Allah ﷻ berfirman :
سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِمْ مَا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا (22)
وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا (23)
إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا (24)
وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا (25)
قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ مَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا (26)} [الكهف: 21-26]
Kelak (sebagian orang) mengatakan, “(Jumlah mereka) tiga (orang). Yang keempat adalah anjingnya.” (Sebagian lain) mengatakan, “(Jumlah mereka) lima (orang). Yang keenam adalah anjingnya,” sebagai terkaan terhadap yang gaib. (Sebagian lain lagi) mengatakan, “(Jumlah mereka) tujuh (orang). Yang kedelapan adalah anjingnya.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka. Tidak ada yang mengetahui (jumlah) mereka kecuali sedikit.” Oleh karena itu, janganlah engkau (Nabi Muhammad) berbantah tentang hal mereka, kecuali perbantahan yang jelas-jelas saja (ringan). Janganlah engkau minta penjelasan tentang mereka (penghuni gua itu) kepada siapa pun dari mereka (Ahlulkitab).
Jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan hal itu besok,”kecuali (dengan mengatakan), “Insyaallah.” Ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.”
Mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.
Katakanlah, “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua). Milik-Nya semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya. Tidak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain Dia dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.” (Al-Kahfi : 26-21)
Makna Global
Kemudian Allah ﷻ menghikayatkan apa yang terjadi berupa perbedaan pendapat seputar jumlah ashabul kahfi, seraya mengatakan : Sebagian kalangan orang-orang yang berlebihan dalam menyikapi persoalan jumlah ashbul kahfi akan mengatakan : “mereka (ashabul kahfi itu) jumlahnya tiga orang, yang keempat adalah anjing mereka”. Yang lainnya mengatakan, ‘Jumlah mereka lima orang, yang keenamnya adalah anjing mereka.’ Dan perkataan kedua kelompok ini merupakan perkataan yang didasarkan pada sangkaan belaka, tanpa berdasarkan ilmu, tidak pula berdasarkan dalil. Dan, sebagian mereka ada juga yang mengatakan : mereka berjumlah tujuh orang, yang kedelapannya adalah anjing mereka.
Katakanlah-wahai Muhammad-terhadap orang-orang yang berlebihan dalam hal memperkirakan jumlah ashabul kahfi tanpa berlandaskan ilmu, ‘Rabbku, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang jumlah mereka, tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali sedikit dari kalangan makhluk-Nya ; maka janganlah engkau berbantah tentang jumlah mereka kecuali perbantahan yang jelas saja, dan janganlah pula engkau bertanya kepada mereka tentang jumlah mereka dan keadaan-keadaan mereka.
Dan Allah ﷻ melarang Nabi-Nya ﷺ dari memberitahukan tentang akan dilakukanya sesuatu pada masa yang akan datang kecuali setelah didahului dengan kehendak-Nya ﷻ, seraya mengatakan, وَلَا تَقُوْلَنَّ (jangan sekali-kali kamu) -wahai Muhammad- mengatakan- untuk sesuatu yang engkau akan bertekad melakukannya ‘ sesungguhnya aku benar-benar akan melakukan hal tersebut esok, kecuali engkau mengaitkan perkataanmu itu dengan masyiah (kehendak) Allah, maka engkau katakan : إن شاء الله (jika Allah menghendaki). Dan ingatlah Rabbmu ketika lupa dengan perkataanmu : إن شاء الله , Dan katakanlah : “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada jalan yang lebih dekat (kebenarannya) yang akan menyampaikan kepada petunjuk dan bimbingan(Nya).”
Kemudian Allah ﷻ menjelaskan lamanya waktu para pemuda ini tinggal di dalam gua, seraya berkata, ‘dan para pemuda ini tinggal di dalam gua mereka dalam kondisi tidur selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun, katakan -wahai Muhammad – Allah lebih mengetahui tentang lamanya waktu tinggalnya mereka di dalam gua, Milik-Nya semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan Allah ﷻ terhadap segala sesuatu yang ada dan alangkah tajam pendengaran-Nya ﷻ terhadap setiap suara ! Tak satu pun makhluk selain-Nya yang mengatur keadaan mereka dan mengendalikan urusan mereka, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam menetapkan hukum dan menetapkan keputusan-Nya di antara makhluk-Nya ﷻ.”
Tafsir Ayat
[Firman-Nya ﷻ]
سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ
Kelak (sebagian orang) mengatakan, “(Jumlah mereka) tiga (orang). Yang keempat adalah anjingnya.”
Yakni, Sebagian orang-orang yang berlebihan dalam menyikapi persoalan jumlah ashbul kahfi akan mengatakan, ‘Mereka (para ashabul Kahfi itu) berjumlah tiga orang, dan yang keempat adalah anjing mereka.’ [1]
وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ
“(Sebagian lain) mengatakan, “(Jumlah mereka) lima (orang). Yang keenam adalah anjingnya,”
Yakni, Sebagian mereka yang lainnya mengatakan : mereka (ashabul kahfi itu) berjumlah lima orang, dan yang keenamnya adalah anjing mereka [2]
رَجْمًا بِالْغَيْبِ
“sebagai terkaan terhadap yang gaib”
Yakni sesungguhnya orang-orang yang berlebihan dalam menyikapi jumlah para pemuda ini, mereka mengatakan apa yang mereka katakan itu hanyalah sekedar sangkaan dan terkaan semata, tanpa dilandasi ilmu dan keyakinan. [3]
وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ
“(Sebagian lain lagi) mengatakan, “(Jumlah mereka) tujuh (orang). Yang kedelapan adalah anjingnya.”
Yakni : Sebagian mereka yang lain lagi ada yang mengatakan : jumlah ashabul kahfi itu tujuh orang, dan yang kedelapannya adalah anjing mereka. [4]
قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِمْ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka.
Yakni, katakanlah -wahai Muhammad- terhadap orang-orang yang bersikap berelebihan tentang jumlah personal ashabul kahfi tanpa ilmu : ‘Rabbku lebih tahu daripada selain-Nya tentang jumlah para pemuda itu dengan keilmuan yang sempurna. [5]
مَا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا قَلِيلٌ
Tidak ada yang mengetahui (jumlah) mereka kecuali sedikit.”
Yakni, tidak ada yang mengetahui jumlah ashabul kahfi dengan benar kecuali sedikit dari kalangan makhluk-Nya. [6]
فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا
Oleh karena itu, janganlah engkau (Nabi Muhammad) berbantah tentang hal mereka, kecuali perbantahan yang jelas-jelas saja (ringan).
Yakni, oleh karena itu, janganlah engkau -wahai Muhammad- berbantah [7] tentang ashabul kahfi [8] kecuali perbantahan yang jelas-jelas[9], dan janganlah engkau menyusahkan dirimu dalam hal-hal yang tidak ada faedahnya di belakangnya.[10]
وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا
Janganlah engkau minta penjelasan tentang mereka (penghuni gua itu) kepada siapa pun dari mereka.
Yakni, dan janganlah kamu-wahai Muhammad-bertanya tentang ashabul kahfi itu (tentang jumlah mereka atau tentang keadaan mereka) kepada siapa pun dari kalangan ahli kitab [11]
وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا
Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan hal itu besok,”
Yakni, janganlah sekali-kali engkau -wahai Muhammad- mengatakan terhadap sesuatu yang engkau bertekad akan melakukannya ; ‘Sesungguhnya aku akan melakukan perkara itu di masa yang akan datang.’ [12]
إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا
kecuali (dengan mengatakan), “Insyaallah.” Ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.”
[Firman-Nya]
إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ
kecuali (dengan mengatakan), “Insya Allah.”
Yakni, kecuali engkau membersamai ucapan itu dengan engkau mengatakan “Insya Allah.” [13]
Seperti kata Allah ﷻ :
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ
Kamu tidak menghendaki (sesuatu) kecuali apabila dikehendaki Allah. (al-Insan : 30)
[Firman-Nya]
وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ
Ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa
Yakni, jika engkau-wahai Muhammad- mengatakan, ‘aku akan melakukan sesuatu besok, dan engkau lupa untuk mengatakan : insya Allah, maka ingatlah kepada Tuhanmu setelah kelupaanmu itu dengan perkataanmu, ‘insya Allah.’[14]
وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا
dan katakanlah, “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.”
Yakni, dan katakanlah -wahai Muhammad-seraya berdoa kepada Rabbmu, ‘Aku berharap Rabbku berkenan memberikan taufik kepadaku, dan menunjukan kepadaku ke jalan yang merupakan jalan terpendek yang akan menyampaikan aku kepada kebenaran serta mengokohkan aku berada di atasnya. [15]
Faidah :
1-Firman Allah ﷻ :
سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِمْ
Kelak (sebagian orang) mengatakan, “(Jumlah mereka) tiga (orang). Yang keempat adalah anjingnya.” (Sebagian lain) mengatakan, “(Jumlah mereka) lima (orang). Yang keenam adalah anjingnya,” sebagai terkaan terhadap yang gaib. (Sebagian lain lagi) mengatakan, “(Jumlah mereka) tujuh (orang). Yang kedelapan adalah anjingnya.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka.
Allah ﷻ menyembunyikan berita tentang hal itu terhadap umumnya manusia ; untuk suatu hikmah, yaitu, agar ummat ini membiasakan diri meninggalkan tindakan menyibukan diri dalam hal-hal yang tidak ada faedahnya bagi agama atau bagi manusia. [16]
2-Firman-Nya :
سَيَقُولُونَ ثَلَاثَةٌ رَابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ
Kelak (sebagian orang) mengatakan, “(Jumlah mereka) tiga (orang). Yang keempat adalah anjingnya.”….dan seterusnya…hingga firman-Nya :
وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا
Janganlah engkau minta penjelasan tentang mereka (penghuni gua itu) kepada siapa pun dari mereka (Ahlulkitab).
Mencakup adab yang hendaknya dilakukan dalam kondisi ini, dan juga pengajaran perkara yang selayaknya diberikan pada kondisi semisal ini ; karena sesungguhnya Dia ﷻ mengkhabarkan tentang mereka dengan menyebutkan tiga pendapat, Dia ﷻ melemahkan dua pendapat yang pertama dan mendiamkan pendapat yang ketiga, yang menunjukkan akan kebenarannya ; karena kalaulah pendapat tersebut batil, niscaya Dia ﷻ akan membantahnya seperti halnya Dia ﷻ membantah dua pendapat pertama, kemudian Dia ﷻ menunjukan bahwa tindakan menelisik lebih jauh tentang jumlah mereka (ashabul kahfi) tidaklah akan memberikan faedah, sehingga dikatakan dalam kasus semisal ini,
قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِمْ
Katakanlah (Muhammad), “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka.’
Karena sesungguhnya tidak ada yang mengetahui hal tersebut kecuali sedikit dari kalangan manusia orang-orang yang Allah ﷻ beritahukan kepadnya; oleh karena ini, Dia ﷻ berfirman :
فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ إِلَّا مِرَاءً ظَاهِرًا
Oleh karena itu, janganlah engkau (Muhammad) berbantah tentang hal mereka, kecuali perbantahan yang jelas-jelas saja.
Yakni, janganlah engkau memayahkan dirimu dalam hal-hal yang tidak akan memberikan faedah, dan jangan pula engkau bertanya kepada mereka tentang hal itu ; karena sesungguhnya mereka itu tidak mengetahui hal tersebut kecuali berdasarkan terkaan terhadap perkara yang ghaib. Maka, ini merupakan cara terbaik dalam menghikayatkan adanya khilaf (perbedaan pendapat) ; disebutkan pendapat-pendat yang ada dan disebutkan pendapat yang shahih di antara pendapat-pendapat yang ada tersebut dan membatalkan pendapat yang batil, juga disebutkan faedah khilaf dan buahnya ; agar khilaf dan perselisihan pendapat tidak semakin panjang padahal tidak ada faedahnya sehingga hal itu akan menyebukkan dari perkara yang lebih penting …[17]
3-Firman-Nya ﷻ :
قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِمْ
Katakanlah (Muhammad), “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka.’
Merupakan bentuk bimbingan dan arahan dalam menyikapi semisal persoalan ini, yaitu dengan mengembalikan ilmu kepada Allah ﷻ; tidak dibutuhkan untuk menyelami persoalan seperti ini lebih panjang lebar tanpa ilmu, akan tetapi apabila kita mengetahui suatu perkara, maka kita katakan, kalau tidak, maka kita berhenti saja. [18]
4-Firman-Nya ﷻ :
وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا
Janganlah engkau minta penjelasan tentang mereka (penghuni gua itu) kepada siapa pun dari mereka (Ahlulkitab).
Di dalamnya terdapat dalil yang menunjukkan terlarangnya meminta fatwa kepada orang yang tidak layak untuk berfatwa ; bisa jadi karena keterbatasan diri orang tersebut tentang perkara yang ditanyakan, atau karena orang tersebut tidak peduli dengan apa yang dikatakannya, ia tidak memiliki sikap wara’ yang akan menghalanginya dari sikap sembrono dalam memberikan jawaban, dan apabila dilarang dari meminta fatwa terhadap orang yang demikian ini, maka melarang orang tersebut dari memberikan fatwa tentunya lebih utama. [19]
5-Allah ﷻ berfirman :
وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا (23) إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ
Jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan hal itu besok,” kecuali (dengan mengatakan), “Insya Allah.”
Allah ﷻ melarang hamba-Nya untuk mengatakan perkara-perkara yang akan datang dengan mengatakan : إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ “Aku pasti melakukan hal itu” tanpa mengaitkannya dengan ‘kehendak Allah’. Hal demikian itu kerena dalam tindakan tersebut terdapat unsur yang dilarang, yaitu berupa ucapan tentang perkara ghaib yang akan datang yang mana seseorang tidak tahu akankah ia benar-benar melakukannya ataukah tidak, dan apakah hal tersebut akan ada ataukah tidak. Di samping itu, di dalamnya juga terdapat tindakan mengembalikan perbuatan kepada kehendak si hamba secara menyendiri. Dan perkara tersebut harus dijauhi karena termasuk hal yang terlarang atau tidak dibolehkan ; karena masyi’ah (kehendak) seluruhnya adalah milik Allah ﷻ,
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ [التكوير: 29]
Kamu tidak dapat berkehendak, kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. (at-Takwir : 29)
Dan karena dalam menyebutkan kehendak Allah ﷻ terdapat hal yang akan memudahkan urusan, diperolehnya keberkahan pada urusan tersebut, dan sebagai bentuk permohonan pertolongan seorang hamba kepada Rabbnya. [20]
6-Barang siapa telah meninggalkan sesuatu berupa dzikrullah yang wajib karera lupa, maka hendaknya ia kembali kepadanya ketika ia telah ingat, seperti kata Allah ﷻ : وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ (Ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa); Dia ﷻ memerintahkan beliau ﷺ apabila lupa terhadap Rabbnya agar ia menyebut atau mengingat-Nya setelah itu. Maka, barang siapa lupa dari mengerjakan shalat, maka sungguh ia telah lupa mengingat Rabbnya, maka bila ia telah ingat bahwa ia telah lupa, hendaklah ia kembali kepada mengingat Allah ﷻ setelah kelupaannya. [21] Hal itu berdasarkan salah satu pendapat dalam penafsiran ayat tersebut.
Wallahu A’lam
(Redaksi)
Catatan :
[1] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/218, Tafsir al-Qurthubiy, 10/382, Tafsir asy-Syaukaniy, 3/329., Tafsir as-Sa’diy, hal. 474.
Al-Qurthubiy mengatakan :
Dhomir (kata ganti) pada kata سَيَقُولُونَ (mereka akan mengatakan) yang dimaksud adalah kalangan ahli taurat dan mereka orang-orang yang hidup semasa dengan Nabi Muhammad ﷺ; hal demikian itu oleh karena mereka berselisih pendapat tentang jumlah ashabul kahfi seperti perselesihan yang disebutkan dalam nash ini. Ada juga yang mengatakan bahwa dhomir (kata ganti) yang dimaksudkan adalah kalangan Nasrani ; karena sesungguhnya sekelompok orang dari kalangan mereka ini datang kepada Nabi ﷺ dari Najron, lalu disebutkanlah mengenai kalangan ashabul kahfi. Maka, berkatalah kalangan Ya’qubiyah : mereka (ashabul kahfi itu) berjumlah tiga orang, yang keempatnya adalah anjing mereka. Kalangan an-Nasthuriyah mengatakan : ‘mereka (ashabul kahfi itu) berjumlah lima orang, yang keenamnya adalah anjing mereka.’ Sementara kalangan al-Muslimun mengatakan : ‘mereka (ashabul kahfi itu) berjumlah tujuh orang, yang kedelapannya adalah anjing mereka.’ (Tafsir al-Qurthubiy, 10/382)
[2] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/218. Tafsir al-Baidhawiy, 3/277, Tafsir asy-Syaukaniy, 3/329, Tafsir as-Sa’diy, hal. 474.
[3] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/218, al-Wasith, karya : al-Wahidiy, 3/142. Tafsir Ibnu ‘Athiyah, 3/507, 508. Tafsir Ibnu Katsir, 5/147.
[4] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/218. Tafsir Zamakhsyariy, 2/714. Tafsir al-Baidhawiy, 3/277, Tafsir Ibnu Katsir, 5/147, Tafsir Abu Sa’ud, 5/216. Tafsir as-Sa’diy, hal. 474.
Ibnu Katsir mengatakan :
Allah ﷻ berfirman mengkhabarkan tentang perselisihan pendapat manusia tetang jumlah ashabul kahfi, Dia ﷻ mengkhikayatkan tiga pendapat, maka hal ini menunjukkan bahwasanya tidak ada yang berpendapat dengan pendapat yang keempat. Dan ketika Dia ﷻ melemahkan dua pendapat yang pertama dengan firman-Nya : رَجْمًا بِالْغَيْبِ , yakni, perkataan tanpa dilandasi ilmu, seperti orang yang melempar (sesuatu) ke suatu tempat yang dia tidak mengetahuinya, niscaya ia tidak akan mengenainya, kalau pun ia mengenainya maka tanpa tujuan; kemudian Dia ﷻ menghikayatkan pendapat yang ketiga dan Dia ﷻ mendiamkannya atau Dia ﷻ menetapkannya dengan firman-Nya : وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ (dan yang kedelapannya adalah anjing mereka) ; maka hal ini menunjukkan kebenarannya, dan bahwa pendapat itulah yang terjadi dalam persoalan ini. (Tafsir Ibnu Katsir, 5/147). Dan lihat : Majmu’ al-Fatwa, Ibnu Taimiyah, 13/367-368. Dan beliau juga mengatakan : pendapat yang shahih dari Ibnu Abbas bahwa mereka (ashabul kahfi itu) berjumlah 7 orang, dan itulah zahir ayat (Tafsir Ibnu Katsir, 5/148). Dan, ar-Ras’aniy mengatakan : kebanyakan para ulama memegang pendapat ini ; bahwa jumlah ashabul kahfi itu adalah tujuh orang (Tafsir ar-Ras’aniy, 4/265).
[5] Lihat : Tafsir Muqatil bin Sulaiman, 2/580, Tafsir Ibnu Jarir, 15/218, dan Tafsir al-Baghawi, 3/186.
[6] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/218, Tafsir as-Sa’diy, hal. 474. Tafsir Ibnu Asyur, 15/293.
[7] Ada yang mengatakan (maksudnya) ‘janganlah engkau membantah ahlu kitab’. Di antara kalangan yang mengatakan demikian adalah Ibnu Jarir, Ibnu Abi Zamnin, Ibnu Juzziy, dan al-Qasimiy. Lihat : Tafsir Ibnu Jarir : 15/220. Tafsir Ibnu Abi Zamnin, 3/54. Taffir Ibnu Juzziy, 1/463. Tafsir al-Qasimiy, 7/18.
Ada juga yang mengatakan (maksudnya) ‘Janganlah engkau membantah orang-orang Musyrik.’ Di antatara kalangan yang mengatakan demikian adalah Ibnu Asyur. Lihat : Tafsir Ibnu Asyur, 15/294.
[8] Ada yang mengatakan : yang dimaksudkan adalah, janganlah engku berbantah tentang jumlah mereka (para ashabul kahfi itu).’ Di antara kalangan yang mengatakan demikian adalah Ibnu Jarir, Ibnu Athiyyah, al-Qurthubiy, dan Ibnu Asyur. Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/220. Tafsir Ibnu ‘Athiyyah, 3/508. Tafsir al-Qurthubiy, 10/384. Tafsir Ibnu Asyur, 15/294.
Ada juga yang mengatakan : yang dimaksudkan adalah, ‘janganlah engkau berbantahan tentang keadaan mereka (para ashabul kahfi itu). Di antara kalangan yang mengatakan demikian adalah asy-Syaukaniy. Lihat : Tafsir asy-Syaukani, 3/329.
Dan, Ibnu Utsaimin mengatakan : فَلَا تُمَارِ فِيهِمْ , (Oleh karena itu, janganlah engkau (Muhammad) berbantah tentang hal mereka) yakni, tentang keadaan mereka, tentang zaman mereka, tentang tempat mereka, dan tentang akhir hidup mereka (Tafsir Ibnu Utsaimin-Surat al-Kahfi, hal. 43)
[9] Ibnu Katsir mengatakan : فَلا تُمَارِ فِيهِمْ إِلا مِرَاءً ظَاهِرًا , yakni : mudah dan ringan; karena sesungguhnya persoalan tentang pengetahuan akan hal tersebut tidaklah akan memberikan faedah yang besar. Lihat : Tafsir Ibnu Katsir, 15/148.
[10] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/220, 221. Tafsir al-Qurthubiy, 10/384. Majmu’ al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 13/367, 368. Tafsir Ibnu Katsir, 5/148. Tafsir as-Sa’diy, hal. 474. Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 43.
[11] Lihat Tafsir Ibnu Jarir, 15/222, al-Wajiz, al-Wahidiy, hal. 657. Tafsir Zamakhsyariy, 2/714. Tafsir Ibnu Katsir, 5/148.
Ibnu Katsir mengatakan : [Firman-Nya : وَلَا تَسْتَفْتِ فِيهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا] (Janganlah engkau minta penjelasan tentang mereka (penghuni gua itu) kepada siapa pun dari mereka) yakni, karena sesungguhnya mereka tidaklah memiliki pengetahuan tentang hal itu kecuali apa yang mereka katakan dari perasaan diri mereka sendiri sebagai terkaan terhadap yang gaib, yakni, tanpa sandaran kepada sebuah perkataan yang ma’sum, dan sungguh Allah ﷻ telah mendatangkan kepadamu-wahai Muhammad-kebenaran yang tidak ada keraguan di dalamnya ; maka kebenaran itu adalah perkara yang harus dikedepankan, sebagai pemutus atas setiap sesuatu yang telah lalu dari kitab-kitab dan pendapat-pendapat (Tafsir Ibnu Katsir, 5/148)
[12] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/223, 224. Tafsir Ibnu Katsir, 5/148. Tafsir as-Sa’diy, hal. 474. Adh-Waa-ul Bayan, asy-Syinqithiy, 3/253.
Ibnul Qayyim mengatakan :
Yang disepakati para ahli tafsir bahwa penduduk Makkah mereka bertanya kepada Nabi ﷺ tentang ruh, tentang ashabul kahfi, dan tentang Dzulqarnain, lalu beliau bersabda : أُخبِرُكم غدًا (aku akan beritahukan kepada kalian besok), sedangkan beliau tidak mengucapkan : إن شاء الله, lantas wahyu tidak turun beberapa hari, kemudian turunlah ayat ini. (Madarij as-Salikin, 2/403)
[13] Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/224. Tafsir Ibnul Jauziy, 3/76. Tafsir as-Sa’diy, hal. 474. Adh-Waa-ul Bayan, asy-Syinqithy, 3/253. Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 46.
[14] Lihat : I’lam al-Muwaqqi’in, Ibnul Qayyim, 4/58. Tafsir Ibnu Katsir, 5/149. Tafsir as-Sa’diy, hal. 474. Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 47.
Di antara kalangan yang memilih makna yang disebutkan ini adalah : Ibnul Qayyim, as-Sa’diy, dan asy-Syinqithi mendukungnya, dan beliau menisbatkannya kepada Jumhur, dan dengan makna ini Ibnu Utsaimin mengatakan. Lihat : I’lam al-Muwaqqi’in, Ibnul Qayyim, 4/58. Tafsir as-Sa’diy, hal. 474. Adh-Waa-ul Bayan, Syinqithi, 3/254. Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 47.
Dan di antara kalangan salaf yang mengatakan semisal pernyataan ini adalah : Ibnu Abbas, Abu al-‘Aliyah, al-Hasan, dan Sa’id bin Jubair. Lihat : Tafsir Ibnu Jarir, 15/225, Tafsir Ibnul Jauziy, 3/76.
Ibnu Katsir mengatakan :
Dan ada kemungkinan sisi lain di dalam ayat ini, yaitu, bahwa Allah ﷻ telah membimbing orang yang lupa sesuatu dalam ucapannya agar ia menyebut atau mengingat Allah ﷻ ; karena lupa itu awal kemunculannya bersumber dari setan, seperti kata pembantu Musa : وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ [الكهف: 63] ، (dan tidak ada yang membuatku lupa untuk mengingatnya, kecuali setan) dan dzikrullah itu akan menolak gangguan setan, maka bila setan itu pergi niscaya hilanglah lupa itu. Jadi, dzikrullah itu merupakan sebab untuk munculnya kembali ingatan (Tafsir Ibnu Katsir, 5/150). Dan, lihat (pula) Adh-Waa-ul Bayan, karya : asy-Syinqithi, 3/254.
As-Sa’diy mengatakan :
Dan diambil (faedah) dari keumuman firman-Nya : وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ , peritah untuk mengingat Allah ﷻ saat lupa, karena sesungguhnya hal itu akan menghilangkan lupa, dan hal itu mengingatkan hamba apa-apa yang terlupakannya. (Tafsir as-Sa’diy, hal. 474)
Dan, ada juga yang mengatakan : ayat ini berlaku bagi orang yang lupa dari mengerjakan sebuah shalat, maka hendaknya ia segera mengerjakannya kala ia telah mengingatnya. Pendapat ini diriwayatkan dari as-Suddiy dan Dhahhak. Lihat : al-Wasith, karya : al-Wahidiy, 15/586. Adh-Waa-ul Bayan, karya : asy-Syinqithi, 3/255.
[15] Lihat : Tafsir a-Baghawi, 3/187. Tafsir al-Khazin, 3/161, Tafsir al-Ulaimiy, 4/168. Tafsir as-Sa’diy, hal. 474. Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 48.
[16] Tafsir Ibnu Asyur, 15/290.
[17] Lihat : Majmu’ al-Fatawa, Ibnu Taimiyah, 13/367.
[18] Tafsir Ibnu Katsir, 5/148.
[19] Lihat : Tafsir as-Sa’diy, hal. 473, Tafsir Ibnu Utsaimin-surat al-Kahfi, hal. 44.
[20] Lihat : Tafsir as-Sa’diy, hal. 474.
[21] Lihat : Fathul Baariy, Ibnu Rajab, 5/133.





