Nama tersebut telah tetap di dalam hadis Nabi mulia صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Imam Ahmad dan yang lainnya meriwayatkan dari Anas bin Malik رَضِيَ اللهُ عَنْهُ bahwasanya Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mendengar seorang laki-laki berdoa,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ الْمَنَّانَ بَدِيعَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu bahwasanya segala pujian hanya milik-Mu, tiada ilah yang hak, kecuali Engkau satu-satunya, tiada sekutu bagi-Mu, Maha Pemberi karunia, Maha Pencipta langit dan bumi, Maha Pemilik keagungan dan kemuliaan.”
Lalu Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,
لَقَدْ سَأَلْتَ اللَّهَ بِاسْمِ اللَّهِ الْأَعْظَمِ الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى
Sungguh engkau telah memohon kepada Allah dengan nama-Nya yang paling agung, yang apabila dipanjatkan doa dengannya niscaya Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan mengabulkan dan apabila dipanjatkan permohonan dengannya pasti Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan memberi (HR. Ahmad)
Al-Mannan (الْمَنَّان, Maha Pemberi karunia) artinya Yang banyak melimpahkan karunia, agung pemberian-Nya, luas kebaikan-Nya, yang terus mengucurkan rezeki kepada para hamba-Nya, mendekatkan kenikmatan kepada mereka sebagai karunia dan kemuliaan dari-Nya, tiada yang secara mutlak dapat mencurahkan karunia, kecuali Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى semata, Yang memulai memberi sebelum diminta. Bagi-Nya, segala karunia untuk seluruh hamba-Nya, tiada karunia dari seorang pun hamba untuk-Nya, Mahatinggi Allah dengan ketinggian yang sebesar-besarnya. Semua itu adalah perkara yang dapat disaksikan oleh makhluk seluruhnya, baik yang berbakti maupun yang durhaka, dari limpahan pemberian-Nya, keluasan karunia-Nya, kemuliaan tangan-Nya, keindahan ciptaan-Nya, kelapangan rahmat-Nya, kebaikan dan kelembutan-Nya, pengabulan-Nya terhadap doa orang-orang yang tertindas dan Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menyingkap kesulitan orang-orang yang tertimpa kesedihan, menolong orang-orang yang membutuhkan bantuan, menolak ujian dan cobaan setelah tuntas sebab-sebabnya, memalingkan ujian tersebut sebelum menimpanya, dan kelembutan-Nya dalam semua itu hingga mencapai segala hal yang tak dapat dijangkau oleh angan-angan.
Di antara keagungan karunia-Nya adalah hidayah-Nya yang khusus bagi hamba-hamba-Nya menuju jalan agama Islam, pembelaan-Nya terhadap mereka dengan pembelaan yang sebaik-baiknya, penjagaan-Nya terhadap mereka dengan penjagan yang sebaik-baiknya, penjagaan-Nya terhadap mereka agar tidak terjerumus ke lembah dosa-dosa, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memberikan mereka kecintaaan terhadap iman dan menjadikannya indah di hati-hati mereka, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى membuat kekufuran, perbuatan fasik, dan maksiat menjadi dibenci oleh mereka, menjadikan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk, menetapkan di hati-hati mereka keimanan dan mengokohkannya dengan ruh dari-Nya, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menamakan mereka dengan muslimin sebelum diciptakannya mereka dan Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah menyebut-nyebut mereka sebelum mereka menyebut-Nya, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memberi kepada mereka sebelum mereka meminta, mengenalkan tentang nama-nama-Nya kepada mereka, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tidak membutuhkan mereka, dan Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى melarang mereka dari berbagai hal yang dilarang sebagai bentuk penjagaan dan pemeliharaan bagi mereka, bukan karena kikir dari-Nya untuk mereka, menurunkan firman-Nya dengan perkataan yang paling lembut dan paling manis, menasehati mereka dengan sebaik-baiknya nasehat, memberikan wasiat kepada mereka dengan wasiat paling sempurna, memerintahkan mereka dengan sifat-sifat paling mulia dan melarang mereka dari perbuatan dan perkataan paling buruk, Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memperlihatkan bagi mereka tanda-tanda kekuasaan dan memberikan untuk mereka permisalan, melapangkan bagi mereka jalan-jalan hidayah, memperkenalkan kepada mereka sebab-sebab yang dapat mendekatkan mereka kepada keridhaan-Nya dan menjauhkan mereka dari amarah-Nya, dan hal-hal lain dari aneka ragam kenikmatan dan macam karunia-Nya, yang Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا [النحل : 18]
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.” (an-Nahl : 18)
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ [النحل : 53]
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya) (an-Nahl : 53)
Barang siapa yang ingin menelaah pokok-pokok karunia, maka hendaklah ia senantiasa memusatkan pandangan pada taman-taman al-Qur’an dan hendaklah ia memperhatikan apa yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى sebutkan berkali-kali di dalamnya yang berupa aneka ragam kenikmatan-Nya yang agung, pemberian-Nya yang mulia, dan karunia-Nya yang besar.
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah mengingatkan para hamba-Nya dengan karunia hidayah kepada agama ini dan mengeluarkan mereka dari gelap gulitanya kesyirikan dan kekufuran terhadap Rabb semesta alam. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ كَذَلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا [النساء : 94]
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu : “Kamu bukan seorang mukmin “ (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu juga keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (an-Nisa : 94)
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman,
يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُلْ لَا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُمْ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ [الحجرات : 17]
Mereka telah merasa memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah : “Jangan kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (al-Hujurat : 17)
وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ [النور : 21]
Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji) dan munkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui (Qs. an-Nur : 21)
وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ (7) فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ [الحجرات : 7 ، 8]
Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Qs. al-Hujurat : 7-8)
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengingatkan mereka dengan karunia diutusnya para rasul dan Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memuliakan umat ini dengan mengutus seorang rasul pilihan dan nabi terbaik Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Firman-Nya,
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ [النحل : 36]
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (Qs. an-Nahl : 36)
وَإِنْ مِنْ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٌ [فاطر : 24]
Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan (Qs. al-Fathir : 24)
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ [آل عمران : 164]
Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Ali Imran : 164)
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengingatkan pula dengan karunia kemenangan bagi para nabi-Nya dan para hamba-Nya yang beriman. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
وَلَقَدْ مَنَنَّا عَلَى مُوسَى وَهَارُونَ (114) وَنَجَّيْنَاهُمَا وَقَوْمَهُمَا مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ (115) وَنَصَرْنَاهُمْ فَكَانُوا هُمُ الْغَالِبِينَ (116) وَآتَيْنَاهُمَا الْكِتَابَ الْمُسْتَبِينَ (117) وَهَدَيْنَاهُمَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (118) [الصافات : 114 – 118]
Dan sesungguhnya Kami telah melimpahkan nikmat atas Musa dan Harun. Dan Kami selamatkan keduanya dan kaumnya dari bencana yang besar. Dan Kami tolong mereka, maka jadilah mereka orang-orang yang menang. Dan Kami berikan kepada keduanya kitab yang sangat jelas. Dan Kami tunjuki keduanya kepada jalan yang lurus.” (ash-Shaffat : 114-118)
وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ (5) وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا مِنْهُمْ مَا كَانُوا يَحْذَرُونَ (6)
Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu.” (al-Qashash : 5-6)
Selain itu, mengingatkan dengan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dengan dimasukkan ke dalam Surga dan diselamatkan dari api neraka, dan perasaan mereka terhadap karunia yang agung dan keutamaan yang besar ini. Firman-Nya :
قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ (26) فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ (27) إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلُ نَدْعُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ (28) [الطور : 26 – 28]
Mereka berkata : “Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab).” Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang.” (ath-Thur : 26-28)
وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [الأعراف : 43]
Dan mereka berkata : “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Rabb kami, membawa kebenaran.” Dan diserukan kepada mereka : “ Itulah surga yang telah diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (al-A’raf : 43)
Barang siapa yang mengenal Rabbnya dengan nama yang agung ini dan bahwasanya Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى adalah Yang Maha Mengatur karunia dan pemberian serta Pemilik segala pemberian dan kenikmatan, maka hal tersebut mengharuskan dirinya untuk memuji Rabbnya atas segala kenikmatan dan bersyukur kepada-Nya atas keutamaan dan pemberian-Nya,
قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ [الأحقاف : 15]
Ia berdoa : “Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku.” (al-Ahqaf : 15)
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bersyukur dan melarangnya dari kufur nikmat, dan Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menyanjung hamba-hamba-Nya yang mau bersyukur seraya menjanjikan kepada mereka dengan balasan yang terbaik. Dia سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjadikan syukur tersebut sebagai sebab bertambahnya keutamaan dan pemberian, sebagai penjaga dan pemelihara pemberian dan kenikmatan. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ [إبراهيم : 7]
“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbu mema’lumkan : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (Qs. Ibrahim : 7)
Demikian pula mengharuskan dirinya untuk tidak memakai nikmat Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan karunia-Nya tersebut untuk bermaksiat kepada-Nya, dan agar tidak menyandarkan kenikmatan itu, melainkan kepada Yang Maha Pencurah karunia semata, dialah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tiada sekutu bagi-Nya. sebagai bentuk penyelisihan terhadap mereka yang berkata,
يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ يُنْكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ [النحل : 83]
“Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.” (Qs. an-Nahl : 83)
Yakni dengan menyandarkan kenikmatan kepada selain Dzat Yang Maha Pemberi kenikmatan.
Ya Allah, hanya milik-Mu semata segala pujian sebagai rasa syukur dan milik-Mu semata, segala karunia sebagai bentuk keutamaan.
Kepada-Mu semata, segala pujian atas agama Islam dan kepada-Mu semata, segala pujian atas keimanan.
Kepada-Mu semata, segala pujian atas nikmat al-Qur’an dan kepada-Mu semata, segala pujian atas nikmat keluarga, harta, dan keselamatan.
Kepada-Mu semata, segala pujian atas segala kenikmatan yang telah Engkau curahkan kepada kami dahulu dan sekarang, yang tidak tampak dan yang nampak, secara khusus dan umum.
Bagi-Mu semata, segala pujian atas semua itu dengan pujian yang baik, melimpah lagi penuh berkah.
Ya Allah, bagi-Mu semata, segala pujian wahai Rabb kami apabila Engkau telah ridha.
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Sumber :
Fikih Asmaul Husna, Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-‘Abbad al-Badr-حَفِظَهُ اللهُ تَعَالَى.



