beruluk salam dan mengatakan (kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) :

أَبْشِرْ بِنُورَيْنِ أُوتِيتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِىٌّ قَبْلَكَ فَاتِحَةُ الْكِتَابِ وَخَوَاتِيمُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلاَّ أُعْطِيتَهُ- مسلم

Bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu, kedua cahaya tersebut belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelummu. (dua cahaya itu adalah) Fatihatul Kitab (yakni, surat al-Fatihah) dan beberapa ayat penutup surat al-Baqarah. Tidaklah engkau [1] membaca satu huruf [2] dari keduanya kecuali engkau akan diberikan.’ [3] (HR. Muslim)

2-Dengan membacanya tercapailah munajat antara seorang hamba dengan Rabbnya.

Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda :

« مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهْىَ خِدَاجٌ – ثَلاَثًا – غَيْرُ تَمَامٍ ».

Barang siapa melakukan shalat, ia tidak membaca ummul qur’an (surat al-Fatihah) di dalamnya, maka shalat tersebut khidaj –tiga kali-, yakni, tidak sempurna.

Dikatakan kepada Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ , ‘Jika kami berada di belakang imam (bagaimana ?).’ ia pun menjawab : ‘bacalah surat tersebut dalam dirimu [4] karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,

« قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ ( الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ). قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِى عَبْدِى وَإِذَا قَالَ (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ). قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَىَّ عَبْدِى. وَإِذَا قَالَ (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ). قَالَ مَجَّدَنِى عَبْدِى – وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَىَّ عَبْدِى – فَإِذَا قَالَ (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ). قَالَ هَذَا بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ. فَإِذَا قَالَ (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ ). قَالَ هَذَا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ- مسلم

Allah تَعَالَى berfirman, “Aku telah membagi ash-Shalat (yakni, surat al-Fatihah) dua bagian antara diri-Ku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta. Maka, apabila si hamba mengucapkan :  ( الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ) Allah تَعَالَى berfirman, ‘Hamba-Ku tengah memuji-Ku.’ Apabila ia mengucapkan :  (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ) Allah تَعَالَى berfirman,’Hamba-Ku tengah menyanjungku.’ Apabila ia mengucapkan :  (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ) Dia تَعَالَى berfirman,’Hamba-Ku tengah mengagungkan-Ku.’ -dan Dia mengatakan sesekali : “Hamba-Ku menyerahkan diri kepada-Ku”-Lalu, apabila ia mengucapkan : (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ) , Dia تَعَالَى berfirman,’Ini antara diri-Ku dan antara hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku apa yang ia minta.’ Lalu, apabila ia mengucapkan :  (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ )  Dia تَعَالَى berfirman,’ Ini untuk hamba-Ku dan untuk hamba-Ku apa yang ia minta.’ (HR. Muslim)

3-Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membacanya

Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,

« لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ »مسلم

Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (yakni, surat al-Fatihah) (HR. Muslim)

4-Rukyah, yang menyembuhkan dengan izin Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

Abu Sa’id رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ berkata, ‘Sekelompok orang dari kalangan sahabat Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pergi dalam sebuah safar (perjalanan jauh), hingga mereka singgah di suatu perkampungan dari perkampungan Arab, lalu mereka minta kepada para penduduknya untuk dijamu (sebagai tamu), namun mereka (para penduduk perkampungan tersebut) enggan untuk menjamu mereka. Tersengatlah pimpinan mereka. Maka, mereka pun telah berupaya untuk mengobatinya dengan berbagai cara, namun tak satu pun cara yang dapat memberikan manfaat kepadanya. Lantas, sebagian mereka mengatakan (kepada sebagian yang lainnya), ‘Andai kata kalian mendatangi mereka, sekelompok orang-orang itu yang tengah singgah, barang kali sebagian mereka ada yang memiliki cara lain untuk menerapi.’ Maka, mereka pun mendatangi mereka (sekelompok orang yang tengah singgah itu) lalu mereka mengatakan,’Wahai segenap orang-orang ! Sesungguhnya pemimpin kami tersengat binatang, dan kami pun telah berupaya segenap cara untuk menerapinya namun tidak bermanfaat, maka apakah salah seorang di antara kalian ada yang memiliki cara lain ? Dijawablah oleh sebagian mereka, ‘Iya, demi Allah, sesungguhnya aku dapat merukyah, akan tetapi demi Allah, sungguh kami telah meminta kepada kalian untuk menjamu kami, namun kalian tidak memberikan jamuan kepada kami. Oleh karena itu, aku tidak akan merukyah untuk kalian hingga kalian berkenan memberikan kepada kami  upahnya.’ Maka, mereka pun menyepakatinya akan memberikan upah berupa sekawanan kambing. Maka, segeralah ia meludah sedikit kepada pimpinan mereka itu dan ia membaca :  الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . Tiba-tiba seoleh-oleh pimpinan mereka itu terlepas dari tali yang mengikatnya. Ia pun bergegas berjalan bebas dari sakitnya. Maka, mereka pun memberikan kepada sekelompok orang-orang yang singgah itu upah yang telah disepati sebelumnya. Lalu, sebagian mereka mengatakan, ‘Bagi-bagilah !’ Maka, berkatalah orang yang merukyah, ‘Janganlah kalian lakukan hingga kita mendatangi Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, lalu kita sebutkan kepada beliau apa yang telah terjadi. (Ketika disebutkan hal tersebut kepada Nabi) beliau mengatakan, ‘

وَمَا يُدْرِيكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ

Tidak tahukah bahwa itu adalah ruqyah.

Kemudian beliau bersabda, ‘Sungguh kalian benar. Bagi-bagilah ! dan berilah aku bagian bersama kalian.’ Lalu Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tertawa. (HR. al-Bukhari)

 

Beberapa maksud dari surat teragung ini :

1-Memberikan pengertian tentang Dzat yang disembah.

2-Penjelasan tentang cara/jalan penghambaan.

3-Penjelasan tentang kondisi manusia bersama dengan jalan ini.

 

Tema-tema surat teragung ini :

1-Sifat-sifat Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

2-Hari Akhir

3-Pengesaan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dalam beribadah, antara lain melalui isti’anah (permintaan pertolongan) dan doa (permohonan).

4-Pengertian tentang shirat al-Mustaqim (jalan yang lurus), sebagai jalan orang-orang yang mendapat petunjuk.

5-Menjauhkan diri dari jalan orang-orang yang meyimpang ; dari kalangan orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat.

 

Kesesuaian dibukanya al-Qur’an dengan surat teragung ini

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى membuka kitab-Nya dengan surat ini, karena surat ini menghimpun maksud-maksud al-Qur’an.

Dan karena sesungguhnya hal-hal yang globlal yang disebutkan di dalam surat ini menghimpun hal-hal yang terperinci yang terkandung di dalam al-Qur’an. Jadi, seluruh isi al-Qur’an merupakan perincian dari apa yang disebutkan secara global dalam surat ini. Dan, dalam hal tersebut terdapat bara’atu istihlal, karena surat ini diposisikan layaknya sebuah pengantar khuthbah atau pendahuluan kitab.

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)

Makna Global :

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengabarkan kepada para hamba-Nya bahwa pujian yang sempurna hanya berhak bagi-Nya semata. Dan, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى membimbing para hamba dengan apa yang Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى kabarkan tersebut agar mereka menyanjung-Nya, mengagungkan-Nya, dan memuji-Nya dengan segala bentuk puji-pujian yang tidak berhak ditujukan kecuali kepada-Nya, Dialah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى pemiliki rahmat (kasih sayang), kekuasaan/kerajaan. Sebagaimana pula Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى membimbing mereka agar mengesakan-Nya dalam beribadah dan memohon pertolongan, meminta petunjuk dari-Nya semata kepada jalan yang jelas yang tidak ada kebengkokan, yaitu, jalan orang-orang yang telah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى anugerahkan nikmat kepada mereka. Bukan jalan orang-orang Yahudi yang dimurkai, dan bukan pula jalan orang-orang Nasrani yang sesat.

 

Tafsir Ayat :

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.

Ini berita dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى (tentang Allah azza wa jalla). Di dalamnya, Dia Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memuji diri-Nya yang mulia, dan di dalamnya berisikan bimbingan terhadap para hamba-Nya agar mereka memuji-Nya. [5]

الْحَمْدُ لِلَّهِ

Segala puji bagi Allah

Yakni, semua bentuk puji-pujian adalah milik/untuk Dzat yang disembah. Tidak ada yang berhak mendapatkannya melainkan Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى semata. Dan itu adalah sebuah pujian yang abadi dan berkesinambungan.

الْحَمْدُ

Segala puji

Yaitu, penyematan sifat ‘sempurna’ terhadap dzat yang dipuji, yang disertai dengan rasa mencinta-Nya dan mengagungkan-Nya.[6]

اللَّهِ

Allah

Merupakan nama yang tetap bagi-Nya. Nama ini mengandung sifat uluhiyah bagi-Nya. [7]

Makna nama ini adalah ‘al-Ma’luh’ yakni, ‘al-Ma’buud’ (yang disembah/yang diibadahi).[8]

رَبِّ الْعَالَمِينَ

Tuhan seluruh alam

Yakni, as-sayyid, al-Maalik (yang menguasai), al-Mudabbir (yang mengatur) seluruh alam, yaitu, segala sesuatu selain Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى , berupa segala bentuk dan jenis makhluk yang berada di setiap waktu dan tempat. [9]

Sebagaimana Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ (23) قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ مُوقِنِينَ (24) قَالَ لِمَنْ حَوْلَهُ أَلَا تَسْتَمِعُونَ (25) قَالَ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ (26) قَالَ إِنَّ رَسُولَكُمُ الَّذِي أُرْسِلَ إِلَيْكُمْ لَمَجْنُونٌ (27) قَالَ رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ (28)  [الشعراء : 23 – 28]

Fir’aun bertanya, “Siapa Tuhan seluruh alam itu ?”

Dia (Musa) menjawab, “Tuhan pencipta langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya (itulah Tuhanmu), jika kamu mempercayai-Nya.”

Dia (Musa) berkata, “(Dia) Tuhanmu dan juga Tuhan nenek moyangmu terdahulu.”

Dia (Fir’aun) berkata, “Sungguh, Rasulmu yang diutus kepada kamu benar-benar orang gila.”

Dia (Musa) berkata, “(Dialah) Tuhan (yang menguasai) timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya; jika kamu mengerti.”(asy-Syu’ara : 23-28)

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya :

Ketika datang penyematan sifat yang dilakukan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى terhadap diri-Nya sendiri berupa sifat rububiyyah, yakni bahwa Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى adalah sayyid, al-Malik, al-Ma’bud, yang memiliki kewenangan mutlak untuk mengatur para hamba-Nya, yang boleh jadi akan difahami darinya makna ‘jabarut’ (penguasaan) dan ‘al-Qahr’ (pemaksaan), datanglah sifat-Nya ‘rahmat’ (kasih sayang) setelahnya, agar terbentang harapan para hamba untuk mendapatkan ampunan jika ia tergelincir dan terjatuh (ke dalam kesalahan dan dosa) dan menjadi kuat harapannya jika ia tengah dirundung duka.[10]

Dan juga, ketika Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menyifati diri-Nya dengan sifat rububiyah, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjelaskan bahwa kerububiyahannya (tarbiyahnya) terhadap alam semesta bukan karena kebutuhan diri-Nya kepada mereka, seperti untuk menarik (mendapatkan) kemanfaatan, atau untuk menolak kemadharatan. Tetapi, sifat kerububiyahan-Nya tersebut karena keumuman rahmat-Nya dan cakupan menyeluruh kebaikan-Nya. [11]

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

Keduanya merupakan isim (nama) yang diambil dari kata ‘rahmah’, dalam bentuk superlatif. Kata الرَّحْمَنِ lebih tinggi nilai superlatifnya (lebih luas cakupan maknanya) daripada kata  الرَّحِيمِ. Hal demikian itu karena kata الرَّحْمَنِ disebutkan dalam bentuk wazan فَعْلَانٌ , di mana bentuk kata ini memberikan faedah ‘al-Katsrah’ (banyak) dan ‘as-Sa’ah’ (luas) [12]. Maka, kata الرَّحْمَنِ berarti : Dzat yang memiliki rahmat yang luas untuk seluruh makhluk-Nya. Sedangkan kata الرَّحِيمِ berarti : Dzat yang memiliki rahmat yang bersifat khusus, yang Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى khususkan untuk hamba-hamba-Nya yang beriman.[13]

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

يُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَيَرْحَمُ مَنْ يَشَاءُ وَإِلَيْهِ تُقْلَبُونَ [العنكبوت : 21]

Dan Dia (Allah) mengazab siapa yang Dia kehendaki dan memberi rahmat kepada siapa  yang Dia kehendaki, dan hanya kepada-Nya kamu akan dikembalikan (al-Ankabut : 21)

وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا  [الأحزاب : 43]

Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman (al-Ahzab : 43)

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Pemilik hari pembalasan

Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya :

Ketika Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman, menyifati diriNya dengan ‘rahmat’, di mana hal ini boleh jadi akan mengakibatkan seorang hamba akan terdominasi oleh harapan kepada-Nya, Dia Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman, mengingatkan dengan sifat ‘pemilik/penguasa di hari pembalasan’, agar seorang hamba memiliki rasa khawatir atas amal yang dilakukannya, dan agar ia tahu bahwa amal yang dilakukannya memiliki suatu hari di mana di hari tersebut akan tampak buahnya, berupa kebaikan dan keburukan.[14]

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Dua cara  membaca kata مَالِكِ  / مَلِكِ

مَالِكِ : yang mengatur dengan tindakan pada segala sesuatu yang  berada dalam kekuasaannya.[15]

مَلِكِ : yang mengatur dengan perkataan berupa perintah dan larangan pada siapa saja yang Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى kuasai. [16]

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Yakni, sesungguhnya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, Dialah yang bertindak pada semua makhluk-Nya dengan perkataan dan tindakan. [17]

Seperti Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ (17) ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ (18) يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ (19)

Dan tahukah kamu apakah hari pembalasan itu ?

Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu ?

(Yaitu) pada hari (ketika) seseorang sama sekali tidak berdaya (menolong) orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah (al-Infithar : 17-19).

Dan seperti,  kata Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى,

إِنَّا نَحْنُ نَرِثُ الْأَرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا وَإِلَيْنَا يُرْجَعُونَ  [مريم : 40]

Sesungguhnya Kamilah yang mewarisi bumi dan semua yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kami mereka dikembalikan. (Maryam : 40)

Dan, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman,

لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ  [غافر : 16]

Milik siapakah kerajaan pada hari ini ?” Milik Allah Yang Maha Esa, Maha Mengalahkan (Ghafir/Mukmin : 16)

يَوْمِ الدِّينِ

Yakni, Hari pembalasan dan hari penghisaban.[18]

 

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.

Yakni, ucapkanlah oleh kalian : إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ [19]

Maknanya, “Kami tidak menyembah kecuali Engkau, kami merendahkan diri dan menghinakan diri kepada-Mu semata, tidak ada sekutu bagi-Mu, dan kami pun tidak meminta pertolongan kecuali kepada-Mu semata, tidak ada sekutu bagi-Mu. [20]

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus

Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya :

Ketika disebutkan bahwa ibadah dan memohon pertolongan hanya kepada-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, datanglah permintaan agar mendapatkan hidayah (petunjuk) kepada jalan yang jelas, karena dengan petunjuk akan menjadi benarlah ibadah itu. Maka, barang siapa yang tidak mendapat petunjuk kepada jalan yang akan menyampaikan kepada tujuanya, niscaya ia tidak akan sampai kepada tujuannya.[21]

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus

Yakni, ucapkanlah oleh kalian : اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (Tunjukilah kami jalan yang lurus)[22]

Maknanya, tunjukkan kami jalan yang jelas yang tidak ada kebengkokan di dalamnya. Dan bimbinglah kami untuk menitinya. Dan, kokohkanlah langkah kami tetap berada di atas.[23]

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya

Kesesuaian ayat ini dengan ayat sebelumnya :

Ketika pada ayat yang lalu adalah permohonan untuk mendapatkan hidayah kepada suatu jalan yang paling mulia, maka cocoklah kalau kemudian meminta teman terbaik (untuk meniti jalan tersebut)[24], seraya mengatakan :  صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya

Yakni, jalan orang-orang yang telah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  anugerahkan kepada mereka berupa hidayah kepada jalan yang lurus tersebut, di mana mereka itu adalah orang-orang yang telah mengetahui kebenaran dan mengamalkannya, mengamalkan perintah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh keikhlasan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan mengikuti Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-, dan mereka inilah yang disebutkan di dalam firman-Nya,

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا  [النساء : 69]

Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para shiddiiqin (orang-orang yang sempurna pembenarannya terhadap apa-apa yang dibawa oleh para rasul), orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.(an-Nisa : 69) [25]

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ

Bukan (jalan) mereka yang dimurkai

Yakni, sesungguhnya di antara sifat orang-orang yang telah diberikan nikmat kepada mereka adalah bahwa mereka tidak seperti orang-orang Yahudi dan orang-orang yang menempuh jalan mereka dalam hal meninggalkan kebenaran setelah mengetahuinya.[26] Karena, sifat yang paling khusus orang-orang Yahudi adalah ‘dimurkai’, sebagaimana kata Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  tentang mereka :

مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ  [المائدة : 60]

Yaitu, orang yang dilaknat dan dimurkai Allah. (al-Maidah : 60)

Dan, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman,

فَبَاءُوا بِغَضَبٍ عَلَى غَضَبٍ  [البقرة : 90]

Karena itulah mereka menanggung kemurkaan demi kemurkaan (al-Baqarah : 90)

Dan dari Adi bin Hatim رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, ia berkata, Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- bersabda,

اَلْمَغْضُوْبُ عَلَيْهِمْ : اَلْيَهُوْدُ …

Orang-orang yang dilaknat itu adalah orang-orang Yahudi … (HR. Ibnu Hibban).

وَلَا الضَّالِّينَ

dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat

Yakni, sesungguhnya di antara sifat orang-orang yang telah diberikan nikmat kepada mereka adalah bahwa mereka tidak seperti orang-orang Nasrani dan orang-orang yang menempuh jalan mereka, orang-orang yang tidak mengetahui kebenaran, sehigga mereka menyembah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  dengan tanpa ilmu.[27]

Karena, sifat yang paling khusus orang-orang Nasrani adalah ‘sesat’, sebagaimana kata Allah  سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tentang mereka :

قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ  [المائدة : 77]

Orang-orang yang telah sesat dahulu dan (telah) menyesatkan banyak (manusia), dan mereka sendiri tersesat dari jalan yang lurus (al-Maidah : 77)

Dan dari Adi bin Hatim  رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, ia berkata, Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- bersabda,

وَالضَّالُوْنَ : اَلنَّصَارَى

Orang-orang yang tersesat itu adalah orang-orang Nasrani (HR. Ibnu Hibban).

 

Beberapa Faedah Tarbawiyah :

1-Bahwasanya ketika di awal surat berisikan pujian kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, pengagungan terhadap-Nya, dan sanjungan kepada-Nya, sementara di akhir surat berisikan celaan terhadap orang-orang yang berpaling dari keimanan kepada-Nya dan berpaling dari mentaati-Nya, hal tersebut menunjukkan bahwa awal kemunculan berbagai bentuk kebaikan-kebaikan dan tanda-tanda kebahagiaan adalah kesiapan diri untuk menghadapkan diri kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Sedangkan awal kemunculan keburukan dan puncak penyelisihan-penyelisihan adalah berpaling dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan jauh dari mentaati-Nya. [28]

2-Bahwa Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى adalah Dzat yang berhak untuk mendapatkan pujian yang sempurna, dan Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى teristimewakan dengan pujian tersebut dari semua sisi. Oleh karena itu, hendaknya seorang hamba menyadari bahwa setiap atau semua ketetapan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, maka hal tersebut terpuji atas-Nya.[29]

3-Bahwa rububiyah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى terbangun di atas rahmat (kasih sayang) yang luas terhadap makhluk-Nya dan bahwa rahmat tersebut akan tersampaikan kepada mereka. Karena, ketika Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman, رَبِّ الْعَالَمِينَ (Tuhan seluruh alam), seakan-akan seorang akan bertanya, ‘apa bentuk atau sifat kerububiyahan-Nya tersebut ?’ apakah sifat rububiyah yang akan memaksa dan selalu memberikan hukuman, ataukah sifat rububiyah yang penuh kasih sayang dan pemberian ?, maka, kemudian Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman, الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  (Maha Pengasih, Maha Penyayang).[30]

4-Bahwa di dalam firman-Nya : مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (Pemilik hari pembalasan) terdapat motivasi terhadap manusia agar beramal untuk hari itu (hari pembalasan) di mana orang-orang yang beramal bakal dibalas (dengan sempurna) pada hari tersebut.[31]

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

الْيَوْمَ تُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ [غافر : 17]

Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya.(Ghafir/al-Mukmin : 17)

5-Firman-Nya : إِيَّاكَ نَعْبُدُ  (Hanya kepada Engkaulah kami menyembah) merupakan bentuk berlepas diri dari kesyirikan, sedangkan  وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan) merupakan bentuk berlepas diri dari segenap daya dan kekuatan, dan merupakan penyandaran diri kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى , dan makna ini terdapat di dalam al-Qur’an tidak hanya satu tempat. Seperti firman-Nya,

فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ [هود : 123]

Maka sembahlah Dia dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan Tuhanmu tidak akan lengah terhadap apa yang kamu kerjakan (Hud : 123)

Oleh karena itu, sebagian salaf-رَحِمَهُمُ اللهُ-mengatakan,

اَلْفَاتِحَةُ سِرُّ الْقُرْآنِ وَسِرُّهَا هَذِهِ الْكَلِمَةِ : إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Al-Fatihah adalah rahasia al-Qur’an, dan rahasianya adalah kata ini : Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.”[32]

6-Pendidikan seorang muslim untuk kembali dan menyandarkan diri kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Di antara bentuknya adalah permohonan tolongnya/bantuannya kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى untuk beribadah kepada-Nya dan doanya yang selalu dipanjatkan agar Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menunjukinya jalan yang lurus. [33]

 

Beberapa Faedah Ilmiyah :

1-Pada firman-Nya, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam) didahulukannya sifat uluhiyah atas sifat rububiyah, hal itu boleh jadi karena Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى merupakan nama yang khusus disandang-Nya dan yang diikuti oleh semua nama-nama-Nya  (yang lainnya). Bisa jadi pula karena orang-orang yang datang kepada mereka para Rasul, mereka mengingkari sifat uluhiyah saja. Dan karena nama ‘Allah’ menunjukkan kepada keadaan-Nya ‘diibadahi/disembah’, diibadahi oleh makhluk dengan penuh kecintaan, pengagungan, dan ketundukan, dan segera menjadi tempat sandaran untuk memenuhi berbagai bentuk kebutuhan dan keperluan, dan hal tersebut mengharuskan adanya kesempurnaan sifat rububiyah-Nya dan rahmat-Nya.[34]

2-Pada firman-Nya, يَوْمِ الدِّينِ   (Hari pembalasan) terdapat penetapan adanya kebangkitan dan pembalasan.[35]

3-Diprioritaskannya penyebutan sifat keilahiyahan-Nya, kerububiyahan-Nya, rahmat-Nya dan kekuasaan-Nya di awal surat al-Fatihah atas penyebutan semua sifat, karena keempat sifat ini mengharuskan semua sifat-sifat kesempurnaan-Nya-عَزَّوَجَلَّ-. [36]

4-Pada firman-Nya,  اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ  (Tunjikilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya) terdapat perincian setelah penyebutan secara global. Karena firman-Nya,  اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ  global, dan firman-Nya, صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ terperinci. Faedahnya, bahwa jiwa itu bila datang yang global akan menanti-nanti adanya perincian dan penjelasan. Maka, ketika datang perincian (atas sesuatu yang disebutkan secara global) itu datanglah pada jiwa itu kesiapan untuk menerimanya dengan penuh penantian terhadap perincian tersebut.[37]

5-Penyandaran kenikmatan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  semata dalam hal pemberian hidayah kepada orang-orang yang telah dianugerahkan kenikmatan kepada mereka, karena hidayah itu merupakan karunia yang semata-mata (datang) dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. [38]

6-Dikedepankannya penyebutan ‘orang-orang yang dimurkai’ atas ‘orang-orang yang sesat’ karena mereka itu memiliki tingkatan penyelisihan yang lebih berat terhadap kebenaran daripada orang-orang yang sesat. Karena orang yang menyelisihi (kebenaran) dalam keadaan ia mengetahui (kebenaran itu) akan sulit untuk merujuk diri. Berbeda dengan orang yang melakukan penyelisihan karena kebodohan (ketidaktahuan).’[39] Dan karena orang-orang yang disifati dengan ‘dimurkai’ yang paling khusus, mereka adalah orang-orang Yahudi, dan orang-orang yang disifati dengan ‘sesat’ yang paling khusus adalah mereka orang-orang Nasrani, dan orang-orang Yahudi itu lebih dahulu dalam hal waktu (hidupnya) atas orang-orang Nasrani.[40]

 

Balaghah Ayat-ayat :   

1-Kebagusan pembukaan al-Qur’an dengan surat nan agung ini, yang  mana surat ini mencakup maksud-maksud kitab ini seluruhnya. Sebagaimana pula surat ini dibuka dengan semua bentuk ungkapan yang berisikan pujian, kesyukuran dan sanjungan. Namun, jika awal surat ini (dibuka dengan) ungkapan : بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ –menurut pendapat yang memperhitungkan ungkapan tersebut termasuk bagian dari surat ini-, maka cukuplah hal tersebut sebagai sebuah kebagusan, karena awal pernyataannya dibuka dengan ‘nama Allah.’ Dan, jika awalnya adalah ungkapan ‘الْحَمْدُ لِلَّهِ’ maka, pujian terhadap Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan sanjungan kepada-Nya dengan sesuatu yang berhak disandang-Nya, dan pensifatanNya dengan sesuatu yang dimiliki-Nya berupa sifat-sifat yang tinggi merupakan perkara terbaik dibukanya perkataan. [41]

2-Firman-Nya, الْحَمْدُ لِلَّهِ merupakan jumlah ismiyyah (kalimat yang diawali dengan kata benda), di mana hal ini menunjukkan kepada ‘daimumah’ (keberlangsungan) pujian tersebut sacara terus menerus (tanpa henti) dan langgeng. [42] Alif dan lam dalam kata الْحَمْدُ lil-istighraq, sehingga berlaku umum untuk semua macam/bentuk pujian…sedangkan lam dalam kata ‘ لِلَّهِ  ‘ memberikan faidah ‘istihqaq’ (keberhakan) dan ikhtishash (kekhususan). Yang berarti, pujian seluruhnya berhak disandang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى/berhak ditujukan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, dan khusus untuk-Nya bukan selain-Nya.[43]

3-Pada firman-Nya, يَوْمِ الدِّينِ pengkhususan kata ‘yaum’ (hari) dengan ‘pengidhafahan’ (disandarkan kepada kata ‘ad-Diin’), bisa jadi untuk mengagungkan hari tersebut dan (untuk menunjukkan) kedahsyatan huru haranya. Atau,  untuk menunjukkan keesaan-Nya dengan terlaksananya urusan/perintah dan terputusnya segala bentuk hubungan antara para raja (para penguasa) dan orang-orang yang dikuasai ketika itu secara total.[44]

4-Pada firman-Nya, إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ , terdapat beberapa sisi balaghah :

a-Di dalamnya ada taqdim (pengedepanan kata yang seharusnya diakhirkan penyebutannya) dan ta’khir (pengakhiran kata yang seharusnya didahulukan penyebutannya), di mana ‘maf’ul bih’ (kata yang kedudukannya sebagai objek) disebutkan dahulu, yaitu, إِيَّاكَ , dan hal tersebut memberikan faedah ‘al-Qashr’ (pembatasan) dan al-ikhtishash (pengkhususan), yakni (maknanya) ‘Kami tidak menyembah selain-Mu’ dan ‘Kami tidak meminta petolongan kepada selain-Mu.’ Dan, hal tersebut juga untuk ‘ta’dzim’ (pengagungan) dan ihtimam (perhatian), karena orang Arab mengedepankan/mendahulukan sesuatu yang terpenting. [45]

Dan, ‘ibadah’ dikedepankan atas ‘isti’anah’, karena ibadah itu termasuk sebab diperolehnya ‘I’anah’ (pertolongan) dan terpenuhinya hajat. Dan juga karena keadaan/posisi ibadah adalah maksud dan tujuan dari penciptaan makhluk, sedangkan isti’anah merupakan wasilah (sarana menuju) kepadanya. Dan, juga untuk penyelarasan pucuk-pucuk ayat. [46]

b-Di dalamnya ada iltifat, dari dhamir (kata ganti) ghaibah kepada dhamir khithab. Kalau ungkapan itu diberlakukan berdasarkan asalnya, niscaya dikatakan, ‘إِيَّاهُ نَعْبُدُ’ (kepada-Nya kami menyembah), dan variasi dalam menyampaikan ungkapan dan bergantinya dari satu gaya ungkapan ke gaya ungkapan yang lainnya termasuk kebiasaan yang digunakan oleh orang-orang Arab. Karena, dalam hal tersebut terdapat pembagusan ungkapan dan juga akan memompa semangat orang yang mendengarkannya, serta membangunkan kesadarannya, sehingga ia akan semakin perhatian terhadap ungkapan yang disampaikan. Dan, boleh jadi akan memberikan faedah lebih spesifik selain faedah ini terkait dengan posisi-posisinya, di antaranya di sini adalah bahwa ‘khithab (dhamir ‘كَ ‘, yang berarti ‘Engkau’ (Allah)) di dalamnya terdapat (faedah) ‘menghadirkan kesadaran kedekatan diri dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى’, maka seakan-akan ketika dirinya menyanjung dan memuji Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, ia tengah  mendekat dan hadir di hadapan-Nya-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-. [47]

Pengulangan kata “إِيَّاكَ “ 

c-Di dalamnya ada pengulangan kata إِيَّاكَ “. Pengulangan ini (terjadi) karena dua fi’il (kata kerja) yang disebutkan berikutnya berbeda (tidak sama), sehingga masing-masing dari kata إِيَّاكَ tersebut membutuhkan kepada adanya ta’kid (penguatan) dan ihtimam (perhatian). Jadi, pengulangan kata ini untuk menguatkan terhadap pengkhususan untuk-Nya dengan masing-masing dari ibadah dan isti’anah (permintaan tolong kepada-Nya) dan untuk menanpakkan rasa kelezatan dengan bermunajat dan khithab (menunjukkan perkataan kepada-Nya).[48]

Nun Jama’ pada kata نَعْبُدُ dan  نَسْتَعِينُ           

d-Datangnya nun jama’ pada firman-Nya,  نَعْبُدُ dan  نَسْتَعِينُ, ada yang mengatakan hal itu karena maqamnya, ketika maqamnya agung, maka tidak cukup dengan menggunakan dhamir (kata ganti) yang hanya menunjukkan satu orang pelakunya (yang beribadah dan meminta pertolongan) sebagai pembatasan untuk dirinya sendiri, dan mengecilkan perkara ibadah dan memohon pertolongan, sehingga disebutkannya dengan nun jama’ (yang  menunjukan pelakunya banyak) sebagai maksud ketawadhuan bukan untuk mengagungkan diri.

Ada juga yang mengatakan, ‘boleh juga untuk menunjukkan pengagungan diri’, seakan-akan dikatakan kepada si hamba, ‘Bila Anda berada dalam beribadah (kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى) maka Anda mulia dan kedudukanmu besar, maka katakanlah : إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ , dan bila Anda berada di luar ibadah, maka janganlah Anda mengatakan, ‘ نَحْنُ ‘ (kami) dan janganlah pula Anda mengatakan فَعَلْنَا (kami telah melakukan) dan lain sebagainya.[49]

Ada juga yang mengatakan, ‘Karena maqamnya adalah maqam ubudiyah (penghambaan) dan merasa butuh kepada Rabb-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-, dan pengakuan akan sangat butuhnya kepada penghambaan diri kepada-Nya, permintaan pertolongan kepada-Nya dan petunjuk-Nya. Yakni, kami para hamba-Mu mengakui penghambaan diri kepadaMu. Ini seperti seorang abdi (hamba) mengatakan kepada raja yang diagungkan/dihormati kedudukannya, ‘kami adalah para abdimu dan budak-budakmu, dan dibawah ketaatan kepadamu, dan kami tidak akan menyelisihi perintahmu’ ; niscaya hal ini akan lebih baik dan lebih besar posisinya di sisi sang raja daripada seorang hamba mengatakan (kepada sang raja) : aku adalah abdimu dan budakmu’, dan oleh itu, kalau ia mengatakan, ‘aku saja adalah budakmu/orang yang berada di bawah kekuasaanmu’ niscaya akan mendorong kemurkaan sang raja. Namun, bila ia mengatakan, ‘aku dan semua orang yang berada di negeri ini adalah para budakmu/orang-orang yang berada di bawah kekuasaanmu, para abdimu dan tentaramu’ niscaya hal itu lebih agung dan lebih berbobot. Karena, hal itu mengandung pengertian bahwa ‘abdi-abdimu itu banyak sekali, sementara aku adalah salah satu di antara mereka, dan masing-masing kami berserikat dalam penghambaan diri kepada-Mu dan memohon pertolongan kepada-Mu, serta meminta hidayah (petunjuk) dari-Mu.[50]

5-Pada firman-Nya : اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ    

اهْدِنَا merupakan fi’il amar (kata kerja perintah), akan tetapi yang dimaksud adalah pencarian dan doa (permohonan), bukan hakikat perintah. Karena hal itu adalah permintaan dari orang yang lebih rendah-yaitu makhluk – kepada Dzat yang lebih tinggi (paling tinggi) –yaitu, sang pencipta-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-. [51]

Ta’diyatul Fi’li  اهْدِنَا dengan sendirinya, dan tidak ta’diyahnya dengan huruf jar (seperti إِلَي, yang di antara artinya adalah ‘kepada’) pada firman-Nya : اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ  karena untuk mencakup permintaan hidayah ; hidayah ilmu dan hidayah taufik.[52]

6-Pada firman-Nya : صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

Merupakan kejelasan setelah ketidakjelasan, perincian setelah global, faedahnya menimbulkan kerinduan jiwa, penyiapannya; untuk menerima keterangan dan perincian, sehingga akan lebih membantu dalam memahami, dan gaya ungkapan seperti ini memiliki faedah seperti halnya taukid maknawi. Juga, padanya terdapat penetapan akan hakikat jalan ini dan pengejewantahan pemahamannya di dalam jiwa mereka. Sehingga diperoleh pemahamannya dua kali : sehingga diperolehlah faidah baginya seperti  yang diperoleh dengan menggunakan taukid lafdzi.[53]

Di dalamnya juga ada taukid (penegasan) karena ungkapan : صِرَاطَ الَّذِينَ   … dan seterusnya merupakan badal dari ungkapan (sebelumnya) : الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ  , sedangkan badal sesui dengan niat pengulangan ‘amil, seakan-akan ia (orang yang mengucapkannya) mengatakan : اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ …اهْدِنَا صِرَاطَ الَّذِينَ  (tunjukilah kami jalan yang lurus … tunjukilah kami jalan yang lurus), maka di dalamnya terdapat penyebutan dua kali dan pengulangan, dan memberikan kesadaran bahwa jalan yang lurus itu, penjelasannya dan tafsirannya adalah ‘jalan kaum Muslimin’, agar hal itu sebagai sebuah bentuk persaksian untuk jalan kaum Muslimin dengan keistiqamahan/kelurusan yang disampaikan dengan sangat gamblang dan paling kuat. Dan boleh juga ungkapan : صِرَاطَ الَّذِينَ sebagai athaf bayan, dan faedahnya ketika itu adalah al-Idhah (memberikan kejelasan).[54]

Wallahu A’lam

(Redaksi)

Sumber :

Banyak mengambil faedah dari ‘at-Tafsir al-Muharrar’. Dengan gubahan dan tambahan.

 

Catatan :

[1] Ungkapan ini ditujukan kepada beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. namun yang dimaksudkan adalah beliau dan umatnya, karena asalnya adalah keikutsertaan mereka dengan beliau pada setiap hal yang diturunkan kepada beliau kecuali yang berlaku khusus untuk beliau. Misykatu al-Mashabih Ma’a Syarhihi Mura’atu al-Mafaatih, 7/398.

[2] Yakni, setiap kalimat sempurna yang berdiri sendiri. Misykatu al-Mashabih Ma’a Syarhihi Mura’atu al-Mafaatih, 7/398.

[3] Yakni, engkau akan diberikan sesuatu yang terkandung pada kalimat tersebut berupa permintaan, seperti firman-Nya, “اهدنا الصراط المستقيم ”  (Tunjukilah kami jalan yang lurus), dan seperti (pula) firman-Nya  “غفرانك “seperti (pula) firman-Nya, “ربنا لا تؤاخذنا ” dan contoh-contoh semisal lainnya. Adapun dalam hal kalimat pada ayat yang tidak dalam bentuk doa/permintaan, seperti berupa pujian dan sanjungan, maka penafsiran makna ‘kamu akan diberikannya’, yakni, engkau akan diberikan pahalanya. Misykatu al-Mashabih Ma’a Syarhihi Mura’atu al-Mafaatih, 7/398.

[4] Sebagian sahabat kami dan sekelompok dari kalangan para ulama membawa pemahaman ungkapan ini kepada shalat yang dilirihkan bacaannya oleh imam. Sementara yang lain membawa pemahaman ungkapan ini kepada ‘mengingat di dalam diri apa yang dibaca oleh sang imam dan mentadabburinya, dan menyibukkan dengan melirihkan bacaannya dengan hatinya, bukan dengan lisannya, agar memungkinkan baginya untuk memikirkan dan merenungkan makna-maknanya. Dan, mereka membawa makna sabada beliau :   لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ (tidak sah shalat bagi siapa yang tidak membaca Fatihatul Kitab (surat al-Fatihah) berlaku untuk seorang imam dan orang yang shalat sendirian. Ikmal al-Mu’allim Syarh Shahih Muslim, al-Qadhi ‘Iyadh (2/149)

Ada juga yang mengatakan : maknanya (makna perkataan Abu Hurairah ‘bacalah surat tersebut dalam dirimu.’) yakni, ‘Bacalah surat tersebut secara lirih di mana dirimu dapat mendengarnya.’ Syarh an-Nawawi ‘Ala Muslim, 4/103)

[5] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 1/139-141, Tafsir Ibnu Katsir, 1/135.

[6] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 1/121, 124, 138. At-Tafsir al-Wasith, al-Wahidi, 1/65. Tafsir Ibnu ‘Athiyah, 1/66. Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, 12/14. Bada-i’ al-Fawa-id, Ibnul Qayyim 3/9. Tafsir Ibnu Katsir, 1/131, Tafsir as-Sa’diy, hal. 39. Tafsir Ibnu Utsaimin-al-Fatihah wa al-Baqarah, 1/9)

[7] Lihat: Madarij as-Salikin, Ibnul Qayyim, 1/34, Tafsir as-Sa’diy, 5/298.

[8] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 1/121, 124. At-Tafsir al-Wasith, al-Wahidi, 1/64. Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, 12/14. Madarij as-Salikin, Ibnul Qayyim, 1/32. Tafsir as-Sa’diy, hal. 39. Tafsir Ibnu Utsaimin-al-Fatihah Wa al-Baqarah, 1/9. Dan di antara yang berpendapat dengan ini dari kalangan salaf adalah Ibnu Abbas. Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 1/121)

[9] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 1/142-145. Tafsir Ibnu Katsir, 1/131. Dan di antara kalan salaf yang mengatakan tentang makna : اَلْعَالَمِيْنَ semisal yang disebutkan adalah Ibnu Abbas dan Sa’id bin Jubair. Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 1/145.

[10] Lihat : Tafsir Abu Hayyan, 1/35.

[11] Tafsir al-Manar, Muhammad Rasyid Ridha, 1/43.

[12] Lihat : Lisanul Arab, Ibnu Manzhur, materi : رحم   tafsir Ibnu Katsir, 1/124, 126. Tafsir Ibnu Utsaimin-al-Fatihah wa al-Baqarah, 1/5.

[13] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 1/127-128. Tafsir al-Qurthubi, 1/150. Adh-wa-ul Bayan, asy-Syinqithi, 1/5. Tafsir Ibnu Utsaimin-al-Fatihah wa al-Baqarah, 1/5. Di antara yang mengatakan ini dari kalangan salaf adalah adh-Dhahhak dan al-‘Arzami. Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 1/126. Tafsir Ibnu Abi Hatim, 1/28.

[14] Lihat : Tafsir Abu Hayyan, 1/40

[15] Yang membaca dengan bacaan ini : Ashim, al-Kisa-iy, Ya’qub, dan Khalaf. Lihat : an-Nasyr, Ibnul Jazariy, 1/271. Untuk makna dari bacaan ini, silakan lihat Tafsir Ibnu Jarir, 1/150, Tafsir Ibnu Katsir, 1/133-134.

[16] Ahli Qira’ah yang lainnya membaca dengan bacaan ini. Lihat : an-Nasyr, Ibnul Jauzi, 1/271. Dan untuk makna bacaan ini, silakan lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 1/150. Tafsir Ibnu Katsir, 1/133-134.

[17] Lihat : Tafsir ar-Raghib, 1/56. Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, 6/262. Tafsir Ibnu Katsir, 1/133. Madariju as-Salikin, Ibnul Qayyim, 1/19. Tafsir Ibnu Utsaimin –Al-Fatihah Wa al-Baqarah, 1/12.

[18] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 1/157-158. Tafsir Ibnu Katsir, 1/134

[19] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 1/139-140

[20] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 1/159-160, 166. Tafsir Ibnu Katsir, 1/134-135

[21] Lihat  Tafsir Abu Hayyan, 1/48

[22] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 1/76-177. Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah, 7/528. Tafsir Ibnu Asyur, 1/189.

[23] Ibnu Jarir berkata : Ummat dari kalangan ahli takwil seluruhnya telah sepakat bahwa ash-Shirath al-Mustaqim (jalan yang lurus) adalah jalan yang jelas yang tidak ada kebengkokan padanya. Tafsir Ibnu Jarir, 1/170. Dan, lihat pula : Tafsir Ibnu Jarir, 1/170, 171, 176. Madarij as-Salikin, Ibnul Qayyim, 1/9. Tafsir Ibnu Katsir, 1/137, 140. Tafsir as-Sa’diy, hal : 39

[24] Lihat : Nazhmu ad-Durar, al-Biqa-‘iy, 1/45

[25] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 1/176-180. Al-Wajiz, al-Wahidi, hal : 89. Tafsir Ibnu ‘Athiyyah, 1/74. Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, 10/107. Tafsir Ibnu Katsir, 1/137, 140. Tafsir Ibnu Asyur, 1/191. Tafsir as-Sa’diy, hal : 39. Tafsir Ibnu Utsaimin-al-Fatihah Wa al-Baqarah, 1/16,17

[26] Ibnu Abi Hatim mengatakan : “Aku tidak tahu adanya perbedaan pendapat di kalangan para ahli tafsir terkait dengan huruf ini.(Tafsir Ibnu Abi Hatim, 1/31. Dan, lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 1/185. Tafsir al-Mawardi, 1/61. At-Tarsir al-Wasith, al-Wahidi, 1/70. Tafsir Ibnu ‘Athiyyah, 1/76. Madariju as-Salikin, Ibnul Qayyim, 1/78. Tafsir Ibnu Katsir, 1/140. Tafsir Ibnu Asyur, 1/195.

[27] Ibnu Abi Hatim mengatakan : “Aku tidak tahu adanya perbedaan pendapat di kalangan para ahli tafsir terkait dengan huruf ini.(Tafsir Ibnu Abi Hatim, 1/31. Dan, lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 1/193-194. Tafsir al-Mawardi, 1/61. At-Tarsir al-Wasith, al-Wahidi, 1/70. Madariju as-Salikin, Ibnul Qayyim, 1/78. Tafsir Ibnu Katsir, 1/140, 141.

[28] Lihat : Tafsir asy-Syarbiniy, 1/13

[29] Lihat : Tafsir Ibnu Utsaimin –al-Fatihah wa al-Baqarah, 1/10

[30] Lihat : Tafsir Ibnu Utsaimin –al-Fatihah wa al-Baqarah, 1/11.

[31] Lihat : Tafsir Ibnu Utsaimin –al-Fatihah wa al-Baqarah, 1/12.

[32] Lihat : Tafsir Ibnu Katsir, 1/134.

[33] Lihat : Tafsir Ibnu Utsaimin –al-Fatihah wa al-Baqarah, 1/16.

[34] Lihat : Madariju as-Salikin, Ibnul Qayyim, 1/56. Tafsir Ibnu Utsaimin –al-Fatihah wa al-Baqarah, 1/10.

[35]  Lihat : . Tafsir Ibnu Utsaimin –al-Fatihah wa al-Baqarah, 1/13.

[36] Lihat : Madariju as-Salikin, Ibnul Qayyim, 1/56

[37] Lihat : . Tafsir Ibnu Utsaimin –al-Fatihah wa al-Baqarah, 1/19.

[38] Lihat : . Tafsir Ibnu Utsaimin –al-Fatihah wa al-Baqarah, 1/19.

[39] Lihat : . Tafsir Ibnu Utsaimin –al-Fatihah wa al-Baqarah, 1/20.

[40] Lihat : Bada-i’ al-Fawa-id, Ibnul Qayyim, 2/33.

[41] Lihat : Tafsir Abi Hayyan, 1/152.

[42] Lihat : I’rab al-Qur’an Wa Bayanuhu, Muhyiddin Durwaiys, 1/16.

[43] Lihat : Tafsir Abu Hayyan, 1/130, 152. Tafsir Ibnu Asyur, 1/160.

[44] Lihat : Tafsir Abi Sa’ud, 1/16.

[45] Lihat : Tafsir Zamakhsyariy, 1/39. Tafsir ar-Raziy, 1/208. Tafsir Abu Hayyan, 1/141.

[46] Lihat : Tafsir az-Zamakhsyari-Hasyiyah Ibnul Munir, 1/39-40. Tafsir al-Baidhawi, 1/29. Tafsir Abi Hayyan, 1/142-143.

Ibnul Qayyim mengatakan : “Dikedepankannya ibadah atas isti’anah di dalam surat al-Fatihah masuk dalam bab mendahulukan tujuan-tujuan atas sarana-sarana, karena ibadah itu merupakan tujuan para hamba yang karenanya mereka diciptakan, sedangkan isti’anah merupakan sarana kepada ibadah, akan tetapi : إِيَّاكَ نَعْبُدُ berkaitan dengan keilahiyahan-Nya dan nama-Nya Allah, sedangkan : وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ berkaitan dengan rububiyah-Nya dan nama-Nya ar-Rabb, maka dikedepankanlah : إِيَّاكَ نَعْبُدُ atas : وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ  sebagaimana dikedepankannya nama Allah atas ar-Rabb di awal surat. Dan karena : إِيَّاكَ نَعْبُدُ merupakan bagian ar-Rabb, sehingga berada di posisi pertengahan awal, yang merupakan bentuk sanjungan kepada Allah, karena keadaannya lebih utama untuk mendapatkan hal itu, sedangkan وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ merupakan bagian hamba, sehingga ia termasuk setengah bagian (kedua) (dari surat al-Fatihah) yang merupakan miliknya, yaitu, اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ    sampai akhir surat. (Madariju as-Salikin, 1/75)

[47] Lihat : Tafsir al-Baidhawi, 1/29. Tafsir Abu Hayyan, 1/153. Ad-Durru al-Mashnun, as-Samin al-Halabiy, 1/57. I’rab al-Qur’an Wa Bayanuhu, Muhyiddin Durwaisy, 1/16.

[48] Lihat : Tafsir Ibnu ‘Athiyyah, 1/72. Tafsir Abi as-Sa’ud, 1/17.

[49] Lihat : Tafsir ar-Razi, 1/212. Tafsir asy-Syaukaniy, 1/27. I’rab al-Qur’an Wa Bayanuhu, Muhyiddin Durwaisy, 1/17.

[50] Lihat : Bada-i’ al-Fawa-id, Ibnul Qayyim, 2/39.

[51] Lihat : ad-Durru al-Mashnun, as-Samin al-Halabi, 1/61. Dalil al-Balaghah al-Qur-aniyyah, ad-Dabl, hal : 13.

[52] Lihat : Tafsir Ibnu Utsaimin –al-Fatihah wa al-Baqarah, 1/16.

[53] Lihat : Tafsir Abu Hayyan, 1/153. Tafsir bnu Asyur, 1/192.

[54] Lihat : Tafsir Abu Sa’ud, 1/18. Tafsir Ibnu ‘Asyur, 1/192.