✨ Allah ﷻ berfirman:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ . أَيَحْسَبُ أَنْ لَنْ يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ . يَقُولُ أَهْلَكْتُ مَالًا لُبَدًا
“Kami telah menciptakan manusia dalam keadaan susah payah. Apakah dia mengira bahwa tidak ada seorang pun yang mampu menguasainya? Dia berkata, ‘Aku telah menghabiskan harta yang melimpah.’”
(al-Balad: 4-6)
💰 Manusia menjadi melampaui batas ketika merasa berkecukupan, terutama jika hartanya berlimpah dan simpanannya menumpuk, hingga menjadi bertumpuk-tumpuk, sebagian di atas sebagian yang lain.
Dalam ayat ini terdapat penjelasan tentang jenis khusus manusia yang dijadikan sombong oleh harta, sampai-sampai salah seorang dari mereka menganggap dirinya yang paling kuat dan paling berhak.
❓ Apakah dia mengira bahwa tidak ada seorang pun yang mampu mengatasinya?
Karena itu, dia menghamburkan hartanya tanpa batas untuk kesenangan dan nafsunya.
✨ Allah ﷻ menyebutkan hal itu kepada kita dan berfirman:
أَهْلَكْتُ مَالًا لُبَدًا
“Aku telah menghabiskan harta yang melimpah.”
Dan Dia ﷻ tidak berfirman, “Aku telah menginfakkan harta” atau “Aku telah memberikan harta” atau “Aku telah menukarkan harta,” karena kata ‘menghabiskan’ dalam ayat ini menggambarkan kesombongan dan kelampauan batas.
Dia menyia-nyiakan hartanya dan memusnahkannya tanpa manfaat bagi siapa pun, kecuali untuk memuaskan kesombongannya.
💡 Pada hakikatnya, itu adalah penghancuran harta, bukan penginfakan, karena infak adalah bukti kerendahan hati dan mengandung cinta kebaikan untuk manusia.
Perbuatannya ini bertentangan sama sekali dengan itu, maka digunakanlah kata ‘menghabiskan’ untuknya.
⚠️ Maka waspadalah, wahai orang beriman, jangan sampai engkau seperti dia.
📚 [Dr. Uwaidh al-Athawiy, Daqiqah Ma’a al-Qur’an]





