Khutbah Pertama

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ ؛ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .

﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾ [آل عمران: 102]

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَإنَّ أَفْضَلَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النّارِ

Wahai Hamba-hamba Allah! Bertakwalah kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dengan sebenar-benarnya takwa serta senantiasalah merasa diawasi oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى di saat bersendirian dan di hadapan manusia.

Kaum muslimin sekalian, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى melimpahkan kepada hamba-hamba-Nya berbagai nikmat, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Di antara nikmatnya yang sangat besar ialah karunia berupa anak dan cucu. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

﴿وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً﴾ [النحل: 72]

Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri, menjadikan bagimu dari pasanganmu anak-anak dan cucu-cucu.

(An-Nahl: 72)

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga mengabarkan bahwa anak merupakan anugerah yang Dia berikan kepada hamba-hambnya.

Nabi Ibrahim عَلَيْهِ السَّلَامُ

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

﴿وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَةً وَكُلًّا جَعَلْنَا صَالِحِينَ﴾ [الأنبياء: 72]

“Dan Kami menganugerahkan kepadanya Ishak dan Yakub sebagai tambahan karunia dan masing-masing Kami jadikan sebagai orang yang shaleh.”

(Al-Anbiya: 72)

Nabi Zakaria عَلَيْهِ السَّلَامُ

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

﴿وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى﴾ [الأنبياء: 90]

“Dan Kami menganugerahkan kepadanya Yahya.”

(Al-Anbiya: 90)

Nabi Daud عَلَيْهِ السَّلَامُ

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

﴿وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ﴾ [ص: 30]

“Dan Kami menganugerahkan kepada Daud Sulaiman.”

(Shad: 30)

Kabar Gembira bagi Para Nabi

Anak-anak juga merupakan kabar gembira bagi para ayah dan ibu.

Tentang Nabi Ibrahim عَلَيْهِ السَّلَامُ, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

﴿فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ﴾ [الصافات: 101]

“Maka Kami memberikan kabar gembira kepadanya dengan kelahiran seorang anak yang penyantun.”

(Ash-Shaffat: 101)

Kepada Nabi Zakaria عَلَيْهِ السَّلَامُ, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

﴿إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى﴾ [مريم: 7]

“Sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak yang bernama Yahya.”

(Maryam: 7)

Dan tentang Sarah عَلَيْهَا السَّلَامُ, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

﴿فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ﴾ [هود: 71]

“Maka Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan kelahiran Ishak dan setelah Ishak akan lahir Yakub.”

(Hud: 71)

Para malaikat juga berkata kepada Maryam عَلَيْهَا السَّلَامُ,

﴿إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ﴾ [آل عمران: 45]

“Sesungguhnya Allah memberikan kabar gembira kepadamu dengan sebuah kalimat dari-Nya, namanya Al-Masih Isa putra Maryam.”

(Ali Imran: 45)

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjadikan anak-anak sebagai perhiasan dan keindahan kehidupan dunia.

﴿الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا﴾ [الكهف: 46]

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.”

(Al-Kahfi: 46)

Karena agungnya kedudukan anak, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى bahkan bersumpah dengannya.

﴿وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ﴾ [البلد: 3]

“(Aku juga bersumpah) demi bapak dan anaknya.”

(Al-Balad: 3)

Hadirin sekalian!

Anak-anak adalah amanah yang dititipkan kepada kedua orang tua. Amanah untuk menjaga agama mereka, membangun akhlak, mengarahkan perilaku mereka, serta memelihara fitrah mereka.

Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,

«كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas orang yang dipimpinnya.”

(Muttafaqun ‘Alaih)

Para nabi memohon kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى agar dikaruniai keturunan yang saleh. Bahkan sebelum anak-anak itu lahir.

Nabi Ibrahim عَلَيْهِ السَّلَامُ berdoa,

﴿رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ﴾ [الصافات: 100]

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang termasuk orang-orang saleh.”

(Ash-Shaaffaat: 100)

Nabi Zakaria عَلَيْهِ السَّلَامُ juga berdoa,

﴿رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً﴾ [آل عمران: 38]

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik.”

(Ali Imran: 38)

Di antara karunia Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang agung adalah Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menanamkan dalam hati setiap anak penolong terbesar dalam proses pendidikannya, yaitu fitrah keimanan kepada-Nya.

Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,

«كُلِّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ»

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah.”

Maka, pondasi pertama dalam pendidikan anak adalah meneguhkan fitrah tauhid yang telah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tanamkan dalam dirinya serta menumbuhkan keimanannya melalui pengajaran Kitabullah, Al-Qur’an Al-Karim.

Jundub bin Abdullah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ berkata,

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ، «فَتَعَلَّمْنَا الْإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ، ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا»

“Kami pernah bersama Nabi صلى الله عليه وسلم ketika kami masih remaja yang hampir balig. Kami mempelajari iman terlebih dahulu. Kemudian kami mempelajari Al-Qur’an sehingga dengan Al-Qur’an itu bertambahlah keimanan kami.”

(Hadis riwayat Ibnu Majah)

Imam As-Suyuthi rahimahullah berkata, “Mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak merupakan salah satu pondasi utama Islam. Dengan itu mereka tumbuh di atas fitrah dan cahaya hikmah akan mengalir ke dalam hati mereka.”

Lukman pun menasihati putranya agar menjauhi syirik.

﴿يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ﴾ [لقمان: 13]

“Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar.”

(Luqman: 13)

Menghubungkan hati kepada Sang Pencipta, menumbuhkan ketergantungan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, serta mengajarkan mereka untuk bertawakal hanya kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى merupakan dasar keberhasilan hidup mereka.

Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda kepada Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُ,

«يا غُلامُ إنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِماتٍ، احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ باللهِ»

“Wahai anak, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatinya selalu bersamamu. Jika engkau meminta, mintalah hanya kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan hanya kepada Allah.”

(Hadis riwayat At-Tirmidzi)

Shalat adalah tiang agama dan shalat anak-anak merupakan penghubung mereka dengan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,

«مُرُوا أَبْنَاءَكُمْ بِالصَّلَاةِ لِسَبْعِ سِنِينَ»

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia 7 tahun.”

(HR. Ahmad)

Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ juga mendorong mereka untuk membiasakan ibadah-ibadah sunah. Beliau pernah bersabda kepada Abdullah bin Umar رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا yang saat itu masih muda.

«نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللهِ لَوْ كَانَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ»

“Sebaik-baik laki-laki adalah Abdullah. Seandainya dia membiasakan shalat malam.”

(Muttafaqun ‘Alaih)

Anak-anak juga harus diajarkan hak-hak sesama manusia. Hak yang paling utama setelah hak Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى adalah berbakti kepada kedua orang tua.

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman dalam rangkaian wasiat Lukman kepada putranya,

﴿أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ﴾ [لقمان: 14]

“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Kulah tempat kembali.”

(Luqman: 14)

Mereka juga harus dididik agar memiliki tekad yang kuat, cita-cita yang tinggi, dan semangat dalam meraih kebaikan.

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

﴿يَايَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا﴾ [مريم: 12]

“Wahai Yahya, peganglah kitab itu dengan sungguh-sungguh dan Kami berikan kepadanya hikmah sejak ia masih kecil.”

(Maryam: 12)

Semakin tinggi akhlak seseorang, semakin rendah hatinya kepada anak-anak. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sangat lembut kepada anak-anak. Terkadang beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menggandeng tangan mereka, meletakkan tangan seorang anak di antara kedua telapak tangan beliau, dan memegang pundak mereka. Apabila beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melewati anak-anak kecil, beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengucapkan salam kepada mereka.

(Muttafaqun ‘Alaih)

Beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyambut anak-anak dengan penuh kehangatan dan memuliakan mereka.

Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهَا berkata,

“Fatimah datang berjalan. Ketika Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melihatnya, beliau menyambutnya seraya berkata, ‘Selamat datang wahai putriku.’ Kemudian beliau mempersilakannya duduk di sebelah kanan atau di sebelah kiri beliau.”

(Muttafaqun ‘Alaih)

Beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyayangi anak-anak, menanyakan keadaan keluarga mereka, bercanda bersama mereka, serta menunjukkan kasih sayang yang tulus kepada mereka.

Anas رَضِيَ اللهُ عَنْهُ berkata,

“Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengambil Ibrahim putra beliau, lalu menciumnya dan mendekapnya dengan penuh kasih sayang.”

(Muttafaq ‘Alaih)

Beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ juga makan bersama anak-anak dan mengajarkan adab makan kepada mereka.

Umar bin Abi Salamah رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا berkata,

“Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda kepadaku, ‘Wahai anak, sebutlah nama Allah. Makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di dekatmu.’

(Muttafaq ‘Alaih)

Beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ juga memperhatikan anak-anak yang memiliki bakat dan kecerdasan istimewa, lalu beliau mengarahkan mereka kepada sesuatu yang bermanfaat bagi diri mereka dan umatnya.

Ketika Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melihat Zaid bin Tsabit رَضِيَ اللهُ عَنْهُ yang saat itu usianya belum mencapai lima belas tahun memiliki kemampuan menulis yang baik, beliau menjadikannya sebagai salah seorang penulis wahyu. Tatkala beliau melihat kecerdasannya, beliau memerintahkannya untuk mempelajari bahasa asing atau bahasa lainnya agar dapat menerjemahkan surat-surat yang ditulis dalam bahasa mereka.

(Hadis riwayat Abu Dawud)

Beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ juga mengajarkan pokok-pokok akidah kepada anak-anak dengan cara bertanya tentang sifat-sifat Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan kerasulan beliau. Jika jawaban mereka benar, beliau memberikan penghargaan dan pengakuan atas keimanan mereka.

Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah bertanya kepada seorang budak perempuan,

“Di manakah Allah?”

Ia menjawab, “Di atas langit.”

Beliau bertanya lagi, “Siapakah aku?”

Dia menjawab, “Engkau adalah Rasulullah.”

Lalu beliau bersabda, “Merdekahkanlah dia karena sesungguhnya dia seorang mukminah.”

(Hadis riwayat Muslim)

Di dalam majelisnya, Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ juga memuliakan anak-anak dan mengangkat kedudukan mereka, meskipun di majelis itu hadir para sahabat yang lebih tua.

Suatu ketika Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ diberi minuman. Setelah beliau meminumnya, di sebelah kanan beliau duduk seorang anak kecil, sedangkan di sebelah kiri beliau duduk para orang tua.

Beliau bersabda kepada anak itu, “Apakah engkau mengizinkan aku memberikan minuman ini terlebih dahulu kepada mereka?”

Anak itu menjawab, “Tidak. Demi Allah, aku tidak akan mengutamakan siapa pun atas bagianku darimu.”

Lalu Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pun meletakkan wadah itu ke tangan anak tersebut.

(Muttafaq ‘Alaih)

Apabila seorang anak menampakkan akhlak yang mulia atau melakukan perbuatan yang terpuji, Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memberikan pujian dan menunjukkan kedudukannya di hadapan orang lain.

Beliau pernah mendengar bacaan Al-Qur’an yang indah dari Salim Maula Abu Hudzaifah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ yang ketika itu masih seorang anak muda. Lalu beliau bersabda,

“Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan di tengah umatku orang seperti engkau.”

(Hadis riwayat Ahmad)

Beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ juga sangat tidak menyukai siapa pun yang menyakiti anak-anak.

Muawiyah bin Al-Hakam رَضِيَ اللهُ عَنْهُ berkata,

“Aku mempunyai seorang budak perempuan yang menggembalakan kambing-kambingku di daerah Uhud dan Al-Jawwaniyah. Suatu hari aku melihat seekor serigala telah memangsa seekor kambing dari gembalaannya. Aku hanyalah manusia biasa yang juga bisa marah sebagaimana manusia lainnya. Maka aku menamparnya. Setelah itu aku mendatangi Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan menceritakan peristiwa tersebut. Ternyata beliau menganggap perbuatanku itu sebagai sesuatu yang sangat berat.”

(Hadis riwayat Muslim)

Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ juga membentengi anak-anak dari berbagai keburukan dengan mengajarkan doa-doa perlindungan, terutama zikir pagi dan petang.

Beliau biasa memohon perlindungan untuk Hasan dan Husain رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا seraya bersabda, “Sesungguhnya ayah kalian, yaitu Nabi Ibrahim عَلَيْهِ السَّلَامُ, dahulu memohon perlindungan dengan doa ini untuk Ismail dan Ishak.”

«أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ»

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari segala setan, binatang berbisa, dan dari setiap pandangan mata yang membawa keburukan.”

(Hadis riwayat Bukhari)

Seorang anak secara fitrah akan mencintai orang yang dekat dengannya, mendidiknya, dan menyayanginya. Karena itulah setiap kali Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pulang dari suatu perjalanan, anak-anak kecil keluar untuk menyambut kedatangan beliau.

(Muttafaq ‘Alaih)

Di antara sebab utama kebaikan seorang anak adalah kebaikan kedua orang tuanya. Bagi anak-anak, apa yang dilakukan oleh orang tua akan dianggap sebagai sesuatu yang baik, sedangkan apa yang mereka tinggalkan akan dianggap sebagai sesuatu yang tidak baik. Termasuk cara mendidik anak agar memiliki cita-cita yang tinggi adalah dengan memperkenalkan kepada mereka kisah-kisah para tokoh besar umat Islam.

Imam Malik rahimahullah berkata,

“Para ulama salaf dahulu mengajarkan kepada anak-anak mereka kecintaan kepada Abu Bakar dan Umar sebagaimana mereka mengajarkan satu surah dari Al-Qur’an.”

Tidak ada sebab yang lebih bermanfaat dalam mewujudkan kesalehan generasi daripada doa. Oleh karena itu, para Nabi dan orang-orang saleh senantiasa mengetuk pintu ini.

Tidak ada sebab yang lebih bermanfaat dalam mewujudkan kesalehan generasi daripada doa. Oleh karena itu, para Nabi dan orang-orang saleh senantiasa mengetuk pintu ini.

Nabi Ibrahim عَلَيْهِ السَّلَامُ berdoa,

﴿رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي﴾ [إبراهيم: 40]

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku, demikian pula sebagian keturunanku, orang yang senantiasa mendirikan shalat.”

(Ibrahim: 40)

Nabi kita Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ juga mendoakan Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ketika beliau masih kecil. Beliau berdoa,

اَللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الْكِتَابَ

“Ya Allah, ajarkanlah kepadanya Al-Kitab (Al-Qur’an).”

(Hadis riwayat Bukhari)

Istri Imran juga memohon agar putrinya menjadi wanita yang salehah seraya berdoa,

﴿وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ﴾ [آل عمران: 36]

“Sungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu untuk anak ini beserta keturunannya dari godaan setan yang terkutuk.”

(Ali Imran: 36)

Demikian pula orang-orang saleh senantiasa berdoa kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى,

﴿وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ﴾ [الأحقاف: 15]

“Ya Tuhanku, jadikanlah keturunanku sebagai keturunan yang baik. Sesungguhnya aku telah bertobat kepada-Mu.”

(Al-Ahqaf: 15)

Dan hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih berdoa kepada Allah agar menjadikan keturunan mereka sebagai penyejuk mata.

﴿رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ﴾ [الفرقان: 74]

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan kami sebagai penyejuk mata.”

(Al-Furqan: 74)

Ketika ajal para orang tua telah dekat, hati mereka akan merasa tenteram apabila mengetahui anak-anak mereka tetap berada di atas jalan yang benar. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

﴿أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ﴾ [البقرة: 133]

“Apakah kamu hadir menjadi saksi menjelang kematian Yakub ketika dia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu: Ibrahim, Ismail, dan Ishak, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.'”

(Al-Baqarah: 133)

Manfaat anak yang shaleh tidak terputus bagi kedua orang tuanya bahkan setelah mereka meninggal dunia. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,

«إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»

“Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (Hadis riwayat Muslim).

Bahkan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengangkat derajat seorang hamba di surga karena istigfar yang dipanjatkan oleh anaknya. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,

«إِنَّ اللهَ عز وجل لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، أَنَّى لِي هَذِهِ؟ فَيَقُولُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ»

“Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat seorang hamba yang shaleh di surga.” Lalu ia bertanya, “Wahai Tuhanku, dari mana aku memperoleh kemuliaan ini?” Allah menjawab, “Karena istighfar anakmu untukmu.” (Hadis riwayat Ahmad).

Pertemuan Kembali di Surga

Di surga kelak, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan mempertemukan kembali orang-orang yang shaleh dari kalangan orang tua dan anak-anak mereka. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

﴿جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ﴾ [الرعد: 23]

“Masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka serta orang yang shaleh di antara nenek moyang, istri dan keturunan mereka.” (ar-Ra’d : 23)

Kaum muslimin sekalian, anak-anak adalah buah hati yang paling berharga. Dengan keshalehan mereka, mereka akan berbakti kepada kedua orang tua, memberikan kebaikan semasa hidup mereka, serta meninggalkan kemuliaan nama dan kenangan yang indah setelah mereka tiada.

Sungguh, perjalanan hidup Nabi Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dalam mendidik generasi muda merupakan teladan yang paling agung.

Beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersikap rendah hati kepada anak-anak. Duduk bersama anak-anak, mengunjungi, mengajari, membimbing, dan membangkitkan semangat serta cita-cita mereka. Dari didikan beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ lahirlah generasi terbaik yang pernah dikenal oleh umat manusia.

Karena itu, siapa saja yang menginkan kebaikan bagi generasi penerus hendaklah ia berpegang teguh kepada petunjuk Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dalam memperlakukan dan mendidik anak-anak.

أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ﴾ [التحريم: 6]

Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (at-Tahrim : 6)

Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memberhakahi kita semua dengan Al-Qur’an yang agung. Menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang mengambil manfaat dari ayat-ayatnya dan mengambil pula peringatannya yang penuh hikmah.

Demikianlah khotbah yang ingin saya sampaikan, dan mohonlah ampunan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Sungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ
وَأَشْهَدُ أَنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ
وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ
فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ:

Wahai kaum muslimin, memberikan perhatian terhadap pendidikan anak-anak merupakan jalan orang-orang pilihan dan kebiasaan orang-orang shaleh. Tidak ada pemberian seorang ayah kepada anaknya yang lebih utama daripada agama yang lurus dan akhlak yang mulia.

Seorang istri yang bijaksana turut memikul amanah bersama suaminya dalam mendidik putra-putri mereka. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,

«وَالْمَرْأَةُ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ، وَهِيَ مَسْؤُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا»

“Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (Muttafaq ‘alaih).

Apabila kedua orang tua melihat anak-anak mereka mulai berpaling atau menjauh dari kebaikan, janganlah berputus asa untuk terus memperbaiki dan membimbing mereka. Hendaklah orang tua berhati-hati agar tidak mendoakan keburukan atas anak-anaknya.

Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,

لَا تَدْعُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلَا تَدْعُوْا عَلَى أَوْلَادِكُمْ، وَلَا تَدْعُوْا عَلَى أَمْوَالِكُمْ، لَا تُوَافِقُوْا مِنَ اللهِ سَاعَةً يَسْأَلُ فِيْهَا عَطَاءً، فَيَسْتَجِيْبَ لَكُمْ

“Janganlah kalian mendoakan keburukan atas diri kalian. Jangan pula atas anak-anak kalian dan jangan pula atas harta kalian. Jangan sampai doa itu bertepatan dengan waktu dikabulkannya permohonan kepada Allah sehingga Allah mengabulkannya.” (Hadis riwayat Muslim).

Janganlah kalian bersikap kasar terhadap anak-anak dan jangan mencela atau menegur mereka di hadapan orang lain. Sebab kesalehan anak merupakan kemuliaan dan kebanggaan bagi kedua orang tuanya.

Perintah Bershalawat

Kemudian, ketahuilah sesungguhnya Allah telah memerintahkan kalian untuk berselawat dan mengucapkan salam kepada Nabi-Nya صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Allah berfirman,

﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الأحزاب: 56]

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (al-Ahzab : 56)

Doa Penutup

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمِيْنَ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا… وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

رَبَّنَا أَوْزِعْنَا أَنْ نَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيْنَا وَعَلَى وَالِدِينَا وَأَنْ نَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنَا بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

رَبَّنَا أَوْزِعْنَا أَنْ نَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيْنَا وَعَلَى وَالِدِينَا وَأَنْ نَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لَنَا فِي ذُرِّيَّتِنَا إِنَّنَا تُبْنَا إِلَيْكَ وَإِنَّنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ

رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ