Allah ﷻ berfirman :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (al-Hujurat : 12)
Sufyan bin Husain al-Wasithi rahimahullah berkata :
“Pada suatu hari saya pernah mengucapkan kalimat yang buruk kepada seseorang di hadapan Iyaas bin Mu’awiyah al-Wasithi rahimahullah, beliau adalah seorang qodhi di kota Basrah – dan beliau adalah seorang tabi’in yang dikenal dengan kecerdasan akalnya – (mendengar ucapanku) tadi, beliau rahimahullah lalu melihat ke arah wajahku dengan tajam, seraya mengatakan :
“Apakah kamu pernah ikut perang melawan (orang-orang kafir) Romawi ? “
Saya jawab : “Tidak pernah”.
Beliau rahimahullah berkata : “Sungguh mengherankan orang-orang kafir Romawi, Sanad, India dan Turki bisa selamat dari mu, kemudian saudaramu yang muslim tidak bisa selamat (dari omongan buruk lisanmu) ?!.”
Sufyan rahimahullah pun berkata :
“Setelah kejadian itu saya tidak pernah lagi mengulanginya –yaitu suka mengejek orang lain atau mengghibahnya-.”
(Ibnu Katsir, “Bidayah wa Nihayah” , 9/336





