[Khuthbah Pertama]

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كثيراً

Segala puji bagi Allah, kita memuji, memohon pertolongan, dan meminta ampunan kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa dan keburukan amal perbuatan kita. Barangsiapa diberi hidayah oleh Allah maka tidak ada orang yang mampu menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan oleh Allah maka tidak ada orang yang mampu memberinya petunjuk.

Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah senantiasa mencurahkan limpahan selawat dan salam atas beliau, keluarga, dan para sahabat beliau seluruhnya. Amma ba‘du :

Ibadallah !

Bertakwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah, dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan pegang teguhlah tali ikatan yang sangat kuat dari agama Islam.

Wahai kaum Muslimin :

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah menganugerahkan kepada makhluk-Nya beragam bentuk ibadah; di antaranya ada yang bersifat batin di dalam hati, dan sebagian lainnya tampak pada anggota tubuh. Rukun-rukun Islam dan iman berporos pada hal tersebut.

Para jamaah haji telah kembali dari Baitullah al-Haram dan tempat-tempat suci setelah menunaikan ibadah fisik yang paling panjang dan paling rinci.

Syaikhul Islam رَحِمَهُ اللهُ  berkata:  “Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  menunjuk Abu Bakar untuk memimpin haji pertama yang dilakukan dari kota Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . Ilmu tentang manasik adalah perkara yang paling rinci dalam seluruh ibadah. Seandainya Abu Bakar tidak memiliki ilmu yang luas tentang hal itu, tentu beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  tidak akan menunjuknya.” sebagai Amirul hajj pada tahun ke-9 (H)  agar beliau mengajarkan hukum-hukum haji kepada orang-orang yang akan menunaikan haji. Karena, beliau رَضِيَ اللهُ عَنْهُ merupakan sahabat Nabi yang paling mengerti (tentang ibadah ini).

Dalam ibadah haji tampak keagungan Islam dalam menyatukan kaum Muslimin di atas kebenaran, serta menghimpun mereka di atas kalimat Islam. Mereka menuju satu tempat yang sama, berdoa kepada satu Tuhan yang sama, mengikuti satu Nabi yang sama, dan membaca satu Kitab yang sama.

Di sana lenyap segala perbedaan yang lahir dari kemewahan dunia, dan manusia tampak setara tanpa perbedaan di antara mereka selain ketakwaan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Tidak ada hal yang dapat membedakan mereka satu sama lainnya dalam penampilannya. Karena, mereka semuanya mengenakan pakaian yang sama seperti kain kafan.

Dan Allah  سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menampakkan tanda-tanda penciptaannya yang menunjukkan kebenaran para utusan-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Nabi Ibrahim عَلَيْهِ السَّلَامُ berdoa kepada Tuhannya:

فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ الناسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ

“Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka.” (QS. Ibrahim: 37).

Maka Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى pun mengabulkan doanya. Allah  سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman:

وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

“Dan mereka akan datang kepadamu dengan mengendarai unta yang kurus dari setiap jalan yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 27).

Ibnu Katsir رَحِمَهُ اللهُ  menerangkan :

Tidaklah ada seorang pun dari kaum muslimin kecuali ia memiliki kerinduan untuk melihat Ka’bah dan melakukan tawaf di sekelilingnya. Manusia mendatanginya dari berbagai arah dan seluruh penjuru negeri.”

Seorang yang ikhlas kepada Allah  سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan dikabulkan doanya meskipun setelah ia wafat. Setiap tahun tampak pengaruh doa pemimpin golongan yang bertauhid, yaitu Nabi Ibrahim عَلَيْهِ السَّلَامُ. Kaum Muslimin pun memenuhi seruan beliau dan mendatangi -meski harus menanggung beratnya perjalanan- sebuah lembah yang tidak memiliki tanaman, demi menunjukkan kebutuhan mereka kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  dengan wukuf di ‘Arafah dan tempat-tempat suci, serta menunjukkan kerendahan diri mereka di hadapan Tuhan mereka dengan meninggalkan pakaian berjahit dan mencukur kepala sebagai bentuk ketundukan mereka kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى .

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah berjanji untuk menjaga agama ini. Meski zaman terus berlalu dan keadaan berubah-ubah, agama ini tetap bersih, sempurna, dan jelas, seakan-akan wahyu baru saja turun hari ini. Mereka mengenakan pakaian sebagaimana yang dikenakan Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ berupa izar dan rida’ (dua kain ihram), bertalbiyah dengan talbiyah beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , melempar jumrah sebagaimana beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melempar, dan tawaf di Baitullah sebagaimana beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  bertawaf.

Kesetiaan adalah salah satu sifat mulia para lelaki sejati. Nabi kita Muhammad  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ telah bersabar menghadapi gangguan dan kesulitan agar umatnya dapat menikmati hidayah. Nabi  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda kepada ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهَا :

لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ مَا لَقِيتُ

“Sungguh aku telah mengalami apa yang aku alimi berupa tindakan buruk yang dilakukan oleh kaummu.” (Muttafaq ‘Alaihi)  

Demikian pula para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka meninggalkan kampung halaman dan hidup terasing di berbagai negeri demi membawa risalah Nabiصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  dan menyampaikannya dengan penuh tekad dan amanah. Mereka menyebarkan Islam ke berbagai penjuru dunia melalui dakwah dan keteladanan.

Karena itu, wajib atas setiap Muslim untuk menunaikan hak-hak Nabi  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ    atas apa yang beliau berikan kepada agama ini, yaitu dengan mencintai dan mengikuti beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  , serta menunaikan hak para sahabat radhiyallahu ‘anhum dengan mencintai, mendoakan keridhaan, dan membela mereka.

Dan, ikhlash memurnikan ketaatan hanya untuk Allah سُبْحانه وتعالى dalam setiap amal merupakan syarat dalam diterimanya amal. Allah Maha Kaya lagi Maha Perkasa, Dia سُبْحانه وتعالى tidak akan menerima suatu amalan yang tidak diinginkan untuk wajah-Nya. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda :

«إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ العَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصاً وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ» (رواه النسائي)،

“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal kecuali yang dilakukan dengan kemurnian dan untuk mencari wajah-Nya.” (HR. an-Nasai)

Barang siapa memasukkan riya dan sum’ah dalam aktifitas ibadah-ibadahnya, atau ia mencari pujian manusia terhadap dirinya, niscaya ibadahnya tidak diterima. Ia tidak memperoleh apa pun selain kecapean dan kelelahan. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman di dalam hadis Qudsi :

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِيَ غَيْرِي؛ تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ (رواه مسلم)،

“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa melakukan suatu amalan dengan menyekutukan Aku dengan selain Aku, niscaya Aku tinggalkan dirinya dan sekutunya.” (HR. Muslim)

Barang siapa mengikhlaskan amalnya untuk Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ,niscaya Allah menerima amalnya dan melipat gandakan pahalanya. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُۚ [البقرة: 261]

Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. (al-Baqarah : 261)

Berkata Ibnu Katsir رَحِمَهُ اللهُ : Yakni, sejauh mana keikhlasannya dalam amalnya.

Barang siapa mengikuti jejak Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ    dalam hajinya, maka sepantasnya ia meneladani beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ   dalam seluruh urusannya. Itulah jalan kemenangan dan keberuntungan. Allahسُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  berfirman :

وَإِن تُطِيعُوهُ تَهۡتَدُواْۚ [النور: 54]

“Dan jika kalian menaati beliau, niscaya kalian akan mendapat petunjuk.” (QS. An-Nur: 54).

Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ juga bersabda:

إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللَّهِ، وَسُنَّتِي (رواه الحاكم)

“Sungguh, aku telah meninggalkan pada kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat setelah berpegang kepada keduanya: Kitabullah dan Sunnahku.” (HR. Al-Hakim).

Nikmat akan tetap terjaga dan bertambah dengan rasa syukur. Barang siapa melakukan suatu ibadah lalu memuji Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى atas hal tersebut, maka Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan memudahkan baginya ibadah lainnya setelahnya agar ia kembali meraih pahala. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  berfirman:

وَٱلَّذِينَ ٱهۡتَدَوۡاْ زَادَهُمۡ هُدٗى وَءَاتَىٰهُمۡ تَقۡوَىٰهُمۡ [محمد: 17]

Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahkan ketakwaan kepada mereka.” (QS. Muhammad: 17).

Oleh karena itu, disyariatakan untuk bertahmid, mengucapkan  «الحمد للَّه» sebanyak 33 kali di penghujung setiap shalat fardhu untuk bersyukur kepada Allah atas dimampukannya seseorang menunaikan shalat-shalat fardhu tersebut.

Tanda diterimanya amal shaleh adalah kebaikan lain setelahnya.

Sa’id bin Jubair رَحِمَهُ اللهُ mengatakan,

مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ: اَلْحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ عُقُوْبَةِ السَّيِّئَةِ: اَلسَّيِّئَةُ بَعْدَهَا،

“Termasuk balasan kebaikan itu adalah kebaikan (juga) setelahnya, dan termasuk sangsi hukuman keburukan itu adalah keburukan (juga) setelahnya.”

 

Dan, seorang Muslim itu, bila ia telah selesai dari menunaikan suatu ibadah maka ia menyusul ibadah itu dengan ibadah yang lainnya. Sebagaimana firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

فَإِذَا فَرَغۡتَ فَٱنصَبۡ [الشرح: 7]

“Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain) (asy-Syarh : 7)

Ibnul Jauzi رَحِمَهُ اللهُ mengatakan : “Yakni, maka biasakanlah terus beramal.” , dan janganlah ibadah itu terhenti kecuali karena kematian. Sebagaimana Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ [الحجر: 99]

Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kepastian (kematian).(al-Hijr : 99)

Apabila seorang muslim telah mengerjakan amal shaleh, maka wajib baginya menjaga amalan tersebut dengan berhati-hati dari perbuatan syirik (mempersekutukan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dalam ibadah), karena syirik dapat menghapus amal kebaikan. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman:

وَلَقَدۡ أُوحِيَ إِلَيۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكَ لَئِنۡ أَشۡرَكۡتَ لَيَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ [الزمر: 65]

“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu: jika engkau berbuat syirik, niscaya amalmu akan terhapus dan engkau benar-benar termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Az-Zumar: 65).

Ibnul Qayyim رَحِمَهُ اللهُ mengatakan :

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْراً؛ سَلَبَ رُؤْيَةَ أَعْمَالِهِ الْحَسَنَةِ مِنْ قَلْبِهِ، وَالْإِخْبَارَ بِهَا مِنْ لِسَانِهِ، وَشَغَلَهُ بِرُؤيَةِ ذَنْبِهِ

“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Allah akan mencabut dari hatinya rasa kagum terhadap amal baiknya, menghilangkan dari lisannya kebiasaan untuk membicarakannya, dan menyibukkannya dengan melihat dosa-dosanya sendiri.”

Memohon kepada Allah agar menerima amal shaleh merupakan tanda ketulusan iman. Ibrahim عَلَيْهِ السَّلَامُ ketika membangun Ka’bah, berdoa kepada Tuhannya seraya mengatakan :

رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ [البقرة: 127]

“Wahai Tuhan kami, terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah: 127).

Keteguhan di atas agama termasuk perkara besar yang membutuhkan kesungguhan. Di antara doa Nabi  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  adalah  :

يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ! ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ (رواه ابن ماجه)

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu. (HR. Ibnu Majah).

Barang siapa telah bertalbiyah dengan mengucapkan kalimat tauhid, dan bertakbir pada hari raya, maka wajib baginya memenuhi janjinya kepada Allah; yaitu dengan tidak berdoa dan tidak bersandar kepada selain-Nya, tidak melakukan tawaf selain di Ka’bah. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

وَٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ مَا يَمۡلِكُونَ مِن قِطۡمِيرٍ [فاطر: 13]

Mereka yang kamu seru (sembah) selain-Nya tidak mempunyai (sesuatu walaupun) setipis kulit ari. (Fathir : 13)

Dan, siapa yang benar-benar menghadapkan dirinya kepada Allah, maka Allah akan menolongnya. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ [العنكبوت: 69]

Orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. (al-Ankabut : 69)

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرَ اللهَ لِي وَلَكُمْ وِلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

[Khuthbah Kedua]

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْماً لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً مَزِيْداً

Segala puji bagi Allah atas kebaikan-Nya dan segala syukur untuk-Nya atas taufik dan karunia-Nya. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, sebagai bentuk pengagungan terhadap-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah senantiasa mencurahkan limpahan selawat dan salam atas beliau, keluarga, dan seluruh sahabatnya.

Wahai kaum Muslimin :

Barang siapa telah menunaikan kewajiban haji, maka sepantasnya setelah menunaikan rukun ini ia menjaga lembaran amalnya agar tetap putih dan bersih, karena Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  bersabda:

مَنْ حَجَّ، فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ؛ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ (متفق عليه)

Barang siapa berhaji lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari ketika ibunya melahirkannya.” (Muttafaq ‘alaih).

Hendaknya ia menjadi teladan bagi orang lain dalam kesalehan, keistikamahan, memperdalam ilmu agama, serta menjaga salat berjamaah di rumah-rumah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Hendaknya ia juga berdakwah kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dengan hikmah dan nasihat yang baik, dimulai dari kerabat terdekatnya, serta senantiasa jujur kepada Tuhannya dalam seluruh amalnya.

Maka, lazimilah sunnah Nabi kalian, murnikanlah ketaatan untuk Rabb kalian, bersemangatlah untuk memberikan manfaat kepada saudara-saudara kalian kaum Muslimin, dan ajarkanlah kepada mereka sesuatu yang akan memberikan kemanfaatan dan kemaslahatan berupa perkara-perkara agama kalian.

فَوَاللَّهِ، لَأَنْ يُهْدَى بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ (متفق عليه)

“Maka, demi Allah. Sungguh, bila ada seorang saja yang diberi petunjuk lantaran dirimu, hal itu lebih baik bagimu daripada unta merah.” (Muttafaq ‘Alaih)

Kemudian, ketahuilah bahwa Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah memerintahkan kalian untuk bershalawat dan mengucapkan salam kepada Nabi-Nya صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا [الأحزاب: 56]

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi, Wahai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya (al-Ahzab : 56)

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمِيْنَ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ  يا رب العالمينَ

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

رَبَّنَا أَوْزِعْناَ أَنْ نَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيْنَا وَعَلَى وَالِدِينا وَأَنْ نعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنا بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

رَبَّنَا أَوْزِعْناَ أَنْ نَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيْنَا وَعَلَى وَالِدِينا وَأَنْ نَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لنا فِي ذُرِّيَّتنا إِنّنا تُبْنا إِلَيْكَ وَإِنّنا مِنَ الْمُسْلِمِينَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ

رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Catatan :

[1] Madza Ba’da al-Hajj, Khuthbah ini disampaikan oleh Syaikh Dr. Abdul Muhsin bin Muhammad al-Qasim وَفَّقَهُ اللَّهُ, pada hari Jum’at, 20 Dzul Hijjah 1431 H, di Masjid Nabawi. Dengan sedikit gubahan dan penyesuaian.