عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا : سُئِلَتْ كَيْفَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِذَا خَلَا فِي بَيْتِهِ فَقَالَتْ : كَانَ أَلْيَنَ النَّاسِ وَأَكْرَمَ النَّاسِ كَانَ رَجُلًا مِنْ رِجَالِكُمْ إِلَّا أَنَّهُ كَانَ ضَحَّاكًا بَسَّامًا
Aisyah -semoga Allah meridhainya- meriwayatkan bahwa dirinya pernah ditanya,
’Bagaimana sikap Rasulullah ﷺ jika sedang berada di rumahnya ?”
Ia menjawab, “Beliau adalah orang yang paling lembut, orang yang paling murah hati, beliau seperti halnya laki-laki di antara kalian, hanya saja beliau seorang yang suka tertawa dan murah senyum.” (Musnad Ishaq bin Rahawaih, no. 1750)
Maka, jadilah Anda orang yang murah senyum terutama kepada pasangan hidup Anda dan keluarga Anda, anak dan orang tua Anda.
Senyuman itu dikatakan “sihir yang halal”, karena senyuman dapat sangat mempengaruhi jiwa manusia, khususnya antara pasangan suami istri.
Melontarkan senyuman bagaikan mengirimkan gelombang kepada pasangan yang mengandung banyak makna, seperti kabar gembira dan kebahagiaan ketika bertemu dengan pasangan.
Senyuman bagaikan pesan yang membawa keselamatan, kecintaan, dan rasa aman.
Senyuman bagaikan pesan yang menandakan kesiapan untuk bekerja sama dan saling tolong menolong dalam kebaikan.
Senyuman juga berarti prasangka baik terhadap pasangan dan sekaligus menghilangkan prasangka buruk terhadap pasangan dan segala pikiran buruk terhadap apa yang ada di dalam benak pikiran pasangan.
(Fathi Muhammad ath-Tahir Ghayati, Haakadza Yablugh al-Hubb Bainahuma, ei,hal. 311)




