Allah سُبْحَانَهُ وَتَعاَلَى telah mensyariatkan untuk umat sebuah agama yang menyeluruh dalam hukum-hukum dan syariat-syariatnya untuk jin dan manusia, mencakup segala tindakan dan hubungan mereka, di manapun mereka berada, di atas bumi manapun atau di bawah langit mana pun. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعاَلَى telah berfirman,
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ [النحل : 89]
“Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu.” (Qs. an-Nahl : 89)
Islam adalah agama dan negara, akidah dan ibadah, hukum dan peradilan, syariat dan undang-undang, mushaf dan pedang, jihad dan dakwah, politik dan ekonomi, ilmu, akhlak dan arahan. [1]
Islam sebagai agama yang menyeluruh terlihat melalui beberapa sisi, di antaranya adalah :
1-Ia adalah agama untuk seluruh jin dan manusia. Adapun untuk manusia, maka telah jelas ditetapkan dalam beberapa ayat al-Qur’an yang agung. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعاَلَى berfirman,
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ [الأنبياء : 107]
“Dan Kami tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta.” (Qs. al-Anbiya : 107)
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعاَلَى berfirman,
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا [الأعراف : 158]
“Katakanlah, ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semuanya.” (Qs. al-A’raf : 158)
Adapun untuk Jin, dalam firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعاَلَى,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ [الذاريات : 56]
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku.” (Qs. adz-Dzariyat : 56)
2-Ia mencakup seluruh masa, dari diutusnya Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sampai Hari Kiamat.
3-Ia adalah agama untuk seluruh tempat, ia tidak khusus untuk wilayah tertentu, tidak khusus bagi umat tertentu, menyeluruh tempatnya. Setiap manusia di setiap tempat dan dari ras mana pun dituntut beragama dengan agama ini. Hal ini sekaligus merupakan penegasan bagi seorang muslim agar dia menerapkan hukum-hukum agama Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى di setiap tempat.
4-Agama yang universal bagi manusia dalam segala fase kehidupannya, dalam segala hubungannya yang bermacam-macam. Islam mengarahkan kepada apa yang mengandung kebaikan, keluhuran, penjagaan dan hidayahnya.
5-Agama yang mencakup gerakan alam semesta dan kehidupan, menjaganya dalam hukum-hukum dan syariat-syariatnya. Hukum-hukum syar’i tidak terlepas dari aktivitas alam raya dengan segala astronomi dan benda langitnya, siang dan malamnya, panas dan dinginnya. Ada ibadah yang berkaitan dengan gerakan matahari seperti shalat lima waktu, sahur, berbuka puasa, ada juga ibadah yang berkaitan dengan peredaran rembulan seperti puasa, haji, dan lainnya. Hal tersebut diperhatikan terkait dengan tugas manusia terhadapnya dan peranannya kepadanya serta mengarahkannya kepada pemakmuran dan pemanfaatannya. Alam raya dan segala isinya adalah makhluk Allah سُبْحَانَهُ وَتَعاَلَى,
لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى [طه : 6]
“Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah.” (Qs. Thaha : 6)
6-Agama yang menyeluruh dalam mengarahkan pandangan manusia kepada dunia dan akhirat. Keduanya merupakan dua alam yang saling melengkapi. Manusia mempunyai bagian dari keduanya. Dunia adalah ladang bagi akhirat. Dia menanam apa yang dia ingin petik di akhirat. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعاَلَى berfirman,
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ [القصص : 77]
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan ) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (Qs. al-Qashash : 77)
Dengan ini seorang muslim memastikan bahwa tidak ada satu urusan dan tindakan kecuali Allah سُبْحَانَهُ وَتَعاَلَى mempunyai hukum dan keputusan padanya, dan bahwa agama Islam adalah manhaj hidup yang menjadi timbangan bagi seluruh tindakan manusia. Dengan itu seorang muslim menjawab semua pihak yang menentang pandangan Islam yang menyeluruh; yang mencakup segala urusan hidup, politik, ekonomi, sosial, adab, dan lainnya dari kalangan orang-orang yang meneriakan kalimat-kalimat impor, “ Apa yang menjadi milik Allah adalah milik Allah, dan apa yang menjadi milik kaisar adalah milik kaisar.” Atau slogan mandul, “Tidak ada politik dalam agama, tidak ada agama dalam politik,” Kepada mereka dikatakan bahwa hanya milik Allah سُبْحَانَهُ وَتَعاَلَى segala perintah, larangan, penataan, hukum dan ketetapan.
قُلْ إِنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ [آل عمران : 154]
“Katakanlah, ‘sesungguhnya segala urusan itu milik Allah.’ (Qs. Ali mran : 154)
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعاَلَى berfirman,
لِلَّهِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ [الروم : 4]
“Hanya milik Allah segala perkara sebelum dan sesudahnya.” (Qs. ar-Rum : 4).
Islam telah mengingkari dengan sangat keras orang-orang yang mengambil agama sebatas apa yang sejalan dengan apa yang diinginkan dan membuang apa yang tidak sesuai dengan keinginan, dia lupa bahwa Islam adalah sebuah keutuhan yang tidak terbagi. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعاَلَى berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا (150) أُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا (151) [النساء : 150 ، 151]
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasulNya, dan bermaksud membedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, ‘Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain).’serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir). Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (Qs. an-Nisa : 150-151).
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Sumber :
Al-Madkhal ila ats-Tsaqafah al-Islamiyah, Dr. Khalid bin Abdullah al-Qasim, dkk, ei. hal. 92-96.
Catatan :
[1] al-Wajiz Fi ats-Tsaqafah al-Islamiyah, hal. 87.



