Syumait bin ‘Ajlan rahimahullah berkata:
“Sesungguhnya kesejahteraan menutupi (keadaan sebenarnya dari) orang yang baik dan orang yang buruk. Namun ketika ujian datang, barulah tampak (perbedaan) di antara kedua jenis orang tersebut.
Maka datanglah ujian kepada orang mukmin yang menghilangkan hartanya, pembantunya, dan hewan tunggangannya, hingga ia lapar setelah sebelumnya kenyang, berjalan kaki setelah sebelumnya berkendara, dan melayani dirinya sendiri setelah sebelumnya dilayani.
Maka, ia bersabar dan ridha dengan ketentuan Allah Azza wa Jalla, dan berkata: ‘Ini adalah bentuk perhatian dari Allah Azza wa Jalla kepadaku, ini akan meringankan perhitungan (amal)ku esok (di hari kiamat).”
[Ibnul Jauzi, Shifatush Shafwah, hal 56]



