Dari Sahl bin Sa’id radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda,

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَرَبَ لَهُنَّ مَثَلًا كَمَثَلِ قَوْمٍ نَزَلُوا أَرْضَ فَلَاةٍ فَحَضَرَ صَنِيعُ الْقَوْمِ فَجَعَلَ الرَّجُلُ يَنْطَلِقُ فَيَجِيءُ بِالْعُودِ وَالرَّجُلُ يَجِيءُ بِالْعُودِ حَتَّى جَمَعُوا سَوَادًا فَأَجَّجُوا نَارًا وَأَنْضَجُوا مَا قَذَفُوا فِيهَاْ

“Janganlah kalian meremehkan dosa, seperti kaum yang singgah di perut lembah.  Lalu seseorang datang membawa ranting dan seorang lainnya lagi datang membawa ranting sehingga mereka dapat menanak roti mereka. Kapan saja orang yang melakukan suatu dosa menganggap remeh dosa, maka itu dapat membinasakannya.” [1]

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Janglah kalian meremehkan dosa, sebab hal itu bila berhimpun dalam diri seseorang akan membinasakannya. Rasulullah ﷺ membuat permisalan  mengenai mereka seperti kaum yang singgah di tanah yang tandus. Lalu datanglah orang yang cerdik di antara kaum itu. Kemudian seorang pergi lalu membawa ranting dan seorang lagi datang membawa ranting sehingga mereka mengumpulkan ranting yang banyak dan menyalakan api serta dapat mematangkan apa yang mereka lemparkan ke dalam api tersebut.” [2]

Inilah permisalan sangat  mendalam dari manusia yang paling fasih, Muhammad ﷺ mengenai bahaya dosa-dosa yang berhimpun pada diri seorang hamba. Sebuah ranting atau dua ranting mungkin tidak berarti apa-apa. Tetapi jika ranting itu banyak, maka ia menjadi kayu bakar yang dapat menyalakan api dan mematangkan makanan.

Karena itulah Ibnul Mu’taz rahimahullah mewasiatkan hal itu, mensinyalir makna tersebut :

Jauhilah dosa yang kecil dan yang besar

Itulah ketakwaan

Bertindaklah layak orang yang berjalan di atas bumi

dengan berdiri

Agar ia berhati terhadap apa yang dilihatnya

Jangan remehkan kecilnya dosa

Karena sesungguhnya gunung itu adalah tumpukan pasir

Rasulullah ﷺ mengingatkan istri beliau, Aisyah radhiyallahu ‘anha dari hal itu seraya bersabda kepadanya,

يَاعَائِشَةُ إِيَّاكَ وَمُحَقِّرَاتِ الْأَعْمَالِ . فَإِنَّ لَهَا مِنَ اللهِ طَالِبًا

“Wahai Aisyah, janganlah kamu meremehkan amal perbuatan. Karena Allah akan menuntutnya.” [3]

Dalam hadis Amr bin Al-Ahwash radhiyallahu ‘anhu , ia berkata, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda pada haji Wada’ kepada segenap manusia,

أَيُّ يَوْمٍ هَذَا…أَلَا إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يُعْبَدَ فِي بَلَدِكُمْ هَذَا أَبَدًا . وَلَكِنْ سَيَكُوْنُ لَهُ طَاعَةٌ فِي بَعْضِ فِيْمَا تَحْتَقِرُوْنَ مِنْ أَعْمَالِكُمْ فَيَرْضَى بِهَا

“Hari apakah ini … Ketahuilah bahwa setan telah berputus asa untuk disembah di negeri kalian ini selama-lamanya. Tetapi akan ada ketaatan kepadanya dalam amalan yang kalian remehkan, maka ia  merasa puas dengan hal itu.” [4]

Banyak sekali wasiat dari Salaful Ummah yang memperingatkan sikap menganggap remeh suatu dosa dan menjelaskan bahayanya terhadap seseorang.

Ka’ab rahimahullah berkata : “ Seorang hamba benar-benar melakukan dosa kecil tapi ia tidak menyesal dan tidak pula beristighfar darinya. Kemudian dosa itu menjadi besar di sisi Allah ﷻ sehingga sebesar gunung. Sementara seorang hamba yang melakukan dosa besar, lalu dia menyesal dan beristighfar darinya, maka dosa itu menjadi kecil di sisi Allah ﷻ sehingga Dia ﷻ mengampuninya.” [5]

Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata : “Sejauh mana kamu menganggap kecil dosamu, maka sejauh itu pula menjadi besar di sisi Allah ﷻ dan sejauh mana kamu menganggap besar dosamu, maka sejauh itu pula menjadi kecil di sisi Allah ﷻ.”[6]

Dari Hasan rahimahullah bahwa ia berkata, ‘Barang siapa yang melakukan kebajikan, meskipun kecil, maka Allah ﷻ akan memberikan cahaya di dalam hatinya dan kekuatan dalam amalnya. Jika ia melakukan perbuatan buruk, meskipun kecil, maka Allah ﷻ akan memberikan kegelapan dalam hatinya dan kelemahan dalam amalnya.” [7]

Dari Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Seseorang benar-benar melakukan amal kebajikan, dan ia menyandarkan keselamatan kepadanya, dan ia melakukan amalan-amalan yang remeh hingga ia datang kepada Allah ﷻ sedangkan amalan-amalan remeh tersebut telah membahayakannya. Dan seseorang benar-benar melakukan amal keburukan tapi ia menyesalinya sehingga ia datang kepada Allah ﷻ dalam keadaan aman.” [8]

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata : “Jika ia tahu demikian, lalu seorang hamba menganggap sedikit (kecil) kemaksiatan tersebut, itu berarti kelancangan terhadap Allah ﷻ, bodoh terhadap nilai ‘Siapa’ yang dia maksiati dan nilai hak-Nya. Itu tidak lain adalah perlawanan. Karena jika ia menganggap kecil dan sedikit kemaksiatan tersebut, maka perkara kemaksiatan itu kecil baginya dan ringan dalam hatinya. Dan itu adalah jenis perlawanan.” [9]

Saudaraku, betapa banyak perkataan yang kita ucapkan : “Mengolok-olok sesama muslim, mencibirnya, melecehkan kehormatannya atau kata-kata yang tidak benar. Ditambah lagi pandangan yang  liar, tidak sempurna dalam mengerjakan kewajiban yang tidak kita pedulikan. Demikianlah sehingga melahirkan air bah yang dahsyat. Setelah itu kita bertanya : “Mengapa hati kita keras ?”

Wallahu A’lam

 

(Redaksi)

Sumber :

Sabilu an-Najah Min Syu’mi al-Ma’shiyah, Muhammad bin Abdullah ad-Duwaisy, hal. 22-27.

 

Catatan :

[1] HR. Ahmad, 5/331; ath-Thabrani dan al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, no. 7267. Ibnu Hajar berkata, “Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad hasan.” (al-Fath, 11/329)

[2] Riwayat Ahmad, 1/402; dan ath-Thabrani.

[3] HR. Ibnu Majah, no. 4243; dan aD-Darimi, no. 2626. Al-Haitsami berkata dalam Az-Zawa-id, sanadnya shahih dan para perawinya terpercaya.

[4] HR. Ibnu Majah, no. 3055

[5] Riwayat al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, no. 7151

[6] Op cit., no. 7152

[7] Op cit., no. 7219

[8] Op cit., no. 7266; dan Ibnu Hajar menisbatkannya kepada Asad bin Musa dalam az-Zuhd.

[9] Madarij As-Salikin, 1/290