Setelah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman kepada Rasul-Nya صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , memberikan janji kepadanya,

وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَى  [الأعلى : 8]

Dan Kami akan memberimu taufik kepada jalan yang mudah (al-‘Ala : 8)

Selanjutnya, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman kepadanya, memberikan perintah kepadanya,

فَذَكِّرْ إِنْ نَفَعَتِ الذِّكْرَى  [الأعلى : 9]

Oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat (al-A’la : 9)

Yakni, berilah peringatan kepada umat manusia. Ingatkan mereka kepada ayat-ayat Allahسُبْحَانَهُ وَتَعَالَى , tanda-tanda kebesaran Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan berilah mereka nasehat “karena peringatan itu membawa manfaat.” Yakni berilah peringatan selagi peringatan tersebut membawa manfaat. Berdasarkan hal itu, kata إِنْ dalam ayat ini adalah إِنْ  syarthiyyah, maknanya : jika peringatan membawa manfaat maka berilah peringatan, jika ternyata tidak membawa manfaat tidak perlu memberi peringatan. Karena tidak ada gunanya memberi peringatan kepada orang-orang yang tidak mau menerimanya. Demikianlah tafsir dari sejumlah ulama tentang ayat ini.

Sebagian ulama berpendapat : Maknanya, berilah peringatan bagaimana pun kondisinya, mudah-mudahan mereka mendapat manfaat dari peringatan tersebut.  Berarti maksudnya bukanlah jangan memberi peringatan kecuali peringatan tersebut membawa manfaat. Namun maknanya : Berilah peringatan semoga mereka mendapat manfaat darinya. Menurut pendapat ini, makna ayat di atas adalah : berilah peringatan bagaimana pun kondisinya karena peringatan itu akan bermanfaat. Bermanfaat bagi orang-orang yang beriman dan bermanfaat bagi yang memberi peringatan. Orang yang memberi peringatan bagaimana pun kondisinya pasti mendapat manfaat. Jika yang diingatkan mendapat manfaat, maka ia termasuk orang mukmin, jika tidak maka itu tidaklah mengurangi pahalanya sedikitpun. Jadi, berilah peringatan, bermanfaat atau pun tidak peringatan tersebut.

Sejumlah ulama yang lain berpendapat : Jika menurutnya peringatan itu memberi manfaat, maka ia wajib memberinya. Jika menurutnya tidak memberi manfaat, maka ia bebas memilih, antara memberi peringatan atau tidak.

Wal hasil, peringatan harus disampaikan meskipun menurutmu tidak bermanfaat. Karena kelak pasti bermanfaat bagimu. Orang-orang akan tahu bahwa perkara yang engkau peringatkan itu wajib atau haram. Jika engkau diam sementara orang-orang mengerjakan perbuatan haram, mereka akan berkata : “Sekiranya perbuatan ini haram tentu para ulama akan memberi peringatan.” Atau, “kalau perbuatan ini wajib tentu para ulama akan memerintahkannya.” Jadi, peringatan harus disampaikan, bermanfaat bagi yang diseru atau pun tidak.

Kemudian Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menyebutkan siapa saja yang mendapat manfaat dan siapa pula yang tidak mendapat manfaat dari peringatan tersebut :

سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَى (10) وَيَتَجَنَّبُهَا الْأَشْقَى (11) [الأعلى : 10 ، 11]

“Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran, orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya.” (al-A’la : 10-11)

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjelaskan bahwa dalam menyikapi peringatan tersebut manusia terbagi menjadi dua golongan :

Golongan pertama : Orang-orang yang takut kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, yakni takut yang didasari keyakinan akan keagungan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Orang seperti ini apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ia akan menerimanya. Seperti yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى sebutkan tentang karakter ‘ibadurrahman :

وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا  [الفرقان : 73]

“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.” (al-Furqan : 73)

Barang siapa yang takut kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ketika diberi peringatan dengan ayat-ayat-Nya, maka ia akan menerima dan mendapat manfaat dari peringatan tersebut.

Golongan kedua : Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

وَيَتَجَنَّبُهَا الْأَشْقَى

“Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya.”

Yakni, orang-orang yang celaka akan menjauhi peringatan dan tidak mendapat manfaat.

Kata الْأَشْقَى  adalah bentuk isim tafdhil dari kata الشَّقَى, lawan dari kata السَّعَادَةُ (yang berbahagia). Seperti yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى sebutkan dalam ayat :

فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُوا فَفِي النَّارِ [هود : 106]

“Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka.” (Hud : 106)

Setelah itu Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menyebutkan kebalikannya :

وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ  [هود : 108]

“Adapun orang-orang yang bahagia, maka tempatnya di dalam Surga.” (Hud : 108)

الْأَشْقَى  orang-orang yang memiliki sifat celaka, akan menjauhi peringatan dan tidak mendapat manfaat darinya.

الْأَشْقَى  adalah orang yang paling celaka atau berada di puncak celaka, inilah orang kafir. Orang-orang kafir tidak mendapat manfaat dari peringatan meski telah diberi peringatan. Oleh sebab itulah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

الَّذِي يَصْلَى النَّارَ الْكُبْرَى (12) ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَى (13) [الأعلى : 12 ، 13]

“(Yaitu) orang yang akan memasuki api yang besar. Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.” (al-A’la : 12-13)

Orang-orang yang masuk ke dalam api yang disifati dengan sifat al-kubra (besar), yakni naar jahannam.

Api dunia ini terlampau kecil dibanding api neraka. Dalam sebuah riwayat shahih dari Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ beliau bersabda :

« نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِى يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ ».

“Api kalian ini yang dinyalakan oleh anak cucu Adam adalah satu dari tujuh puluh bagian panasnya neraka Jahannam.”

Mereka (para sahabat) berkata,

 

وَاللَّهِ إِنْ كَانَتْ لَكَافِيَةً يَا رَسُولَ اللَّهِ.

“Demi Allah, bila seperti itu niscaya sudah cukup wahai Rasullah.”

Beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,

« فَإِنَّهَا فُضِّلَتْ عَلَيْهَا بِتِسْعَةٍ وَسِتِّينَ جُزْءًا كُلُّهَا مِثْلُ حَرِّهَا »

“Sesungguhnya ditambahi enam puluh sembilan bagian, masing-masing seperti panasnya.” [1]

Yakni, api akhirat lebih besar (panas) enam puluh sembilan kali lipat dari api dunia, yakni api dunia yang paling dahsyat. Api akhirat enam puluh sembilan kali lipat lebih dahsyat (panasnya) daripadanya (api dunia), oleh sebab itu Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى katakan : النَّارَ الْكُبْرَى (api yang besar). Kemudian, apabila mereka memasukinya,

ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَى [الأعلى : 13]

“Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup”

Maknanya, dia tidak mati hingga bisa beristirahat dan tidak pula hidup dengan kehidupan yang menyenangkan. Karena pada hakikatnya mereka hidup, akan tetapi kehidupan yang diliputi olah azab. (Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman),

كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ [النساء : 56]

“Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan (kepedihan) azab.” (an-Nisa : 56)

Dalam ayat lain Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman :

وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ [الزخرف : 77]

Mereka menyeru, “Wahai (Malaikat) Malik, hendaklah Tuhanmu mematikan kami saja.”

Yakni biarkan Rabb-mu membinasakan kami dan melepaskan kami dari azab ini.

قَالَ إِنَّكُمْ مَاكِثُونَ

Dia menjawab, “Sesungguhnya kalian akan tetap tinggal (di neraka ini) (az-Zukhruf : 77)

Yakni tanpa ada kenyamanan di dalamnya, kemudian dikatakan kepada mereka :

لَقَدْ جِئْنَاكُمْ بِالْحَقِّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَكُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَ  [الزخرف : 78]

“Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kalian tetapi kebanyakan di antara kalian benci kepada kebenaran itu.” (az-Zukhruf : 78)

Itulah makna firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَى [الأعلى : 13]

“Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup”

Sebagian orang mungkin sulit memahami, bagaimana bisa seseorang tidak hidup dan tidak pula mati ? Karena kalau tidak mati berarti ia hidup ?

Jawabnya : Yakni mereka tidak mati hingga lepas dari azab dan tidak pula hidup dengan kehidupan yang menyenangkan. Ia berada dalam azab dan api jahim yang menyala-nyala. Karena dahsyatnya siksa ia berangan-angan untuk mati namun ia tidak bisa mati, itulah makna firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى :

ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَى [الأعلى : 13]

“Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup”. [2]

Seperti Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

إِنَّهُ مَنْ يَأْتِ رَبَّهُ مُجْرِمًا فَإِنَّ لَهُ جَهَنَّمَ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَى [طه : 74]

“Sesungguhnya siapa yang datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, (disediakan) baginya (neraka) Jahannam. Dia tidak mati (sehingga terhindar dari azab) di dalamnya dan tidak (pula) hidup (dengan layak dan nyaman). (Thaha : 74)

Dan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman,

وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقْضَى عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ مِنْ عَذَابِهَا كَذَلِكَ نَجْزِي كُلَّ كَفُورٍ [فاطر : 36]

“Orang-orang yang kufur, bagi mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan hingga mereka mati dan tidak diringankan dari mereka adzabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kufur.” (Fathir : 36)

Faedah :

1-Keselarasan ayat ini, ayat yang memerintahkan Rasul-Nya untuk memberikan peringatan,

فَذَكِّرْ إِنْ نَفَعَتِ الذِّكْرَى  [الأعلى : 9]

“Oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat.” (al-A’la : 9)

dengan ayat sebelumnya, yaitu, firman-Nya yang berisi janji-Nya kepada Rasul-Nya ini,

وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَى  [الأعلى : 8]

“Dan Kami akan memberimu taufik kepada jalan yang mudah.” (al-‘Ala : 8)

adalah bahwa ketika Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjamin akan memberikan kepada nabi-Nya kemudahan pada semua kemaslahatan dunia dan akhiratnya, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى perintahkan beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ untuk menyeru dan mengajak segenap ciptaan-Nya kepada kebenaran [3]

Dan juga ketika Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengkhabarkan bahwa Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan membacakan al-Qur’an kepadanya dan akan memberikan kemudahan kepadanya, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memerintahkan kepadanya agar memberikan peringatan; karena buah dari dibacakannnya al-Qur’an kepadanya adalah dapatnya beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengambil manfaat dari sesuatu yang dibacakan kepadanya, dan dapatnya beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memberikan manfaat kepada orang-orang yang mana beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ diutus kepada mereka.[4]

2-Keselarasan ayat ini, yakni, perintah agar memberikan peringatan,…  فَذَكِّرْ (berikanlah peringatan) dengan ayat setelahnya, yaitu, firman-Nya,

سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَى (10) وَيَتَجَنَّبُهَا الْأَشْقَى (11) [الأعلى : 10 ، 11]

“Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran, orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya.” (al-A’la : 10-11)

Bahwa ketika Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى perintahkan beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ untuk memberikan peringatan terhadap setiap orang, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى membagi manusia menjadi dua golongan ; satu golongan menerima terapi, dan satu golongan lagi tidak menerimanya. ; sebagai pemberitahuan bahwa Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengetahui setiap kondisi kedua golongan tersebut secara pasti baik secaya komunal maupun secara personal individual siapanya. Dan, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى selalu saja mengetahui hal tersebut. Akan tetapi Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tidak menyebutkan siapanya, sebagai sebuah cobaan dari-Nya bagi para hamba-Nya, agar hujjah (peringaatn itu) tegak atas mereka dengan sesuatu yang mereka kenali di antara mereka, dan hanya milik-Nya-lah dalil/hujjah yang kuat itu.[5]

3-Dalam firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى,

سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَى

Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran (al-A’la : 10-11), terdapat pelajaran bahwa rasa takut kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengharuskan seseorang untuk mentaati-Nya ; maka orang yang takut terhadap Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ia melaksanakan perintah-perintah-Nya, ia menjauhi larangan-larangan-Nya ; karena sesungguhnya Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah mengkhabarkan bahwa siapa yang takut kepada-Nya akan mengambil pelajaran, dan pengambilan pelajaran di sini mengharuskan untuk melakukan peribadatan kepada-Nya. [6]

4-Dalam firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى,

سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَى

“Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran.”(al-A’la : 10-11), terdapat pelajaran bahwa siapa yang beriman dengan adanya kehidupan akhirat dan ia pun merasa takut dari siksa di sana, maka dialah orang yang akan dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat dan wejangan-wejangan atau nasehat-nasehat yang disampaikan kepadanya. [7]

5-Dalam firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى,

سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَى

“Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran.”(al-A’la : 10-11), terdapat pelajaran bahwa peringatan tentang janji dan ancaman mengharuskan rasa takut kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan bersikap waspada terhadap ancaman tersebut. Dan,  bahwa nasehat itu tidak akan bermanfaat kecuali kepada orang yang beriman kepada-Nya, takut dan berharap kepada-Nya. [8]

6-Dalam firman-Nya سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى,

ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَى

“Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.” (al-A’la : 13) terdapat pelajaran bahwa balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan yang dilakukan ; karena sesungguhnya ketika seseorang menjadi golongan orang-orang yang celaka di dunia (kafir), di mana ia tidak hidup dengan kehidupan yang penuh dengan manfaat dan tidak pula mati kehilangan rasa ; maka keadaannya akan seperti itu pula di akhirat nantinya [9]

Wallahu A’lam

(Redaksi)

Catatan :

[1] Hadis riwayat Muslim, bab : Fii Syiddati Harri Naari Jahannam Wa Bu’du Qa’riha, no. 7344.

[2] Tafsir Juz Amma, Muhammad bin Shaleh al-Utaimin, ei, hal. 308-312.

[3] Lihat : Tafsir ar-Razi, 31/132.

[4] Lihat : Tafsir Abi Hayyan, 10/457

[5] Lihat : Nazhmu ad-Durar, 21/398-399.

[6] Lihat : Majmu’ al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 7/24.

[7] Lihat : ar-Risalah at-Tabukiyah, Ibnu al-Qayyim, hal. 72.

[8] Lihat : Madarij as-Salikin, Ibnu al-Qayyim, 1/446.

[9] Lihat : Majmu’ al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 8/206.