Sahl bin ‘Abdullah at-Tustari rahimahullah berkata:

عَلَامَةُ حُبِّ اللَّهِ حُبُّ الْقُرْآنِ

وَعَلَامَةُ حُبِّ الْقُرْآنِ حُبُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَعَلَامَةُ حُبِّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حُبُّ السُّنَّةِ

وعلامة ذلك كلّه حبّ الآخرة

“Tanda cinta kepada Allah adalah mencintai al-Qur’an.

Tanda cinta kepada al-Qur’an adalah mencintai Nabi .

Tanda cinta kepada Nabi ﷺ adalah mencintai Sunnah.

Dan tanda itu seluruhnya adalah cinta akhirat”

[Tafsir al-Qurthubiy, 4/40]

Maka cinta kepada Nabi bukan sekadar ucapan, tetapi harus tampak
dalam kehidupan, beberapa hal :

1-Mencintai Sunnahnya,

2-Mengikuti petunjuknya,

3-Mendahulukan sabdanya,

4-Meneladani akhlaknya,

5-Melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya.

Allah ﷻ berfirman :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

“Katakanlah: Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah ku,
niscaya Allah mencintai kalian.” (QS. Ali ‘Imran: 31)

Karena itu, sebesar cinta seseorang kepada Nabi,
sebesar itu pula semestinya kesungguhannya dalam mengikuti
Sunnah beliau
.